“Ibu ....” Suara Jasmine mengagetkanku. Bukankah barusan Pak Sakti mengatakan bahwa ia sedang demam di rumah? “Adik!” seruku begitu tubuh mungil Jasmine muncul di depan pintu kamar perawatan. Wajahnya masih tampak pucat dengan tubuhnya yang sedikit lebih kurus. Kudekap tubuh gadis kecilku itu dengan erat dan penuh kerinduan. Entah berapa lama diri ini terbaring lemah dan tak mengetahui sakitnya. Suasana tiba-tiba mengharu biru, terlebih ibu mertuaku yang juga mengekori langkah Jasmine ikut menangis karena haru. “Ibu. Bagaimana keadaan Ibu? Apakah Ibu baik-baik saja?” tanyaku. “Maafkan Hanum membuat Ibu kesulitan.” “Ibu baik-baik saja. Jangan khawatirkan apa pun. Yang penting kamu sehat sekarang. Ibu bingung harus bagaimana ketika kalian sakit,” ucap Ibu dengan suara bergetar. Aku bis

