Chapter 5

1345 Kata
Seperti yang dikatakan Daniel, malam ini Anna datang menemui Daniel di rumahnya. Anna tercengang saat berada di hadapan rumah besar yang sangat terkesan mewah ini. Ralat! Bahkan ini bukan seperti rumah melainkan sebuah mansion. Gerbangnya saja sudah menjulang tinggi menandakan bukan sembarang orang yang bisa masuk ke dalam rumah ini. Oke, sepertinya Daniel benar-benar sangat kaya. Meskipun Anna juga termasuk golongan atas, namun tetap saja ia merasa takjub, pasalnya Daniel jauh berada diatasnya.  Tiba-tiba pagar besar itu terbuka, Anna melihat ada seorang pria berseragam hitam menghampirinya. "Apakah anda Nona Anna?" Tanyanya. Anna pun membalas dengan anggukan. "Mari ikut saya. Tuan Daniel sudah menunggu," ucapnya. Anna mengangguk dan mengikuti pria itu memasuki rumah besar ini. "Silahkan tunggu disini," ucap pria itu saat mereka sudah sampai disebuah ruangan yg sangat besar. Kemudian pria itupun pergi. "Ya Tuhan Fasa, jadi kau pernah mempunyai pacar sekaya dia? Kenapa aku tidak pernah tau. Sepertinya aku ketinggalan banyak cerita tentang pria b******k ini," batin Anna sambil menyapu pandangannya kesekeliling ruangan ini. Ruangan ini dihiasi dengan guci-guci besar yang bisa dipastikan bukan dari Indonesia. Ditambah dengan sofa-sofa besar yang empuk  dan juga lampu kristal diatasnya. "Anna," tiba-tiba saat sedang menyapu pandangan melihat sekeliling Anna dikagetkan oleh suara seseorang. Anna langsung mengalihkan pandangannya menatap orang itu. Dahinya berkerut karna ia sama sekali tak mengenali wanita itu. "Perkenalkan, aku Angelica, kau bisa memanggilku Angel," ucap orang itu memperkenalkan diri. "Baiklah Angel, mana Tuan Daniel? Bukankah dia yg menyuruhku kesini?" Tanya Anna. "Ya, tapi sebelum kau bertemu dengannya, sebaiknya kau ikut denganku," ucap Angel lalu melangkah pergi, mau tak mau Anna harus mengikutinya. Langkah Angel tertuju pada sebuah ruangan berpintu besar. Perlahan Angel membuka pintu itu dan masuk kedalamnya. Anna hanya mengikutinya dari belakang. Anna dibuat terperangah oleh ruangan ini. Ruangan yang didominasi warna putih ini memiliki banyak gaun-gaun indah dan berkelas di dalamnya. Sepertinya ini adalah ruang hias untuk wanita. "Silahkan duduk," ucap Angel sambil tersenyum sambil mengarahkan pandangannya pada sebuah kursi dihadapan cermin besar. Anna kemudian duduk dikursi itu.  Angel langsung memulai aktivitasnya, ternyata wanita ini ingin memoles wajah Anna. "Kau sangat beruntung," ucap Angel sambil memberikan blash on pada pipi Anna. "Beruntung? Maksudmu?" Tanya Anna tak mengerti. "Kau adalah wanita kedua yang Tuan Daniel perintahkan padaku untuk mendandaninya," ucap Angel membuat Anna mengerutkan dahinya. "Kedua? Siapa yg pertama?" Tanya Anna mulai penasaran. "Ibunya," gumam Angel membuat Anna kaget. Ibunya? "Bahkan kau adalah satu-satunya wanita selain dikeluarganya yang dia bawa kerumahnya ini," jelas Angel lagi. Ntah kenapa ada rasa hangat saat Anna mendengar penjelasan Angel. Tapi, kalau ia yg pertama, jadi ali belum pernah membawa fasa ke rumahnya? Tiba-tiba Anna merasa iba pada adiknya itu. Sepertinya dari awal pria ini sudah tidak serius dengannya. "Apa tuan Daniel tidak memiliki saudari perempuan?" Tanya Anna yang makin ingin banyak tahu tentang Daniel. "Tidak, dia hanya memiliki seorang kakak laki-laki, Wildan Farez. Tapi kini ia sudah pindah ke Jerman untuk mengurusi perusahaan Farez lainnya disana," jawab Angel. "Apa kini kedua orang tua Daniel sedang ada dirumah?" Tanya Anna. Angel terdiam sejenak, Anna menatap wajah Angel yang seketika menjadi sendu dari pantulan cermin. Kenapa tiba-tiba wanita ini kelihatan sedih? "Saat Tuan Daniel berumur 19 tahun, Tuan besar, Andrew Farez dan nyonya besar Fransisca Farez mengalami kecelakaan pesawat yg menewaskan keduanya. Sejak saat itu pula tuan Daniel dan Wildan hanya tinggal berdua," jelas Angel. Anna terdiam mendengar penjelasan Angel. Tenyata banyak sekali hal yang belum ia tau tentang Daniel yang sama sekali belum ia dapatkan dari Fasa. Apakah Fasa tau tentang semua ini. Mendadak Anna menyesal kenapa dulu tak banyak menghabiskan waktu bersama Fasa untuk menceritakan hal ini. Tiba-tiba Anna merasa iba pada Daniel, pasti sulit baginya ditinggal orang tua sejak kecil, walaupun sebenarnya nasibnya tak jauh berbeda dengan Daniel. "Sepertinya aku terlalu banyak menceritakan tentang tuan Daniel padamu, kalau dia tau dia pasti akan marah besar. Jangan beritahu dia ya. Mulai sekarang kau pura-pura tidak tahu saja," ucap Angel yang membuat Anna sedikit terkekeh. Wanita ini cantik, dan bagi Anna dia baik. "Tenang saja. Aku akan pura-pura tidak tahu," balas Anna sembari mengedipkan sebelah matanya membuat keduanya tertawa. "Baiklah, kalau begitu sekarang kau pakai ini," ucap Angel sambil memeberikan sebuah gaun berwarna merah panjang hingga menutupi kakinya, namun dibagian pinggirnya terbelah hingga diatas lutut memperlihatkan kaki jenjangnya. Potongan dadanya yang cukup rendah pasti akan membuat Anna terlihat lebih memukau lagi. Anna keluar dari kamar gantinya. Angel yang sedari tadi fokus dengan ponselnya kini tercengang dengan penampilan Anna. Gaun merah itu melekat indah ditubuh mungilnya namun sintal itu. Ditambah lagi dengan rambutnya yang digulung keatas menampilkan leher jenjangnya. "Kau luar biasa Anna. Mengagumkan," kata Angel yang masih terperangah dengan penampilan Anna. "Ah kau biasa saja, aku rasa ini karna kemampuanmu dalam mendandaniku," balas Anna. "Aku yakin tuan Daniel tak berkedip melihatmu. Kita lihat saja," kata Angel yang membuat Anna tersenyum kecil. Itulah yang ia harapkan. "Semoga. Karna itu yg ku mau," batin Anna. Angel kemudian mengantar Anna ke ruang tamu rumah ini. "Kau tunggu saja. Nanti tuan Daniel akan datang," ucap Angel. Anna membalas dengan senyuman, kemudian Angel berlalu darinya. Anna menunggu Daniel sambil memainkan ponselnya. "Anna," Anna mendengar seseorang memanggilnya. Anna langsung menoleh ke asal suara itu. Anna sedikit kaget saat mendapati Daniel sudah berada dibelakangnya. Daniel memperhatikan Anna dari ujung kaki sampai ujung kepala membuat Anna salah tingkah. Benar saja yang dikatakan Angel tadi. Daniel sama sekali tak berkedip memperhatikannya. Ada rasa bangga menyelimuti Anna mendapat respon seperti itu dari Daniel. "Sekarang kita pergi," ucap Daniel saat sudah puas memperhatikan Anna. "Kita mau kemana Tuan?" Tanya Anna. "Nanti kau juga tahu. Jangan panggil tuan disini, kita sedang tidak di kantor dan tidak pula dalam jam kerja. Panggil saja Daniel." "baiklah, tapi kau mengajakku pergi tapi tidak memberitahu kemana." Dengus Anna kesal. Daniel berjalan mendekati Anna, sontak membuat Anna melangkah kecil mundur. Tatapan Daniel yang begitu tajam membuat jantung Anna tak karuan. Hari ini Daniel memakai setelan jas hitam dengan kemeja hitam polos di dalamnya, jasnya sengaja tak dikancing sehingga d**a bidangnya sedikit terlihat dari balik kemeja hitamnya. Ditambah lagi rambutnya yang sedikit ditata acak, benar-benar DAMN! tampannya. Anna merasa sudah tidak bisa melangkah lagi. Sial, dia sudah sampai disudut dinding. "Kau terlihat cantik saat sedang kesal," ucap Daniel berbisik. Jarak mereka yang dekat membuat Anna dapat merasakan hembusan nafas Daniel yang berbau mint itu. Anna tak bisa memfokuskan pandangannya antara mata maupun bibir Daniel yang luar biasa menggoda itu. Sial, kenapa ia jadi lemah seperti ini! Ali makin mendekat lalu mencium dalam pundak Anna yang terbuka itu. "Aku suka wangimu," kata Daniel yang menbuat Anna terbelalak. "Apa-apaan pria ini. Berani-beraninya dia mencium pundakku. Tapi Anna, bukankah kau mau dia tertarik padamu? Ini saatnya. Sepertinya dia sudah mulai tertarik padamu," batin Anna puas. Anna mulai berani menantang manik-manik mata Daniel. "Aku juga suka wangi tubuhmu," balas Anna tersenyum sembari makin mengikis jarak diantara mereka. Shit! Wanita ini benar-benar bisa membuatmu merasa memanas, bahkan hanya dengan suaranya saja Daniel! Ntah apa yang mendorong Daniel, Daniel mendekatkan bibirnya kebibir tipis Anna lalu melumatnya. Anna yang awalnya kaget mulai tersenyum disela-sela ciumannya. "Ternyata mengambil perhatiannya tak sesusah yang kau bayangkan Anna," batin Anna senang. Anna mulai membalas lumutan Daniel. Lakukan ini demi adikmu Anna! Daniel semakin ganas melumat bibir Anna tanpa membiarkan Anna mengambil nafas sedikitpun. Suara decapan mereka mulai memenuhi ruangan ini. Daniel sedikit menggigit bibir bawah Anna agar gadis itu membuka mulutnya. Refleks Anna langsung membuka mulutnya membiarkan Daniel memasukkan lidahnya kedalam mulut Anna. Lidah Daniel tak segan-segan menjelajahi setiap inci mulut Anna. Bahkan tangan Daniel tak tinggal diam. Daniel mengelus-elus lembut punggung Anna. Sementara Anna mulai mengelus-elus tengkuk Daniel membuat pria itu semakin menggila. Daniel sepertinya tak bisa menahan erengannya karna sentuhan Anna, hingga suara desahan keluar dari bibir Daniel. Daniel langsung menjauhkan bibirnya dari bibir Anna. Nafas mereka sama-sama memburu. Jika tidak disudahi ia bisa saja membawa gadis ini ke kamarnya yang menghabisi malam panjang ini tanpa jadi pergi. "Aku suka ciumanmu," kata-kata Daniel terdengar v****r divtelinga Anna. "Kalau bukan mengingat misiku, aku tidak akan mau melakukan ini tuan Farez," batin Anna. Daniel kembali mendekati Anna lalu mengusap lembut bibir Anna yang sudah basah dengan jarinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN