Akhirnya setelah kesibukan terlerai. Semuanya bisa bernapas lega. Max seara diam-diam menyiapkan pernikahannya dengan wanita pujaannya. Wajah Maxwell semakin hari semakin berseri. Ketampanannya menguar, bahkan David sampai terpana akan kecakapan wajah bawahan kakek buyutnya itu. "Ah ... Kau tampan sekali Grand Dad," pujinya. Maxwell hanya tersipu mendengar pujian cucu majikannya itu. Rasa bahagia mungkin itu yang membuat wajahnya makin bersinar. Pria yang sudah melewati usia senja itu, bisa menemukan kebahagiaannya. "Apa semuanya sudah siap, Grand Dad?' tanya David. "Ya, secara kebetulan, Tuan besar menugaskan saya ke kota di mana kau kuliah. Tuan menyuruh saya ke sebuah distrik penambangan tua yang ditinggalkan karena diduga tidak berfungsi," jelas Maxwell. "Hmmm ... Aku perna

