4 - Liburan

1508 Kata
"Owh iya, apakah saya boleh ajak kalian jalan-jalan ke puncak? Kebetulan saya punya villa di sana dan tempatnya cukup nyaman dan asri." "Mauu.." jawab Fatih, Fatir, dan Fath berbarengan. Aku dan Mama saling berpandangan. Anak-anakpun mulai merengek meminta kami untuk segera menyetujuinya. Kalau di fikir-fikir, kami memang sudah cukup lama tidak berlibur. Hal ini disebabkan karena kesibukkanku dalam bekerja. "Bagaimana Ma?" Aku mengerutkan kening. "Ayo, kita jalan-jalan!" Mama tersenyum dan anak-anak langsung memeluk Omanya. Aku dan Pak Anthony tersenyum. "Tapi bantu Om buka paper bag yang tersisa dulu yuk!" "Siap Om." "Annisa, maaf apakah kamu bisa bantu? Karena ada beberapa kue dan cemilan juga untuk anak-anak." Pak Anthony melihat dan tersenyum kepadaku. Aku mengangguk setuju dan mulai membantu Pak Anthony dan ketiga anakku membuka paper bag yang tersisa. Sebagian besar berisi mainan anak-anak yang terdiri dari 3 ukuran dan warna berbeda sedangkan paper bag lainnya berisi kue dan cemilan. Anak-anak sangat senang menerimanya. Hal itu terlihat jelas di wajah mereka. Mainan yang sudah di buka, langsung mereka mainkan satu persatu. Sehingga aku tidak bisa menolak pemberian Pak Anthony sama sekali. Selesai membuka seluruh paper bag, aku izin masuk ke dalam untuk menaruh dan menyajikan kue serta cemilan yang di bawa Pak Anthony. Setelah itu, aku menyiapkan perlengkapan yang perlu di bawa untuk di puncak. Mama juga membantuku menyiapkan barang untuk di puncak seperti pakaian, s**u, perlengkapan mandi, cemilan, dan lain sebagainya. Setelah semua siap, aku dan Mama kembali ke ruang tamu dan melihat anak-anak sedang bermain dengan Pak Anthony. Padahal mereka baru pertama bertemu, tapi mereka terlihat sangat akrab. Akupun tersenyum melihatnya. Kami berjalan menghampiri mereka dan memanggil anak-anak untuk segera bersiap. Mereka melihat ke arahku, lalu berlari menghampiri. Aku dan anak-anak izin masuk ke kamar untuk berganti pakaian. Pak Anthony mengangguk, sedangkan Mama menemaninya dan duduk di sofa tepat di depan beliau. Setelah aku dan anak-anak selesai, kami bergegas kembali ke ruang tamu. Saat kami kembali, Mama izin masuk ke kamar untuk bersiap. "Bunda, aku mau ini." Fath menghampiri sambil menunjuk kue red velvet pemberian Pak Anthony yang sengaja aku tinggalkan di meja. "Ok. Tapi secukupnya saja ya sayang, kan kita mau pergi. Kasihan Om Anthony kalau menunggu terlalu lama." Aku tersenyum dan mengambil piring kertas yang telah aku siapkan sebelumnya. "Bunda, aku mau juga." Ucap Fatih dan Fatir bersamaan sambil berlari menghampiriku. "Ok, tapi setelah ini Abang Fatih, Fatir, dan Adik Fath rapihkan mainan ya." "Siap Bundaku." Mereka tersenyum senang dan bergantian menciumku. Pak Anthony tersenyum melihat tingkah kami, lalu mengangkat dan memangku Fath. Fath melihat ke arahnya dan tersenyum. "Om saja yang suapin Fath, mau?" "Mau.." Fath tersenyum riang. Aku menyerahkan kue red velvet untuk Fath kepada Pak Anthony, sedangkan Fatih dan Fatir aku suapi bergantian. "Kuenya enak Bunda. Terima kasih Om." Ucap Fatih selesai mengunyah suapan pertama. "Alhamdulillah." Ucapku dan Pak Anthony bersamaan, kami pun saling berpandangan. Selesai makan kue, Mama datang menghampiri dan menginfokan kalau semua sudah siap. Pak Anthonypun bangkit dari duduknya sambil menggendong Fath. "Aku panasin mobil dulu ya." Aku mengangguk dan merapihkan piring kertas bekas makan kue tadi. Mama, Fatih, dan Fatir ke luar rumah sambil membawa beberapa barang bawaan kami. Selesai merapihkan bekas makanan dan meja, aku keluar rumah sambil membawa beberapa barang yang tersisa. "Semua sudah di bawa Annisa?" "Alhamdulillah sudah Pak." "Ya sudah, aku masukkan bagasi ya." Pak Anthony menggendong Fath keluar dari mobil, mengelus pipinya, dan menyerahkannya padaku. "Baik, kami bantu Pak." Pak Anthony mengangguk dan kami segera memasukkan barang ke bagasi. Setelah selesai, aku mengunci pintu rumah lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Pak Anthony bersama Fath. Sedangkan Mama, Fatih, dan Fatir duduk di bangku belakang kemudi. "Sudah siap semua?" Ucap Pak Anthony semangat. "Siap Om." Pak Anthony melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Anak-anak sangat senang selama perjalanan. Fatih dan Fatir bernyanyi riang sedangkan Fath tertidur di pelukkanku. Aku, Pak Anthony, dan Mamapun mengobrol ringan. Terkadang, Pak Anthony melirik dan melihat ke arahku sambil tersenyum. Aku tidak tahu apa yang di pikirkan beliau saat ini. Yang terpenting, anak-anak senang dan mereka bisa berbaur dengan beliau. "Kita makan siang di sini dulu mau?" Pak Anthony menunjuk restoran sea food yang cukup terkenal di Puncak. "Boleh Pak." Pak Anthony membelokkan mobilnya ke restoran tersebut dan mencari tempat parkir yang kosong. Setelah mendapatkan parkiran, kami bergegas turun dari mobil dan masuk ke dalam restoran. Pak Anthony meminta bantuanku untuk memesan makanan dan minuman. Aku menyetujuinya dan menanyakan makanan dan minuman yang beliau inginkan terlebih dahulu. Beliaupun menyebutkan beberapa makanan dan minuman. Setelah itu aku memanggil pelayan dan segera memesan makanan dan minuman untuk kami. Anak-anak melihat sekeliling dan fokus dengan pemandangan sekitar. Setelah itu, mereka mengobrol secara bergantian dengan Pak Anthony. Aku dan Mama tersenyum melihat tingkah mereka saat bercerita. Mereka sangat menggebu-gebu. Sama seperti saat mereka bercerita dengan Ayahnya. Bahkan menurutku, saat dengan Pak Anthony mereka terlihat jauh lebih dekat. Mungkin hal ini disebabkan karena Mas Hilman merupakan wirausaha. Sehingga dia lebih sering berinteraksi dengan orang luar baik di dalam ataupun luar negeri. Hal ini yang menjadi celah untuk Mas Hilman berselingkuh. Sehingga untuk berinteraksi dengan keluarga sangatlah sedikit. Aku menunduk sedih mengingat kembali perlakuannya di belakangku. Andai dia tahu kalau hatiku masih mencintainya dan cukup kehilangan atas perceraian kami. Namun aku berfikir pertengkaran yang terus menerus tidak baik untuk anak-anak. Jujur aku merasa lebih nyaman setelah berpisah dengannya. Mama menyentuh lembut pundakku, dan tersenyum. Hal itu membuat aku terlepas dari lamunan. Sepertinya Mama tahu apa yang sedang aku pikirkan saat ini. "Semua akan baik-baik saja Annisa. Setiap orang pasti berproses. Semangat ya sayang." "Iya Ma." Beberapa saat kemudian, pelayan datang mengantar makanan dan minuman yang telah kami pesan sebelumnya. Fatih dan Fatir sudah terbiasa makan sendiri sedangkan Fath di suapi oleh Pak Anthony. Beliau yang meminta izin terlebih dahulu untuk menyuapi Fath kepadaku. Akupun mengiyakannya karena melihat Fath yang sangat senang bersama beliau. Beberapa saat kemudian, kami mulai fokus dengan makanan dan minuman masing-masing. Terkadang aku menawarkan bantuan kepada Fatih dan Fatir untuk mengambilkan makanan atau minuman. Selesai makan, Pak Anthony memanggil pelayan dan segera membayar pesanan kami. Setelah pembayaran selesai, kami berjalan menuju parkiran. Aku menuntun Fatih, Mama menuntun Fatir, dan Pak Anthony menggendong Fath. Sesampainya di parkiran, kami segera masuk ke dalam mobil. Setelah semua masuk dan mengenakan seat belt, Pak Anthony mulai melajukan mobil kembali dan melanjutkan perjalanan menuju villa. Perjalanan cukup panjang. Mendaki dan menurun, alhamdulillah tidak ada kendala apapun selama perjalanan. Sesampainya di villa, kami bergegas turun dari mobil. Anak-anak segera berhamburan keluar dan bermain di taman. Villa ini sangat luas dan tempat bermain untuk anak-anak. Aku, Mama, dan Pak Anthony segera menurunkan barang bawaan dari bagasi. Setelah semua barang turun, 2 orang laki-laki datang menghampiri kami menawarkan bantuan. Sepertinya mereka merupakan karyawan Pak Anthony yang bekerja di sini. Pak Anthony mengangguk dan meminta agar barang -barang tersebut di taruh di kamar yang terletak di bawah. Mereka mengangguk dan segera membawa barang tersebut. Akupun izin kepada Mama untuk masuk ke dalam terlebih dahulu. Mama mengangguk setuju dan bilang akan menemani anak-anak bermain. Villa ini sangat besar dan bisa di bilang mewah. Bangunananya sebagian besar terbuat dari kayu namun interiornya cukup modern. Sangat indah. Kolam renang ada di bagian dalam. Aku bisa melihatnya karena pembatas yang di gunakan terbuat dari kaca. Akupun berjalan menuju kolam renang tersebut. Kolam renang ini di buat sangat alami dan di kelilingi banyak pohon yang cukup tinggi. Sehingga terlihat nyaman dan asri. Andai orang yang tidak tahu dan hanya melihat foto, pasti orang tersebut akan bilang kalau kita sedang berenang di sungai. Aku tersenyum memandangnya dan hanyut sesaat sambil membayangkan anak-anak yang tampak riang gembira jika berenang di sini nanti. Beberapa saat kemudian, denyitan kayu menghentikan lamunanku dan memandang ke arah suara tersebut. Ternyata Pak Anthony berjalan ke arahku dan tersenyum. "Kamu suka villanya Annisa?" "Suka Pak, alhamdulillah. Terima kasih banyak sudah mengajak dan memberikan kesempatan kepada kami untuk berlibur di sini." "Sama-sama Annisa. Lagipula kamu tidak perlu mengucapkan terima kasih, karena villa ini akan menjadi milik kamu dan anak-anak juga nanti." Aku membulatkan mata dan memandang Pak Anthony dengan penuh tanya, "Maksud Bapak?" "Saya akan memberikan apapun yang kamu mau Annisa. Apalagi hal itu membuat anak-anak bahagia. Saya akan menganggap mereka seperti anak kandung saya sendiri. Apapun yang kalian inginkan, jika saya mampu pasti akan saya berikan. Dan jika memang saya belum bisa memenuhinya, saya akan mengusahakannya secara maksimal untuk memenuhi keinginan kalian." Pak Anthony tersenyum sambil memandang ke depan. "Pak Anthony bercanda ya?" Aku tersenyum tipis. "Tidak Annisa, saya serius. Entah kenapa saya yakin dengan kamu. Walau saya tahu ini adalah awal, saya janji akan berusaha maksimal untuk memiliki kamu dan anak-anak dengan jalan yang baik sesuai kemampuan saya." Pak Anthony memandang lurus ke arahku. "Tapi..." "Saya paham Annisa, kamu belum bisa menerima saya karena trauma dan rasa cinta yang masih tersisa pada mantan suamimu. Tapi tolong, jangan larang saya untuk masuk ke dalam kehidupan kamu dan anak-anak. Saya sangat ingin menjadi bagian dari keluarga kalian Annisa." Pak Anthony tersenyum dan memegang lembut tanganku. "Maaf Pak." Aku melepas perlahan. "Owh iya, maaf ya Annisa. Saya.." Wajah Pak Anthony terlihat menyesal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN