30 - Kesambet Perasaan Asing

1955 Kata
Abel mengeluarkan ponselnya dari saku kemeja. Ia membuka satu percakapan yang baru dilihatnya sekitar tiga puluh menit yang lalu. Di mana terdapat pesan dari Ardan yang mengatakan bahwa Bu Dona sudah sembuh dan cowok itu bisa kembali bertemu dengannya. Ditekannya ikon berbentuk gagang telepon yang berada di sudut kanan atas ponselnya. Abel segera menempelkan ponselnya ke telinga dengan tatapan lurus ke depan. Memperhatikan seorang cowok yang tengah menunduk. Entah sedang melihat sepatunya atau memperhatikan rerumputan di bawah sana. Suara nada sambung segera berganti dengan suara familier yang cukup dirindukannya karena sehari tidak bermain bersama orang itu. Di sisi lain, cowok yang sedang duduk jauh di depan Abel juga meletakkan ponselnya di telinga. Ya, siapa lagi kalau bukan Ardan yang sedang dihubungi Abel dan sedang diperhatikan olehnya. "Kenapa?" Abel terkekeh geli. "Ngapain lo nunduk terus? Kebiasaan, deh. Coba liat ke depan." Di sana, Ardan yang sedang duduk mendongakkan kepala. Tatapannya segera bertemu dengan Abel. Suara dengusan terdengar di telinga Abel, membuatnya tergelak. "Kalau udah sampe ngapain pake ngehubungin gue segala? Buang kuota tau gak." "Emangnya kenapa sih? Suka-suka gue dong, 'kan kuota gue. Lagian gue juga gak minta beliin sama lo, 'kan?" Lagi, Abel mendengar suara dengkusan sekaligus melihat tatapan yang masih tertuju padanya. "Udah, deh, buruan ke sini. Perlu gue jemput?" tanya Ardan malas. Abel menyeringai lebar. "Boleh, Dan. Kalau bisa lo jalan dari sana ke sininya jongkok, ya. Abis itu gendong gue dari sini ke sana. 'Kan manis, tuh." "Manis pala lo!" Jika ada yang bertanya pada Abel siapa orang paling menggemaskan di dunia, ia tidak akan sungkan menyebutkan nama Ardan. Cowok itu sangat manis di matanya, dan ia yakin itu bukan hanya pendapatnya saja. Siapa pun itu, bahkan Presiden sekalipun, kalau mengenal Ardan pasti akan tetap berpendapat sama seperti dirinya. Abel memekik dalam hati. Ia pasti sudah sangat berlebihan dalam memuji Ardan. Dan siapa pun yang membaca ini pasti akan setuju. Benar, bukan? "Eh, Dan. Gue mau ngomong sama lo," kata Abel. "Ya, makanya buruan matiin teleponnya terus lo jalan ke sini." "Gak mau. Gue mau ngomongnya di telepon aja." Seolah sudah sangat lelah menghadapi Abel yang tidak pernah berubah, Ardan hanya menghela napas dan Abel mendengarnya dengan sangat jelas. "Jadi kemarin, tuh, yang waktu gue bilang di telepon nyuruh lo buat langsung pulang ke panti, dan lo pun nyuruh gue langsung pulang ke rumah karena kita sama-sama sepakat buat gak ketemu dulu, sebenarnya gue ga langsung pulang." "Terus?" "Gue main dulu sama temen-temen gue. Nonton bioskop, muter-muter area mall, terus makan, deh. Baru abis itu gue pulang." "Ya udah, sekarang gue minta lo matiin teleponnya terus jalan ke gue. Bisa?" tanya Ardan. Tatapan cowok itu masih terus tertuju pada Abel dan Abel segera mengikuti permintaan Ardan. ia mematikan ponselnya, memasukkannya ke dalam saku kemeja, kemudian berjalan samtai ke arah Ardan. Sesampainya di depan Ardan, Abel nyengir lebar. Mengharapkan pujian dari cowok itu karena ia sudah berkata jujur dan melakukannya dengan cara yang unik. Memangnya orang aneh mana lagi yang mau berbicara lewat telepon padahal saling berhadapan? Sepertinya hanya ia seorang. Ardan bangkit dari posisi duduknya. Dengan sok cool-nya memasukkan ponsel ke dalam saku celana kemudian menatap Abel intens. Selanjutnya yang Abel dapat di dari Ardan adalah sentilan cukup keras di dahinya. Sampai ia yakin kalau kepalanya selembek bubur, mungkin sudah buyar kemana-mana. "Kok malah nyentil?" tanya Abel mengusap dahinya yang baru saja disentil oleh Ardan. "Itu hukuman karena lo udah bohong sama gue. Bukan karena gue kesel, tapi sebagai peringatan kalau emang mau main, ya, bilang aja. Gue gak akan marah dan gak niat ngambil hak kebebasan lo juga." Serius sekali, pakai membawa-bawa hak dan kebebasan segala. Abel menggeleng takjub. Di depan Ardan, ia memang selalu terlihat konyol sekali. Entah karena Ardan yang terlalu pintar dan dewasa, atau karena dirinya yang memang jarang menggunakan otaknya untuk berpikir lebih keras. "Gak usah marah-marah, deh, Dan. Gue jadi makin laper. Makan, yuk!" Abel tersenyum manis, berharap Ardan melupakan kesalahan kecilnya. "Tumben banget ngajak makan, biasanya juga kita cuma ngemil es krim aja." "Tapi 'kan pernah makan bakso atau ketoprak atau mie ayam." "Tapi jarang. Lo biasanya selalu makan es krim dua dan itu cukup, selebihnya lo makan di panti. Iya, 'kan?" Abel cemberut. Tidak suka dengan tanggapan Ardan, karena cowok itu seolah sedang mengatakan bahwa selama ini ia sering numpang makan di panti asuhan. Kenapa pula Ardan tidak bisa memilih kosakata yang lebih baik. Misalnya, kenapa harus makan di luar, nanti aja di panti asuhan, atau nggak usah makan di luar mending nanti aja di panti asuhan. Intinya memang sama, tapi kosa katanya jelas berbeda dan itu lebih enak diengar telinga. "Oke, mulai besok kalau gue mau main ke panti gue bakal bawa beras sendiri, bawa sayur dan lauk mentah sendiri, biar lo gak kehabisan bahan baku masakan karena gue ikut makan," ujar Abel setengah kesal. "Kok malah jadi ke sana? Gue gak bilang kalau keberatan kalau lo ikut makan." "Ya, abisnya bahasa lo kaya gitu. Gue 'kan jadi kesel." Abel memutar mata. "Lo lagi datang bulan, ya? Kok tumben banget marah-marah gini?" Astagfirullah. Kenapa jadi bawa-bawa datang bulan segala? Abel tidak menyangka bahwa predikat perempuan yang tengah datang bulan akan sensitif itu sangat terkenal sekali. Bahkan Ardan sampai menduga ke sana. "Udah, ya, Dan. Gue baru sadar ternyata lo itu bisa nyebelin juga." Abel memutar tubuh, berniat untuk membeli es krim seperti perkataan Ardan yang mengatakan bahwa ia hanya butuh dua es krim dan ia akan baik-baik saja, tapi Ardan justru menahan pergelangan tangannya. Tanpa berkata-kata lagi, Ardan langsung menarik tangan Abel menjauhi kursi yang sempat didudukinya. Abel bertanya, "Mau ke mana?" Sambil mendongak menatap Ardan. Seakan tahu tengah ditatap oleh Abel, Ardan balas menatap Abel. "Katanya laper, jadi gue mau ajak lo makan. Kita nyari bakso atau makanan apa pun yang ada di dekat sini," jawabnya tenang. Beralih menggenggam tangan Abel. Abel bertanya-tanya sebenarnya ngidam apa ibu Ardan saat mengandung cowok itu? Sampai-sampai bisa melahirkan cowok berwujud manis seperti Ardan. Cuek, tapi perhatian. Menyebalkan, tapi pengertian. Dan yang terpenting tingkahnya selalu menggemaskan. Memangnya siapa yang bisa menolak kalau sudah begini? Walaupun awalnya kesal pada akhirnya Abel sudah pasti akan luluh juga. Berjalan menjauhi area taman, keduanya menyusuri trotoar jalan untuk mencari makan. Dan yang membuat jantung Abel berdegup berlebihan adalah karena tangannya dan tangan Ardan masih saling menggenggam. *** Abel dan Ardan berhenti di salah satu warung bakso yang tidak terlalu jauh dari taman. Ardan menggiring Abel menuju salah satu meja. Cowok itu memesan dua mangkuk bakso beserta minumannya. Bahkan saat menarik kursi untuk Abel pun tangan Ardan masih menggenggam tangan Abel. Membuat Abel entah sudah berapa lama menahan panas di pipinya sepanjang perjalanan tadi. "Lo kepanasan?" tanya Ardan saat dirinya duduk di seberang Abel. "Hah? Kenapa?" tanya Abel gelagapan. Ardan menunjuk wajah Abel, seketika membuat tabel langsung membuang muka. "Itu muka lo merah kaya orang kepanasan. Emang matahari lagi panas, ya? Kayanya enggak, deh. Sore ini gak panas-panas amat, kok," tutur Ardan merasa aneh. "A-apaan maksud lo? Gue gak kepanasan, kok." Abel berkilah. Berdehatm untuk meredakan kecanggungan yang terasa di antara dirinya dan Ardan. Untunglah saat itu pesanan bakso langsung datang ke meja mereka, sehingga Adel tidak perlu menanggapi kebingungan Ardan lebih lama lagi, atau ia akan terlihat memalukan di depan Ardan karena diam-diam dibuat tersipu oleh cowok itu. Abel dengan cepat langsung meracik baksonya sendiri. Berusaha untuk tidak menatap Ardan yang juga sedang sibuk meracik baksonya. Abel sebenarnya malas untuk mengakuinya, tapi bagaimana kalau memang benar ia ternyata menyukai Ardan? Bisa dibilang, Ardan itu cowok paling berkesan di hidup Abel. Tidak aneh rasanya kalau pada akhirnya Abel akan jatuh cinta pada cowok itu. Hanya saja agak cukup sadar diri kalau dirinya belum cukup pantas untuk Ardan, dan entah kapan ia bisa memantaskan diri untuk cowok itu. "Katanya laper, kenapa sekarang malah bengong?" tanya Ardan menyentakkan Abel dari lamunannya. Abel mengerjapkan mata. Tersenyum dan langsung menggeleng pelan. Tanpa menjawab pertanyaan Ardan, ia langsung mulai menyantap baksonya. Abel kira saat ia tidak menatap Ardan sama sekali, saat ia berusaha membuang Ardan dari pikirannya, dan tidak buka suara sama sekali, akan membuat kecanggungannya perlahan menghilang dan tidak bisa bersikap biasa kepada Ardan. Namun, ternyata Abel salah. Genggaman tangan Ardan masih sangat terasa di tangannya. Nyaman dan terasa panas sekali. Tadi bukan kali pertama Ardan memegang tangannya, hanya saja bisa dibilang menjadi yang terlama. Dan Abel sebelumnya tidak sadar kalau hal itu akan memberikan efek yang berlebihan padanya. Ragu-ragu akhirnya Abel memilih bicara juga. "Dan, gue kepo, deh. Tipe cewek yang lo mau itu kaya gimana sih?" tanya Abel. Jelas ingin mencari tahu apakah ia bisa menjadi seseorang yang nantinya diinginkan oleh Ardan. "Kenapa tiba-tiba dan nanya itu?" Ardan balik bertanya. "Em, gue mau tau aja. Barangkali 'kan nanti kalau lo udah punya pacar, mungkin lo bisa lupa sama gue dan nggak mau kenal sama gue lagi." "Kenapa bisa sampai mikir ke sana? Emangnya muka gue ini kelihatan kaya orang dengan tampang yang suka ninggalin temennya gitu kalau udah nemu sesuatu yang lebih menarik?" "Gak juga." Abel melepas sendok untuk menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mengutuk dirinya sendiri karena bisa-bisanya ia menanyakan hal yang sangat pribadi seperti itu kepada Ardan. kalau nanti Ardan mulai risih dengannya bagaimana? "Maaf, gue gak ada maksud kepo," kata Abel akhirnya. Mengakhiri rasa penasarannya. Abel kira Ardan pun akan berhenti membahas itu. Namun, siapa sangka Ardan justru menjawab pertanyaannya. "Gue gak punya tipe khusus buat cewek yang gue mau nantinya. Karena gue termasuk orang yang percaya takdir. Gue yakin Tuhan udah nyiapin seseorang yang pastinya terbaik buat gue. Dan selama gue jadi orang yang baik, gue yakin kalau orang yang dikirimkan Tuhan pun merupakan orang yang baik." Seketika Abel merasa kalah sebelum perang. Mungkin maksud dari ucapan Ardan adalah yang sering dikatakan orang lain, bahwa jodoh adalah cerminan dari diri sendiri. Jadi kalau memang ingin mendapatkan orang yang terbaik, jalan yang tidak kalah penting adalah memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu. Ardan baik di mata Abel. Cowok itu ramah, penyayang, pengertian, bisa mendewasakan orang lain, tidak pernah berpikiran sempit, dan selalu fokus ke depan. Dari yang Abel lihat Ardan itu selalu mendahulukan orang-orang terdekatnya, ketimbang dirinya sendiri. Anak-anak panti, Bu Dona, mereka selalu diutamakan oleh Ardan. Ardan ingin mereka semua bahagia dan ia bisa menjadi orang yang memberikan kan kebahagiaan itu. Bukankah dari definisi panjang itu saja sudah membuktikan kalau Ardan pantas mendapatkan seseorang yang baik, yang bisa menghargai kehadirannya, yang setara dengannya, yang juga bisa memberikan kebahagiaan, yang mau berjuang sama besarnya seperti apa yang diperjuangkan oleh Ardan. Dan yang terpenting orang itu harus tahu arah mana, jalan mana yang akan ditempuh menuju masa depan. Sedangkan Abel, sekeras apa pun ia berusaha ia tidak pernah terlalu menginginkan masa depan yang cerah. Masa depan yang biasanya dipenuhi oleh cita-cita tidak menjadi prioritas untuk Abel. Bahkan saat dirinya sudah duduk di kelas tiga SMA, Abel tidak tahu apa yang akan dilakukannya ke depannya. "Kenapa diem? Bakso lo nanti keburu dingin, tuh." Abel langsung menatap Ardan. Lagi-lagi hanya menggeleng. "Tadi waktu di taman lo kekeuh banget katanya laper dan mau makan. Giliran udah di tempat makan lo malah diem-dieman. Kesambet apa tadi di sekolah?" Kesambet perasaan asing! Abel nyengir. "Kesambet setan bisu," katanya ngasal. Berbeda dengan isi kepalanya. "Setan bisu? Itu barusan lo ngomong. Gak usah ngawur. Kesambet beneran baru tau rasa lo." "Kalau ngomong suka seenak jidat emang, ya. Amit-amit, astaga!" Abel geleng-geleng kepala. Berusaha mengusir kemungkinan yang disebutkan Ardan. Di depannya Ardan terkekeh pelan sambil mengunyah bakso yang baru dimasukkan ke mulutnya. "Udah, cepetan makannya. Jangan bengong terus. Kalau udah dingin nanti malah gak enak." "Iya, Ardan," sahut Abel menusuk bakso kecil yang ada di mangkuknya dengan garpu lalu memakannya bulat-bulat. Ya, mau dipikir sampai kepalanya botak sekalipun Abel yakin bahwa Ardan memang betulan tidak pantas untuknya. Dan ia merasa terlalu percaya diri karena sudah dengan lancangnya mengagumi Ardan diam-diam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN