Abel melambaikan tangan. Seseorang yang berdiri beberapa meter di depannya balas melambaikan tangan. Sudah hampir dua Minggu sejak pertemuan pertamanya dengan Ardan. Cowok itu sudah tidak galak seperti pertemuan di hari pertama dan kedua. Abel diakui sebagai teman baru oleh seorang Ardan Sanjaya.
Keduanya sepakat untuk bertemu selepas jam bubaran sekolah di taman yang menjadi tempat pertemuan pertama mereka. Terkadang Ardan yang datang lebih dulu, dan Abel akan menunggu. Terkadang juga Abel yang datang lebih dulu, dan ia juga akan menunggu kedatangan Ardan. Keduanya hanya berbagi kisah di waktu sempit yang tidak sampai tiga jam itu. Sama-sama bubaran jam tiga sore, mereka menghabiskan waktu sebelum jam enam sore hanya untuk mengobrol atau makan di tempat yang ada di sekitaran taman.
Lalu, sampailah Abel di depan Ardan. Napasnya terengah. Ardan geleng-geleng kepala melihatnya. Wajah Abel sudah dipenuhi keringat. Untung saja kulitnya putih bersih, sehingga tidak terlihat kusam sama sekali. Rambutnya nyaris lepek karena keringat, tapi mungkin karena shampoo yang dipakainya merupakan produk mahal, meskipun keringat membasahi rambutnya, tidak ada bau aneh yang menguar dari sana.
"Padahal dari kemarin-kemarin udah gue bilang buat naik angkot aja, kenapa masih bandel?" tanya Ardan.
Sebagai tanggapan, Abel hanya nyengir lebar. Sejak hari pertama bertemu dengan Ardan, ia memang selalu berjalan ke taman yang menjadi lokasi pertemuannya dengan Ardan. Jarak dari sekolahnya tidak terlalu jauh, tapi tidak dekat juga. Tidak sampai satu kilometer, tapi bisa menghabiskan waktu sepuluh menit dengan berjalan kaki, lima menit jika berlari.
"Lama-lama betis lo itu bakal berubah kaya talas Bogor," kata Ardan.
Abel mengembuskan napas lelah. Ia ingin menyeka keringat di dahinya menggunakan tangan, tapi Ardan segera merogoh saku. Mengeluarkan sapu tangan berwarna putih dari sana. Ardan menyerahkan sapu tangan itu pada Abel, yang hanya dilihat saja oleh Abel.
"Ini sapu tangan bersih banget. Kalau dipake buat nyeka keringat gue, bisa berubah warna nantinya."
Mendengar kekhawatiran Abel tentang sapu tangannya, Ardan tergelak. Ya, itu adalah salah satu reaksi Ardan yang paling Abel suka. Tawanya. Sejak semakin akrab, Ardan sering tertawa. Bahkan Abel tahu bahwa Ardan juga kelas tiga SMA, yang artinya hampir seumuran dengannya. Ardan yang sekarang Abel kenal lebih terbuka. Berbeda sekali dengan sifat awalnya yang dingin dan galak. Ardan yang sekarang lebih hangat dan bersahabat. Dan Abel menyukainya. Tawa itu adalah favoritnya.
"Santai aja, nanti bisa gue cuci lagi. Cepet bersihin keringat lo pake ini!"
Ardan mengangguk. Meminta Abel untuk segera meraih sapu tangan miliknya. Ragu-ragu Abel mengambil sapu tangan Ardan. Ia menggunakan sapu tangan itu untuk menyeka keringat yang ada di dahi dan sekitar wajahnya, termasuk leher juga. Dan saat dilihat, sesuai dengan dugaannya, sapu tangan Ardan yang tadinya sangat bersih langsung kotor begitu saja. Berubah warna menjadi kecoklatan.
"Tuh kan!" seru Abel. Ia menatap Ardan. "Ini jadi kotor banget sapu tangan lo. Gue bawa aja deh, besok gue balikin kalau udah gue cuci."
"Emang lo bisa nyuci?"
"Enggak sih, tapi gue bisa minta tolong pembantu di rumah gue buat cuciin."
"Gak usah." Ardan mengambil alih sapu tangan dari tangan Abel, "biar gue aja yang nyuci." Tangannya memegang sapu tangan itu tanpa rasa jijik sedikit pun. Bahkan ketika sapu tangan itu kembali dimasukkan ke dalam saku celananya, Ardan terlihat tenang sekali. Berbeda dengan Abel yang melongo karena tindakan Ardan tersebut.
"Lagian, emangnya sejak kapan lo suka bawa sapu tangan?" tanya Abel.
"Gue emang selalu bawa sapu tangan di saku celana, cuma gak pernah dikeluarin aja kalau gak penting-penting amat."
Abel hanya ber-oh ria mendengar itu.
"Mau es krim, gak?" Gantian Ardan yang bertanya.
Abel mengangguk. Cowok itu berjalan ke arah penjual es krim yang selalu mangkal di taman tersebut. Sekadar informasi, penjual es krim itu sudah menjadi langganan Abel dan Ardan sejak beberapa hari lalu. Ardan mengambil dua es krim rasa cokelat. Satu diberikan pada Abel, dan satu lagi dipegang olehnya.
"Kalau minta satu lagi, boleh?"
Ardan menatap Abel kemudian bertanya, "Emang segitu kurang?" Dengan satu alis terangkat.
"Gue capek, haus juga. Makan yang dingin-dingin kayanya enak, deh."
"Kalau haus, tuh, minum, bukan beli es krim sampe dua."
Meskipun berkata demikian, Ardan justru mengambil satu es krim lagi. Kali ini rasa strawberry. Sekarang Abel teringat pertemuan pertamanya dengan Ardan. Saat itu Ardan sedang mengobrol dengan anak kecil yang memegang es krim rasa cokelat dan strawberry. Sekarang gantian Abellah yang menjadi anak kecil tersebut.
Setelah membayar es krim yang diambilnya, Ardan menyerahkan es krim rasa strawberry pada Abel. Keduanya berjalan ke arah kursi yang selalu diduduki mereka. Yaitu kursi yang berada di bawah pohon mangga. Abel langsung membuka dua es krim sekaligus. Menikmatinya secara bergantian. Terlihat seperti anak kecil yang sangat menyukai es krim.
"Dan, gue tuh pengin sekali-kali main ke rumah lo, deh."
"Boleh. Nanti gue ajak ke sana."
Hari itu, Ardan mengatakan bahwa Abel tidak begitu dekat dengannya sampai ia tidak mau memberitahukan alamat rumahnya. Tapi sekarang Ardan justru tidak keberatan. Bolehkah Abel berharap bahwa dirinya dan Ardan akan semakin dekat nantinya?
"Tapi adik-adik gue banyak, lo bakal kerepotan kalau dateng ke rumah gue."
Abel mengerjap polos. "Emangnya seberapa banyak? Apa bakal bikin gue ketimbun kalau main ke sana?"
"Lebay lo, enggak segitunya juga."
"Terus emangnya adik lo ada berapa?"
"Fiona, Gilang, Anggi, Dwi. Nah mereka yang paling manja sama gue."
Kali ini Abel melongo. "Emang ada lagi?"
Mendapat anggukan kepala dari Ardan, sontak saja Abel berpikir, mungkin Ardan anak sulung dari sepuluh atau lebih bersaudara. Adiknya banyak sekali, dan entah bagaimana ibu Ardan merawat mereka semua. Mungkin kedua orang tua Ardan adalah manusia yang percaya bahwa semakin banyak anak, semakin banyak pula rezekinya.
Karena masih setengah percaya, Abel tidak sadar bahwa es krim yang dipegangnya mencair dan menetes mengotori roknya.
"Bel, rok lo banjir tuh!" seru Ardan.
Refleks Abel langsung menjauhkan kedua es krimnya. Ia menjilati dua es krim itu bergantian dengan tubuh dicondongkan ke depan agar bagian es krim yang mencair tidak lagi mengenai roknya.
"Makanya lain kali kalau beli es krim satu aja, kalau kurang baru beli lagi setelah es krim yang pertama habis. Biar gak mencair dua-duanya."
Kepala Abel bergerak ke arah Ardan. Ia menatap cowok itu. "Iya, Pak Guru. Lain kali gak gini lagi, deh," katanya bercanda. Dibalas Ardan dengan dengkusan halus.
Masing-masing dari mereka diam agar es krim yang sedang mereka makan sama-sama habis. Abel yang memegang dua es krim menghabiskan lebih dulu dengan gigitan besar. Hanya empat gigitan, dan es krim di kedua tangannya sirna, berpindah ke dalam perutnya. Sedangkan Ardan menghabiskan es krimnya tak lama setelah itu. Ia ingin bangkit untuk membuang stik es krim miliknya, tapi Abel melarang Ardan.
Abel justru meraih stik es krim Ardan dan mengatakan bahwa dirinya lah yang akan membuang sampah itu sebagai bentuk ucapan terima kasih karena Ardan telah membelikannya es krim. Ardan mengiyakan saja dan membiarkan Abel pergi ke tempat sampah. Gadis itu kembali dengan tangan kosong tak lama kemudian.
Melihat Ardan dan mengenal cowok itu, Abel merasa bahwa ia seperti memiliki seorang kakak laki-laki. Meskipun seumuran, Ardan cenderung lebih dewasa dan bisa mengontrol kelakuan Abel. Cowok itu tidak ragu menceramahi Abel saat dikira Abel melakukan kesalahan, sesekali bersikap manis dengan membelikannya es krim seperti beberapa saat lalu, dan yang pasti, Abel merasa terlindungi jika berada di dekat Ardan.
"Dan," panggil Abel pelan. Ardan menatapnya, "apa adik-adik lo sayang sama lo?" tanyanya tiba-tiba.
"Ya, sayang lah." Ardan tidak mengerti dengan pertanyaan Abel. Yang namanya saudara itu, walaupun kerap adu argumen, beda pendapat, dan bertengkar karena hal kecil, tetap saja utamanya saling menyayangi.
"Gimana rasanya punya adik-adik yang sayang sama lo?"
Ardan berdeham pelan. Berpikir akan memulai dari mana untuk menjawab pertanyaan Abel. Sampai mulutnya terbuka dan perlahan menjelaskan, "Mungkin gue jadi punya penyemangat tersendiri di hidup gue. Karena mereka adik-adik gue, otomatis gue pengin terus ngelindungin mereka dan liat pertumbuhan mereka. Kadang juga gue berpikir apa yang harus gue lakuin supaya mereka bangga punya abang kaya gue. Sesekali, gue juga ngerasa bahwa mereka yang bikin gue terus berusaha supaya jadi lebih baik lagi." Dengan wajah yang terlihat senang. Mungkin sedang membayangkan wajah-wajah adiknya.
"Kadang mereka manja, kadang mereka marah kalau ditegur, kadang juga mereka nangis kalau gue sakit. Rasanya apa yang gue rasa, ikut dirasain sama mereka juga. Dan berlaku juga sebaliknya."
Tolong salahkan Ardan yang menceritakan bahwa dirinya punya adik yang banyak, karena sekarang Abel benar-benar merasa iri dan ingin memiliki adik yang bisa membuatnya seperti itu. Yang bisa bergantung padanya, yang bisa mengandalkannya sebagai seorang kakak, yang menangis jika terluka dan mengadu rasa sakit yang dialami padanya, dan yang menyemangatinya setiap kali ada kesempatan.
Sayangnya, Abi tidak begitu. Perbedaan antara apa yang diceritakan oleh Ardan sangat jauh. Jika adik-adik Ardan terdengar sangat peduli pada kakaknya, jangankan peduli, Abi bahkan hampir tidak pernah meliriknya. Ia dan Abi bagaikan dua musim yang berbeda, tidak bisa bersatu meskipun sama-sama musim. Abi si musim semi dengan segala pesonanya, dan Abel si musim dingin yang menghilangkan bunga-bunga yang bermekaran. Saat ia pergi, Abi datang, saat ia datang, Abi tidak ada. Begitulah hubungan antara dirinya dan Abi. Teramat jauh berbeda.
"Emangnya lo gak punya saudara?" tanya Ardan tiba-tiba.
Abel yang baru tersadar dari lamunannya hanya tersenyum kecil. Ia tidak ingin menceritakan hidupnya pada Ardan, dan tidak akan. Bukan karena Ardan masih terasa asing baginya, tapi karena ia sangat percaya pada cowok itu dan tidak ingin kehilangan Ardan yang dikenalnya. Kalau Ardan tahu tentang keluarganya, tentang Abi, bukan tidak mungkin cowok itu akan memeluknya dengan belas kasihan. Dan Abel tidak mau hal itu.
"Ya udah, kapan-kapan main ke rumah gue. Lo bisa anggap adik-adik gue sebagai adik lo juga."
"Serius?" tanya Abel bersemangat.
Ardan mengangguk. Menarik senyum Abel untuk terbit dengan tulusnya.
"Gak pa-pa kok jadi anak tunggal, itu bikin lo bebas, kan? Kasih sayang lo gak kebagi, dan lo jadi satu-satunya Tuan Putri."
Karena kalimat itu, Abel justru merasa tertohok. Jangankan diperlakukan layaknya tuan putri, jangankan diberi kasih sayang yang melimpah, ia bahkan tidak bisa merasakan hal-hal semacam itu. Yang mendapatkan semua itu dan diperlakukan sebagai satu-satunya adalah Abi, bukan dirinya.
"Saatnya nanti, seburuk apa pun hari yang lo lalui sekarang, akan ada saatnya lo merasa bersyukur karena memiliki hari ini di hidup lo."
"Maksudnya?" tanya Abel tidak paham.
"Lo tuh keliatan kaya orang yang kesepian. Selalu."
Dikatai seperti itu, Abel tidak terima. "Lo juga. Padahal adik-adik lo banyak dan mereka sayang sama lo, tapi lo keliatan kaya orang yang kesepian pas pertama kali gue liat lo."
Ardan memiringkan kepala lantas balik bertanya, "Tapi sekarang?"
Tidak. Itulah yang Abel lihat. Ardan tidak lagi kelihatan kesepian. Raut itu hanya terlihat di waktu-waktu tertentu saja, dan Ardan tidak memperlihatkannya sekarang.
"Gue janji, suatu hari gue bakal bikin rasa kesepian lo hilang."
"Dengan cara?" tanya Abel bingung. Tiga teman terdekatnya bahkan tidak bisa melakukan hal itu. Sebanyak apa pun ia merasa terhibur karena kelakuan teman-temannya, selalu ada yang kurang dalam hidupnya, dan ia seolah sangat menginginkan hal itu.
"Dengan cara yang gak pernah lo duga sebelumnya."
Anggaplah Ardan sedang menjanjikan sesuatu pada Abel, karena Abel mengulurkan jari kelingkingnya di depan Ardan. Meminta cowok itu menepati janjinya suatu saat nanti.
"Kaya anak kecil aja," kata Ardan tergelak.
Tapi Abel tidak peduli. Ia tetap mengulurkan tangan sampai akhirnya Ardan menyambut kelingkingnya dan menyatukannya dengan jari kelingkingnya sendiri. Membentuk janji yang sering dilakukan anak kecil.
"Gue bakal tunggu lo buktiin janji lo ini. Lo gak boleh mati sebelum nepatin janji lo."
Lagi, Ardan tergelak. Itulah Abel dengan mulur bocornya.
"Oke, gue janji. Gue janji bakal bikin rasa kesepian lo hilang dan lo bakal nemuin gimana caranya bersyukur atas apa yang lo miliki sekarang."
Mungkin esok, mungkin minggu depan, mungkin bulan depan atau bahkan tahun depan. Tapi Abel akan tetap menunggu hal itu. Seseorang untuk pertama kalinya berjanji padanya, dan tidak bisa dipungkiri bahwa Abel sangat senang karena hal itu. Selama apa pun, Abel akan menanti hari di mana Ardan membuktikan ucapannya.