31 - Perihal Cinta

2064 Kata
Abel melompat keluar dari angkot setelah membayar. Harena sejak perjalanan hujan turun, ia tidak sadar bahwa ada genangan air di tempat yang menjadi pijakannya melompat. Air menciprat ke mana-mana. Sepatunya basah dan ada orang yang mengeluh karena ikut terciprat. Setelah menggumamkan maaf, Abel melanjutkan langkahnya melewati gerbang sekolahnya. Sampai di parkiran, Abel melihat seseorang yang sangat familier baru saja turun dari motor. Motor yang kerap ia tumpangi, dan itu sering sekali. Tidak menunggu lagi, Abel berlari dan langsung menubruk orang itu dari belakang. Merangkul leher Asep yang sekilas terlihat seperti ingin meminta digendong. Sungguh kebetulan yang menguntungkan. Baru saja Abel berpikir untuk mencari waktu yang pas dan ingin mengajak Asep berbicara. Siapa sangka hari ini justru ia datangnya bersamaan dengan kedatangan Asep. Membuatnya tidak perlu mencari waktu dan langsung menggiring cowok itu saja. Namun, karena gerakannya yang tiba-tiba, Asep sempat terlonjak kaget. Ia menarik paksa tangan Abel agar melepaskannya dan menarik gadis itu ke samping. "Lama-lama bisa mati muda gue kalau temenan sama lo? Udah kelakuan absurb, kadang suka ngagetin tiba-tiba, nyebelin pula. Abis stok sabar gue lama-lama," gerutu Asep berjalan melewati Abel. Gadis itu mengikutinya dam berjalan di samping. "Pagi-pagi udah marah-marah aja. Nanti cepet tua lo, Sep," kata Abel tidak sadar diri. Tentu saja Asep mendengkus. Tidak terima dikatai seperti itu. Karena kalau Abel tidak mengagetkannya, ia tidak akan marah-marah. "Lagian ngapain sih tiba-tiba nubruk gitu? Kalau mau nyapa 'kan bisa tinggal manggil aja, bukannya malah bikin orang jantungan." Abel tergelak. Senang rasanya masih pagi saja ia sudah bisa membuat orang naik darah. Bakatnya yang satu itu ternyata merupakan anugerah istimewa. "Sep, lo udah sarapan?" "Udah," sahut Asep datar. "Pake apa?" "Pake hati!" Abel tergelak lagi. Ia menepuk bahu Asep kemudian berkata, "Jangan pake hati, dong, Sep. Gak kenyang. Yang ada lo malah sakit hati. Mendingan makan nasi uduk. Udah murah meriah, enak, mengenyangkan pula" Perkataan Abel berhasil menarik perhatian Asep untuk menatapnya. "Lo lagi promoin nasi uduk? Nyokap lo sekarang jualan nasi uduk?" tanyanya terlihat prihatin. Rasanya Abel ingin bersujud sebagai bentuk rasa syukurnya karena telah diberikan teman seperti Asep. Yang bisa memanfaatkan kekurangannya untuk menghibur orang lain. Sudah tidak pintar, Abel rasanya baru sadar kalau Asep mungkin ketularan Heri. Karena tiba-tiba saja Asep lemot. "Kita ke kantin dulu yuk, Sep!" "Ngapain?" "Makanlah! Pake nanya segala. Heran gue, lo duduknya terlalu deket sama Heri kayanya, jadi lo ketularan lemot." Asep berhenti melangkah. Ia menatap Abel sambil menyunggingkan senyum ogah-ogahan. "Punya otak itu sekali-kali dipake dong, Bel. Yang duduk di belakang Heri 'kan elo, jadi lo yang paling dekat sama Heri," tuturnya tidak habis pikir. Lagi pula mana ada penyakit lemot yang menular? "Ya, abisnya lo pake nanya segala ke kantin mau ngapain, ya, udah pasti mau makanlah. Ngapain lagi emangnya? Olahraga?" "Kalau mau olahraga ke lapangan sana, bukan ke kantin." "Itu tau." Abel kembali mengikuti Asep yang melangkah lagi. Meski terlihat malas dan terkesan enggan menemani, Asep justru berjalan menuju kantin yang ada di lantai satu. Abel dibuat senyum-senyum sendiri melihat tingkah cowok itu. Habisnya mau bagaimana lagi, Asep memang temannya yang paling bisa diandalkan sih. *** Asep menguap malas. Di depannya sudah ada makanan dan minuman yang baru ia pesan. Di seberangnya pun Abel sama-sama baru menerima pesanannya. Nasi goreng dengan telur mata sapi dengan minumnya sebotol air mineral. Keduanya memesan makanan dan minuman yang sama. Sudah sekitar lima belas menit setelah keduanya sampai di kantin, tapi tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulut Abel. Membuat Asep geram. Sejak tadi ia tidak berbicara duluan karena menunggu Abel yang berbicara, tapi gadis itu justru diam saja. Biar Asep beri tahu. Selama ini Abel tidak pernah mengajaknya sarapan di sekolah atau terlihat seperti orang yang belum sarapan saat sudah sampai di kelas. Jadi bisa dibilang ini adalah yang pertama kalinya, dan tentu menjadi hal yang mengherankan untuk Asep. Abel memang kerap makan di luar rumah. Itu terjadi hampir setiap hari. Dan Asep sangat tahu hal itu karena ia sudah seperti sopir pribadi Abel yang belum pernah mendapatkan bayaran semenjak bekerja. Tapi kalau sarapan, Abel tidak pernah sarapan di sekolah. Asep tidak tahu apa Abel makan di rumah, sekadar mengambil selembar roti tawar lalu pergi, atau gadis itu makan di perjalanan ke sekolah. "Sebenernya lo mau ngomong apa?" Karena itulah Asep mulai buka mulut. Mencari tahu jawaban dari rasa penasarannya. Kebetulan tadi ia memang hanya sarapan sedikit, jadilah sendok yang yang diletakkan di piring berisi nasi goreng itu ia sentuh dan ia mulai menyantap nasi goreng miliknya. Abel masih diam. Gadis itu tidak menyentuh nasi gorengnya sama sekali, bahkan setelah Asep justru sudah menelan beberapa sendok. "Gue yakin ini pasti ada apa-apanya lo ngajak gue ke kantin. Soalnya gak biasanya lho kaya gini. Biasanya juga lah cuma makan pas istirahat, 'kan aneh kalau tiba-tiba lo ngajak sarapan. Emangnya di rumah lo gak ada nasi sama sekali atau roti atau apa kek yang bisa dimakan?" Gadis di depannya nyengir. Satu hal yang malah membuat Asep merinding. Tanpa sadar ia melepaskan sendok yang dipegangnya dan berhenti mengunyah. Ia membuka tutup botol air mineral miliknya kemudian meneguknya serakah. "Asli ini mah. Lo pasti lagi kesurupan! Perlu gue panggil orang pinter yang bisa ngusir setan, gak?" seru Asep heboh sendiri. "Jadi gini, Sep..." "Iya?" Asep menanti penasaran. "Gue itu ... gini..." Asep semakin penasaran. Ia bertanya, "Kenapa? Ada apa? Sini bilang aja sama gue." Dengan wajah serius. "Anu, Sep..." "Apaan, woy?!" seru Asep mulai kesal. Sontak saja Abel tergelak. Tidak kuat melihat wajah Asep yang awalnya terlihat sangat penasaran berubah menjadi kesal setengah mati. "Lo kira-kira pernah suka sama orang, gak?" tanya Abel akhirnya. Mengutarakan maksudnya mengajak Asep ke kantin, yaitu untuk menanyakan perihal cinta. Yang sepertinya tengah dirasakannya. Asep mengerjapkan mata. Tidak mengerti maksud dari perkataan Abel. Ia bertanya, "Lo lagi demam, ya?" Membuat Abel merengut sebal. Ia pun sebenarnya sadar bahwa pertanyaannya terdengar aneh dan terlalu tiba-tiba. selama ini Asep selalu bersamanya, jadi wajar kalau cowok itu malah kebingungan. Karena sebenarnya dia tahu bahwa Asep tidak pernah dekat dengan perempuan kecuali dirinya. Namun, tetap saja Abel ingin mencari tahu. Karena Asep cowok, mungkin saja dia lebih paham dan mengerti. Bisa saja bukan diam-diam Asep mengagumi seorang gadis dan ia tidak tahu. "Gue 'kan cuma mau nanya lo, Sep. Jawab aja kenapa sih!" "Bentar-bentar." Asep memejamkan mata. Berpikir sejenak sebelum akhirnya, "lo lagi suka sama orang, ya? Ardan?" tembaknya langsung. Abel merasa tertohok. Sejelas itukah dirinya memperlihatkan semuanya? "Sehebat apa sih temen lo yang namanya Ardan itu sampe lo bisa suka sama dia?" tanya Asep lagi. Terdengar ingin memastikan. Keduanya lupa bahwa di depan mereka masih ada makanan yang seharusnya mereka santap. Keduanya tenggelam dalam pembicaraan dan mengabaikan makanan yang sudah mereka pesan. "Dia gak hebat," kata Abel. Wajah Ardan melintas di kepalanya. Terlihat jelas sekali. Sampai Abel rasanya sangat hafal setiap lekuk wajah Ardan. Saat Ardan terkekeh, matanya tentunya akan menyipit dan itu terlihat menggemaskan sekali di mata Abel. Ardan mudah tertawa, tapi di lain waktu cowok itu juga mudah marah. "Iya, dia gak hebat. Tapi dia selalu bisa membuat hal sederhana jadi terlihat istimewa. Dia selalu bisa mendewasakan gue cuma dengan lewat hal-hal kecil aja. Terlebih sikapnya yang bener-bener ramah dan baik itu bikin gue nyaman ada di deket dia." Abel tersenyum saat mengatakan itu. Kalau boleh jujur, sebenarnya ia pun tidak tahu apa yang dirasakannya pada Ardan. Iya tidak mengerti apa itu cinta, atau apa yang membuat seseorang bisa jatuh cinta. Ia tidak mengerti apa-apa dan benar-benar buta kalau urusan cinta. "Apa bisa dibilang gue jatuh cinta sama Ardan?" tanya Abel ragu-ragu. Asep menatapnya. "Bisa jadi," katanya. Karena ia pun sebenarnya tidak mengerti apa itu cinta. Cinta itu bisa menjadi hal yang yang sederhana atau justru bisa menjadi hal yang sangat rumit untuk dipahami. Bagi sebagian orang yang telah mengenal cinta, cinta bisa menjadi hal yang menyenangkan atau justru berbalik menyakitkan. Sedangkan bagi orang awam, cinta adalah hal yang rumit yang perlu dirasakan terlebih dahulu sebelum mendefinisikannya. Intinya untuk orang-orang seperti Abel dan Asep, cinta bukanlah sesuatu yang bisa dijelaskan oleh mereka. Salah sedikit saja, penafsiran nya kan berbeda. "Kenapa lo gak tanya ke Leo aja," Asep memberi saran yang sekiranya bisa menjadi jalan keluar. Secara itu adalah satu-satunya cowok di antara mereka yang sudah berpacaran dan memiliki kekasih. Bukan tidak mungkin kalau Leo akan sedikit banyaknya lebih mengerti, ketimbang Abel dan Asep. "Lo 'kan orang yang paling deket sama gue, jadi gue lebih nyaman aja ngomong sama lo." "Tapi sayangnya gue belum pernah pacaran, Bel. Jadi udah pasti gue gak bisa bantu apa-apa buat masalah lo yang satu ini." Abel tersenyum maklum. Ia juga tidak terlalu menuntut jawaban dari Asep. "Tapi ... Kalau emang lo beneran yakin lo suka sama Ardan, kenapa apa gak langsung bilang aja ke orangnya? Supaya semuanya jelas dan lo sendiri bisa nyari tahu perasaan lo kaya gimana sebenernya." Abel meneguk air liur. Itu sama artinya seperti iya menyerahkan diri ke kandang singa saat dirinya tengah kelaparan. Kenyang tidak, ia justru kehilangan nyawa. Rasa laparnya memang hilang, tapi nyawanya pun melayang. Ia memang haus akan jawaban, tapi kalau langsung berbicara pada Ardan ia seperti mempermalukan dirinya sendiri. "Kadang-kadang kalau lagi gini gue pengin jadi lo, pengen jadi kaya Leo, pengin juga jadi Heri aja." "Kenapa kaya gitu?" "Ya, karena mau aja." Abel mengulas senyum tipis. Pada akhirnya Abel menggerakkan tangan untuk mulai menyantap nasi gorengnya yang sudah hampir dingin. Asep pun turut lakukan hal yang sama dan menyantap kembali nasi gorengnya. Rasanya baru kali ini Abel merasa iri pada orang lain. Ia sering dibandingkan dengan Abi, tidak hanya dengan orang tuanya sendiri, bahkan teman sekelasnya juga. Tapi tidak pernah sekalipun dia merasa iri pada Abi. Karena gadis itu adalah adiknya, ia justru merasa bangga karena Abi jauh lebih baik darinya. Namun, hari ini Abel benar-benar merasa iri. Ia ingin membuang jati dirinya yang sekarang, kemudian berpindah ke jati diri orang lain. Setidaknya untuk waktu satu hari, sampai perasaannya tersampaikan pada Ardan dan ia mengerti apa yang tengah ia rasakan. "Menurut gue, kalau lo ngerasain sesuatu, mendingan kasih tau aja ke orangnya langsung. Perlihatkan aja sifat lo yang kaya biasanya. Blak-blakan, ceplas-ceplos, terus gak peduli tanggapan orang lain tentang lo." Asep berbicara di tengah kunyahannya. "Tapi ... gue takut sama tanggapan dia nantinya, Sep." Memang itulah yang Abel takutkan. Ia tidak masalah kalau lawan bicaranya adalah Asep, Leo, Heri, Feri, Juki, atau temannya yang lain. Tapi kalau Ardan Abel rasanya tidak akan bisa menerima kalau cowok itu menolaknya. Dan ia pun tidak tahu kenapa dirinya bisa mengkhawatirkan tanggapan dari Ardan. Bagaimana kalau nanti ia mengatakan sadar dan bahwa dirinya menyukai cowok itu, lalu tanggapan Ardan justru akan membuatnya kecewa. Suka? Maaf, gue cuma nganggap lo temen aja, gue gak ada perasaan apa-apa sama lo, kok bisa suka sama gue? Kita 'kan cuma temenan, gue gak bisa sama lo, lo bukan tipe gue. Dan masih banyak lagi kemungkinan jawaban dari Ardan. "Kalau dia nolak gue gimana? Atau kalau sebenernya gue cuma kagum aja sama dia gimana?" tanya Abel melepaskan sendoknya. Ia tiba-tiba saja kehilangan selera untuk makan padahal baru beberapa suap nasi goreng masuk ke mulutnya. Asep mengembuskan napas lelah. Ia tidak habis pikir, kenapa efek dari perasaan bernama cinta sebegitu hebatnya? Bahkan bisa merubah perangai orang lain begitu saja. "Kalau gue jadi lo, gue bakal bilang langsung ke orangnya. Ditolak itu wajar. Gue rasa emang hak dia mau nerima atau nolak perasaan lo. Yang terpenting, entah cuma kagum, suka, atau beneran jatuh cinta sama dia, seenggaknya perasaan lo udah tersampaikan, dan menurut gue itu cukup. Daripada lo harus mendem perasaan itu yang belum tentu bakal hilang nantinya." Kalau saja suasana hatinya sedang baik, mungkin Abel akan mengejek Asep habis-habisan karena telah berkata sok bijak seperti itu. Tapi tidak bisa dipungkiri, perkataan Asep benar adanya. "Makasih, Sep. Karena udah mau dengerin gue." "Kaya sama siapa aja, lo. Bahkan kalau lo minta gue yang bilang sama Ardan pun, bakal gue lakuin." Asep menegakkan tubuhnya saat Abel terkekeh. "Lagian heran gue, masih kecil udah mikirin cinta-cintaan. Kayanya lo ketularan Leo, deh," sindirnya kemudian. Abel hanya menanggapinya dengan cengiran. Asep memijat pangkal hidungnya untuk meredakan rasa pening di kepala. Ia pusing bukan kepalang saat mendengar Abel yang selama ini tidak pernah memikirkan sosok cowok, dan tidak pernah mempedulikan suatu hubungan bersama lawan jenis, kini justru dibuat pusing karena satu cowok. Dunia ini selalu dipenuhi dengan kisah-kisah dramatis berbau cinta atau semacamnya. Ia yang tidak mengerti apa itu makna cinta dibuat seperti tokoh yang tidak berguna karena tidak mengerti apa-apa. Benar-benar menyebalkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN