Chapter 6

902 Kata
"Aku ingin kau membantuku," ucap Daniel. Anna mengerinyitkan dahi mendengar ucapan Daniel. "Membantumu? Apa?" Tanya Anna. "Hari ini mantanku akan bertunangan. Aku ingin malam ini kau berpura-pura untuk menjadi kekasihku. Hal ini aku lakukan bukan karena aku masih mencintainya, aku hanya tak ingin dia dan tunangannya berfikir bahwa aku masih mengharapkannya. Ku harap kau mau membantuku," jelas Daniel. "Ternyata setelah bersama Fasa dia sudah memiliki kekasih baru? Benar-benar pria b******k," Anna menggeram tajam didalam hatinya. "Baiklah, aku akan membantumu," ucap Anna. Balasan Anna itu membuat senyum kecil terukir dibibir Daniel. Untuk pertama kalinya Anna melihat pria ini tersenyum. Ya harus diakui senyumannya sangat memabukkan, namun tidak bagi Anna. Daniel kemudian menggandeng Anna memasuki mobil limosinnya. Pria ini benar-benar seorang CEO muda yang kaya. Setelah beberapa saat, akhirnya mereka sampai juga disebuah hotel. Hotel ini memang hotel berbintang, tapi senyum sinis terukir dibibir Daniel. Hotel ini bukan kelasnya. Daniel langsung mengarahkan tangan Anna agar melingkar di lengannya. "Bersikaplah kalau kau adalah kekasihku malam ini," ucap Daniel berbisik. Anna hanya mengangkat bahunya lalu melingkarkan tangannya dilengan Daniel. Saat mereka memasuki tempat acara pertunangan itu, semua mata tertuju pada mereka. "Kenapa semuanya menatap kami? Sebenarnya setenar apa Farez ini. oh Fasa, kau benar-benar banyak menyembunyikan teka-teki untuk kakakmu ini," batin Anna. Anna merasakan ada tangan yang melingkar dipinggangnya. Daniel kini sedang melingkarkan tangannya dipinggang Anna, benar-benar posesif, seperti Anna benar-benar miliknya. Kini mereka sudah sampai dihadapan Renata dan Gerald.  "Selamat Renata, Gerald," ucap Daniel berusaha setenang mungkin. Padahal kini ia sangat geram menatap dua orang didepannya.  "Terimakasih Daniel, ku fikir kau tak akan datang," balas Renata. "Terimakasih Daniel. Aku senang kau bisa datang," ucap Gerald pula. "Tadinya aku memang tak niat datang karena kufikir waktuku akan terbuang sia-sia untuk acara seperti ini. Tapi wanitaku memaksaku untuk datang. Sebagai bentuk menghargai karna sudah diundang," balas Daniel sambil melirik Anna. Pandangan Renata dan Gerald beralih menatap Anna. Renata sempat tercengang menatap Anna. Ia tak menyangka kalau Daniel bisa secepat itu mendapatkan penggantinya. "Bukan begitu Sayang?" Tanya Daniel yg dibalas Anna dengan anggukan sembari tersenyum. "Apa uang yang kau dapat dari pemenangan tender itu tak cukup untuk membuat pesta pertunangan yang lebih berkelas dibanding ini?" Tanya Daniel sambil tersenyum sinis. Perkataan Daniel benar-benar membuat Gerald geram. Daniel benar-benar menjatuhkan harga dirinya dihadapan tamu-tamu yang lain yang kebanyakan juga merupakan pengusaha. Tangan Gerald mengepal hingga buku-buku jarinya terlihat mengeras menahan amarah. "Kau tenang saja Sayang. Acara pertunangan kita tidak akan serendah ini," ucap Daniel lalu mencium singkat dahi Anna.  Renata menatap panas dengan pemandangan didepannya. Ada rasa menyesal yg menyelimutinya. Tidak seharusnya ia meninggalkan Daniel. Gerald yg sudah tidak tahan langsung berlalu dari Daniel dan Anna.  "Sayang, aku ingin ke toilet sebentar, kau tunggu disini ya," ucap Anna. "Baiklah Sayang, jangan lama-lama" balas Daniel yg dibalas anggukan pula oleh Anna. Anna langsung berlalu dari hadapan Daniel dan Renata. Sepeninggalan Anna, Daniel hanya menatap sinis pada Renata kemudian bergabung dengan beberapa pengusaha yg sebagian besar ia kenal semua. *** "Gerald," panggilan itu membuat langkah Gerald terhenti. "Kau," Gerald mengerinyitkan dahinya saat mendapati Anna yang memanggilnya. "Ini kartu namaku," ucap Anna sambil memberikan kartu namanya pada Gerald. "Untuk apa kau memberikan ini?" Tanya Gerald tak mengerti. "Aku yakin dengan kejadian tadi kau sangat membutuhkan ini. Besok kau bisa menghubungiku. Kupikir kita bisa bekerja sama," balas Anna lalu berlalu dari Gerald. Gerald masih bingung, apa yg dimaksud wanita itu? Bukankah dia kekasih Daniel. Setelah menemui Gerald, Anna kembali menghampiri Daniel. "Kau sudah siap? Kita pulang sekarang," ucap Daniel. Anna pun mengangguk. Setelah berpamitan dengan rekan-rekan bisnisnya, Daniel dan Anna langsung kembali memasuki limosinnya dan segera pergi dari pesta itu. Daniel mengantarkan Anna ke apartemennya. "Terimakasih sudah membantuku malam ini," ucap Daniel saat Anna akan keluar dari mobilnya. "Ya Tuan," balas Anna. "Kan aku sudah mengatakan jangan panggil seperti itu jika kita berada diluar," ucap Daniel. "Aku sangat puas melihat kedua wajah pecundang mereka tadi," gumam Daniel sambil tersenyum puas. "Ya, aku juga melihatnya. Kalau begitu aku permisi. Ini sudah larut malam," pamit Anna. Saat Anna hendak keluar Daniel menahan tangannya. Tiba-tiba saja Daniel mencium punggung tangan Anna yang digenggamnya. Ini untuk pertama kalinya Daniel melakukan ini. Selama ini Daniel tak pernah berlaku lembut pada wanita. "Selamat malam," ucap Daniel sambil tersenyum. Oh Tuhan! Kenapa senyuman ini sangat tulus? Anna sampai tak berkedip melihat senyuman ini. "Selamat malam juga," balas Anna sambil tersenyum pula kemudian berlalu pergi *** "Malammu sangat menyenangkan Mrs.Libra?" Pertanyaan itu menyambut kedatangan Anna saat ia memasuki apartementnya. "Ya, tentu saja," balas Anna sambal membuka heelsnya. Kakinya terasa sangat pegal. Sepertinya ia butuh  berendam malam ini. "Kau malam ini sangat menawan. Bajumu, sepatumu, semuanya barang-barang mewah. Dari mana kau mendapatkannya? Bukankah tadi kau bilang kau hanya kerumah Daniel?" "Ya Valerie. Dan kau harus tau. Ternyata dia mengajakku untuk datang kepertunangan mantannya dan berpura-pura menjadi kekasihnya." Jelas Anna. "Jadi dia sudah punya kekasih setelah Fasa? Hey! Semudah itukah dia melupakan adikmu? Sungguh malang nasib Fasa" ucap Valerie sambil menggeleng iba yang membuat Anna menatapnya tajam. "Kau tak perlu kasihan pada adikku karna tak lama lagi yang harus kau kasihani adalah Farez itu.  Dan malam ini aku mendapat rencana untuk menghancurkannya," balas Anna. "Oh ya? Apa?" Tanya Valerie antusias. "Kau akan lihat nanti," balas Anna sambil tersenyum. "Yaa..yaa.. kau memiliki seribu cara Libra, aku salut padamu," ucap Valerie. "Aku mau tidur. Menunggumu sangat melelahkan," lanjutnya sambil berjalan menuju kamar. "Sepertinya aku tak menyuruhmu untuk menunggu," balas Anna sambil mengikuti Valerie ke kamarnya.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN