Prolog
Malam yang larut seorang perempuan terjaga dari tidurnya. Rambut panjang sebahu yang berantakan tanda dia sedang gelisah. Dia menatap sebuah foto dengan tatapan sendu.
Dia memimpikan orang yang ada di dalam foto itu. Dia juga rindu dan itu sangat membuatnya sedih. Air matanya menetes seiring mengusap foto itu.
Namanya Rainy Amanda. Saat pukul 3 dini hari dia selalu bangun dan tidak bisa tidur lagi. Itu terjadi setiap malam. Saat menggapai minuman di nakas, Rainy menjatuhkan sesuatu. Dia pun langsung mengambilnya dan tak sengaja membaca kata 'Reuni'. Ternyata itu adalah undangan untuk menghadiri acara reunian sekolahnya dulu.
Kenangan masa lalu pun berputar di kepalanya.
Saat itu Rainy sedang membaca buku dan seorang temannya menghampirinya.
"Kamu mau foto gak?" tanya Fuji tersenyum sambil memegang kamera kesayangannya.
"Gak ah, kamu aja yang foto. Aku gak suka." ucap Rainy dengan wajah terlipatnya.
Namun bukan Fuji namanya kalau tidak bisa memaksa rainy.
"Iihh rainy, sekali aja!" ucap Fuji mengeluarkan jurus mautnya yang membuat Rayni tak berdaya.
"Ya udah, ayo!" ucap Rainy setengah tak ikhlas.
"Kok kelihatan gak ikhlas sih!" ucap Fuji yang banyak pinta. Rainy menghela napas. Lalu tersenyum manis sangking manisnya, banyak cowok yang melihatnya dibuat meleleh.
Fuji tertawa bahagia. hal itu terekam di benak Rainy, sembari juga ikut tertawa. Hari itu adalah yang terindah milik Rainy sampai beberapa siswi menjambak rambut Fuji sampai tersungkur ke lantai.
"Lo yang nyebarin foto gue kan?" tanya perempuan dengan rambut yang dicat pirang.
Rainy masih syok dengan apa yang terjadi. Dia melihat Fuji di bawa beberapa teman siswi yang berambut pirang itu. Rainy mencoba mencegahnya tapi ditahan beberapa orang. Sungguh Rainy takut kalau Fuji dibuat kenapa-kenapa oleh orang-orang itu.
Rainy yang tak tahu apa-apa memilih masuk kelas dengan perasaan khawatir, hal itu membuatnya menyesal dimasa depan. dia gelisah memikirkan nasib Fuji bagaimana.
Saat bel pulang berbunyi, Rainy langsung mencari Fuji. Dia sudah mencari di toilet dan di tempat lainnya tapi tak menemukan apa-apa.
Hingga Rainy melihat Fuji yang berjalan tertatih-tatih. Rainy juga terkejut dengan penampilan temannya yang kacau.
"Fuji..." panggil Rainy lirih. Fuji menoleh dengan wajah yang memerah bekas tamparan, rambut yang kusut dan basah, dan baju yang berantakan.
Rainy menutup mulutnya tak percaya apa yang dia lihat. Temannya sangat terlihat menyedihkan dan itu membuat ulu hatinya sakit.
"Rainy..." panggil Fuji dengan tatapan sedih. rainy langsung berlari dan memeluk Fuji.
"Fuji apa yang terjadi?" tanya Rainy namun tak pernah dapat jawaban apapun dari Fuji.