“Aku tidak bisa, Mbak. Karena aku pun telah jatuh cinta padanya.” Ucapan itu mengalir begitu saja dari bibir ini. Padahal, seharusnya ucapan itu tidak boleh disampaikan oleh bibir ini. Mbak Widya tampak terkejut dengan penjelasan dariku. Matanya membesar, sementara mulutnya sedikit terbuka. Ia lalu memalingkan wajah ke arah yang lain. Tampaknya ia tak ingin menampakkan rasa terkejutnya di hadapanku. “Maafkan aku.” Suasana hening begitu kuucapkan kata maaf barusan. Hanya terdengar detak jam dinding dan suara pasien dari kamar seberang. Cukup lama kami terdiam, lalu perhatian kami pun terpecah. Tubuh Hanum bergerak lemah. Ia menggerakkan telapak tangan, lalu mengangkatnya ke atas kepala. Refleks, tubuh ini berjalan mendekatinya. Kulihat bagian matanya bergerak lemah. “Mbak Hanum ...

