Abel tidak membenci hujan, tidak sepenuhnya. Ia hanya tidak suka saat tubuhnya basah karena air hujan. Terlebih saat hujannya turun di pagi hari, saat segalanya dalam keseharian dimulai.
Sudah berulang kali Abel memandang langit yang menjatuhkan rintik-rintik air itu. Hanya ada beberapa penumpang di dalam angkot yang dinaikinya. Seorang ibu bersama anak laki-laki, seorang pria berpakaian rapi, seorang anak SMA yang memakai seragam berbeda, dan Abel. Selebihnya masih lengang. Di kursi depan ada sopir dan pria paruh baya yang mengenakan jaket kulit.
Sampai di depan gerbang sekolahnya, Abel meminta agar angkot berhenti. Matanya menangkap beberapa siswa yang melewati gerbang. Ada yang sedang berlari sambil menjaga kepalanya dengan telapak tangan, ada juga beberapa yang mengenakan payung. Ia mengeluarkan uang lima ribuan dan menyerahkan uang itu kepada sopir angkot. Karena duduk di kursi yang berada di dekat pintu, Abel tidak perlu melewati siapa pun untuk mengucapkan permisi.
Sebelum melompat keluar, Abel memeluk tasnya di depan d**a, mencengkeramnya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya digunakan untuk menjaga kepalanya dari air hujan. Hal yang sia-sia tentunya. Karena air mengalir melewati celah tangannya. Abel menerobos hujan dan berakhir melewati gerbang dengan berlari. Sepatunya menyipratkan air ke mana-mana. Meski begitu, Abel tidak peduli. Sepatunya kotor sekali saat dirinya sampai di gedung tiga. Berulang kali ia mendengkus kesal karena bercak basah di sebagian besar seragamnya.
Hujan dengan segala embel-embelnya, bukanlah sesuatu yang bisa ditolerir oleh Abel. Ia memang bukan orang yang berpenampilan rapi, tapi ia tidak suka saat sepatunya kotor, atau saat bajunya basah. Dan itu semua karena hujan. Ia dipaksa melewati genangan air, berlari menerobos rintik-rintik menyebalkan, dan bertahan di balik seragamnya yang setengah basah.
Sampai di lantai tiga, Abel berhenti mendengkus. Ia kembali memasang tasnya di punggung. Melewati kelas-kelas dengan tenang, sebelum akhirnya melihat pintu yang sudah dihafalnya di luar kepala. Belum sempat satu langkah kakinya memasuki kelas, seseorang yang berjalan dari dalam menubruk tubuhnya, membuat Abel refleks bergerak mundur.
Saat Abel melihat ke depan, rupanya Serly yang baru saja menubruk tubuhnya. Gadis itu menepuki bagian depan tubuhnya, seolah bakteri menempel di sana karena baru saja bertabrakan dengan Abel. Mulutnya tak henti-hentinya menggerutu kesal. Gerutuan yang tidak terlalu jelas di pendengaran Abel.
"Lo tuh gak punya mata, ya?" tanya Serly ngegas.
Abel menyahut, "Punya." Sambil menunjuk kedua matanya sendiri. Memperlihatkannya pada Serly bahwa tidak mungkin dirinya bisa sampai ke sekolah atau ke lantai tiga kalau tidak memiliki mata yang membantunya untuk melihat.
"Nah, itu tau. Kalau jalan itu pake mata dong!" seru Serly menatap Abel sengit.
Satu alis Abel terangkat. "Udah kelas tiga SMA kok otak gak berfungsi. Namanya jalan tuh pake kaki, Jubaedah. Mana bisa pake mata? Lagian kalau mata dipake buat jalan, lantas apa gunanya kaki?" tanyanya beruntun.
Seisi kelas tergelak mendengar suara Abel yang lantang itu. Para cowok bertepuk tangan karena Abel berhasil membuat salah satu dayang Abi nampak sangat kesal di depan kelas. Ditonton semua orang.
"Bukan itu maksudnya!"
"Terus apa? Kalau ngomong tuh yang jelas dong biar gue paham, Jubaedah."
Seisi kelas ngakak lagi hanya karena kebiasaan Abel yang kerap memanggil orang sembarangan.
"Jangan panggil gue Jubaedah!"
Abel menggeleng pelan. "Iya-iya, jadi maksud lo apa, Ropeah?" tanyanya lagi-lagi mengundang gelak tawa.
Serly yang sudah malu luar biasa akhirnya memilih tidak peduli mau dipanggil apa saja. Abel bersama mulutnya bukanlah sesuatu yang bisa dikontrol sesuka hati.
"Maksudnya tuh kalau jalan liat-liat dong! Gue tau penampilan lo kaya berandalan, tapi harusnya kalau mau lewat liat dulu di depan ada orang atau enggak."
"Lo sendiri, kalau udah liat ada gue mau jalan ke arah lo, kenapa gak nepi?"
Serly terdiam. Ia merasa tersudut karena perkataan Abel. Padahal menurutnya Abel yang salah karena tidak lihat-lihat dulu sebelum memasuki kelas, tapi situasinya seolah menjelaskan yang sebaliknya.
"Kok lo jadi kaya nyalahin gue? Jelas-jelas lo yang nabrak gue. Nih!" Serly menunjuk seragamnya. "Baju gue jadi ikutan basah gara-gara nempel sama badan lo yang bau plus basah gitu. Minta maaf atau apa kek. Gak ada adab banget jadi orang."
Ya, kira-kira begitulah manusia kebanyakan. Mereka hanya melihat sesuatu dari luarnya saja. Kalau menurut mereka buruk di luar, maka keseluruhannya pun akan dianggap buruk. Padahal nyatanya apa pun bisa terjadi di dunia ini. Contohnya, ada banyak orang berjas rapi di dunia ini, tapi mereka memakai kerapian itu untuk korupsi. Tidak malu dengan penampilan mereka sendiri. Lalu ada juga orang yang berpenampilan seperti pengemis. Memakai baju seadanya, tapi tahu cara sopan santun dan rela berbagi jika memiliki sedikit rezeki.
Sedangkan Abel, karena tampilannya yang terkesan urakan, satu kesalahan kecil saja membuat orang menganggapnya tidak memiliki adab. Seperti apa yang baru saja dikatakan oleh Serly.
"Ya, udah, maaf, Nona Cantik," kata Abel mengalah. Ia tersenyum lebar sebagai bentuk permintaan maafnya.
Namun, nampaknya Serly tidak puas dengan hal itu. Ia merasa disindir oleh Abel karena disebut nona cantik. Ia yang tadinya hendak pergi ke toilet justru membalikkan tubuhnya lagi dan berjalan ke arah kursinya. Mengadu pada seseorang yang sejak tadi hanya memperhatikan.
"Adik lo tuh, Bi. Ngacau terus jadi orang, heran gue."
Abi yang sama-sama tidak terima bahwa temannya dipermalukan oleh Abel hanya tersenyum tipis. Senyum itu diperlihatkan pada Serly sekilas, kemudian bergantian diperlihatkan pada Abel. Bedanya, ada bumbu tatapan sinis saat menatap Abel. Menjadi tambahan yang nampak jelas sekali.
"Bukannya lo tadi mau ke toilet? Yuk, gue anter aja," kata Abi berdiri. Ia menarik tangan Serly dan berjalan beriringan dengan dayangnya itu.
Sampai di depan Abel, Abi berhenti sejenak. Mengatakan sesuatu yang membuat Abel tersenyum pedih.
"Lain kali hati-hati, Kak."
Kak?
Suaranya lantang sekali. Tidak hanya Abel, mungkin sebagian siswa di kelas juga mendengar. Itu ... adalah panggilan pertama Abi entah sudah berapa tahun silam sejak panggilan itu masih sering keluar dari mulutnya.
Abi itu ... apa sebegitu pentingnya citra baik di matanya? Sampai mau berpura-pura, menutupi sifat aslinya, agar dianggap sempurna. Benarkah kelakuan Abi seperti itu?
Saat masih kecil, Abi lah yang sering menangis dan meminta bantuan padanya. Adik kecilnya itu sangat mengandalkannya sebagai seorang kakak. Makan bersama, main di taman belakang rumah bersama, berbagi mainan bersama, bahkan tidur pun di satu ranjang yang sama. Tapi saat duduk di bangku sekolah dasar, Abi berubah. Memiliki banyak teman baru yang mengandalkannya membuat Abi sadar bahwa Abel tidak sepenuhnya bisa diandalkan. Abi lebih pintar, lebih populer, dan lebih banyak disukai orang-orang sekelilingnya.
Kala itu, Abel yang kehilangan sosok adiknya memilih untuk tidak terlalu peduli. Ia juga banyak memiliki teman, walaupun dari kaum Adam. Sampai sekarang, saat keduanya duduk di bangku SMA, kelakuan Abi semakin menjadi dan Abel semakin merasa kehilangan.
Ahh, memikirkan hal itu saja tidak akan membuat Abi kembali seperti dulu. Gadis itu sudah besar, Abel hanya berharap bahwa Abi bisa membedakan mana yang benar dan salah. Itu sudah cukup. Setidaknya Abi selalu berlaku baik pada semua orang, meskipun tidak padanya.
Melanjutkan langkah menuju kursinya, Abel hanya menghela napas. Mungkin selamanya Abi akan bersikap begitu, maka ia pun akan selamanya berusaha meraih Abi.
"Bel, lo itu bener-bener kacau jadi orang. Ngakak banget gue liat lo debat sama salah satu dayangnya Abi." Asep tertawa setelah mengatakan itu, "keliatan gak berkutik dia di depan lo yang terkenal urakan."
"Emang dasar Abel," sambung Leo menggeleng. "Lo ngebuktiin kalau kepintaran gak selalu menang."
"Keren! Abel pokoknya keren!" puji Heri mengacungkan dua jempolnya.
Abel duduk di kursinya. Melepas tas di punggungnya dan meletakkannya di atas meja.
"Jadi, Bel, kenapa lo suka banget manggil orang sembarangan?" tanya Asep.
Mulai dari Raffi yang dipanggil Udin, Serly yang dipanggil Jubaedah, dan masih banyak lagi orang yang Abel panggil seenak jidatnya. Kalau Abel lupa nama orang tersebut, Abel akan memanggilnya sesuka hati.
"Kenapa emang, Sep? Lo mau gue panggil Jaenudin?"
Leo dan Heri tergelak mendengar itu.
"Cocok tuh, Sep. Lo jadi sebelas dua belas sama Raffi," cetus Leo.
"Sama-sama Udin," balas Heri.
Asep mendengkus. Mana mau ia dipanggil begitu. Orang tuanya sudah memberikan nama yang di dalamnya terdapat doa untuk masa depannya. Meskipun tidak sedikit dari teman-temannya yang berkomentar bahwa namanya kampungan, ia tidak peduli. Namanya hanya satu, dan itu nama pemberian orang tuanya.
"Istirahat hari ini kita mau jajan apa, ya? Mau nyoba makan di warung Bu Tuti?" tanya Asep mengalihkan pembicaraan.
Abel menegakkan tubuhnya. Tertarik dengan obrolan baru yang dimulai oleh Asep. Ia hendak mengiyakan, tapi tersadar sesuatu, Abel mengurungkan niatnya.
Bu Tuti yang disebutkan oleh Asep adalah pemilik warung nasi uduk yang ada di belakang gedung tiga. Lebih tepatnya di luar kawasan sekolah. Siswa yang mampir ke sana biasanya adalah siswa bermasalah yang sering melompati pagar sekolah. Warung itu katanya sangat populer di kalangan kaum cowok, karena mereka bebas merokok di sana selama jam istirahat. Selain itu, nasi uduknya juga terkenal sangat enak.
"Bukannya harus lompat pagar?" tanya Leo. Heri mengangguk. Ingin menanyakan hal yang sama.
"Iya, harus lompat. Gak terlalu tinggi juga pagarnya. Itung-itung nyoba yang baru aja gitu. Akhir-akhir ini gue bosen sama makanan kantin."
Penuturan Asep terdengar menjanjikan dan benar adanya. Jajanan kantin yang itu-itu saja memang terkadang membuat bosan. Hanya saja Abel tidak yakin bisa ikut dengan teman-temannya. Selain karena belum tentu hujan akan berhenti siang nanti, ada hal lain yang akan mengganggunya.
"Kalau gue lompat, kalian bertiga bakal ketimpa rezeki nomplok."
Tentu saja. Abel mengenakan rok pendek. Walaupun tidak bisa merawat tubuhnya, ia sering mandi menggunakan sabun yang dibelikan ibunya. Aromanya harum dan membuat kulit terasa lembut dan halus. Singkatnya, tubuh Abel sebenarnya sama seperti gadis kebanyakan. Jadi bukan tidak mungkin tiga temannya akan mengintip saat ia melompat nanti.
"Sekali-kali nyumbang penyegar mata 'kan gak masalah, Bel."
Sontak saja Abel melemparkan tasnya ke arah wajah Leo. Leo menangkapnya sebelum tas Abel mendarat di wajahnya dan menimbulkan luka gores karena resleting.
"Oh, iya. Ribet juga emang kalau pake rok. Besok-besok lo pake celana aja, Bel." Heri memberi saran. Awalnya Heri hanya ingin bercanda, tapi sarannya itu mengundang gelak tawa Asep dan Leo. Keduanya setuju.
"Tomboy tuh jangan nanggung-nanggung, Bel. Rambut lo 'kan pendek, ujung lengan lo juga selalu digulung, ditambah pake celana kayanya bakal makin lengkap. Iya, 'kan?" Asep tertawa terbahak-bahak karena ucapannya sendiri.
Di depannya, Leo menjentikkan jari. "Pas banget emang omongan lo, Sep. Yang nanggung-nanggung itu gak baik, Bel."
Terkadang Abel sempat berpikir apa tidak ada dari dirinya yang menggambarkan bahwa ia adalah perempuan, selain jenis kelamin? Ia yakin wajahnya masih wajah perempuan, kulitnya pun halus jika dipegang, lalu kenapa ia memiliki teman-teman yang terlampau laknat seperti Asep, Leo dan Heri?
Bisa saja Abel merubah penampilannya lebih feminim. Tiga temannya mungkin malah akan terpesona nantinya. Sayangnya, bukan itu yang Abel inginkan. Ia tidak mungkin melakukan sesuatu yang tidak ia mau, atau memakai sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Sesekali ia hanya ingin memberi pelajaran kepada teman-temannya. Memukul atau menendang mereka untuk menyadarkan bahwa tidak selamanya penampilan luar memperlihatkan segalanya. Tapi kalau ia sampai berbuat begitu, semakin jelek saja citranya sebagai gadis tomboy.
"Gue kalau tampil cantik, gak mungkin mau temenan sama kaum receh kaya kalian. Gue bakal milih murid paling ganteng di sekolah kita, ketua OSIS atau kapten tim basket buat jadi temen gue. Kalian mah gue buang."
Kejam sekali.
Asep, Leo dan Heri yang tadinya masih tertawa langsung terdiam. Ketiganya sadar bahwa dibalik sifatnya yang urakan, Abel adalah gadis manis plus cantik pula. Kalau mereka ditinggalkan oleh Abel, sama artinya mereka kehilangan semua keistimewaan yang hanya ada di diri Abel. Tidak membeda-bedakan, berteman dengan siapa saja, royal, ceria, pintar menasihati dan yang terpenting memiliki tingkat solidaritas yang tinggi.
"Jangan dong!" seru Asep, Leo dan Heri bersamaan.
"Gak usah main sama yang lain. Sama kita-kita aja udah cukup kok, Bel. Lo gak bakal nemu temen kaya kita bertiga di mana pun. Cuma di kelas ini doang adanya," sambung Asep.
Leo mengangguk. "Lagian yang paling ganteng di sekolah ini 'kan cuma gue," katanya memuji diri sendiri.
Abel nyaris muntah mendengar Leo berbicara seperti itu.
"Makanya gak usah ngehina gue segala dan gak usah makan di tempat lain selain kantin. Gue bukannya gak mau ikut, tapi males kalau harus kehujanan."
Asep melongo. Ia lupa bahwa masalah terbesar yang harus dihadapi oleh Abel hanya satu, yaitu hujan. Sejak tadi gadis itu sebenarnya tidak terlalu mengkhawatirkan penampilannya, tapi takut kalau tubuhnya harus kembali basah jika pergi ke luar sekolah.
Memang dasar Abel dan segala keanehannya. Hujan saja ditakuti. Tidak sadar bahwa manusia terkadang lebih menyeramkan dari apa pun yang katanya mengerikan.