Mas Dandi masih menatapku lekat. Ketika dengan segenap keberanian kubalas tatapan matanya. Ada kilat kerinduan di kedua bola matanya yang hitam. Wajahnya kini tampak begitu tidak terawat. Kumis, cambang dan jenggotnya mulai bermunculan. “Maaf, aku tidak sempat bercukur,” katanya, lirih. Ketika pandanganku tertuju pada bagian dagunya. Aku tersenyum tipis. Tanpa memberikan komentar. “Bagaimana usaha warungmu? Apakah berjalan dengan baik?” tanyanya, penasaran. Wajah yang dulu begitu akrab mengisi hari-hariku, kini seolah berubah menjadi sangat asing. Membuatku merasa tidak lagi mengenalnya. Bahkan untuk menatap matanya saja, tidak lagi kurasakan getaran seperti sebelumnya. Yang tersisa kini hanya rasa iba dan prihatin dengan keadaannya. Keadaan yang membuatnya begitu berubah menjadi se

