"Dan, lo gak takut sama gue?"
Pertanyaan itu mengambang di udara. Ardan yang menjadi lawan bicara Abel kebingungan harus menjawab apa, karena ia memang tidak mengerti kenapa tiba-tiba Abel menanyakan hal aneh. Takut semacam apa yang dimaksud oleh gadis itu?
"Maksud gue itu apa lo gak risih temenan sama orang kaya gue? Urakan, bar-bar, dan tampang gue mungkin kaya tampang kriminal," jelas Abel melihat Ardan yang nampaknya tidak mengerti sama sekali.
Barulah Ardan mengerti. Rupanya yang dimaksud Abel adalah perihal penampilannya. Selama ini Abel selalu percaya diri dengan sikap dan tingkah lakunya sendiri. Gadis itu tidak pernah mengoreksi penampilannya dan terlihat nyaman-nyaman saja. Lantas, ada apa sebenarnya? Kenapa tiba-tiba Abel menanyakan hal yang selama ini selalu diabaikan?
"Kenapa lo bisa mikir kaya gitu?" Ardan balik bertanya.
Abel mengerjapkan mata. Pikirannya berlari ke kejadian di sekolah. Di mana ia sedang mengobrol dengan Asep dan Leo di jam istirahat. Karena perkataan dua cowok itu, ia jadi berkaca di toilet sekolah sebelum bertemu Ardan. Meneliti penampilannya dari atas ke bawah hanya untuk mencari-cari di mana letak kecacatannya? Dan sekarang, ia memberanikan diri untuk bertanya kepada Ardan.
Jauh dari lubuk hati Abel yang paling dalam, ia tidak ingin kehilangan Ardan untuk sebab apa pun. Ia ingin berteman dengan cowok itu tidak hanya untuk hari ini atau esok, tapi sampai dirinya bisa menyaksikan sendiri kehidupan bahagia Ardan dan tetap berada di samping cowok itu susah ataupun senang. Dengan kata lain, agar Ardan tetap nyaman berteman dengannya, ia harus mencari tahu apa yang tidak disukai Ardan darinya dan memperbaiki hal itu.
Tatapan keduanya bertemu saat Abel menerobos netra milik Ardan. Tenang sekali. Menatap Ardan selalu menghadirkan sensasi menyenangkan yang tidak pernah Abel dapatkan dari siapa pun.
"Barang kali ada sesuatu di diri gue yang gak lo suka, dan bikin lo risih sama gue. Siapa yang tau, 'kan?"
Ardan memutuskan pandangan dengan menggeleng. "Gue gak pernah liat seseorang dari gimana cara mereka berpakaian, bersikap, atau berbicara. Kalau gue nyaman, preman pun bisa gue ajak berteman. Jadi gak usah nyari-nyari di mana letak ketidaksempurnaan lo, dan berniat berubah. Kalaupun lo mau berubah, itu harus tulus karena kemauan lo sendiri, bukan karena orang lain." Ia terkekeh di akhir kalimatnya. Membuat Abel mengerjap untuk kesekian kalinya.
"Gue 'kan cuma nanya. Mungkin aja selama ini lo pura-pura nyaman temenan sama gue, tapi dalam hati taunya lo ngehujat gue."
"Bisa-bisanya lo ngira gue punya sifat sejelek itu. Apa gue keliatan kaya orang yang kaya gitu?"
Abel menggeleng. Tidak sama sekali. Tolong salahkan Asep dan Leo saja karena tiba-tiba membuatnya insecure berada di dekat Ardan yang dilihat dari sisi mana pun jelas orang baik.
"Gini, deh. Gue balik tanya ke elo. Lo 'kan punya tiga temen yang lo bilang deket banget sama lo. Ada yang humoris, ada yang punya tingkat kepercayadirian yang tinggi, dan satu lagi ada yang lemot. Sekarang lo sebutin masing-masing kekurangan mereka yang lo tau. Bisa?"
Tanpa sadar Abel memikirkan tiga temannya. Mulai dari Asep, Leo sampai Heri. Tiga cowok itu bersama tingkah mereka, hilir mudik di kepalanya tanpa permisi.
"Asep itu kadang ngeselin, ngomongnya asal jeplak, walaupun emang itu sisi humoris dari dia. Kalau Leo lemot banget jadi manusia, gue jadi suka kesel sendiri kalau ngobrol sama dia. Dan kalau Leo, pinter sih, tapi kepercayadiriannya yang tinggi bikin gue mau muntah."
"Nah, terus kenapa lo mau temenan sama mereka?"
"Karena mereka nerima gue apa adanya. Walaupun banyak kekurangan yang bikin gue naik darah, tapi cuma mereka yang selalu ada pas gue butuhin." Abel menatap Ardan. Menggeleng dua kali. "Bukan berarti gue manfaatin mereka, ya. Gak gitu. Kita temenan secara sehat, kok. Kalau ada yang susah, semuanya ngebantu, dan kalau lagi senang, semuanya ngerasain. Intinya sih mereka bertiga itu orang-orang berharga menurut gue."
Seulas senyum Abel dapati di bibir Ardan. Membuatnya seketika membulatkan matanya lebar-lebar. Rupanya begitu. Ardan bertanya tentang kekurangan teman-temannya bukan karena cowok itu ingin tahu, tapi semata-mata untuk menyadarkannya atas apa yang sempat ia ragukan pada Ardan. Kalau ia bisa menerima sedemikian baik kelakuan teman-temannya, maka bukan tidak mungkin Ardan pun bisa melakukan hal yang sama dengan menerimanya.
"Udah paham?" tanya Ardan terdengar seperti meledek Abel.
Abel mengangguk pelan. Ia bahkan sangat paham. Ardan tidak menjelaskan apa-apa, cowok itu membuatnya memahami apa yang seharusnya ia pahami sejak awal. Hal sederhana yang baru ia tahu sangat berharga. Bahwa pertemanan yang sehat tidak terjadi hanya karena menginginkan sesuatu. Tidak untuk materi, tidak untuk diakui, tidak pula untuk berpura-pura agar tidak terlihat sendiri, tapi betulan saling berteman karena perasaan yang tulus.
Seseorang yang mengerti arti pertemanan yang sesungguhnya tidak akan ditinggalkan di saat terburuk sekalipun. Itu yang Abel pelajari dari bagaimana ia berteman dengan teman-temannya. Tidak ada unsur terselubung, yang ada hanya kesenangan serta ketulusan karena bisa saling mengerti satu sama lain.
Lalu Ardan? Abel pun yakin Ardan adalah orang baik. Cowok itu tidak datang karena perlu, dan pergi karena bosan. Meski belum kenal lama, Ardan selalu menunjukkan hal-hal baik padanya. Tidak dengan menjatuhkan untuk membuatnya sadar, melainkan dengan cara unik di mana Abel selalu dibuat belajar dari pengalaman atau hal-hal kecil yang ditemukan.
"Temen-temen yang kaya gitu harus lo pertahankan. Mereka mungkin punya beberapa kekurangan yang bikin lo kesel, punya sifat yang kadang bikin jengkel, tapi itulah mereka dengan segala keajaibannya. Kalau mereka gak gitu, belum tentu lo mau temenan sama mereka."
"Kenapa gitu?" tanya Abel bersemangat.
"Lo bayangin, misalnya sifat tiga temen lo itu gak kaya sekarang. Contoh kecil aja, misalnya mereka pinter dan jadi siswa populer di sekolah. Pokoknya bayangin aja mereka itu murid teladan, ramah, sopan, dan supel. Emangnya lo yakin orang-orang sekelas itu mau temenan sama lo, atau ... emangnya lo yakin bisa temenan sama orang sekelas mereka?"
Abel merengut kesal. Ia berkata, "Lo seolah lagi bilang kalau gue gak pantes temenan sama orang pinter." Dengan raut wajah yang terlihat menggemaskan di mata Ardan.
Rasanya ingin sekali Ardan menggerakkan tangannya untuk mencubit pipi Abel, tapi tidak ia lakukan.
"Gak gitu. Itu 'kan cuma perandaian. Gue yakin lo bisa temenan sama siapa aja. Tapi satu yang harus lo tau." Ardan menatap Abel dalam, "mereka yang bisa temenan sama lo tanpa ngeliat kekurangan lo, mereka yang kaya gitu lebih baik, daripada ribuan orang pintar di luar sana."
Ardan memilih menggunakan perkataannya untuk memanjakan Abel.
Di sisi lain, Abel pun setuju dengan pendapat Ardan. Karena ia mengalaminya. Orang-orang pintar di sekolahnya cenderung memilih teman dengan kapasitas otak yang mumpuni seperti mereka. Yang pintar berteman dengan yang pintar, yang berprestasi berteman dengan yang berprestasi pula, dan yang b****k sepertinya akan memilih teman yang juga sepemikiran.
Tidak usah jauh-jauh. Karena Abel sadar, adiknya sendiri bahkan tidak mau mengakuinya karena posisinya yang jauh berada di bawah sebagai seseorang yang seharusnya disebut sebagai seorang kakak. Sebagai adik, Abi jauh lebih mumpuni dibandingkan dengannya. Pintar dan berprestasi. Selain itu Abi juga cantik dan pandai merawat tubuh. Itu menjadi nilai plus yang dibanggakan oleh adiknya itu, dan tidak dimiliki olehnya.
Abel sadar diri. Ia tidak bisa berteman dengan kaum seperti Abi, karena ia tidak akan bisa mengangkat wajahnya dengan percaya diri.
"Makasih karena udah mau temenan sama gue, Dan."
Ardan terkekeh pelan. "Gak harus berterima kasih sama gue, karena gue gak ngelakuin apa-apa. Gue juga gak ngasih apa-apa. Gue temenan sama lo karena gue mau, itu aja," jelasnya.
"Justru itu gue berterima kasih." Abel bersikeras.
Karena yang berbicara dengannya adalah Abel, si gadis keras kepala. Ardan akhirnya tahu bahwa ia harus mengatakan sesuatu yang bisa membuat Abel diam, dan tidak melanjutkan percakapan yang ia yakini akan berujung perebutan hal sepele tentang perlukah berterima kasih atau tidak.
"Lo baru boleh berterima kasih kalau gue bisa ngubah sesuatu di hidup lo. Entah ngasih kebahagiaannya yang sebelumnya lo idamkan, ngerubah lo menjadi baik lagi, atau ngasih sesuatu yang bikin lo sadar tentang satu hal yang penting. Dan kayanya gue belum ngelakuin apa-apa buat wujudin itu."
Abel ingin memberi tahu bahwa Ardan sebenarnya sudah terlalu banyak memberi sampai-sampai ia kebingungan harus dengan cara apa membalasnya. Ardan banyak mengajarkannya hal-hal hebat yang membuatnya ingin terus bersama dengan cowok itu agar bisa mempelajari hal lainnya setiap hari.
Namun, karena Ardan berkata demikian, Abel yakin bahwa akan ada hal hebat yang nantinya diberikan Ardan untuknya. Dan ia menantikan hal itu.
"Oke." Abel berdiri. Ia menarik tangan Ardan agar ikut berdiri. Kebiasaan yang tanpa sadar sering ia lakukan sejak mengenal Ardan. "Sebelum lo ngelakuin satu hal paling hebat buat gue, lo harus mengabdikan diri hari ini."
Keduanya berlari menjauh dari kursi. Menyusuri taman luas itu.
"Mengabdikan diri buat apa?" tanya Ardan kebingungan.
"Sebentar lagi lo bakal tau kok," sahut Abel.
Abel berhenti di depan dua ayunan yang terbuat dari besi. Saat akhir pekan, ayunan itu biasanya penuh dipakai bergantian oleh pengunjung sehingga Abel tidak punya kesempatan untuk bermain. Sedangkan kalau hari biasa, pembicaraan yang menyenangkan dengan Ardan membuatnya lupa pada permainan-permainan anak yang ada di taman tersebut.
Kali ini Abel mengingatnya. Ia ingin Ardan menghabiskan waktu bermain hal-hal kecil dengannya.
Tidak mau menunggu lagi, Abel langsung duduk di salah satu ayunan. Ia meminta Ardan berdiri di belakangnya menggunakan gerakan dagu. Cowok itu mengerti dan menuruti permintaan Abel layaknya seorang pengawal yang mengikuti majikannya.
"Lo boleh nganggep gue kekanakan, tapi berhubung lo nerima gue apa adanya, lo juga harus terima sifat kekanakan gue. Jadi ... bantu dorong ayunan ini sampe gue bosen, Dan." Abel menoleh ke belakang. Nyengir lebar saat Ardan geleng-geleng kepala.
Tubuh Abel segera mengayun dengan gerakan teratur. Ardan mendorong bahunya pelan saat tubuh Abel bergerak ke arahnya. Angin sore menerpa wajah Abel dengan lembut. Kedua tangannya memegang masing-masing pegangan di sisi tubuhnya dengan erat, sementara dirinya seolah dilempar jauh ke udara.
"Demi apa pun, ayunan itu permainan yang gak akan bosen dimainin meskipun lo udah nenek-nenek," kata Abel sedikit menoleh ke belakang. Tubuh Ardan diam di tempat, tapi seperti bergerak karena gerakan ayunan yang dinaikinya.
"Kekanakan lo!" sindir Ardan lagi-lagi menggelengkan kepalanya.
Abel tergelak. Ia tidak peduli. Karena menurutnya memang demikian. Ayunan adalah satu-satunya permainan yang bisa dimainkan bahkan oleh nenek-nenek sekalipun. Jika ada orang yang tidak menyukai ayunan, menurutnya orang itu bermasalah.
"Dan, dorongnya agak kencengan dikit dong. Biar gue kaya lagi terbang gitu. Lo belum makan, ya? Lemes amat."
Lagi-lagi Ardan menurut. Ia mundur dua langkah. Kali ini ayunan yang sedang dinaiki Abel didorong lebih kuat olehnya, sampai-sampai ia yakin tubuhnya akan terpental jika terkena.
Suara decitan besi yang bergesekan semakin terdengar kencang. Bersamaan dengan itu Abel berteriak kesenangan karena dorongan Ardan yang lebih keras membuatnya mengayun lebih tinggi lagi. Tubuhnya sedikit ia condongkan ke belakang, sementara kakinya merentang ke depan. Kedua matanya terpejam. Merasakan embusan angin lebih dalam lagi. Sampai beberapa saat, Abel tetap begitu. Menikmati hal sederhana yang membuatnya senang. Karena Ardan menjaga punggungnya di belakang. Memastikan agar dirinya tidak terjatuh.
"Serius tau, Dan. Ini tuh seru banget!" Abel membuka mata. Berteriak kesenangan.
"Iya-iya, dari suara lo aja gue tau."
Dengan kakinya, tiba-tiba Abel menghentikan ayunan yang tengah dinaikinya. "Lo mau coba?" tanyanya pada Ardan.
Ardan menggeleng. "Lo aja," katanya.
"Padahal gue lagi ngajak seru-seruan, kenapa gak mau? Lo malu karena badan lo udah gede?"
"Apa hubungannya sama badan gue?" Ardan mengernyit heran.
Abel mengendikkan bahunya acuh. "Mungkin itu menegaskan lo udah dewasa, dan lo jadi malu main ayunan," jelasnya ngasal.
Ardan tidak menjawab. Ia mendekati Abel, berniat kembali mendorong tubuh Abel, tapi gadis itu menolak dengan gelengan kepala.
"Tadi bilangnya gue suruh mengabdikan diri sampe lo puas main ayunan, terus belum ada sepuluh menit lo malah milih udahan. Udah puas emang?"
"Belum," kata Abel.
"Terus kenapa udahan?"
"Abisnya gak seru kalau mainnya sendirian. Kita main yang lain aja gimana?" Abel turun dari ayunan. Menyisakan goyangan pelan pada ayunan besi yang baru dinaikinya itu. Ia berjalan ke arah Ardan. Memandang sekelilingnya kebingungan.
Sebenarnya banyak sekali permainan yang ada di taman. Karena biasa digunakan untuk area olahraga yang kerap didatangi di akhir pekan, taman itu memiliki beberapa fasilitas sederhana untuk berolahraga. Bahkan ada beberapa permainan untuk anak-anak, seperti perosotan. Namun, Abel terlalu malas untuk menaiki apa pun selain ayunan. Alhasil ia bingung akan menaiki apa lagi.
"Apa kita perlu ke Jakarta lagi buat ngilangin kebosanan ini?" tanya Abel lempeng.
Detik berikutnya, sebuah jitakan mendarat di kepala Abel. Sudah tentu Ardan pelakunya.
"Jadi orang seneng banget kelayapan, heran gue."
"Abisnya gue 'kan masih mau main sama lo. Ini bahkan belum jam lima sore. Kalau balik masih terlalu terang warna langit di atas sana."
"Udah sore begini lo bilang masih terang?" tanya Ardan setengah percaya. Memang belum gelap, hanya saja untuk remaja yang masih bersekolah, Abel seharusnya langsung pulang setelah jam bubaran. Tapi Abel bahkan sepertinya tidak pernah pulang tepat waktu.
Abel menatap Ardan. "Iya, Dan. Gue mah gak pernah balik sore. Paling jam tujuh malam baru sampe rumah. Jam segini mah masih siang banget," tuturnya santai sekali.
Sebuah tempat muncul di kepala Ardan. Tempatnya pulang, tempatnya berteduh dari dinginnya angin malam, dan tempatnya tertawa bersama seluruh anggota keluarganya. "Main ke rumah gue mau?" tanyanya menatap Abel.
Gadis yang berdiri di depannya itu semringah. Mengangguk bersemangat. Sebagai tanda bahwa dirinya setuju diajak berkunjung.