“Mbak Hanum!” Kupanggil nama wanita malang itu dengan suara keras. Tak peduli apa yang dipikirkan oleh orang lain tentang diri ini. Satu hal yang pasti, menolongnya dari siksaan batin yang masih merongrongnya. Untung saja tadi sempat mengurungkan niat untuk meninggalkan Mbak Hanum dan Mbak Widya. Meskipun aku tahu bahwa mereka bersahabat dekat, tapi naluriku berkata ada yang tidak beres dengan mereka berdua saat ini. Dari balik pintu tempatku berdiri, dapat terdengar jelas keributan yang terjadi di antara mereka berdua. Sebenarnya apa yang mereka ributkan pun, diri ini tidak mengerti. Hanya saja yang dapat kutangkap adalah kekecewaan Mbak Widya pada Mbak Hanum. Tentu saja hal ini berkaitan denganku. Memang benar aku salah karena berada terlalu dekat dengan Mbak Hanum di dalam kamar ra

