Yayu membuka matanya, memeriksa keadaan di sekitar. Dia masih berada di rumah sakit dengan selang infus dan berbaring di ranjang tadi siang. Namun dia tak menemukan orang-orang yang tadi siang menemaninya.
Di pandanginya jam dinding yang tergantung di tembok. Pukul 12 malam, dia sudah tertidur selama 5 jam. Dia merasa sudah lebih baik. Mengangkat tubuhnya lalu duduk di tepi ranjangnya. Dia berniat ke kamar mandi. Namun sebuah suara memanggilnya.
"Kanayuu ... yayu?" Teriak Chaca dari jauh, tanpa peduli atau takut mengganggu orang lain. Emang sich kadang-kadang Chaca bisa bersikap bar-bar.
"Chaca ... kamu ada sip malam hari ini?" Tanya Yayu kemudian. Chaca pun hanya mengangguk. "Lumayan bisa ketemu lebih lama sama doi." Lanjutnya dengan sebuah kerlingan. Yayu tersenyum melihat sikap sahabatnya itu.
"Gimana keadaanmu?" tanya Chaca.
"Sudah lebih baik, aku mau ke toilet dulu ya?" jawab Yayu yang kemudian hendak berjalan meninggalkan Chaca.
"Okey, aku anter deh."
"Thank's." Yayu ingin menangis merasa merepotkan banyak orang.
Selepas dari kamar mandi mereka kembali duduk di ranjang dan berbincang.
Chaca memulai pembicaraan. "Yu ... aku sudah bicara dengan papi ku mau mencoba berkenalan dengan anak temannya itu." Curhat Chaca malas.
"Tiga hari lagi aku akan bertemu dan makan malam dengan nya, ternyata dia ada di Indonesia sudah lama," lanjutnya dengan nada tak kalah malas.
Yayu mengangguk, mendengarkan dengan seksama. "Itu bagus Cha, setidaknya kamu sudah mencoba dan papi mu tentu akan mengerti bila nantinya kamu tak bisa menerima perjodohan itu," ucap Yayu kemudian.
Chaca memegang tangan sahabatnya itu dan tersenyum ceria. "Kamu udah tau belum apa kerjanya." Tanya Yayu dan dijawab dengan dua bahunya yang terangkat.
"Makasih Yu, kau memang selalu mengerti aku," jawab Chaca yang kemudian merangkul Yayu,tapi di tepisnya karena badannya masih merasa sakit semua. Merekapun tertawa bersama.
"Bagaimana ceritanya hingga kamu bisa seperti ini? "Tanya Chaca penasaran.
Yayu menceritakan semua kejadian dari awal dia di culik sampai akhirnya berada di rumah sakit. Kembali mereka berpelukan dan menangis sesenggukan.
"Pakailah uang ku dulu Yu, jangan ngotot!" perintah Chaca pada temannya.
"Gak usah Cha ... kan udah pernah aku bilang gak perlu, lagian sekarang hutangku sudah beres dan semua sertifikat rumah dan sawah sudah jadi milikku lagi," ceritanya. Chaca hanya melongo tak bisa berkomentar.
"Nanti aku ceritakan lanjutannya ya, aku mau istirahat dulu.Capek besok harus kerja." Lanjutnya lirih.
Chaca mengangguk. Dia juga harus kembali kepada kerjaannya dan beroprasi bersama dokter ganteng dan rupawan pujaan hatinya itu.
Flashback on
"Hustt ... husstttt ... Yu!" Panggil Chaca lirih pada Yayu yang sedang mendengarkan dengan seksama pengarahan dari salah satu dokter pembimbing Intrenship di rumah sakit Fajar Medical.
Yayu tidak membalas panggilan Chaca, dia hanya menatap nya sebentar lalu mengangkat jari telunjuknya dan di dekatkan ke bibirnya.
Chaca mengerucutkan bibirnya, tidak mengindahkan peringatan Yayu, dia kembali mengagumi wajah tampan dengan senyum yang menghanyutkan disana, seorang dokter muda berkaca mata, rambut spike nya di sisir rapi tubuhnya terlihat atletis meski terbalut oleh seragam putihnya. Sesekali dia mengamini kata-kata dari beberapa temannya yang sama-sama tidak bisa konsentrasi dan mendengar pengarahan.
"Wah ... dokter itu sangat hot, yang pakek kacamata." Seseorang menunjuk ke arah dokter ganteng itu, dan di ikuti beberapa teman lain yang memandang.
"Bener bangett ... dari jauh aja udah hot banget apalagi kalo udah mendekat bisa meleleh nie hati aku ..."
"Ih ... jangan-jangan dia model dech, kan mau bangettt liat bentuk perutnya, pastinya so sexy."
"Kalo dokternya kayak dia mah, aku rela dewh buat terus berbaring di kamar pasien."
"Eh, eh ... kalo yang modelnya hot kayak gitu jangan kalian harapkan deh! pasti pacarnya dimana-mana, bakalan makan ati kita." Komentar temen yang lainnya.
"Xixixixixi" ... suara gelak tawa dan candaan ringan mereka tak luput dari perhatian dokter ganteng itu, meskipun tak terdengar apa yang mereka obrolkan.
"Baiklah ada yang ingin di tanyakan lagi?" Kalimat terakhir yang di ucapkan oleh dokter pembimbing itu mendapat jawaban gelengan dari mereka. Tiba-tiba tangan Chaca reflek terangkat.
"Silahkan, bagian mana yang belum kamu pahami?"
"Dokter ganteng yang berkacamata itu udah punya pacar belum?"Seperti ban yang tidak punya rem, kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Sontak semua orang yang ada disana tertawa. Chaca yang belum menyadari keanehannya hanya memandang mereka dengan bingung.
Sementara dokter yang di maksut menahan malu. Sebenarnya bukan kali pertama dia di tanyai soal itu tapi masalahnya ini di depan umum. Malu banget ... hatinya sebal dan dongkol karena kelakuan perempuan yang baginya dia anggap bar-bar. selama ini meski para penggemarnya banyak, namun mereka hanya mengagumi dirinya secara diam-diam dengan memujinya secara sembunyi-bunyi, dengan mengiriminya surat cinta, atau makanan dan ini merupakan kali pertamanya seorang wanita bersikap urakan, apalagi di depan orang banyak.
"Nah ... pertanyaan bagus. Tapi, kalo masalah itu silahkan hubungi langsung beliau ya!" jawab dokter itu. Yang kemudian tersenyum heran dengan mereka lalu menutup sambutan ringannya dan membagi tugas. Yang akhirnya mendapat sorakan dan cuitan dari para peserta lain.
Hu ... hu ... hu ...
"Terima kasih dok," jawab Chaca semangat, masih dengan tampang tak tau malunya.
Dan selama itu pula Chaca sangat mengidolakan dokter ganteng itu. Yang kebetulan atau memang berjodoh rupa-rupanya dia mendapat bimbingan dan pengawasan langsung dari dokter ganteng idolanya itu.
Dokter yang bertugas di ruang UGD itu diketahui Chaca dengan nama dr. Setiadi Harahap. Sejak pertemuan pertama mereka waktu itu, Chaca jatuh hati padanya. Sikap ramahnya pada semua orang, tlaten, melindungi dan kepeduliannya membuat Chaca semakin jatuh cinta. Apalagi kebaikan dan kehangatan hatinya juga pernah Chaca rasakan ketika dia dibawa ke UGD malam itu. Hingga diapun akhirnya falling in love.
Bahkan semua orang satu angkatan dan semua suster tau Chaca menyukainya dan dengan terang-terangan mengejar cinta dr. Adi, panggilan akrabnya. Hal itu sebenarnya tak luput dari pengawasan dan pengetahuan dr. Adi, hingga diapun semakin jengkel dibuatnya. Karena sikap Chaca menambah madalah baginya. Setiap hari dia harus menerima ungkapan suka dari para suster yang mengidolakan dia, yang dulu hanya secara diam-diam, kini mereka seolah berlomba dan berebut untuk mendapatkan perhatian dokter ganteng berkaca mata itu. Namun sepertinya dr. Adi tidak tertarik dengan semua penggemar beratnya maupun Chaca, dan dia seolah lebih judes dan dingin pada Chaca. Bukan tanpa alasan memang karena Chaca lah yang memelopori kericuhan dalam hidupnya. Hingga sempat terdengar kabar bahwa dr. Adi akan menikah. Dan kabar itupun akhirnya sampai pernah membuat Chaca uring-uringan.
Flashback Off
Yayu tersenyum mengingat sikap Chaca dan betapa besar cintanya pada dr. Adi meskipun hingga sekarang masih bertepuk sebelah tangan. Chaca masih berusaha mendekati dr. Ganteng itu. 'Semoga kau bisa mendaptkan cintamu Cha.' Do'a Yayu dalam hati sebelum rasa kantuknya tak tertahan.
***
Yayu terbangun dari tidurnya, sebuah tangan dengan cat kuku merah yang lentik menggoyangkan tubuhnya pelan. Tubuhnya menggeliat, merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku. Semalaman tidur di ranjang rumah sakit membuat tubuhnya merasa sakit.
"Yayu .... bangun!" Suara lembut itu secara penuh menyadarkannya dari alam mimpi.
Dia mengerjap dan mencari arah suara." Bu Pranoto?" Suara serak khas baru bangun tidurnya terlontar.
Matanya membola, melihat Mbak Tuti, dan Chaca berdiri dengan senyum manisnya di belakang bu Pranoto. Kemudian tersenyum melihat mereka yang sudah berdandan rapi dan cantik, seperti hendak bepergian.
"Ayo ... cepetan! Sekarang giliranmu untuk berdandan." Perintah Chaca dengan menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya dan menarik pergelangan tangannya yang sudah tidak terdapat selang infus disana.
Yayu berjalan mengekori tubuh Chaca diikuti oleh Tuti dan bu Pranoto. "Cha, mau kemana sih, kita?" tanyanya penasaran. "Cha ... Chaca .... Meicha Wardani?" seru Yayu kesal, Chaca hanya terdiam, Yayu mengalihkan pandangan pada Tuti dan bu Pranoto yang juga sama,diam.
Dengan perasaan bingung dan bertanya-tanya Yayu mengikuti langkah Chaca tanpa bersuara. Chaca tersenyum dalam hati, namun dia juga kesal kepada Yayu karena tidak memberitahunya kabar bahagia ini.' Ini sebagai hukuman.' Kata Chaca dalam hati.
Mereka sampai pada sebuah ruangan, terdapat meja rias lengkap dengan alat make up nya, sederetan baju yang menggantung di rak baju, perhiasan dan sepatu serta aksesoris yang berjejer rapi. Yayu masih belum tau ada apa atau dia masih lupa.
Di duduk kannya Yayu pada kursi di depan cermin, dia hanya menurut saja. Dia yakin jika bertanya juga tak ada yang menjawab, lalu beberapa orang mulai membantunya berdandan dan mengganti pakaian.
Beberapa waktu kemudian.
"Cantik." Kata seorang penata rias di depannya. Yang merasa bangga dengan karya nya.
"Perfect." Puji penata rambut berbadan ramping itu. Memuji model rambut yang dia buat terlihat cantik dan pas dengan dandanan Yayu.
Kemudian ketiga orang yang menyeretnya menatap dengan mata berbinar, menyetujui komentar dari mereka.
Tubuh Yayu yang terbilang ramping dengan bentuk bokongnya yang sedikit besar dan d**a penuhnya terlihat semakin anggun dengan balutan kebaya warna putih bertabur manik-manik dan rok jarek bermotif sarimbit itu.
Dirinya baru sadar bahwa dia akan menikah hari ini, sesuai dengan janjinya tempo hari. Ada rasa haru dan kebahagiaan yang membuncah dalam hatinya namun sesaat dia tersadar dengan siapa dia akan menikah dan untuk apa. Kembali hatinya bergolak dan bertanya-tanya, bisakah dia menjalankan semuanya sementara hatinya tidak terima, dia ingin membalas dendam itu. Dendam yang seakan belum padam dan sesekali memercikkan apinya menyentuh dinding hatinya hingga serasa terbakar.
Dia menangis dalam hatinya, merasa kan dirinya lemah dengan keadaannya dan rasa sakit secara bersamaan. Wajah tua ibunya dan senyumannya menari di pelupuk matanya.
Yayu bersedih, ibunya tidak bisa melihatnya mengenakan baju yang sangat cantik ini. Bahkan saat wisudapun ibunya belum sempat melihat dirinya berdiri bangga di atas panggung wisuda. Yang lebih menyayat hatinya, adalah sebuah kenyataan bahwa dia akan menikah dengan orang yabg menyebabkan ibunya meninggalkan dirinya seorang diri.
Sebuah tangan menyeka air mata yang merembes membasahi sudut matanya, seakan takut jika air mata itu merusak riasan Yayu yang sempurna. Tanpa Yayu tau tangisan hatinya keluar melalui tangisan di matanya.
"Yu ... kamu harusnya seneng donk, bukannya malah sedih." Suara Tuti membuyarkan lamunan Yayu. Dia menyunggingkan senyum yang di paksakan. Merangkul tubuh Tuti dan Chaca ikut berhambur ke dalam pelukannya.
"Iya. Mau nikah malah nangis, harusnya kamu bahagia, kamu juga jahat banget mau nikah gak bilang-bilang," seru Chaca dengan wajah yang di buat marah.
"Iya, aku bahagia kok." Elaknya.
"Ih ... bohong tu, mana ada seneng malah nangis?"
"Aku terharu Chaca,ini tangis bahagia. Lihat nie baju aku cantik banget kan, kayaknya baju begini hanya dalam mimpi aku bisa memakai," tukas Yayu mengalihkan pembicaraan. Hatinya yang meradang belum bisa tenang.
"Masak sich." Goda Chaca dengan mencubit tangan Yayu. Yang kemudian di balas dengan cubitan yang sama. "Sakit Yu, kamu sakit juga kan di cubit, jadi ini bukan mimpi." Lanjut Chaca.
"Maaf Cha aku belum sempat cerita sama kamu, ini juga mendadak."
"Yey ... alesan aja sih loe, bilang aja calon loe itu cakep dan loe gak mau kalo calon loe gue goda, yakan?"
Ledek Chaca disambut tawa ketiganya, sedangkan bu Pranoto hanya tersenyum simpul melihat mereka. Dia merasa lega akhirnya anak bandel kesayangannya itu mau menikah juga dengan gadis baik pilihannya.
***
Setelah semua persiapan selesai dan mempelai wanita terlihat cantik bak bidadari, mereka bertiga menuju ke lantai 20 rumah sakit Fajar Medical, dimana disana telah ada seorang mempelai pria tengah menunggu nya dengan cemas. Entah apa yang dia cemaskan.
Pak Pranoto, dr. Saino, dr. Adi, seorang penghulu, dua orang petugas catatan sipil dan ayah serta ibu dr. Saino telah berada di sana.
Kurang dari 45 menit mereka menunggu, di selingi oleh candaan ringan dan topik serius mereka terlihat akrab. Para bapak dan Ibu mengobrol di ruang tamu. Sedang tiga laki-laki lainnya berada di dekat ranjang pengantin laki-laki. Sesaat kemudian acara bincang-bincang mereka harus mereka tunda karena dua daun pintu kayu yang menutup ruangan itu tiba-tiba terbuka.
Semua orang yang ada di ruang tamu menoleh ingin tau siapa yang tiba.
****
Bersambung....