Tabur Tuai

1400 Kata

Malam semakin larut, masih belum ada kabar dari Mas Dandi. Entah apa yang sedang dilakukannya disana. Pemeriksaan berlangsung begitu lama. Mungkinkah semua proses mengalami rentang waktu yang tidak sebentar? Kucoba memejamkan mata, namun begitu sulit untuk dapat tidur terlelap. Suara jangkrik mengerik terdengar begitu jelas di telingaku. Beban pikiran yang saat ini kurasakan begitu menyiksa. Berkali-kali kumengganti posisi tidurku, dari telentang, miring ke kanan, miring ke kiri, bahkan tengkurap. Hasilnya nihil, mataku seolah enggan diajak bekerja sama. Hingga akhirnya aku bangkit dari pembaringan, mengambil air wudhu dan menunaikan sholat malam. Di sajadah aku bersimpuh, memohon ketenangan hati pada-Nya. Tangis yang telah lama kutahan akhirnya tumpah ruah, membasahi mukena yang kuke

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN