Hari ini aku boleh pulang ke rumah, kata Dokter yang menangani. Seperti biasa, Mas Sakti selalu siap sedia menemani. Bahkan semua urusan administrasi rumah sakit pun dia yang mengurus. Sekali pun tidak ia izinkan diri ini untuk mengurus hal sekecil apa pun. “Kamu harus banyak istirahat, Mbak. Jangan terlalu capek.” Begitulah kiranya pesan yang diucapkan ketika diri ini ingin melakukan sesuatu. Bahkan ketika aku ngotot untuk melakukan sesuatu, ia tidak akan mengajakku bicara. Hanya isyarat mata dan sikapnya yang begitu kaku membuat diri ini akhirnya menyerah pasrah. Sikapnya yang konsisten dan terkesan keras tergambar jelas. Hal itu mungkin karena dia terlalu keras terhadap dirinya sendiri, setelah hidup bertahun-tahun seorang diri tanpa ada yang membimbing. Seperti saat ini, aku hany

