DENDAM 1
Hari masih pagi udara terasa sangat segar, semilir angin menyejukkan badan, namun suasana di luar kampus UMP ( UNIVERSITAS MERAH PUTIH ) begitu ramai, berbagai pernak-pernik khas wisuda menghiasi halaman bagian luar kampus, menambah semarak suasana kampus pagi itu.
Para penjual begitu antusias untuk menjajakan dagangannya dan telah menata rapi berbagai macam souvenir di hadapan mereka seperti karangan bunga dengan berbagai variasi dan bentuk, boneka-boneka lucu dengan aksesoris lengkap baju toga, bahkan bantal lucu dan unik berbagai bentuk serta balon- balon bertuliskan kelulusan memenuhi halaman bagian luar kampus.
Tentu saja moment-moment seperti ini tak mungkin mereka lewatkan untuk meraup rezeki bahkan di tahun-tahun sebelumnya pun hal serupa juga terjadi.
Sementara di bagian dalam kampus, tepatnya GOR UMP (GEDUNG OLAHRAGA UNIVERSITAS MERAH PUTIH) juga tak kalah semarak. Berbagai kesibukan tengah terlihat di setiap sudut kampus, canda dan tawa mengisyaratkan kebahagian yang mereka rasakan.
Terlihat berbagai kelengkapan acara wisuda telah tertata rapi, sebuah spanduk besar ucapan selamat atas kelulusan menyambut nya di gerbang utama kampus.
Di bagian dalam GOR UMP terbentang karpet merah sepanjang pintu utama menuju panggung. Di bagian panggung sendiri terdapat mimbar kayu jati yang berdiri dengan ponggah pada bagian kanan panggung. Di belakangnya terdapat beberapa kursi dan sebuah meja panjang yang di tata rapi lengkap dengan hiasa bunga dan taplak meja yang merah menyala. Di bagian belakang sendiri terdapat spanduk bertuliskan acara pagi ini lengkap dengan huruf abjad yang besar.
Di depan panggung sendiri terdapat tangga menurun berbalut karpet merah. Di kanan dan kiri karpet pada bagian bawah panggung yang terdepan terdapat 3 baris kursi tertata kebelakang dan 20 baris kursi tertata menyamping. Kursi ini diperuntukkan para mahasiswa dan mahasiswi berprestasi dengan lulusan terbaik.
Kemudian di belakangnya terdapat kursi lain terjajar rapi sepanjang ruangan menuju pintu utama dengan 6 warna yang berbeda dan dibagian atas gedung adalah tempat duduk yang di sediakan untuk para tamu undangan. Acara utama baru akan dimulai pada jam sepuluh pagi waktu setempat.
Nampak seorang gadis berjalan memasuki area kampus . Rambutnya yang hitam sebahu dibiarkannya tergerai di tiup angin. Dia berjalan menelusuri halaman kampus menuju GOR, sesekali dià pun tersenyum riang dan menyapa orang yang di lewatinya.
Jam masih menunjukkan pukul 7.00 pagi tapi gadis itu harus sudah sampai di kampus untuk mengikuti gladi resik terakir sebelum dia tampil sebagai perwakilan mahasiswa dan mahasiswi lulusan tahun ini.
Selesai gladi resik dia pergi ke ruang ganti di belakang panggung yang sudah ramai dengan berbagai kesibukan dan aktifitas. Diapun segera bersiap-siap dengan bermake up dan mengganti baju.
Rasanya masih seperti mimpi karena hari ini dia akan diwisuda setelah perjalanan panjang nya dan pengorbanan orang tuanya.Ahirnya dia berhasil meraih impiannya dengan prestasi yang membanggakan. Rasa senang dan haru tak mampu disembunyikannya, seulas senyum pun tersungging di bibirnya? Tentu saja, siapa yang tak bangga dengan prestasi dan pencapaiannya yang cemerlang.
Tak terasa bulir bening menetes membasahi pipinya yang merona karena blus on. Dengan cepat dia menyeka air mata itu, tak ingin make up tersebut rusak dan hari bahagia ini terlihat menyedihkan. Wanita cantik itu kini berpatut pada cermin sekali lagi untuk memastikan semua persiapannya telah lengkap dan penampilannya sudah sempurna. Dia mengelus bagian kening kirinya sebentar sebelum akhirnya dia pun tersenyum puas dan penuh haru .
Pagi ini dia, Kanayu Utari (25thn) temannya biasa memanggilnya dengan nama Yayu, wanita dengan dahi dan mata lebar itu mengenakan perpaduan baju kebaya broklat berwarna merah dan rok sepan panjang bermotif batik dengan sepatu hak tinggi berwarna hitam yang senada dengan tas selempang kecil berwarna hitam miliknya.Sedangkan rambut hitam sebahunya dia biarkan menjuntai dengan indahnya.
Selesai dengan persiapannya dia tengok jam yang terdapat di ponsel dan menunjukkan pukul sembilan waktu setempat. Hatinya semakin berdebar, deru jantungnya pun terasa berdetak dengan lebih kencang, dia mulai sedikit gugup dan rasa panik mulai muncul. Dia hembuskan nafasnya pelan secara berulang, mencoba menenangkan diri, hati dan pikirannya.
' tak usah khawatir pasti bisa, kau sudah melakukan yang terbaik.' Suara hatinya berusaha menenangkan dirinya sendiri .
Kanayu beranjak dari tempatnya berdiri,keluar dari ruang ganti. ' Wow.' Gumamnya dalam hati, melihat pemandangan luar yang kini semakin sesak dan padat.
Dia berjalan menyusuri GOR melewati kerumunan orang-orang yang bercengkrama, tertawa bersama keluarga dan mengabadikan moment bahagia itu. Semua persiapan sudah hampir selesai, area sekitar GOR yang agak sepi pagi tadi kini tengah ramai dengan lautan manusia. Berbagai mobil dan sepeda motor memadati area parkir GOR .
"Yayu.... Kanayu ..." panggil salah satu teman karib nya. Dia melambaikan tangan padanya sambil tersenyum.
Wanita cantik yang memanggil Yayu itu adalah Meicha wardhani (25 thn) atau biasa di sapa Chaca , teman sekaligus sahabat karibnya. Hari ini Chaca terlihat begitu anggun dan cantik dengan setelan busana kebaya broklat berwarna pink dan rok kupu tarung bermotif batik modern. Rambut coklat panjangnya yang di kriting gantung terlihat indah menjuntai ke bagian depan. Dengan sepatu berwarna pastel dan tas jinjing kecil senada dengan warna bajunya.
"Hallo Cha, wah cantik sekali." Puji Yayu." Selamat ya!" Lanjut nya dengan senyum sumringah Sesaat kemudian saat dia sudah berada di dekat Chaca dan keluarganya.
Merekapun berpelukan. "Kamu juga cantik banget... selamat juga ya, akhirnya kita bebas." Sebuah kerlingan mata dan tawa ringan mereka berdua meramaikan kerumunan disana.
Mereka berfoto bersama lalu Kanayu berpamitan untuk mencari keluarganya. Beberapa kali langkah nya harus terhenti untuk berfoto dengan teman-temannya. Semua tempat sudah dia datangi dan tidak menemukan yang dia cari. Iya, ibu nya masih belum terlihat dan juga belum memberi kabar kapan beliau akan tiba. Telpon ibunya pun tidak diangkat.
Kanayu yakin ibunya sangat bahagia hari ini, karena anaknya telah berhasil menyelesaikan study nya dengan nilai yang membanggakan,serta tidak menyianyiakan kepercayaan dan kerja keras beliau selama ini.
Gelisah dan gusar. Lima belas menit sebelum acara dimulai ibu nya masih belum tiba. Yayu masih berada di pintu utama GOR UMP menunggu kedatangan ibu nya. Sementara para tamu undangan dan peserta wisuda sudah memasuki area dalam GOR.
Kanayu merasa takut dan tidak tenang. Berkali-kali dia mondar-mandir di pintu utama sambil sesekali menggosok kedua telapak tangannya untuk meredakan rasa cemas nya yang telah melanda, sebuah habit yang biasa dia lakukan bila sedang cemas ataupun gugup. Yayu mencoba menelpon ibunya namun tetap tak ada jawaban dan telpon Ibunya kini mati dan tak dapat dihubungi.
Rasa gugup nya tadi, kini berubah menjadi rasa cemas dan khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada ibu nya. Berbagai spekulasi dan pikiran-pikiran negatif mulai mengghantui Yayu .
'Assalamu'alaikum bu?'
'Alaikumsalam' terdengar balasan dengan nada bahagia dari telpon di seberang. ' mmmm... anak ibu selamat ya besok akhirnya wisuda.' Lanjutnya dengan begitu antusias.
'Alhamdulillah... terimakasih banyak ya bu, semua juga berkat do'a ibu. Oh ya, ibu besok jangan sampai terlambat ya! Yayu sudah kangen banget sama ibu.'
'Iya. Putri ibu jangan khawatir ya, ibu besok akan berangkat setelah subuhan bareng travelnya pak Somat jadi nanti bisa tiba di tempat kos mu lebih pagi.'
'Iya dech Yayu percaya sama ibu, nanti kalo ibu sudah sampai tempat kos Yayu langsung masuk aja ya, kuncinya ada di tempat biasa. Soalnya Yayu bakalan ke kampus duluan mau gladi resik.'
'Iya, putri ibu yang hati-hati ya, jangan lupa sarapannya. Ibu sayang kamu.'
'Iya bu, Yayu sayang ibu juga. Ibu juga yang hati-hati ya. Muuuuach, ya sudah Yayu mau beres-beres dulu ya. Sampai ketemu besok ya bu.'
'Iya .. assalamu'alaikum.'
'Wa'alaikumsalam.' Klik bunyi sambungan telepon terputus.
"Kanayu... are you ok?" Tanya Chaca padanya, rasa cemas terdengar dari nada suara sahabatnya itu. Dia yang kini menghampiri Yayu mencoba menenangkannya dengan mengelus pundak nya.
Yayu terbangun dari lamunannya karena panggilan Chaca. "Eh.. iya aku gak apa- apa." Jawabnya gelisah dengan nada suara yang lemah.
Chaca menyunggingkan sebuah senyuman padanya. " ibu mu belum datang ya?"
"Belum Cha. Aku jadi khawatir."
"Ya sudah jangan terlalu khawatirlah! mungkin beliau masih di jalan atau di gerbang depan bingung memilih souvenir." Katanya dengan mata berbinar meyakinkan Yayu. Chaca juga sudah kenal ibu Yayu seperti Yayu juga sudah kenal keluarga Chaca. Meskipun Chaca berasal dari keluarga berada , namun Chaca sangat baik dan menyukai Yayu karena keuletan dan ketulusan hatinya.
"Mungkin juga sih, semoga saja ya."
"Ayo masuk ! Acaranya sudah dimulai tu, giliranmu pidato nanti telat." Ajaknya sembari tersenyum tipis pada Yayu dan menggapai tangannya untuk kembali ke dalam GOR.
Kerisauannya belum reda, jantungnya terus bertalu meneriakkan nama ibunya.
***Bersambung....