Abel jarang sekali dibuat pusing karena sesuatu. Ia hampir tidak pernah mendapatkan nilai yang bagus, tapi ia tidak pernah pusing. Ia juga tidak pernah memiliki teman perempuan untuk menjadi temannya bermain dan mengikuti trend terkini, tapi tidak pernah sekalipun ia memusingkan hal itu. Atau juga ketika ia selalu dijadikan perbandingan oleh orang tuanya karena dirinya yang berada jauh dibawah adiknya, yaitu Abi. Ia juga tidak pernah memusingkan hal itu, dan membiarkan saja Abi terus berada di atasnya tanpa berniat merebut posisi adiknya itu.
Namun, kali ini Abel dipusingkan oleh dua hal. Di satu sisi, ia ingin bertemu Ardan, karena sudah menjadi rutinitasnya sepulang sekolah rasanya aneh saat ia tidak menemui cowok itu. Tapi di sisi lain Ia juga tidak ingin merepotkan Ardan karena sepertinya Bu Dona masih tidak enak badan. Walaupun wanita itu sudah membaik, tetap saja tidak mungkin langsung beraktifitas.
Singkat cerita Ardan pasti akan disibukkan dengan segala macam urusan panti mulai dari mengurus anak-anak, mengurus panti, dan mengurus Bu Dona. Ia tentu sangat ingin membantu Ardan, tapi saat mengingat kembali kejadian kemarin, yang ada di pikirannya adalah bahwa Ardan bisa mengurus semuanya sendiri dan ia hanya akan merepotkan cowok itu, karena tidak ada satu pun hal yang bisa ia lakukan untuk membantu Ardan.
"Heh, nih anak malah bengong, kalau kesambet baru tahu rasa lo." Asep menepuk bahu Abel. Memaksa gadis itu mengerjapkan mata.
Leo dan Heri sudah keluar dari kursi. Keduanya kembali menoleh saat mendengar suara Asep.
"Kenapa lo?" tanya Asep.
Abel menatap cowok itu. "Gue juga gak ngerti gue kenapa," sahutnya nyengir lebar.
Asep memukul kepala Abel. "Ketularan Heri kayanya nih anak," ujarnya menoleh ke arah Heri.
"Emangnya gue sakit apa sampe nularin Abel segala?" Heri bertanya.
"Badan lo emang sehat, tapi otak lo yang sakit." Leo yang menyahut.
Melihat teman-temannya, Abel menarik sudut bibirnya. Ia seolah menemukan satu solusi untuk masalah yang sejak tadi membuatnya pusing. Mungkin karena itulah Abel memutuskan duduk kembali saat teman-temannya saling adu mulut.
"Guys, gimana kalau hari ini kita nonton aja ke bioskop?" tanya Abel.
Seolah baru saja mendengar akan dibagikan sembako gratis, tiga cowok yang ada di dekat Abel serempak menoleh ke arah Abel.
"Lo kesambet apa sih, Bel? Tiba-tiba bengong, tiba-tiba diem, terus sekarang tiba-tiba ngajak ke bioskop? Kepala lo kebentur tembok?"
Abel sedikit mengerti kenapa Asep sampai melontarkan rentetan pertanyaan seperti itu. Jawabannya jelas karena ia dan tiga temannya sangat jarang pergi bersama. Leo sudah memiliki kekasih sehingga sibuk dengan kekasihnya, apalagi kalau malam Minggu. Heri terlalu anak rumahan untuk diajak ke mana-mana, bisa dibilang Heri adalah anak penurut yang kalau sudah beres sekolah langsung pulang ke rumah.
Ya, kalian pasti sudah tahu kalaupun Abel ingin bepergian sudah pasti Aseplah yang diajak. Wajar kalau sekarang Asep kebingungan saat Abel mengajak semua temannya.
"Soalnya hari ini gua gak bisa ketemu Ardan, jadi gue gabut aja gitu, makanya mau ngajak kalian ke bioskop."
Asep ber-oh ria. "Jadi ternyata kita bertiga dijadiin pelarian lo, nih?" tanyanya setengah jengkel.
Tidak diduga, Abel justru mengangguk membenarkan pertanyaan Asep. "Nanti gue traktir, deh, kalian semua mulai dari bayar buat nonton sampe makannya juga. Gimana?"
Yang namanya gratisan siapa pun akan sulit menolaknya. Akan sangat wajar jika Leo dan Heri langsung mengangguk setuju. Akhirnya Asep pun menyetujui hal itu.
"Tapi bentar, gue mau nelpon Ardan dulu. Takut dia nungguin."
Tanpa menunggu jawaban dari tiga temannya, Abel langsung merogoh ponsel dan menghubungi Ardan. Nada sambung yang terdengar di telinganya tidak lama berubah menjadi suara yang sudah sangat dikenalnya.
"Kenapa?" tanya Ardan di seberang sana. Tanpa basa-basi.
"Lo lagi di mana?" Abel balik bertanya.
"Di angkot. Mau ke taman. Lo udah sampe taman?"
"Belum. Keadaan Bu Dona gimana?"
"Udah lebih baik, tapi masih gak gue izinin buat ngapa-ngapain."
Persis seperti dugaan Abel.
"Kalau gitu mendingan kita gak usah main dulu. Lo pasti sibuk sendirian di panti. Gue sih mau banget bantu, tapi gue juga sadar diri kalau gue cuma bisa ngerepotin lo, nanti yang ada lo malah makin kesusahan kalau ada gue."
"Kenapa bilang kaya gitu?"
Bisa Abel bayangkan bahwa Ardan sekarang tengah mengernyitkan dahi dengan sorot mata yang mengintimidasi. Tidak terima kalau ia menjelekkan dirinya sendiri. Itulah Ardan.
"Ya, karena gue sadar diri," sahut Abel.
Hening. Ardan tidak menanggapi ucapannya.
"Pokoknya langsung pulang aja, urus anak-anak panti dan urus Bu Dona juga. Nanti kalau Bu Dona udah sembuh sepenuhnya, baru gue main lagi ke panti."
"Ya udah, iya." Ardan akhirnya mengalah, "lo juga langsung pulang aja. Nanti gue kabarin kalau Bu Dona udah sembuh."
"Oke."
Ardan menutup telepon dan Abel langsung memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku kemejanya. Setelahnya Abel baru sadar saat menoleh ke arah tiga temannya, bahwa sejak tadi tiga temannya itu memperhatikannya saat ia mengobrol dengan Ardan lewat telepon.
"Kalian nguping?!" tuduh Abel.
Lagi, Asep memukul kepalanya. "Gimana urusannya kalau lo nelpon di depan kita bertiga, lo sebut kita bertiga nguping? Kalau gak mau pembicaraan lo didengerin sama kita bertiga, seenggaknya lo teleponannya jangan di sini, masuk dulu kek ke dalam tas lo. Kadang-kadang punya otak emang suka gak dipake ini anak. Heran gue!" sungutnya menghela napas lelah.
"Harusnya kalian dong yang tau diri, kalau ada orang lagi ngomong itu, ya, menjauhlah! bukan malah didengerin."
Asep melotot tidak terima. Mau bagaimanapun Abel itu tetap perempuan dan yang namanya perempuan tidak kenal apa itu mengalah.
"Terserah lo mau bilang kita nguping atau enggak, intinya pembicaraan lo sama si Ardan itu gak penting menurut gue, jadi gue bodo amat mau dituduh nguping juga."
"Tuh 'kan akhirnya ngaku kalau lo baru nguping."
Leo dan Heri hanya terkekeh geli melihat Abel dan Asep yang saling menyalahkan. Tidak ingin menyela apalagi menghentikan, karena perdebatan antara Asep dan Abel itu selalu terdengar menyenangkan untuk sekadar menjadi hiburan.
Sampai akhirnya Asep memilih mengalah dengan mengendikkan bahunya acuh. Tidak ingin membalas perkataan Abel lagi atau perdebatannya justru akan semakin panjang.
"Udahlah, katanya mau nonton. Kalau enggak jalan sekarang nanti bioskopnya keburu tutup."
Asep menatap Leo. "Lo pikir ini udah tengah malem kali, ya."
Memilih menghentikan percakapan, Abel berjalan melewati kursinya. Disusul Asep tak lama kemudian, dan keempatnya pun berjalan keluar dari kelas mereka. Melewati selasar kelas yang sudah nyaris sepi.
Tidak ada pembicaraan diantara mereka bahkan saat mereka sudah sampai di parkiran. Abel memilih dibonceng dengan Asep, sedangkan Leo dan Heri menaiki motor mereka masing-masing. Setelah berdiskusi mall mana yang akan mereka datangi, tiga motor itu segera keluar dari pekarangan sekolah dan segera bergabung dengan pengendara lain di jalan raya. Menuju satu tempat yang disepakati menjadi tujuan mereka.
***
Suasana mall tidak terlalu ramai, tidak juga terlalu sepi. Begitu memasuki area mall, mereka tidak langsung menuju bioskop, melainkan berkeliling terlebih dahulu.
Abel layaknya seorang putri yang dikawal oleh tiga pangeran. Bukan! Tentu bukan pangeran tampan nan menawan yang biasanya ada di komik-komik atau cerita fiksi lainnya. Asep, Leo dan Heri adalah pangeran abal-abal yang ada di dunia nyata. Yaitu dunianya Abel. Mereka memang tidak tampan dan rupawan, tapi karena bisa diandalkan, Abel yakin suatu saat mereka pasti menemukan pasangan yang nantinya akan mereka jadikan ratu dalam hidup mereka, dan itu bukan dirinya.
Terakhir kali bermain bersama tiga temannya, mungkin sudah hampir setengah tahun yang lalu, atau mungkin bisa lebih. Abel lupa. Karena memang ia dan tiga temannya jarang pergi keluar dan lebih sering mengobrol akrab di sekolah tentunya. selain karena memiliki kesibukan masing-masing Abel juga tidak ingin memonopoli mereka hanya untuknya sendiri.
Asep, Leo dan Heri selalu mengatakan bahwa mereka akan selalu ada untuk Abel, tapi Abel sangat sadar bahwa mereka juga memiliki kehidupan masing-masing yang pantas mereka nikmati tanpa harus disangkut-pautkan dengan dirinya. Karena itulah, bisa Abel katakan bahwa sekarang, detik ini, ia sangat senang karena bisa menikmati sorenya bersama tiga teman konyolnya.
Dengan seragam yang masih melekat di tubuh mereka, mereka persis seperti anak nakal yang berkeliaran sepulang sekolah. Menjadi bagian dari siswa-siswa di luar sana yang bermain-main dulu sebelum akhirnya pulang ke rumah.
"Eh, kayanya udah lama banget gue gak naik eskalator," ujar Heri menginjakkan kakinya di eskalator menuju lantai dua. Cowok itu berlalu bersamaan dengan berjalannya eskalator yang naik ke atas, disusul Abel, Asep dan Leo di belakangnya.
"Gak usah norak, ya, Otak Udang. Jangan bikin gue malu sebagai temen lo," sindir Leo.
"Tapi serius, Le." Heri membalikkan tubuhnya ke belakang agar bisa melihat Leo. "Terakhir kali gue ke mall kayanya bulan lalu."
Leo mendengkus. "Gak usah bilang-bilang, lagian juga gue gak mau tau. Mau lo terakhir ke sini satu bulan lalu, tiga bulan lalu, setengah tahun yang lalu, bahkan satu tahun yang lalu, gue gak peduli. Diem aja udah gak usah mikirin eskalator."
"Siapa juga yang mikirin eskalator, eskalatornya aja gak mikirin gue."
Ya Ilahi. Leo mengusap dadanya menahan amarah. Jangan sampai tingkat kekerenannya luntur hanya karena teriak-teriak untuk memarahi Heri yang menyebalkannya terlalu naudzubillah.
Mereka tidak sadar bahwa sejak tadi Asep dan Abel memperhatikan. Saat Heri sampai di lantai dua, disusul Leo, lalu Abel dan Asep, Abel menepuk bahu Leo.
"Kayanya selama ini lo nahan sabar banget, ya, Le? Karena sebangku sama Heri," kata Abel terkekeh geli.
"Ya, iyalah." Leo sama sekali tidak mengelak tentang hal itu. "Kalau aja makhluk kaya Heri ini bisa ditukar sama yang otaknya udah di-upgrade, rasanya mau gue tuker aja nih anak satu."
Asep tergelak. Pada akhirnya Leo tidak bisa mempertahankan kekesalannya dan mengumpat. Di matanya, itu terlihat bukan Leo sekali. Karena selama ini, daripada mengumpat, biasanya Leo lebih memilih untuk menyuruh Heri diam saja selama mungkin.
"Untung aja Asep gak sebobrok Heri. Walaupun gak pinter, tapi dia ngomongnya nyambung. Gak pernah bikin gue mijit kepala karena pusing ngadepin dia." Abel menepuk bahu Leo lagi, "sabar, ya, Le. Anggap aja Heri itu ladang lo buat nambah pahala."
"Pahala dari mana? Yang ada gue dosa karena kehabisan kesabaran."
Sementara Abel dan Leo membicarakan Heri, Heri sendiri justru tengah sibuk berjalan ke sana ke mari memperhatikan apa saja yang ada di mall. Seperti Alien yang baru turun dari planet lain dan tertarik melihat suasana di mall.
Hal itu membuat Leo geram, karena menurutnya Heri terlihat sangat memalukan. Memilih menjauh dari Abel, Leo berjalan mendekati Heri yang tengah memperhatikan toko sepatu.
"Heh! Jangan keluyuran sendirian gitu. Kalau lo hilang, gue gak bakal nyariin lo, tapi gue tinggalin sampe mall ini tutup. Mau lo?"
Heri mengerjap polos. "Tenang aja, kalaupun ditinggalin gue tau jalan pulang sendiri, kok. Jadi gak bakalan nyasar."
Sontak saja Leo langsung memukul kepala Heri keras. Membuat cowok itu mengaduh. Hal itu tentu saja berhasil membuat Abel dan Asep menyemburkan tawa.
Astagfirullah, dosa apa hamba sampe punya temen macam ini makhluk? benak Leo berteriak.
Keempatnya kembali berjalan beriringan. Karena sudah hampir jam empat sore akhirnya mereka langsung menuju bioskop yang berada di lantai tiga.
Perdebatannya kembali dimulai saat memilih film apa yang akan ditonton. Asep ingin menonton film Indonesia saja, Leo menolak karena ingin nonton film action dari luar negeri, dan yang membuat jengkel adalah Heri karena dirinya ingin menonton film kartun Disney.
Abel pun akhirnya ikut bingung memilih nonton film apa. Karena ia sendiri bisa menonton genre film apa saja mengikuti kemauan teman-temannya, tapi masalahnya teman-temannya lah yang ingin menonton judul berbeda. Kalau sudah begini akhirnya Abel tidak ada pilihan lain selain menjadi penengah.
"Udah gak usah ribut, kita nonton film yang tayang jam ini juga. Lagian belum tentu 'kan film yang kalian mau tayang jam sekarang, soalnya gue males aja kalau harus nunggu."
Tiga temannya langsung menatap Abel.
"Kalau yang tayang sekarang film romance berbalut eksplisit gimana?" tanya Asep.
Leo melotot. "Dewasa banget pemikiran lo, astagfirullah," ujarnya menggeleng pelan.
Sementara itu, Heri bertanya polos. "Eksplisit itu yang kaya gimana sih, Le? Yang ada adegan ciumannya gitu? Atau mungkin yang lebih dari itu?"
Kini Leo langsung menatap Heri. Menepuk pelan kepala Heri beberapa kali. Ia berkata, "Udah, ya. Gak usah dewasa sebelum waktunya. Lo terlalu lemot buat memikirkan hal-hal yang menjurus ke sana, Her." Dengan senyuman yang justru terlihat seperti penghinaan di mata Abel dan Asep.
"Ke sana ke mana?" tanya Heri.
"Ke rumah nenek lo!"
"Kok jadi ke rumah nenek gue?"
"Udah, Her. Mendingan lo balik aja sana. Sepet mata gue liat muka lo, panas telinga gue denger suara lo," usir Leo halus.
"Jadi sebenernya lo nyuruh gue ke rumah nenek gue atau balik? Ogah, ah. Males. Gue juga 'kan mau nonton."
Siapa juga yang nyuruh lo ke rumah nenek lo?!
Leo yang lelah menghadapi pertanyaan yang tidak ada habisnya memilih berjalan lebih dulu, mengabaikan suara tawa Abel dan Asep yang menggema di telinganya.
Alhasil, mereka memilih menerima saran dari Abel untuk menonton film yang tayang di jam saat itu juga agar tidak perlu menunggu lagi. Sekaligus mencoba untuk segera menemukan hiburan setelah dipusingkan dengan tingkah Heri.