“Dokter, terima kasih atas perhatiannya. Saya harus segera membawa Mbak Hanum pulang. Permisi.” “Mas ....” “Kita pulang, ya. Kasihan anak-anak pasti sudah menunggu Mbak Hanum di rumah.” Ia menjeda ucapannya. “Ayo, Mbak.” Mas Sakti mengalihkan pembicaraan di waktu yang tepat. Ada rasa lega di dalam hati ini begitu mendengar suara Mas Sakti meminta izin untuk berlalu dan menghentikan obrolan tidak perlu itu. Ini jauh lebih baik dari pada melihat wajah wanita yang sedang jatuh cinta. “Ayo Mbak Hanum! Kita pulang!” “Oh, iya, kita pulang. Terima kasih atas bantuannya, Dokter,” ucapku berpamitan dengan dokter cantik yang masih muda itu. Dokter Dian melirikku sekilas, dengan sorot mata sinis. Tampaknya ia tidak tertarik pada diriku, hanya fokus pada Mas Sakti. “Sama-sama. Hati-hati di

