"Bagaimana bisa Anda memiliki pemikiran seperti itu?" Dokter Dian melihat ke arahku, dengan tatap mata yang tak mampu kujelaskan. Mungkinkah itu tatapan kagum? "Pemikiran? Bagi saya ini bukan pemikiran. Ini adalah aksi untuk menyelamatkan seseorang." Kupertegas jawaban. "Apakah masih ada yang perlu dibicarakan lagi, Dokter?" Dokter Dian tersenyum kecut, lalu memberikan isyarat bahwa aku boleh meninggalkan ruangan. Ia masih berdiri di belakang meja ketika pintu kututup tanpa meninggalkan suara. Suster yang memasang infus pada Hanum tampaknya sudah menyelesaikan tugasnya. Ia sedang membersihkan sisa noda darah pada lengan Hanum. Kemudian, datanglah seorang perawat laki-laki yang hendak mendorong ranjang tempat Hanum berada. Dibantu oleh perawat lainnya, ranjang pasien itu dibawa ke kam

