bc

Mantan Istriku, Pujaan Hatiku

book_age18+
4
IKUTI
1K
BACA
family
HE
second chance
friends to lovers
doctor
tragedy
sweet
bxg
brilliant
city
office/work place
like
intro-logo
Uraian

Yasmin Raihan tak pernah menyangka rumah tangga yang dibangunnya bersama dokter spesialis bedah saraf, Kaif Ali Fathir, harus berakhir di meja hijau. Setelah dua tahun menikah, cinta mereka terkikis oleh kesibukan, kurangnya komunikasi, campur tangan keluarga, dan kehadiran seorang wanita yang terus mengejar Kaif tanpa mengenal batas.Dengan hati hancur, Yasmin memilih menerima perceraian dan kembali ke rumah kedua orang tuanya. Di saat berusaha menata hidup, sebuah kenyataan mengejutkan mengubah segalanya, ia ternyata mengandung anak kembar dari mantan suaminya.Yasmin bertekad membesarkan kedua buah hatinya seorang diri. Namun takdir berkata lain. Kaif mengetahui kehamilan itu dan menyadari satu hal yang terlambat ia pahami, wanita yang paling ia cintai sejak pertama kali bertemu di koridor Universitas Indonesia bukanlah masa lalunya, melainkan Yasmin.Penyesalan pun datang bertubi-tubi.Kaif rela meninggalkan rumah sakit tempatnya bekerja, menghadapi penolakan ibunya sendiri, bahkan mempertaruhkan kariernya demi memperjuangkan kembali istri dan kedua calon buah hatinya.Saat secercah harapan mulai hadir, musibah kembali menghantam. Yasmin menjadi korban tabrak lari yang ternyata bukan sekadar kecelakaan biasa. Di ambang antara hidup dan mati, Kaif harus mengoperasi perempuan yang paling ia cintai dengan tangannya sendiri, sambil mempertaruhkan keselamatan istri dan kedua bayi yang masih berada di dalam kandungannya.Berhasilkah Kaif menebus semua kesalahannya?Mampukah Yasmin kembali membuka pintu hatinya untuk pria yang pernah menghancurkannya?Dan sampai kapan obsesi Dinda Kirana akan mengancam kebahagiaan mereka?Ketika cinta diberi kesempatan kedua, mampukah mereka menjaga rumah tangga itu agar tak lagi hancur oleh ego, kesalahpahaman, dan campur tangan orang lain?Sebuah kisah penuh cinta, penyesalan, keluarga, pengorbanan, dan perjuangan seorang suami untuk merebut kembali hati wanita yang tak pernah berhenti ia cintai.

chap-preview
Pratinjau gratis
Talak yang Terlambat, Penyesalan Seumur Hidup
Ruang sidang Pengadilan Agama terasa begitu sunyi. Hanya terdengar suara lembaran berkas yang dibalik dan langkah para petugas yang berlalu-lalang. Dr. Kaif Ali Fathir, Sp.BS duduk tegak di kursinya. Dokter spesialis bedah saraf di RSPI Pondok Indah itu tampak rapi dengan setelan jas hitam. Wajah tampannya masih berusaha tenang, meski sorot matanya menyimpan tumpukan penyesalan yang tak sanggup diucapkan. Di sampingnya, Yasmin Raihan duduk memeluk erat map berisi berkas perceraian mereka. Pengacara hebat pemilik Kantor Hukum Raihan & Rekan itu menatap kosong ke depan, seolah tak percaya hari ini benar-benar tiba. Beberapa menit berlalu tanpa satu pun dari mereka membuka suara. Yasmin mengembuskan napas panjang yang terasa berat. "Lucu ya, Mas." Kaif menoleh pelan, matanya menatap wajah istrinya yang sudah tak lagi bersinar. "Apanya, sayang?" Yasmin tersenyum hambar, senyum yang tak sampai ke mata. "Dulu kita duduk sebelahan buat ngebahas perkara orang lain, berjuang bareng cari keadilan. Sekarang malah duduk sebelahan nunggu hakim mutusin akhir rumah tangga kita sendiri." Kaif menundukkan kepala, tangannya mengepal di atas lutut. "hmm" "Mas tahu nggak?" "Hm?" "Aku nggak pernah nyangka kita bakal sampai di titik ini." Kaif mengangkat wajah, menatap Yasmin dengan pandangan yang memohon. "Maafin Mas, sayang." Yasmin menggeleng pelan, air matanya mulai berkaca-kaca tapi tak jatuh. "Jangan gampang bilang maaf, Mas." "Soalnya setiap Mas manggil aku 'sayang' kayak gitu... hati aku masih sakit." Kaif menarik napas panjang, dadanya terasa sesak seolah ada beban bertumpuk. "Mas masih sayang sama kamu. Mas nggak pernah berhenti sayang." Yasmin tertawa lirih, suara tawanya terdengar menyayat hati. "Kalau masih sayang, kenapa aku ngerasa sendirian banget selama ini?" Kaif terdiam, tak menemukan kata yang tepat. "Yang bikin aku nyerah itu bukan karena Mas sibuk bedah saraf atau nanganin pasien kritis." "Tapi?" "Mas berubah, Mas." Kaif memejamkan mata sesaat. "Dulu sesibuk apa pun, Mas selalu ngabarin." "Lagi operasi selesai, bilang." "Lagi jaga malam, bilang." "Lagi rapat medis, bilang." "Sekarang?" Yasmin menatap tajam ke arah Kaif. "Aku chat pagi, dibales besok. Telepon nggak diangkat. Pulang rumah udah tengah malam, sampai rumah langsung tidur tanpa ngobrol sedikit pun. Aku ini istri Mas, bukan orang asing yang cuma numpang tidur di rumah yang sama." Kaif menunduk semakin dalam, rasa bersalah meluap-luap. "Mas akui... Mas salah. Mas terlalu fokus sama pekerjaan dan masalah keluarga, sampai lupa sama kamu." "Bukan cuma itu, Mas." Kaif mengangkat kepala, bingung. "Aku juga tahu Mas belum sepenuhnya bisa ngelupain masa lalu... dan Dinda Kirana." Nama manajer RSPI itu disebut begitu saja, membuat Kaif membeku di tempat. "Dinda cuma teman lama sekaligus rekan kerja, sayang. Nggak ada apa-apa di antara kita." Yasmin tersenyum pahit. "Terus kejadian kemarin di ruang kerja Mas di RSPI?" "Itu cuma salah paham." "Mas memeluk Dinda Kirana di ruang kerjamu, Mas." "Dinda lagi hancur banget karena kehilangan pasien yang dia rawat lama. Dia butuh sandaran saat itu." "Terus kenapa Mas yang memeluk dia? Kenapa bukan Abyan, atau teman perawat lain?" Kalimat itu membuat d**a Kaif terasa seperti diremas kuat. "Sayang... demi Allah, Mas nggak pernah selingkuh. Mas nggak pernah punya niat lain sama perempuan mana pun." "Aku percaya." Kaif terkejut, matanya membelalak tak percaya. "Kamu... percaya?" "Iya. Aku tahu Mas orangnya setia. Aku percaya nggak ada hubungan terlarang sama Dinda atau siapa pun." "Terus kenapa kita harus sampai cerai, sayang? Kenapa nggak kita bicarain baik-baik?" Yasmin menatap mata suaminya dalam-dalam, dengan keputusan yang sudah bulat. "Karena Mas udah ninggalin aku jauh sebelum surat gugatan ini masuk ke meja hakim." Kaif terdiam kaku. "Mas ninggalin aku lewat sikap dingin Mas. Lewat diam-diam Mas yang makin lama makin panjang. Lewat kesibukan yang dijadikan alasan buat menutup pintu hatimu buat aku. Lewat perhatian yang pelan-pelan hilang sampai nggak ada sama sekali." Air mata Kaif mulai menggenang di pelupuk matanya, jatuh perlahan membasahi pipi. "Mas pikir... Mas pikir kerja keras, posisi bagus di rumah sakit, dan aset yang cukup bakal bikin kamu bahagia. Mas pengin kasih yang terbaik buat kamu." "Aku nggak pernah minta rumah mewah, Mas." Yasmin menggeleng lemah. "Aku nggak pernah minta mobil mahal atau jabatan tinggi. Aku cuma pengin suami yang pulang, ngobrol sebentar sama aku, nanya aku udah makan atau belum, atau sekadar duduk bareng nonton TV sambil pegang tangan." Suasana kembali hening dan menyakitkan. Tak lama kemudian, panitera membuka pintu ruang sidang. "Saudara Kaif Ali Fathir dan Saudari Yasmin Raihan, silakan masuk. Sidang akan segera dimulai." Kaif berdiri lebih dulu, lalu secara spontan mengulurkan tangan kanannya ke arah Yasmin seperti kebiasaan mereka dulu. "Ayo, sayang. Mas janji bakal dengerin semua penjelasan kamu." Yasmin menatap tangan itu beberapa detik, tangan yang dulu selalu menuntun dan menghangatkannya. Perlahan ia menggeleng pelan. "Maaf, Mas." "Mulai hari ini... aku harus belajar jalan sendiri." Tangan Kaif menggantung kaku di udara, perlahan ia menurunkan tangannya dengan berat hati. Ia hanya mampu memandangi perempuan yang masih sangat dicintainya melangkah masuk duluan ke ruang sidang, sementara dirinya baru benar-benar menyadari satu hal pahit: Perhatian yang datang terlambat, tak akan pernah mampu mengulang waktu yang sudah terlewat. Suasana ruang sidang Pengadilan Agama begitu hening. Tak seorang pun berani bersuara. Kaif dan Yasmin duduk berdampingan di hadapan majelis hakim, namun jarak di antara mereka terasa sejauh langit dan bumi. Tak ada lagi tatapan yang saling bertaut seperti dulu. Hakim ketua membuka berkas di hadapannya perlahan, lalu menatap kedua belah pihak dengan pandangan yang bijaksana namun tegas. "Saudara Kaif Ali Fathir dan Saudari Yasmin Raihan, setelah majelis memeriksa seluruh alat bukti, mendengarkan keterangan para pihak, serta mempertimbangkan fakta-fakta yang terungkap selama persidangan, majelis telah mengambil keputusan." Ruangan semakin sunyi senyap. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar jelas. Yasmin menggenggam erat jemarinya sendiri di atas meja, hingga buku jarinya memutih. Sementara Kaif menatap lurus ke depan dengan rahang mengeras, berusaha menahan agar tangisnya tak luruh di tempat umum. Hakim melanjutkan dengan suara lantang namun tenang, "Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa..." Beliau mengangkat palu sidang. Tok! "Majelis hakim mengabulkan gugatan cerai yang diajukan oleh penggugat, Saudari Yasmin Raihan." Kaif memejamkan mata sejenak, seolah seluruh tenaganya disedot habis saat itu juga. Yasmin menunduk pelan, bahunya bergetar halus. Hakim kembali membaca amar putusan dengan jelas, "Menyatakan perkawinan antara Saudara Kaif Ali Fathir dengan Saudari Yasmin Raihan yang telah dilangsungkan secara sah menurut hukum dan agama, putus karena perceraian." Tok! "Sejak putusan ini memperoleh kekuatan hukum tetap, kedua belah pihak dinyatakan sah bercerai sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku." Suasana mendadak terasa semakin berat menekan d**a. Kaif menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dadanya sesak mendengar kalimat yang selama ini selalu ia takutkan menjadi kenyataan. Yasmin mengembuskan napas panjang yang bergetar. Air matanya jatuh deras tanpa bisa lagi ia bendung. Hakim menatap keduanya dengan lembut, "Majelis memahami bahwa tidak ada pasangan yang menikah dengan tujuan untuk berpisah. Namun, apabila kehidupan rumah tangga sudah tidak dapat dipertahankan dan segala upaya perdamaian tidak membuahkan hasil, maka perceraian menjadi jalan terakhir yang dibenarkan oleh hukum." Beliau kembali mengangkat palu sidang, mengetuknya tiga kali sebagai penutup. Tok! Tok! Tok! "Sidang perkara perceraian antara Saudara Kaif Ali Fathir dan Saudari Yasmin Raihan dinyatakan selesai dan ditutup." Kaif perlahan menoleh ke arah wanita di sampingnya, suara seraknya terdengar begitu rapuh. "Sayang..." Yasmin ikut menoleh. Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang penuh luka, meski air mata masih membasahi pipinya. "Mulai hari ini... jangan panggil aku 'sayang' lagi, Mas." Kalimat itu menghantam hati Kaif jauh lebih keras daripada ketukan palu hakim. Rasanya seperti seluruh dunianya runtuh seketika. Kaif hanya mampu mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. "Iya..." suaranya hampir tak terdengar. "Maaf ya... Yasmin." Tanpa berkata apa pun lagi, Yasmin bangkit dari kursinya. Untuk terakhir kalinya ia menatap pria yang pernah menjadi imam, rumah, dan seluruh dunianya, lalu perlahan berbalik dan melangkah keluar dari ruang sidang. Sementara Kaif tetap duduk mematung di sana, menyadari satu kenyataan pahit: Penyesalan memang selalu datang terlambat, tepat di saat kesempatan untuk memperbaikinya telah hilang selamanya. *** Mobil Pak Joko berhenti di halaman rumah besar itu. Kaif turun perlahan, melangkah masuk seolah setiap langkahnya berat sekali. Pintu utama terbuka, namun udara di dalamnya terasa dingin dan sunyi, tak ada lagi suara kicauan, tak ada lagi sapaan hangat yang dulu selalu menyambutnya pulang. Ia melewati ruang tamu. Matanya memandang ke arah sofa panjang di sudut ruangan. Seketika bayangan itu muncul kembali dengan jelas. Di sana, Yasmin dulu sering duduk bersandar di bahunya sambil menonton televisi, lalu keduanya tertawa lepas menertawakan hal-hal konyol. "Mas itu lucu banget kalau lagi bingung," bisik bayangan itu. Kaif tersenyum tipis, namun air mata segera jatuh membasahi pipinya. Ia berkali-kali mengusap wajah dengan punggung tangan, berusaha menahan isak tangis yang ingin meledak. "Kenapa harus kosong begini..." gumamnya pelan. Kakinya melangkah masuk ke ruang tengah. Matanya tertuju pada sofa empuk di dekat jendela. Di tempat itulah kenangan paling hangat sekaligus paling menyakitkan kembali menyeruak. Terbayang di sana momen keintiman mereka yang penuh kasih sayang. Sentuhan lembut, tatapan yang saling menyatu, suara desahan halus dan rintihan manja Yasmin yang dulu selalu membuat jantungnya berdegup kencang. "Mas... peluk aku lebih erat lagi..." Suara itu seolah masih terngiang jelas di telinganya, seolah wanita itu masih ada di sana, bersandar di pelukannya. Kaif memejamkan mata rapat-rapat, tangannya mencengkeram pinggiran sofa seolah ingin meraih bayangan yang perlahan menghilang. Dadanya sesak hebat. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Yasmin, aroma rambutnya, dan bagaimana wajah wanita itu memerah saat bersamanya, namun semua itu kini tinggal kenangan yang tak akan pernah terulang lagi. Ia jatuh berlutut di lantai dingin, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi. Rumah besar yang dulu ia impikan untuk tempat mereka menua bersama, kini terasa seperti penjara yang sunyi. Penuh barang mewah, tapi tak memiliki satu pun kebahagiaan yang berharga.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
767.0K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.9M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
994.0K
bc

A Warrior's Second Chance

read
368.1K
bc

Not just, the Beta

read
353.0K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook