8 - Mari Berteman!

2005 Kata
Abel tidak ingat kapan ia merasa sangat bersemangat. Ia sudah mengalami banyak hal semasa hidupnya. Memiliki teman dengan berbagai macam karakter yang berbeda, pergi ke berbagai macam tempat tanpa perlu khawatir akan dicari oleh keluarganya, atau sekadar mengobrol dengan teman-temannya sampai lupa waktu di kafe. Namun, kali ini Abel berani menjamin bahwa untuk pertama kalinya ia sangat bersemangat hanya untuk menemui seseorang yang bahkan masih asing baginya. Waktu setelah bel sekolah berbunyi yang biasa Abel gunakan untuk menghabiskan waktu di atas atap sekolahnya, kini Abel pakai untuk berjalan kaki menuju taman yang kemarin ia lewati dan berakhir bertemu Ardan. Abel tidak sabar melihat bagaimana reaksi Ardan saat melihatnya nanti, atau hal apa yang akan dilakukan cowok itu yang bisa membuatnya takjub lagi. Lucu sekali, padahal Abel baru bertemu dengan Ardan, tapi cowok itu sudah berhasil membuatnya penasaran dan mau repot-repot mendatanginya lagi di taman. Berharap saja bahwa Ardan sendiri memang ada di taman. Berjalan kaki ratusan meter dari sekolahnya, Abel akhirnya hampir sampai di dekat taman. Ia tidak lelah, meski keringat menetes di pelipisnya. Jika biasanya taman itu hanya Abel lewati menggunakan angkutan umum, kini ia rela berjalan kaki untuk memastikan bahwa kemarin saat dirinya melamun, memang taman itulah yang dilihatnya. Sampai di dekat penjual es krim yang kemarin dilihatnya, Abel menghela napas. Karena cuaca cukup panas, dan kebetulan ada penjual es krim keliling di depan matanya, Abel akhirnya membeli es krim rasa cokelat satu. Perpaduan rasa manis dan dingin langsung menyapa lidah Abel. Memaksanya untuk terus m******t lagi dan lagi. Lalu, nerta Abel menangkap sesuatu beberapa meter di depannya. Tubuh tegap berseragam putih abu itu hampir tertutup permainan perosotan. Abel tidak tahu seberapa cepat ia berlari. Meninggalkan aspal yang sempat dipijaknya dan menyambut lahan luas dipenuhi rumput tebal yang halus. Sampai di dekat perosotan, ia berhenti. Memperbaiki hela napasnya yang berantakan sebelum akhirnya memperhatikan. Di depannya, ada Ardan yang sedang duduk bersila di atas rerumputan. Seekor kucing berbulu putih terlentang di depannya, menggeliat nyaman saat Ardan mengusapi bagian perutnya dan sesekali menggelitiknya. Manis sekali, itulah kesan pertama tentang Ardan yang dilihatnya hari ini. Mungkin menyadari kehadiran Abel, Ardan menoleh ke samping. Menaikkan sebelah alisnya saat melihat Abel sedang nyengir dengan tangan kanan yang memegang stik es krim. "Elo laper?" tanya Ardan. Abel menggeleng. Tidak mengerti pertanyaan Abel. Ia baru paham saat Ardan menunjuk ke arah tangannya menggunakan dagu cowok itu. Rupanya es krim yang baru dibukanya beberapa saat lalu hanya menyisakan stiknya saja dengan potongan kecil di dekat jemarinya. Abel yang merasa bodoh sangat menyayangkan tindakannya. Kalau saja ia tidak berlari, mungkin es krimnya yang sudah hampir mencair itu tidak akan jatuh dan tidak termakan. Ia rugi lima ribu karena hanya mendapat beberapa jilatan saja. "Stik es krim kok dibawa-bawa," cibir Ardan geleng-geleng kepala. Abel merengut kesal. Ia berniat melempar stik es krim itu sembarangan untuk melampiaskan rasa kesalnya, tapi Ardan menghentikan gerakannya yang sudah hampir melempar dengan perkataan. "Jadi manusia itu harus tau diri dan tau tempat. Kalau lo buang sampah sembarang, sama aja lo ngerendahin diri lo sendiri. Dan lo itu lagi di tempat umum, walaupun gak banyak orang di sini, seenggaknya jaga kesopanan itu perlu. Kalau sampahnya kena orang lain gimana?" Ardan berdecak melihat tingkah Abel. Tangannya masih anteng saja mengusap si kucing dengan tatapan yang justru tertuju pada Abel. "Sama satu lagi, sesekali belajar disiplin coba. Kalau beli sesuatu, bukan berarti lo cuma beli isinya aja, tapi bungkusnya juga. Makanya harus di buang pada tempatnya. Punya tangan sama kaki itu dipake, jangan cuma dijadiin pajangan doang. Malu sama alam yang selama ini ngasih lo segalanya, dan lo justru mau ngotorin alam itu sendiri." Apa-apaan ini? Abel bertanya dalam hati. Kenapa yang tadinya hanya iseng belaka, tapi justru mendapat ceramah panjang lebar? Sekarang Abel benar-benar yakin bahwa orang seperti Ardan memang sangat langka. Bukan, bukan karena bagaimana cowok itu berkata atau bersikap, yang seperti itu masih banyak di dunia ini. Langka yang dimaksud Abel adalah karena sepertinya hanya Ardan yang bisa membuatnya berjalan ke tong sampah dan melemparkan stik es krim ke sana. Selama ini, Abel hampir selalu dimanjakan teman-temannya. Ada Raffi yang selalu mau saja disuruh membelikan sesuatu saat hujan turun yang mengakibatkan Abel tidak ingin pergi ke kantin. Ada Heri yang juga mau saja diminta membuang sampah. Ada Leo yang selalu memberikan contekan hampir setiap kali ada tugas. Dan yang terakhir ada Asep yang siap sedia jika diminta untuk menemaninya makan malam, serepot atau semalas apa pun cowok itu. Namun, sekarang Abel dipaksa melakukan sesuatu oleh orang asing, dan herannya Abel mau saja. Ardan itu ... bukankah terlihat seperti pawangnya Abel? "Nah, gitu dong. Anak pinter," puji Ardan saat Abel kembali dan berdiri di depannya. Selanjutnya Ardan menarik sedikit ujung bibirnya, itu bahkan tidak bisa dibilang senyuman, tapi hebatnya langsung menyalurkan sengatan mendebarkan untuk Abel. Tidak! Jangan salah paham. Bukan berarti Abel menyukai Ardan. Secara mereka berdua baru bertemu kemarin. Yang membuat Abel setengah melongo adalah, itu senyum pertama Ardan yang ditujukan untuk Abel. Berbeda dengan reaksi Abel, Ardan justru keheranan. Ia tersenyum karena merasa lucu dengan apa yang terjadi dalam hidupnya dua hari belakangan. Kemarin ia bertemu dengan gadis sok akrab yang tiba-tiba mengajaknya kenalan. Tidak sampai di situ, gadis yang tidak lain adalah Abel itu juga mengajaknya makan ketoprak. Awalnya Ardan mengira bahwa Abel hanyalah gadis aneh yang kurang kerjaan sampai mengajak orang lain kenalan, tapi hari ini gadis itu kembali. Kembali dengan alasan yang Ardan kira untuk menemuinya. "Itu kucing lo?" tanya Abel setelah beberapa saat. Ardan mengerjap kemudian menggeleng. Ia melepaskan tangannya dari si kucing, dan kucing tersebut langsung berdiri. Menggerakkan ekornya lucu. "Gue kira tadi gak ada lo, Dan." "Berhubung ada, terus mau apa?" tanya Ardan berdiri. Ia melipat kedua tangannya di depan d**a. Menatap Abel dengan satu alis terangkat. Awalnya sih Abel hanya ingin memastikan bahwa taman yang sedang dipijaknya memang sering didatangi oleh Ardan, sekaligus ingin menemui Ardan kalau memang cowok itu ada di taman. Namun, seolah keberuntungan sedang berpihak pada Abel, ia mendapatkan kedua alasannya dan ingin meminta alasan lainnya pada Ardan. "Gue sengaja nemuin lo di sini, mau ngobrol-ngobrol aja sih." Ardan berjalan ke arah kursi yang ada di bawah pohon rindang. Abel mengikutinya bahkan ketika ia duduk di sana. "Kenapa gak langsung pulang?" "Lo sendiri kenapa gak langsung pulang?" Abel balik bertanya. Sontak saja Ardan mendengkus halus. Ia paling tidak suka saat dirinya bertanya, tapi si lawan bicara justru balik bertanya. "Kalau ditanya, tuh, dijawab, bukan malah balik nanya. Kenapa sih banyak manusia semacam lo? Heran gue." Gerutuan Ardan berhasil mengundang gelak tawa Abel. Sesederhana itu, dan Ardan entah sudah berapa kali membuatnya tertawa sejak kemarin. Tanpa beban dan terasa bebas sekali. "Marah-marah mulu lo dari kemarin, cepet tua baru tau rasa. Lagian kita tuh bukan hidup di zaman purba, main sekali-kali sepulang sekolah gak bakal bikin lo diterkam dinosaurus." Memang tidak, tapi bagaimana tanggapanmu saat tahu bahwa ada orang yang mengkhawatirkan dirimu di rumah? Menunggu dengan gelisah karena jam yang menunjukkan seharusnya kamu sudah sampai, terlewat beberapa menit atau bahkan jam. Seseorang yang melakukan kesalahan terkadang baru sadar saat ada orang yang memberi tahu. Seperti Abel. "Mungkin aja orang tua lo lagi nungguin lo sekarang. Kalau gak izin sama aja lo sengaja bikin mereka khawatir. Lagian gak perlu jauh-jauh ngomongin zaman purba, di zaman sekarang, manusia justru lebih menakutkan dibanding dinosaurus." Jadi, jangan salahkan Ardan kalau ia akhirnya berkoar. Ia geram dengan sifat Abel yang menyepelekan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya. Namun, karena tidak tahu keadaan keluarga Abel, perkataannya justru membuat Abel terdiam dengan sorot kosong. Kalau orang tuanya khawatir, Abel tidak mungkin duduk di samping Ardan. Itu yang ingin Abel katakan, tapi tentu saja tidak. "Gue gak izin sih, karena udah biasa. Lagian bokap nyokap gue sibuk, jadi gak sempet mikirin anaknya lagi di mana." "Jadi lo sering terlambat kalau pulang sekolah?" Abel mengangguk. Ia berbohong soal ibu dan ayahnya. Mereka tidak pernah sibuk, kalaupun sibuk pasti hanya mengurusi Abi yang menurut mereka lebih segala-galanya. Ia hanya tidak mau Ardan mengetahui seberapa miris hidupnya. Lagi pula ia bukan orang bodoh yang menceritakan tentang kehidupan begitu saja pada orang asing. Ardan memang menarik, tapi tetap saja masih menjadi orang asing untuk Abel. "Tetep aja gak seharusnya lo keluyuran gak jelas. Sesibuk apa pun orang tua lo, akan lebih aman kalau lo ada di rumah. Seenggaknya lo bakal baik-baik aja kalau di rumah." Abel menolak setuju dengan pendapat Ardan. Tidak ada tempat aman apalagi nyaman untuknya. Tidak di luar rumah, tidak juga di dunia luar. "Udah kaya nenek-nenek lo ceramah mulu. Seenggaknya gue di sini, sama lo, itu artinya gue gak sendirian. Hal itu cukup buat buktiin kalau gue aman." "Dari mana lo tau kalau lo bakal aman sama gue?" Abel menyeringai. "Soalnya muka kalem kaya lo gak cocok berbuat jahat. Lagi pula dari kemarin lo terus ceramah tentang kelakuan gue. Lo emang galak, jutek, males senyum juga kayanya, tapi tetep merhatiin orang lain ternyata," jawabnya mendapatkan decihan sinis dari Ardan. Ardan tidak mengerti sebenarnya Abel itu mau memuji atau menghinanya karena berkelakuan buruk dan seenaknya menceramahi padahal baru kenal. "Lo sendiri kenapa gak langsung pulang? Abis nemuin pacar lo? Atau justru baru mau ketemu?" tanya Abel berusaha menyambung obrolan. Anggaplah ia terlalu banyak mencampuri urusan Ardan, ia juga tidak akan menyangkal hal itu, hanya saja ia memang tidak suka jika tiba-tiba hening. Membuatnya merasakan kesepian meskipun ada orang lain di dekatnya. Untungnya Ardan tidak bosan meladeni Abel yang banyak bicara. Ia menjawab, "Pertama, gue gak minat pacaran di usia semuda ini. Kedua, gue udah izin sama ibu gue kalau pulang terlambat, beda sama lo yang gak pake izin segala." Dengan nada mencemooh di akhir kalimatnya. "Punya muka ganteng gini gak dimanfaatin? Payah lo." "Hah? Apa lo bilang?!" tanya Ardan jengkel. Ia bahkan menggeser posisinya menyerong agar bisa menatap Abel. Abel menunjuk wajah Ardan. Sama sekali tidak terganggu dengan kekesalan cowok itu karenanya. "Muka lo tuh ganteng, kok gue gak percaya kalau lo gak punya pacar. Mau pacaran sama gue?" guyon Abel terkekeh kecil. Ardan mengerang frustrasi. "Kenapa juga gue harus bikin lo percaya? Itu gak penting. Lagi pula kalau gue punya pacar, itu buka urusan lo. Dan yang pasti bukan orang macam lo yang bakal jadi pacar gue," tuturnya kembali mengundang gelak tawa Abel. Menurut Abel, Ardan itu sebenarnya cowok polos bersampulkan wajah galak. Padahal ia bercanda, tapi malah dianggap serius, bahkan sampai ngegas pula. Selain itu, Abel tidak tahu apa ia harus senang atau justru kesal. Senang karena Ardan belum memiliki pacar sehingga dirinya tidak harus mengganggu waktu cowok itu yang seharusnya dihabiskan untuk mengobrol bersama pacarnya. Kesalnya karena Ardan dengan tegas memberi tahu bahwa ia bukanlah tipe cowok itu. Menyebalkan sekali. Untung saja tampan. Kalau tidak, sudah Abel pukul pipi Ardan itu dengan sepatunya. "Terus kenapa lo suka banget ke taman ini?" Ardan mengembuskan napas lelah. Ia yakin, pertanyaan dari Abel itu tidak akan ada habisnya. Gadis itu akan terus bertanya, kalau tidak puas dengan jawaban, Abel akan bertanya lagi. Selain untuk menyambung obrolan, sepertinya juga untuk mengorek informasi agar bisa lebih dekat dengannya. "Karena suka aja, deket juga sama rumah gue," sahut Ardan akhirnya. Abel bertanya lagi, persis seperti dugaan Ardan. "Emangnya di mana rumah lo?" "Maaf, ya. Kita gak sedekat itu sampe gue harus ngasih tau alamat gue." Abel ngakak lagi, padahal sejak tadi Ardan yakin bahwa tidak ada satu pun dari kalimatnya yang terdengar lucu, tapi gadis di sampingnya itu mudah sekali tertawa. "Bagus! Itu artinya lo waspada sama orang asing. Kalau gue tau alamat lo, bukan gak mungkin setiap hari gue bakal dateng dan main ke sana sebelum pulang ke rumah." "Ya, jelas lah. Soalnya gue bukan lo yang asal nyamber aja walaupun sama orang asing." Lalu, obrolan keduanya berlanjut. Mulai dari kegiatan sekolah, teman-teman di sekolah, nilai bahkan ranking yang didapat saat kenaikan kelas. Ardan tidak menduga bahwa ia sebegitu mudahnya berbaur dengan orang seperti Abel. Kasar, penampilannya seperti berandalan, dan tidak tahu kedisiplinan. Tapi Ardan yakin itulah Abel yang sebenarnya, tidak menutup-nutupi sifat aslinya. Dan Ardan sudah memutuskan bahwa tidak ada salahnya berteman dengan Abel. Sampai esoknya, keduanya bertemu lagi, esoknya lagi, dan keesokannya lagi. Menjadi rutinitas yang tidak dilewatkan keduanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN