Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh pagi ketika aku kembali menghampiri kamar Jasmine. Pintu kamarnya sudah tidak dikunci seperti sebelumnya. Dari balik pintu, kudengar suara percakapan. Ada dua kemungkinan, gadis kecilku sedang berbicara dengan seseorang, atau sedang menonton tayangan di ponsel pintarnya. Jasmine tidak mungkin bicara dengan Ibu mertua, karena beliau sedang berada di dapur sejak tadi. Katanya mau menyiapkan makan siang. Itu semua dilakukannya agar aku bisa istirahat dengan tenang hari ini. Mungkin Ibu menyadari bahwa beberapa hari ini adalah menjadi hari terberat bagiku. Kuketuk pintu kamar Jasmine perlahan, tidak ada sahutan. Kucoba membuka pegangan pintu, bisa terbuka. Anak gadis kecilku sedang berbaring di atas pembaringan. Masih dengan seragam sekolahnya. Karena s

