“Alea,” seru David kala ia lihat seseorang yang begitu mirip dengan adik sepupunya. Terlebih lagi ketika gadis itu tersenyum membuat David sadar bahwasanya Alea sangat jarang tersenyum dan dipastikan di depannya ini hanyalah halusinasinya saja. “Dav, aku ingin minta maaf karena sudah pergi tanpa memberi kabar padamu,” gumamnya pelan. “Ayahku memaksa bertemu dan malam itu, Kak Osvald menjemputku.” Lagi-lagi David terperangah melihat sosok itu bicara seakan-akan gadis itu benar Alea. Tapi, tunggu dulu… Dia mengatakan siapa? Osvald? Mata David melebar sebelum mendekati Alea dan berseru heboh. “Jadi benar kau Alea?” tanyanya spontan sambil menggoyangkan kedua bahu Alea. Memutar bola matanya, Alea mengangguk. “Aku Alea, bukan jelmaan hantu.” Dan dekapan erat diterimanya begitu saja. Namun

