Abel berjalan melewati pagar setinggi pinggangnya bersama Ardan di sampingnya. Sebuah bangunan di depannya membuat Abel tercengang. Bukan karena tentang seberapa besar bangunan satu lantai itu, melainkan suasana yang ada di sekitarnya.
Rumput hijau memenuhi pelataran bangunan itu. Menjadi karpet di mana beberapa anak duduk di atasnya. Memegang mainan sederhana di tangannya. Anak-anak itu tertawa. Ada yang sedang main kejar-kejaran, ada yang sedang sibuk dengan pensilnya, ada yang sedang bermain dengan boneka lusuh dan robot-robotan yang warnanya sudah nyaris pudar. Meski begitu, tawa seolah sudah melekat di bibir mereka. Pemandangan yang benar-benar membuat Abel terenyuh.
Sebuah plang bertuliskan Panti Asuhan Kasih Bunda berdiri di depan bangunan itu. Sama seperti plang yang ada di dekat gerbang. Abel langsung mengerti, alasan Ardan mengatakan bahwa ia memiliki banyak adik, bukan karena Ardan memiliki banyak saudara kandung, tapi karena cowok itu tinggal di panti asuhan.
Ardan menuntun Abel semakin mendekati bangunan. Semua anak yang sedang bermain satu persatu mulai menyadari kehadiran Ardan. Mereka perlahan berdiri, menatap penasaran pada sosok yang sedang bersama Ardan.
Satu anak perempuan mendekati Ardan. Menarik kemejanya kemudian bertanya, "Abang, itu siapa?" Dengan tatapan tertuju pada Abel.
Perlahan, anak-anak yang lain turut datang dan berkumpul mengelilingi Ardan. Menanyakan hal serupa seperti anak perempuan yang pertama. Ada tujuh anak. Mereka semua berusia sekitar 7-10 tahun. Masih terlalu kecil untuk menghadapi kerasnya alur kehidupan.
"Ini temen abang. Kak Abel namanya," sahut Ardan memperkenalkan.
Mereka semua sekarang tersenyum lebar. "Halo, Kak Abel," sapa mereka serentak.
Abel ikut tersenyum. "Hai," jawabnya melambaikan tangan.
"Kalian semua udah jam segini kenapa masih di luar? Gak ada yang bantuin Ibu di dapur?"
"Udah, kok. Aku udah bantu Ibu masak buat makan malam. Sekarang kami lagi antri kamar mandi. Yudi sama Hana yang pertama mandi," jelas anak perempuan yang tadi sempat bertanya.
Ardan mengangguk paham. Ia menatap Abel, menunjuk anak-anak yang mengelilinginya dan menyebutkan nama mereka satu persatu. Fiona, Gilang, Anggi, Dwi, Ratna, Desi, dan Jimmy.
Abel berusaha mengingat wajah mereka satu persatu. Terutama empat nama yang pernah disebutkan oleh Ardan kala di taman beberapa waktu lalu.
"Ya udah, sekarang kalian mainnya di dalam aja. Udah sore."
Ardan menggiring semua anak itu menggunakan dua tangannya. Mereka berbalik. Mengambil mainan yang sempat mereka tinggalkan sebelumnya kemudian bergegas memasuki bangunan.
Keduanya mengikuti langkah anak-anak itu. Di dalam, mereka bermain lagi. Dengan mainan lusuh yang sudah tidak layak pakai, tapi berhasil membantu mereka saling melempar tawa. Rasanya menyenangkan, itu yang ingin Abel katakan. Ia dibuat terharu karena pemandangan sekecil itu. Mereka mungkin tidak punya apa-apa, hanya memiliki satu sama lain sebagai tempat untuk saling menguatkan, meski begitu, wajah mereka seolah tidak pernah mengeluarkan keluhan. Berbeda dengannya.
Semakin ke dalam, Abel diajak ke sebuah ruangan yang terdapat meja panjang dengan barisan kursi di sisi kanan dan kiri. Tak jauh dari meja itu, seorang wanita tengah sibuk membawa piring lalu menatanya di atas meja. Wajahnya sudah dipenuhi kerutan. Jilbab berwarna putih menjadi penanda seberapa cantik wajah itu meski telah dimakan usia.
Menyadari kehadiran Ardan, wanita itu menghentikan kegiatannya. Membiarkan piring plastik masih menumpuk dan berjalan menghampiri Ardan.
"Kamu udah pulang?"
Suaranya lembut sekali. Abel merasa terbuai mendengarnya.
Ardan mengangguk. Mengulurkan tangan yang langsung disambut baik oleh wanita itu. Bersamaan dengan Ardan yang mencium tangan ringkih itu, kepala Ardan diusap lembut.
Saat keduanya sudah saling melepaskan, tatapan wanita itu beralih pada Abel. Bibirnya mengulas senyum tipis sebelum akhirnya bertanya, "Ini siapa, Dan?"
"Namanya Abel, Bu."
Tidak ingin dianggap sebagai tamu yang tidak tahu sopan santun, Abel mengulurkan tangan dan mencium tangan wanita itu sama persis seperti apa yang sering ia lakukan pada orang tuanya. Namun, bedanya sekarang Abel mendapatkan usapan lembut di kepalanya. Menjadi hadiah istimewa yang Abel dapatkan di pertemuan pertama. Kehangatan sekaligus kenyamanan.
"Bel, ini Bu Dona. Ibu panti yang udah ngurus gue dari kecil," kata Ardan begitu Abel melepaskan tangannya.
Wanita yang dipanggil Dona itu lagi-lagi tersenyum. "Panggil aja ibu," katanya.
Sontak Abel mengerjap lantas bertanya, "Boleh?" Dengan raut polos.
"Boleh, dong. Semua anak di sini manggil saya ibu."
"Karena kami anak Ibu, dan Ibu adalah satu-satunya orang tua kami," Ardan yang menjawab. Cowok itu bahkan sampai memeluk Bu Dona sambil mengatakan hal itu. Terlihat akrab sekali. Membuat Abel iri.
"Asal kamu tau, ya. Ardan itu jarang sekali ngajak temannya main ke sini. Beberapa kali teman cowoknya datang, tapi kalau teman perempuan baru kamu aja yang dibawa ke sini, Bel."
Abel dibuat tersipu karena perkataan itu. Pipinya merona berwarna kemerahan. Ia merasa menjadi gadis spesial di hidup Ardan.
"Ya udah, kalian ngobrol aja di depan. Ibu lagi siap-siap buat makan malam nanti."
"Biar aku bantu, Bu."
Bu Dona menggeleng. "Gak usah. Ibu aja bisa, kok. Kamu ajak Abel keliling atau ngobrol aja di depan," tolaknya halus.
Alhasil, Ardan meletakkan tasnya di salah satu kursi dan mengajak Abel pergi dari sana. Karena di ruang tamu ada anak-anak lain yang sedang bermain, Abel diajak keluar dari panti. Menuju pohon mangga yang ada di samping panti. Tidak ada kursi di sana, membuat Abel mau tak mau mengikuti Ardan yang duduk di rerumputan.
Rasanya baru beberapa menit lalu Ardan mengatakan akan memberinya sesuatu yang membuatnya pantas berterima kasih, tapi Abel langsung mendapatkannya dengan cepat. Sambutan hangat dari ibu panti, rasa kekeluargaan yang tercipta dari kebersamaan anak-anak panti, juga usapan lembut yang ia terima. Abel ingin berterima kasih, tapi tidak ia lakukan. Karena rasanya itu saja tidak cukup.
Bagi sebagian orang, panti asuhan mungkin hanya terlihat seperti tempat penampungan anak-anak yang terbuang. Abel pun beranggapan begitu sebelum melihat secara langsung. Bahwa di tempat itu tidak hanya beriai anak-anak yang tidak diterima, tapi juga kumpulan perasaan yang akan membuat tersentuh.
Panti asuhan akan terlihat seperti tempat penampungan anak-anak untuk orang lain, tapi untuk mereka yang tinggal di dalamnya, sesuatu yang disebut panti itu merupakan rumah tempat mereka berteduh dan menemukan keluarga yang mau menerima mereka.
"Lo kaget, ya? Liat rumah gue."
Perkataan Ardan yang tiba-tiba membuat Abel langsung menoleh ke arahnya. Menggeleng cepat. Menolak menyetujui hal itu.
"Kenapa harus kaget?"
"Karena gue tinggal di panti asuhan."
Kalau saja Abel bisa jujur, ia akan berkata bahwa yang Ardan miliki sekarang jauh lebih berharga dari apa yang ia miliki. Terasa hangat dan mampu menghargai kehadiran Ardan, bahkan kehadirannya yang bisa dibilang hanya orang asing.
"Enggak, kok. Justru gue nyaman ada di sini."
Ardan tersenyum. Tatapan menerawang jauh ke langit yang sudah berganti dari biru ke jingga. Sorot itu diperlihatkan lagi olehnya, sorot yang pertama kali Abel lihat di pertemuan pertama. Di mana senyum hangat mengembang saat Ardan memberikan es krim pada seorang anak kecil, tapi perlahan senyum hangat itu berubah saat si anak hilang. Dan kali ini Ardan memperlihatkannya lagi.
"Di sini tempatnya anak-anak yang terbuang. Ditolak oleh dunia atau bahkan orang tua. Kami gak punya rumah, kami gak punya tempat untuk saling berkeluh kesah. Cuma di sini, pelan-pelan kami belajar bahwa masih ada tempat yang mau menerima kami dan mau membantu kami meraih cita-cita kami." Ardan menoleh. Menatap Abel dalam. Sorotnya terlihat sendu sekali. Jauh berbeda dari kepribadiannya yang selama ini Abel kenal hangat dan menyenangkan.
"Kami cuma mengandalkan donatur untuk bertahan hidup, kami cuma mengandalkan kekuatan satu sama lain agar bisa tetap bahagia, kami cuma bisa menikmati mainan dan pakaian bekas agar bisa terlihat normal. Nyatanya tetap saja, dunia kami berbeda dengan dunia anak-anak normal lainnya. Kami punya keinginan, kami punya cita-cita, kami punya khayalan, yang gak kami punya cuma orang tua serta dunia hangat yang kerap diperlihatkan di layar kaca."
Tubuh Abel gemetar hebat. Menyadari seberapa beruntung dirinya, dan melihat seberapa miris kehidupan anak-anak panti membuat matanya terbuka lebar. Ada banyak kesempurnaan yang kerap dikeluhkan oleh manusia termasuk dirinya, contohnya adalah kelengkapan keluarga.
Setiap anak tidak bisa memilih ingin lahir di mana atau siapa yang melahirkannya, tapi mereka yang memiliki keluarga utuh sama saja memiliki kesempurnaan bagi sebagian anak yang tertolak oleh dunia.
"Dunia yang kita kenal terlalu kejam, dan lebih kejam saat kami yang harus menghadapinya. Kami cuma punya Bu Dona untuk menjadi tempat pulang kami. Satu-satunya orang yang mau menerima kami tanpa memandang siapa kami dan dari mana kami berasal. Setiap anak di sini selalu mendambakan keluarga yang utuh, yang bisa mereka sebut ayah dan bunda. Tapi setelah memimpikan hal itu, kami tersadar bahwa mereka yang seharusnya kami panggil ayah dan bundalah yang membuang kami ke sini. Meninggalkan kami dengan anak-anak yang terlahir serupa."
Abel benar-benar tidak bisa berkata apa-apa. Pikirannya tiba-tiba kosong, hatinya dipenuhi rasa sesak mendengar penuturan Ardan.
"Kebanyakan anak di sini terang-terangan dibuang sama orang tua kandung mereka dengan alasan tidak mau mengurus atau karena mereka lahir dari hubungan gelap. Sedih rasanya kalau harus bayangin sekejam itu orang tua mereka, membuang seorang anak tidak berdosa cuma tanpa mikir apa yang mereka perbuat sebelum melahirkan anak itu." Ardan terkekeh pelan. Terdengar mengerikan di telinga Abel. "Walaupun tetep aja, gak semua anak di sini punya nasib kaya gitu," sambungnya dingin.
Sekarang Abel membayangkan, apakah dulu kedua orang tuanya akan membuang dirinya saat mereka tahu bahwa ketika tumbuh besar, ia bukanlah anak yang berguna? Hanya gadis bodoh yang bahkan jauh di bawah adiknya sendiri.
Mendengar perkataan Ardan, itu bisa saja terjadi. Bagaimana mudahnya sosok yang harusnya melindungi darah daging mereka, justru dengan teganya membuang darah daging itu ke panti asuhan. Tapi nampaknya keberuntungan memihak pada Abel. Ia bersyukur ibunya tidak melakukan hal sekejam itu. Dan ia lebih bersyukur lagi karena manusia bukanlah makhluk yang bisa melihat masa depan. Karena kalau ya, ia mungkin sudah ada di panti asuhan juga.
"Ahh, maaf. Gak seharusnya gue bahas hal ini," kata Ardan terkekeh geli. Rautnya kembali terlihat ceria, membuat Abel menghela napas lega.
Abel menggeleng. Tidak apa-apa, ia justru senang mendengar Ardan banyak berbicara tentang kehidupannya.
"Gue juga gak tau kenapa tiba-tiba gue bawa bahasan yang menyedihkan dan berat kaya tadi."
Lagi-lagi Ardan terkekeh.
"Gak pa-pa, kok. Santai aja. Lo kaya baru kenal aja sama gue. Gue malah seneng kalau lo mau banyak ngomong pas sama gue. Mau lebih terbuka gitu di depan gue. Soalnya gue merasa jadi temen yang bisa diandalkan kalau lo kaya gitu."
"Oh, ya?" tanya Ardan memastikan.
Abel mengangguk mantap. "Lo bisa percayain semua kisah hidup lo sama gue. Gue bisa janji bakal pegang kisah itu cuma buat gue," tuturnya percaya diri.
"Terus gimana sama lo?"
Hening.
Ardan masih menatap Abel penasaran. Menanti jawaban dari pertanyaannya. Namun, seperti beberapa waktu lalu saat ia menanyakan hal serupa, Abel justru seolah enggan menjawabnya.
"Oh iya, kira-kira kegiatan lo di sini ngapain aja?"
Sama seperti waktu itu, saat ini Abel mengalihkan pembicaraan juga. Membuat Ardan kian penasaran kisah hidup Abel. Karena gadis itu benar-benar bungkam soal kehidupannya.
"Sebelum berangkat sekolah bantu-bantu bikin sarapan, bangunin anak-anak panti, dan kalau lagi libur bantu beres-beres segala macem."
"Pasti elo ahli banget dalam urusan rumah tangga, ya? Kayanya cocok banget jadi ibu rumah tangga," timpal Abel tergelak.
Ardan tidak terlalu menanggapi candaan Abel, ia masih geram dengan sikap Abel. Ia merasa dicurangi karena Abel mendengarkan kisah hidupnya, sementara dirinya tidak tahu apa pun mengenai gadis itu. Di balik sifatnya yang ceria dan hiperaktif, Abel cenderung terlihat tertutup. Sifatnya yang blak-blakan seolah hanya menjadi tameng untuk menutupi perasaannya yang sebenarnya. Dan menurut Ardan itu menyebalkan.
Tidak adil rasanya saat kamu menceritakan kisah hidupmu, tapi kamu justru buta mengenai kehidupan orang yang mendengar kisahmu.
"Lo juga bisa cerita tentang apa pun ke gue. Gak harus setiap hari, meskipun sebenernya gue siap kapan pun lo mau cerita. Lo bisa percayain semua kisah hidup lo sama gue. Gue bisa janji bakal pegang kisah itu cuma buat gue." Ardan mengulang ucapan Abel, membuat gadis itu terdiam.
Karena Abel sadar, Ardan sudah sesiap itu menerima kisahnya, tapi ia harus merasa bersalah karena sama sekali tidak berniat menceritakan apa pun tentang kehidupannya.