Siapa yang berani… MENYENTUH dia?” suara Rafael bergemuruh seperti raungan binatang buas yang terluka. Semua anak buahnya yang berada di ruang rapat bawah tanah menunduk. Tak ada yang berani bicara, hingga salah satu dari mereka Reno, tangan kanan Rafael maju perlahan. “Bos… kami baru dapat informasi dari tim pemantau. Aruna dibawa ke gudang tua di pelabuhan timur, wilayah yang dikendalikan oleh Marco.” Nama Marco membuat Rafael semakin menggenggam erat meja kaca di depannya hingga retak. “Marco…” gumamnya pelan, penuh kebencian. “Dia berani menyentuh apa yang aku lindungi?” Ia berdiri, menyambar jas hitamnya, dan menatap Reno dengan tatapan dingin yang membuat bulu kuduk siapa pun berdiri. “Kumpulkan semua tim tempur. Siapkan senjata. Malam ini… pelabuhan itu akan jadi neraka.” Re

