bc

CEO Tampan Kepincut Janda 3 Anak

book_age16+
218
IKUTI
2.8K
BACA
love-triangle
family
HE
fated
friends to lovers
pregnant
boss
stepfather
blue collar
drama
sweet
bxg
lighthearted
serious
kicking
bold
witty
city
office/work place
love at the first sight
polygamy
assistant
like
intro-logo
Uraian

Anissa yang pernah menikah dan memiliki 3 orang anak dari pernikahan sebelumnya bertemu dengan Anthony yang merupakan seorang Pengusaha besar di salah satu restoran. Saat itu Anthony kehilangan dompet dan ponselnya ketika ingin membayar makanan dan minuman yang dia pesan. Anthony pun cukup merasa kebingungan karena sebenarnya dia juga baru berada di Indonesia beberapa minggu terakhir. Anissa yang pada saat itu berada di sana karena ada janji bertemu dengan klien, menghampiri Anthony dan membantunya membayar semua makanan dan minuman yang sudah dipesannya. Anthony sangat terpukau dengan kecantikkan Annisa dan berterima kasih atas bantuan yang telah di berikan olehnya. Tanpa di sadari, ternyata Annisa juga merupakan salah satu sekretaris Direksi di Kantor yang Anthony pimpin. Bagaimana hubungan Anissa dan Anthony selanjutnya apakah mereka akan melanjutkan hubungan mereka walau Anthony tahu Anissa sudah pernah menikah, memiliki 3 orang anak, dan memiliki trauma yang cukup dalam dari pernikahan sebelumnya?

chap-preview
Pratinjau gratis
1 - Pertemuan
"Tidak, dimana ponsel dan dompetku?" Ucap seorang laki-laki sambil meraba saku celananya. Aku mendengarnya karena kebetulan dia berada di sebelah meja yang tidak jauh dari tempatku menunggu klien. Akupun melihat ke arahnya, terlihat wajahnya tampak kebingungan. Kebetulan klien yang akan bertemu denganku masih di jalan, akupun menghampiri laki-laki tersebut untuk mencoba membantunya. "Maaf mengganggu, kalau boleh tahu ada apa ya mba?" Aku bertanya kepada pelayan yang berada di dekat laki-laki tersebut. "Begini Kak, Tuan ini tadi memanggil saya untuk membayar makanan dan minuman yang dia pesan, tapi ternyata dompet dan ponselnya tidak ada. Sepertinya dia kecopetan." Pelayan tersebut mengerutkan kening. "Astaghfirullah, are you ok?" Aku menatap cemas kepada laki-laki tersebut. Laki-laki itu menggelengkan kepalanya. Akupun mengalihkan pandangan kepada pelayan tadi dan menanyakan total bill yang harus di bayar. Pelayan tersebut menyebutkan nominalnya dan aku segera berjalan kembali menuju mejaku untuk mengambil tas dan mengeluarkan kartu debitku. Aku segera menyerahkan kartu debit tersebut kepada pelayan. Selesai melakukan pembayaran, aku mencoba mengajak laki-laki tersebut untuk berbicara dan menenangkannya. Saat aku rasa dia sudah cukup tenang, aku menanyakan nomor yang bisa di hubungi. Aku berfikir mungkin saja dia membutuhkannya apalagi ponselnya hilang. Laki-laki tersebut menerima bantuanku dan meminta izin untuk menelpon seseorang yang dia panggil Dian. Dia menginformasikan satu nomor telpon, akupun mencoba menelpon nomor tersebut dan menyerahkan ponselku kepadanya. Syukurlah panggilan telpon tersambung. Selesai menelpon, dia mengucapkan terima kasih dan mengembalikan ponselku. Dia juga bilang akan mengganti uang yang telah aku keluarkan tadi. Beberapa saat kemudian, aku melihat klien yang telah aku tunggu datang. Akupun pamit kepada laki-laki tersebut dan berjalan kembali ke mejaku. Selesai mengobrol dengan klien asuransi yang aku tawarkan deal, aku memberikannya formulir untuk segera diisi. Setelah selesai, aku mengirimkan foto formulir dan pembayaran awal klien tersebut ke kantor. Beberapa saat kemudian, klienku undur diri. Kebetulan klienku hari ini seorang perempuan. Kamipun berdiri dan menjabat tangan satu sama lain. Setelah klienku pergi, aku merapihkan formulir tadi dan bersiap untuk pulang. Saat aku bangkit dari dudukku, seorang laki-laki datang menghampiri. Akupun melihat ke arahnya dan tersenyum. "Halo. Aku Anthony, terima kasih atas bantuanmu tadi. Atas bantuanmu, aku jadi tidak kehilangan muka karena tidak bisa membayar. Owh iya, ini aku ganti uang yang tadi kamu keluarkan." Anthony tersenyum dan menaruh uang di atas meja, lalu menjulurkan tangannya untuk bersalaman denganku. "Sama-sama Anthony, tapi kamu tidak perlu menggantinya. InsyaAllah Saya ikhlas membantu kamu." Aku tersenyum. "Owh iya, saya Annisa dan maaf saya seorang muslim." lanjutku sambil menyatukan tangan di d**a untuk menghargai juluran tangannya. "Owh ok. Tolong kamu terima ya, aku tidak nyaman jika memiliki hutang terlebih kita baru bertemu." Anthony tersenyum. Akupun mengangguk dan menerima uang tersebut agar bisa cepat pulang. "Owh iya Annisa, kamu sudah selesai?" "Sudah, alhamdulillah." "Kamu mau kemana? Kalau kamu izinkan, saya mau mengantarmu." "Saya mau pulang Anthony, anak-anak sudah menunggu di rumah." Aku kembali tersenyum. Anthony membulatkan mata, sepertinya dia kaget dengan jawabanku tadi. "Sebentar, kamu sudah menikah dan memiliki anak?" "Iya. Saya seorang single parents dan saat ini memiliki tiga orang anak laki-laki. Saya pamit undur diri ya Anthony, permisi." Aku adalah seorang single parents yang memiliki 3 orang anak laki-laki dari pernikahanku sebelumnya. Untuk memenuhi kebutuhanku dan anak-anak, aku bekerja di 2 tempat yaitu di perusahaan properti sebagai sekretaris Direksi dan perusahaan asuransi sebagai marketing. Sebenarnya mantan suamiku, Mas Hilman masih memberikan nafkah untukku dan anak-anak. Namun, aku tidak mau bergantung padanya. Karena kemungkinan setiap orang untuk berubah, merupakan hal yang sangat sering terjadi. Seperti mantan suamiku yang katanya sangat mencintaiku. Dia merupakan suami dan ayah yang perhatian dan penyayang. Namun siapa sangka, sejak kami menikah selama 4 hari, dia selalu mencari celah untuk berkenalan dan berhubungan secara intens dengan perempuan lain. Tidak jarang dia menyatakan perasaan cinta, sayang, dan rindunya kepada perempuan-perempuan tersebut. Tidak perduli wanita itu single, mempunyai suami, atau janda sekalipun. Dia terus mendekati semua perempuan itu. Perlakuannya terhadapku terkadang membuatku rendah diri dan bertanya-tanya akan kekurangan yang sebenarnya aku miliki. Sampai akhirnya Mas Hilman mengirimkan chat di luar pikiranku terkait ranjang kepada seorang janda yang dia kenal di daerah Jawa Timur. Marah? Pasti. Saat itu aku langsung pergi meninggalkannya dengan membawa kedua anakku. 2 bulan kemudian, aku sempat kembali karena memikirkan masa depan anak-anak. Terlebih saat itu aku sedang hamil anak ketiga. Namun siapa sangka ternyata Mas Hilman masih berhubungan mesra secara online dengan janda tersebut. Aku tertawa saking sakit dan hancurnya hatiku. Laki-laki yang aku pikir akan berubah nyatanya tetap mengkhianatiku. Bahkan, ponselnya saat itu tidak lagi dapat aku akses. Semua terkunci. Jika aku sempat melihatnya membuka sandi ponsel, dengan cepat dia langsung menggantinya. Namun Allah SWT sepertinya benar-benar ingin memperlihatkan sifat buruknya. Lagi-lagi aku mengetahui sifatnya melalui aplikasi sosial media yang baru aku download untuk mempromosikan buku yang aku buat. Aku memang sudah mulai mencoba menulis online beberapa bulan terakhir untuk menuangkan hobiku. Jujur aku juga berharap menulis bisa menjadi jalan mendapatkan penghasilan tambahan. Namun hal itu tidak mudah, akupun berusaha mempromosikan buku melalui berbagai sosial media. Nyatanya di social media, aku kembali menemukan keburukan Mas Hilman. Tidak sedikit perempuan yang dia ajak berkenalan. Hatiku kembali sedih dan lelah. Untungnya aku selalu memfoto dan screenshot bukti chatnya baik di ponsel ataupun sosial media. Sehingga aku bisa menjadikan hal tersebut sebagai bukti perselingkuhan dengan banyak wanita pada saat sidang perceraian. Anthony mematung, aku hanya tersenyum melihat sikapnya yang sudah biasa aku lihat dari laki-laki yang berkenalan denganku akhir-akhir ini. Aku membawa tas dan berkas yang aku bawa tadi lalu berjalan keluar restoran meninggalkan Anthony. Akupun segera memesan ojek online. Kebetulan tadi aku bertemu klien di dekat rumah di daerah GDC Depok. Saat sampai di rumah, ketiga anakku berlari menyambut kedatanganku. Mereka adalah anak-anak yang baik dan penurut. Selama aku bekerja, Mama dan 1 asisten rumah tangga yang membantu mengurus mereka. Anak pertamaku bernama Fatih, saat ini dia kelas 1 SD dan umurnya 7 tahun, anak kedua Fatir berumur 5 tahun saat ini sekolah TK B, dan anak ketigaku Fath berumur 3 tahun. Mereka adalah penyemangat hidupku, tanpa mereka rasanya aku bukanlah apa-apa. *** Aku berangkat kerja menggunakan kendaraan umum seperti biasa. Aku naik ke ruanganku yang berada di lantai 32. Saat sampai di meja kerja, aku segera menyiapkan beberapa dokumen dan menginformasikan agenda yang harus di jalankan hari ini oleh Direktur yang aku handle yaitu Pak Amin. Selesai menginformasikan agenda via chat, aku bergegas ke toilet untuk merapihkan penampilanku. Penampilan merupakan salah satu hal yang sangat penting bagi seorang sekretaris sepertiku. Akupun mulai berwudhu, mengeringkannya, merapihkan make up dan hijabku. Setelah aku rasa cukup, aku kembali ke meja kerja dan shalat dhuha. Aku memang terbiasa datang jauh lebih awal agar aku bisa tetap beribadah dengan baik. Selesai shalat, aku kembali duduk di meja kerjaku dan menyiapkan dokumen yang perlu di review dan tanda tangani ke meja Pak Amin. Setelah selesai menyiapkan dokumen-dokumen tersebut, aku segera menaruhnya ke ruangan beliau. Namun saat aku kembali dari ruangan Pak Amin, seorang laki-laki yang aku temui beberapa waktu lalu datang menghampiri. Aku tersenyum menyambutnya, tapi tidak dengannya. Dia cukup kaget saat melihatku. "Kamu Annisa kan? Kita bertemu beberapa waktu lalu di salah satu restoran daerah Depok dan kamu membantuku saat aku sedang mengalami kesulitan." Anthony menjelaskan. Aku mengangguk dan kembali tersenyum, "Iya, betul itu saya Pak Anthony. Kalau boleh tahu ada perlu apa ya Bapak ke sini? Apakah sudah ada janji sebelumnya dengan Pak Amin?" "Kamu belum tahu ya kalau saya adalah CEO di kantor ini. Saya memang terbiasa mengurus Perusahaan dari jauh, karena sebelumnya menetap di luar negeri. Namun, perhari ini saya mulai aktif di kantor." "Mohon maaf sebelumnya karena saya tidak mengenali anda Pak. Saya sekretaris baru dan belum genap 1 bulan bekerja di sini. Harusnya saya lebih cepat mempelajari Annual Report sehingga saya lebih memahami struktur organisasi di sini." Aku menunduk malu. "Tidak masalah Annisa. Owh iya, saya mau ketemu Pak Amin karena ada beberapa hal yang perlu saya bahas. Apakah Pak Amin sudah datang?" "Saat ini Pak Amin belum datang Pak. Biasanya beliau datang jam 8.00 WIB. Bapak mau menunggu di ruangan atau bagaimana Pak? Saya akan hubungi Pak Amin terlebih dahulu untuk menginformasikan kedatangan Bapak." "Tidak perlu Annisa, saya memang belum ada janji dengan Pak Amin. Nanti kalau Pak Amin sudah datang, tolong infokan untuk segera datang ke ruangan saya." "Baik Pak. Apakah ada lagi yang bisa saya bantu Pak?" "Tidak ada Annisa, terima kasih ya." "Sama-sama Pak." Saat aku berjalan kembali menuju meja kerja, pergelangan tanganku di genggam cukup kencang. Akupun kembali melihat ke arah Pak Anthony. Dengan cepat diapun melepas genggaman tersebut. Pak Anthony berdeham, "Maaf Annisa, saya tidak bermaksud untuk tidak sopan sama kamu. Saya.." Aku menunggu lanjutan perkataan Pak Anthony dengan tetap tersenyum. Walau sebenarnya aku sempat heran dengan tingkah lakunya barusan. "Annisa, maaf tapi jujur saya tertarik dengan kamu. Saya tahu kamu seorang single parents dan memiliki 3 orang anak. Jujur saya cukup kaget dengan hal tersebut. Tapi setelah beberapa hari lalu kamu pergi begitu saja meninggalkan saya, saya jadi berfikir dan merenung. Jika saya bertemu kembali dengan kamu, saya ingin mengenalmu lebih dalam Annisa. Dan saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini." Aku mengerutkan kening dan tertegun dengan pengakuan Pak Anthony.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Jodohku Dosen Galak

read
31.0K
bc

Pacar Pura-pura Bu Dokter

read
3.1K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
35.7K
bc

Takdir Tak Bisa Dipilih

read
10.2K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.2K
bc

Desahan Sang Biduan

read
54.0K
bc

Silakan Menikah Lagi, Mas!

read
13.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook