11 - Istimewanya Hujan

2068 Kata
Hari ini kamu membuktikan bahwa apa yang tidak aku suka akan berubah menjadi sesuatu yang akan aku nikmati. Bahwa tidak selamanya yang dibenci selalu berarti buruk. -Abiella Kintan Annaliese *** Awalnya, ketakutan terbesar Abel hanya satu. Yaitu saat keberadaannya semakin terasa mengganggu dan ia semakin tidak diperlukan. Saat itu, adik dan kedua orang tuanya tidak hanya akan mengolok-oloknya karena tidak bisa melakukan apa-apa, tapi mungkin bisa membuangnya. Abel takut itu akan terjadi saat menyadari bahwa semakin hari tidak ada kemajuan sedikit pun dalam hidupnya. Namun, Abel tidak tahu bahwa ketakutannya akan bertambah dalam waktu yang terbilang cepat. Matanya menatap seseorang yang sedang keluar dari angkutan umum. Itu Ardan. Sedang berbincang dengan salah satu penumpang yang sepertinya mengenakan seragam serupa seperti Ardan. Tidak lama, hanya beberapa detik, setelah Ardan menerima kembalian dari sopir angkot, mobil segera melaju dan Ardan membalas lambaian tangan dari seseorang yang tadi sempat mengobrol singkat dengannya. Seharusnya Abel tidak perlu mengkhawatirkan apa pun, kalau saja yang mengobrol dengan Ardan bukanlah seorang gadis. Kalau saja yang mengobrol dengan Ardan terlihat jauh lebih feminim. Ketakutan itu muncul begitu saja. Abel sadar mungkin saja dirinya hanyalah orang asing untuk Ardan. Tidak berarti apa-apa dan Ardan bisa pergi sesuka hati entah kapan. Itulah yang membuat Abel takut, saat Ardan sadar bahwa dirinya tidak penting dan cowok itu meninggalkannya. Tentu, Ardan sama sekali tidak terlihat seperti orang yang akan melakukan hal sekejam itu, dan Abel pun ingin mempercayai bahwa apa yang ia rasa murni hanya ketakutannya saja. Namun, hati manusia kerap dibolak-balik, bukan? Beberapa langkah sebelum Ardan sampai di depannya, Abel mengerjapkan mata. Sebaik mungkin terlihat baik-baik saja di depan cowok itu. Seulas senyum segera Abel dapati. Ardan sampai di depannya. Tampak seperti biasa. Hangat dan langsung memberikan kenyamanan untuk Abel. "Dari tadi lo berdiri di sini nungguin gue?" tanya Ardan. Kepalanya menoleh ke arah belakang tubuh Abel, melihat ada kursi panjang di sana. Tepatnya tak jauh dari penjual es krim yang sedang mangkal. Abel mengangguk. "Iya." Melirik ke arah jalan raya yang dilalui mobil yang sempat ditumpangi Ardan. "Udah lama nunggu di sini?" Pikiran Abel seketika teralihkan. Ia seolah tidak mendengar apa yang Ardan tanyakan dan fokus memikirkan tentang siapa gadis yang tadi sedang bersama dengan Ardan? "Kenapa? Lo sakit?" "Gue boleh nanya sesuatu?" Abel bertanya. Ardan mengangguk ragu. Bingung, karena biasanya Abel selalu bertanya tanpa harus meminta izin terlebih dahulu. "Yang tadi lo ajak ngobrol di dalam angkot siapa?" Beberapa detik berlalu dan Ardan baru sadar apa alasan Abel harus meminta izin terlebih dahulu. Itu karena Abel mengira bahwa apa yang ditanyakan olehnya adalah urusan pribadi, dan Abel tidak berhak tahu atau ikut campur segala. "Kenapa? Lo cemburu?" Ardan melirik Abel dibarengi senyum geli. Tidak menyangka bahwa orang seperti Abel akan bersikap semanis itu. "Ngapain juga gue harus cemburu. Gue 'kan cuma nanya, emang gak boleh?" "Boleh kok, boleh banget malah. Oke, gue jawab. Dia tuh adik kelas gue. Kakaknya gak jemput dia, jadi dia terpaksa naik angkot. Tadi pun gue cuma pesan sama dia supaya dia hati-hati di jalan. Itu aja." "Kenapa lo terkesan lagi ngejelasin supaya gue gak salah paham?" "Emang iya. Lo keliatan kaya takut banget gue diambil dia." What?!!! Sejelas itukah? Hubungan Abel dengan Ardan hanya sebatas teman, itu pun belum genap sampai tiga Minggu. Abel belum sepenuhnya mengenal Ardan, dan menurut Abel itu adalah hal wajar, tapi kenapa Ardan sebegitu mudahnya menyimpulkan? Jawabannya benar pula. "Gak usah sok tau lo!" elak Abel sedikit ngegas. Ia kira Ardan akan berhenti membahas hal itu, ternyata tidak, Ardan malah mengatakan hal yang membuat Abel terpaku. "Gak usah khawatir, gue itu temen lo, jadi gak bakal ke mana-mana. Lagian gue bukan tipikal orang yang ninggalin sesuatu cuma karena nemu yang baru." Semasa hidupnya di dunia, Abel tidak pernah sekalipun didekati oleh cowok. Justru sebaliknya ialah yang mendekati cowok lebih dulu dan meminta mereka menjadi temannya. Tidak di sekolah dasar, saat SMP, atau SMA, semua teman-temannya memperlakukannya layaknya teman biasa. Saling memperhatikan dan peduli satu sama lain. Abel kira itu penting dalam pertemanan. Jika ada temannya yang sakit atau dalam masalah, ia akan membantu sebisa mungkin sampai temannya itu baik-baik saja. Berlaku juga sebaliknya. Teman-temannya memperhatikan Abel dengan sangat baik. Ada kalanya Abel sakit, mereka tidak datang menjenguk, tapi puluhan pesan diterima Abel sebagai bentuk kekhawatiran. Pun saat Abel sedang dalam masalah, misalnya nilainya sangat anjlok dan terpaksa mengikuti ulangan tambahan, seseorang yang kapasitas otaknya lebih baik akan membantunya belajar. Leo salah satunya. Namun, dari perlakuan mereka semua, dari bagaimana sifat teman-temannya, atau sebaik apa mereka terhadap Abel, baru kali ini Abel merasakan sesuatu yang berhasil membuatnya mengharapkan sesuatu. Semoga saja Ardan memegang ucapannya dan tidak meninggalkannya. "Gak usah bengong, gue 'kan gak lagi ngerayu lo, jadi gak perlu sampe kaya gitu." Mendekatkan wajahnya pada Abel, Ardan mencubit kedua pipi Abel gemas. Gadis di depannya itu mengaduh pelan. "Kok pake cubit segala? Sakit tau!" "Abisnya gue takut lo kesurupan kalau gak dicubit." "Mana mungkin gue kesurupan? Tempat terang benderang gini gak bakal bikin setan muncul." "Terang dari mana?" tanya Ardan. Tangannya terangkat, menunjuk ke arah langit. Seketika tatapan Abel mengikuti jemari Ardan. Bukan terang seperti itu yang sebenarnya Abel maksud, tapi akhirnya ia panik juga. Awan hitam terlihat menggumpal di atas sana. Menutupi sinar matahari yang seharusnya masih menyinari Bumi. Terlalu dini untuk berteduh, tapi Abel tidak tahan berdiri di tanah lapang. Melihat langit yang sudah siap menumpahkan air yang sepertinya akan turun deras. "Em, anu, gimana kalau kita ke tempat lain aja, yang bisa buat neduh." Mata Abel melirik Ardan yang baru menurunkan tangan, kemudian beralih menyapu sekelilingnya. Rupa-rupanya tukang es krim yang tadinya masih ada sudah pergi, begitu juga dengan pengunjung taman yang lain. "Lo kenapa tetep dateng ke sini padahal mendung banget?" Ardan mengendikkan bahunya acuh. Ia menjauhkan diri, kembali memasang tubuh tegak. "Tadinya gue gak mau ke sini karena mendung banget, tapi gue takut lo udah ada di sini. Dan ternyata bener. Lo udah nongol duluan." Habisnya mau bagaimana lagi, 'kan? Abel tidak sempat meminta nomor ponsel Ardan, karena menghabiskan waktu bersama cowok itu kerap membuatnya lupa. Begitu pula dengan Ardan, ia tidak terlalu memikirkan hal itu. "Ya udah, mau balik aja atau gimana?" "Udah nanggung juga, 'kan?" Abel mengerjap polos. Tidak mengerti tanggung seperti apa yang dimaksud oleh Ardan. "Maksudnya kita 'kan udah ada di sini, masa langsung balik? Gak masalah hujan juga. Kita bisa ngobrol di tempat lain. Rumah makan atau semacamnya." Ahh, Abel mengerti. Ia bertanya, "Kafe?" Dengan percaya diri sekali. Ardan itu tidak pernah mau diajak makan ke tempat-tempat mewah semacam kafe atau restoran. Menurutnya tempat seperti itu terlalu mahal dan membuang uang. Jadi, untuk kali ini Abel ingin memaksa cowok itu. Suasana hujan dengan segelas minuman hangat ala kafe mungkin terasa nikmat. "Gak usah." Patah sudah harapan Abel. "Mahal. Mending uangnya lo simpan buat yang lain aja. Kita bisa makan di kedai bakso atau semacamnya, yang di pinggir jalan aja." Selalu begitu. Kalau tidak menghabiskan es krim, tidak lain tidak bukan makan di tempat sederhana saja. Enak memang, suasananya saja yang tidak mendukung. Beda kalau di kafe. Ada air conditioner, tempatnya nyaman dan bersih, terkadang ada lantunan lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi di sana. Teman-temannya selalu suka jika diajak nongkrong di kafe, andainya Ardan pun demikian, pasti menyenangkan. Tapi tidak apa, selama ada Ardan di sampingnya. Abel nyaman berada di mana saja. Setidaknya cukup untuk membuatnya menghabiskan waktu bersenang-senang sebelum akhirnya semalaman suntuk di dalam rumah. Namun, karena keduanya terlalu banyak diam dan membicarakan yang tidak perlu, alhasil gerimis muncul lebih dulu. Abel kelabakan menutupi kepalanya dengan telapak tangan kanan, sedangkan tangan kirinya menarik tangan Ardan agar mengikutinya. Tidak tahu harus ke mana, Abel hanya berlari di trotoar jalan. Gerimis yang awalnya menjadi permulaan, berubah lebih cepat dari yang Abel duga. Menjadi hujan deras yang membasahi tubuhnya. Satu-satunya tempat yang Abel lihat adalah jembatan penyeberangan orang atau JPO. Tanpa pikir panjang Abel menarik tangan Ardan mengikutinya menaiki anak tangga. Keduanya sampai di jembatan dengan napas terengah. Abel mendengkus saat meneliti penampilannya yang mirip seperti kucing yang baru saja kecebur got. "Kenapa harus lari-lari gitu? Mana kenceng banget lagi lari lo itu. Kalau kesandung 'kan bahaya," ujar Ardan menatap Abel. "Ya, abisnya mau gimana lagi, 'kan? Hujannya deres banget." "Hujan gak bakal bikin lo sampe berdarah-darah, astaga!" "Tapi dia bikin gue basah. Dan gue gak suka!" Orang dewasa mana pun tidak ada yang suka basah karena kehujanan. Tapi kenapa reaksi Abel sampai seperti itu? Ardan benar-benar tidak mengerti. Wajah Abel terlihat sangat kesal dan ia sepertinya juga tidak nyaman berada di jembatan penyeberangan orang. Lalu lalang kendaraan terlihat sebagai pemandangan utama yang dilihat Abel dan Ardan. Rintik-rintik hujan terdengar berirama. Menjadi senandung menyenangkan untuk Ardan, tapi sebaliknya yang dirasakan oleh Abel. "Kenapa reaksinya harus semarah itu, sih?" Ardan bertanya. Tubuhnya juga basah kuyup. Mungkin buku-buku yang ada di tasnya juga ikut basah. Bukan hanya Abel, ia pun tertimpa ribuan rintik hujan. Abel menatapnya. "Abisnya gue gak suka hujan. Bikin basah, bikin repot, bikin gue kesel juga. Kenapa sih harus hujan tiba-tiba, gue 'kan gak ada persiapan." "Hujannya gak tiba-tiba, dia udah ngabarin lewat matahari yang ngumpet di balik awan, ngirim mendung buat nyadarin manusia supaya yang di jalan buru-buru, yang di rumah ngangkat jemuran, dan semacamnya. Bukannya hujan yang tiba-tiba, manusianya aja yang telat persiapan. Lo aja tadi baru sadar 'kan kalau mendung banget?" Benar. Dan Ardan lah yang memberitahukan hal itu. Kalau Ardan tidak menunjuk langit yang sangat mendung, Abel tidak akan tahu bahwa akan turun hujan. "Lagian kenapa akhir-akhir ini sering banget hujan, sih? Gue 'kan gak suka." Ardan geleng-geleng kepala. Tidak menyangka bahwa Abel yang ia kenal akan sebegitu hebohnya hanya karena hujan. "Suka gak suka, dalam hidup, salah satu yang terpenting itu hujan. Kalau gak hujan, Bumi bakal kekeringan, lo susah minum, mandi atau ngelakuin hal lain yang memerlukan air. Gak sadar ke situ?" "Gak gitu maksudnya. Kenapa hujannya harus lebih sering siang hari? Kenapa gak malam aja?" "Lo gak bisa negosiasi tentang sesuatu yang gak lo mampu. Bersyukur aja, sih. Gak usah dibikin ribet. Clear, 'kan?" "Ya, gak bisa gitu dong. Gue tuh gak suka hujan, jadi wajar kalau hujan turun gue ngerasa kerepotan." "Kenapa lo gak suka hujan? Padahal itu salah satu nikmat Tuhan yang paling istimewa." Abel berkacak pinggang. "Karena gue gak suka kebasahan!" tukasnya. "Jadi maksudnya lo gak suka mandi?" "Ihh!" Abel menghentakkan kakinya kesal. "Lo kenapa jadi banyak ngomong banget, sih?!" ketusnya sebal. "Karena lo bersikap kekanak-kanakan." Bibir Abel merengut kesal mendengar hal itu. Tidak terima dengan pernyataan Ardan mengenai sifatnya. Keduanya tidak sadar bahwa mereka sedang bertengkar hanya karena hal sepele. Abel yang tidak mau mengalah dengan penjelasannya tentang hujan dan embel-embelnya, serta Ardan yang tidak bosan memberi ceramah yang sayangnya tidak ingin Abel dengarkan. "Sini dengerin gue!" Ardan melambaikan tangan. Meminta Abel mendekat. Gadis itu nurut meskipun wajahnya masih ditekuk. Ardan menarik tangan Abel agar berdiri di sampingnya. Tepat di dekat pagar yang memperlihatkan dengan jelas hujan yang sedang turun. "Jangan pernah benci sesuatu cuma karena satu atau dua hal aja. Coba tutup mata lo," pinta Ardan di akhir kalimatnya. "Kenapa gue harus nutup mata?" "Kalau gitu gue tanya balik. Kenapa gak lo coba aja biar tau hasilnya?" Mengalah, Abel akhirnya menutup mata dengan kedua tangan terlipat di depan d**a. "Tarik napas lo dalam-dalam, terus buang pelan-pelan. Lo dengerin apa yang lagi hujan ciptain." Abel masih mengikuti apa yang Ardan perintahkan. Ia langsung menemukan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia duga. "Terkadang kita emang kesel kalau kehujanan, tapi hujan punya banyak keistimewaan yang harusnya jangan dilewatkan. Lo pasti udah tau, kalau irama yang diciptain hujan itu menenangkan. Bikin lo rileks. Kalau malam, lo bisa tidur nyenyak. Kalau siang, lo bisa ngerasa sejuk." Abel baru merasakannya, atau lebih tepatnya baru menikmati. Apa yang selama ini ia anggap menyebalkan, ternyata bisa menjadi alasan yang membuatnya tenang. "Hujan itu nikmat Tuhan yang paling istimewa menurut gue. Dari cara hujan jatuh ke tanah, danau, atau dedaunan, semuanya manjain mata banget. Mungkin kedengeran familiar, tapi hujan itu kadang ngebangkitin sesuatu dari lo. Entah kenangan, luka, atau sekedar ingatan samar. Dia ngasih ketenangan sekaligus keajaiban lainnya." Mata Abel terbuka. Ardan menoleh ke arahnya. Netra berbeda warna itu saling bertubrukan satu sama lain selama beberapa detik. "Lo gak bisa nikmatin sesuatu kalau lo udah ngebenci hal itu lebih dulu. Lo juga gak bakal tau seberapa menakjubkannya sesuatu kalau lo terus lari dan gak berusaha nyari tau." Abel menahan napas. Mengerjapkan mata saat rasa panas mulai mendera. Ardan itu ... kenapa bisa sama menakjubkannya dengan hujan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN