DENDAM 2

1553 Kata
Yayu POV~ Acara wisuda kali ini benar-benar meriah bebèrapa pertunjukan dan pentas seni karya mahasiswa UMP ikut meramaikan acara pagi ini.Selama acara berlangsung. Aku benar-benar tidak bisa berkonsentrasi dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Otak ku seolah-olah sudah benar-benar mati rasa, hanya ada pikiran negatif berjubel disana. Hingga saat namaku di panggil untuk berpidato aku tidak segera merespon, Chaca yang duduk di sebelahku pun menyenggol sikuku dan mengisyaratkan padaku untuk naik ke atas panggung. Untung saja penampilanku saat itu masih sangat profesional. Sehingga aku bisa menyelesaikan pidatoku dengan baik bahkan semua orang bertepuk tangan dengan riuh dan meneriakkan suara-suara yang tak bisa aku tangkap dengan indra pendengaranku. Dan aku pun hanya merespon dengan senyuman sumbang dan membungkuk di hadapan mereka. Sebelum akirnya aku kembali ke tempatku semula. Sempat beberapa kali ku tengok ponsel ku yang ku stell dengan mode silent itu tapi tak ada WA ataupun panggilan yang masuk. Aku semakin takut dan khawatir, ingin rasanya ku berteriak namun suaraku terasa tercekat. Aku bingung dan tak tau harus bagaimana karena ibuku belum memberi kabar. Rasa panik mulai mendera, keringat mulai bercucuran dan kepalaku terasa berat. Ketika namaku di panggil untuk naik ke atas panggung untuk yang kedua kalinya aku juga tak mendengar dan masih diam di tempatku. Hingga Chaca menghampiri ku lagi dan menyadarkanku dari lamunan. Aku berjalan ke atas panggung untuk menerima penghargaan dan ucapan selamat atas prestasi lulusan terbaik yang ku raih. Lalu sekali lagi aku hanya membalas dengan menyunggingkan sebuah senyum tanpa ekspresi serta membungkuk, sebelum akhirnya kembali ke tempatku . Mulai mengecek ponsel ku yang masih kosong dan kucoba menelpon ibu ku dan tetap tak tersambung. Selesai acara semua orang membubarkan diri dari dalam gedung menuju halaman GOR dan kampus ku. Terlihat raut kebahagian dan senyum kebanggaan dari wajah mereka.kembali mereka berfoto dan mengabadikan moment bahagia ini. Ada sebagian dari mereka yang tengah mengobrol mengenai masa depan dan rencana mereka dan sebagian lagi yang menuju tempat parkir untuk pulang merayakan bersama keluarga. Sementara aku masih diam di tempat duduk ku tanpa melakukan pergerakan sedikitpun dan sepertinya kaki ku masih terasa lemas, karena baru saja aku menerima pemberitahuan dari salah satu Staf kampus ,bahwa ibuku mengalami kecelakan dan sekarang ini telah berada di UGD Rumah Sakit Fajar Medical, dia menghimbau padaku untuk segera kesana karena kondisinya yang kritis. Belum merasa ingin berdiri dari tempat dudukku. Aku masih berusaha mengumpulkan tenaga yang cukup untuk menerima dan memproses semua berita yang baru saja aku peroleh. Tiba-tiba bayangan ibuku yang tersenyum bangga padaku dan mengacungkan ke-2 jempolnya, sambil mengangguk pelan tergambar di pelupuk mataku yang kini tengah terasa perih karena desakan air mata bergerombol memaksakan diri untuk tumpah. Sesaat kemudian aku tersadar bahwa aku harus segera ke UGD sebelum terlambat. Dengan sekuat tenaga kuangkat tubuhku dari tempat duduk lalu berjalan cepat melewati semua hiruk pikuk disana. Sambil sesekali terdengar suara teman-teman ku memanggil nama ku tapi tidak aku perdulikan, bahkan beberapa orang sempat menjadi sasaran tubuhku yang menabrak karena tak memperhatikan jalan. Aku berlari semakin kencang dengan memegang buket bunga dan paper bag lumayan besar berisi ijasah dan kotak makanan yang belum sempat aku makan. Sesampainya di gerbang kampus aku menghentikan taksi dan memberitahukan alamat tujuanku. Tanpa mempedulikan penampilanku yang berantakan dan mataku yang sembab serta air mata berwarna hitam yang mengalir di pipiku, dan atribut baju toga yang masih aku kenakan. Untung nya hari masih siang sehingga jalanan masih lenggang dan aku bisa sampai di Rumah Sakit dengan cepat. Ku bayar ongkos taksi nya dan segera berlari ke ruang UGD menuju meja resepsionis. Setelah itu aku berjalan dengan gontai ke ruang yang di tunjuk oleh resepsionis tadi. Beberapa orang sempat menjadi sasaran dan menabrak tubuhku yang tidak menghindar ketika berjalan melewati mereka. Aku berhenti pada sebuah lorong yang gelap dan sunyi, ku rasakan lorong ini lebih temaram dan dingin dari lorong lainnya. Aku berhenti berjalan setelah mendapati dua orang berseragam polisi keluar dari pintu dengan tulisan R. Kamboja, ruang yang di sebut oleh resepsionis tadi. "Selamat sore Ibu?" Sapa kedua polisi itu secara bersamaan sambil memberi hormat padaku." Apakah anda Kanayu Utari? Anak dari ibu Lupita?" Lanjut salah satu petugas polisi dengan nama Suwito itu ingin tau. Ah.. namanya aku tau dari name tag di dadanya. Tanpa memberi kan jawaban aku mengangguk lalu mengarahkan mataku pada ruangan di belakang mereka. Aku masih bingung dan gemetar berbagai prasangka buruk merasuki ku, meskipun aku tak berhenti berdo'a agar Ibuku baik-baik saja. Mengerti maksudku seorang polisi membukakan pintu R. Kamboja , sedangkan Pak Suwito menghampiriku, mempersilahkan aku masuk dan beliau melangkah mengikutiku di belakang. Sesampainya di dalam ruangan itu aku tidak menemukan apapun kecuali sebuah ruangan kosong dengan penerangan yang temaram dan beberapa loker besar yang menempel pada dinding. Teman pak Suwito menghampiri salah satu loker yang berada pada bagian paling kanan bawah lalu perlahan membuka kuncinya dan menarik nya keluar. Kini terlihat sebuah kain putih menutupi sesuatu di bawahnya. Hati ku mencelos, jantungku berdetak lebih kencang bagaikan sehabis lari maraton, keringatku bercucuran padahal AC di sana sangat dingin. Pak Suwito memintaku untuk mendekat dan melihat, namun aku masih bergeming tak berani mendekat, kakiku seperti terpatri pada lantai. Kain putih tersebut akhirnya di buka sedikit oleh pak Suwito yang kini memperlihatkan sebuah kepala yang pucat pasi tak bernyawa. Ku Jatuhkan semua bawaanku. Kedua tanganku yang gemetar spontan menutup mulutku dengan keras. Ku paksakan diriku untuk maju mendekat pada loker itu untuk melihat lebih jelas. Seketika tubuhku luruh ke lantai seolah kakiku tak lagi mampu menopang beratnya. Darah ku seakan berhenti mengalir dan udara di ruangan itu terasa habis dan lebih dingin. "Ibuuuu ...," pekikku memenuhi ruangan itu. "Ibu ... Ibu bangun Bu ...!" Hiks..hiks..hiks... hu.hu.hu..... Air mataku turun membasahi pipiku aku menjerit dan terisak di bawah jenazah ibuku. Setelah beberapa lama aku terisak dalam tangisan dan raungan akupun bangun dan merambat menatap wajah ibuku yang telah mendingin dan kaku. Kedua polisi tadi membantuku membawakan buket bunga dan paper bag ku yang telah aku lalaikan. Tanganku yang masih gemetar, perlahan mengelus wajah Ibuku yang ayu, wajahnya yang selalu tersenyum bahagia dan memperlihatkan keriputnya di usianya yang lebih dari enam puluh tahun itu kini berbaring tak bernyawa, bibirnya yang merah itu kini membiru, wajahnya yang putih itu kini membeku. Iya, Ibuku melahirkan ku dengan penuh perjuangan dan kebahagiaan di usianya yang tak lagi muda, tiga puluh sembilan tahun. Tidak mudah memang namun semua itu bukan tanpa sebab.Beberapa kali harus mengalami keguguran dan memiliki rahim yang lemah membuat kedua orang tuaku seolah lupa dan putus harapan untuk mendapat seorang anak. Namun Tuhan berkehendak lain dan menghadiahkan aku pada mereka di usia mereka yang tak lagi muda. Tangis pertamaku membuatnya menjadi wanita yang seutuhnya dan semangat hidupnya kembali menyala. Begitulah cerita ibu padaku dulu. Mengingatnya kembali membuat jantungku tercekat. Dua bulir air mata yang hitam kembali tumpah. " hiks ...hiks ... hiks...s...s...s..s.." isakanku lagi-lagi terdengar meminta perhatian pada Ibu yang tetap diam dalam loker yang dingin itu. Kini ku dekatkan pipiku di dadanya, ku dekap tubuh dinginnya dan ku goncangkan perlahan berharap dia akan bangun dan membelai puncak rambutku." Bu ... Ibu bangun Bu! Ibu jangan bercanda sama Yayu Bu! Bu ... Ibu ingat kan sama janji kita?" Hiks ...hiks ...hiks ..."Ibu ingatkan kalau kita mau jalan-jalan? Ibu ... udah ya tidurnya! Kita pergi ya Bu!" Air mata ku mulai membasahi tubuh ibuku yang terus diam membisu. "Ibu bercandanya gak boleh kelewatan loch... kita kan belum berfoto bersama hari ini, iya kan, Ibu lihat kan hari ini Yayu cantik banget ? Yayu wisuda lo Bu ... Ibu ingat kan, ya?" Suaraku parau, merancu dan terus terisak hingga tak terdengar lagi suara keluar dari bibirku. Air mataku kini telah menyusut dan mengering, tenggorokanku panas dan sakit. Tenagaku sudah habis, namun ibuku tetap diam membisu. Hingga pak polisi menarik tubuhku lalu mengembalikan jenasah Ibuku ke dalam loker dan membawaku ke luar ruangan. Aku masih tak bertenaga, tatapanku kini kosong. Kuminum botol air yang disodorkan padaku dengan cepat hingga aku tersedak dan akan kembali menangis. Urung ku menangis tatapanku tertuju pada sebuah boneka beruang yang lucu lengkap dengan atribut baju toga dan nama ku serta buket bunga matahari, bunga cantik kesukaanku, yang kini berwarna merah darah. "Buket bunga ini kami temukan berada di dekat tubuh Ibu anda yang bersimbah darah dan boneka ini berada dalam pelukannya." Ujar polisi itu sembari menyerahkan kedua benda itu padaku. Segera kuraih dua benda itu lalu ku rangkul erat dengan tangisku sesenggukan. Suara pak polisi lagi-lagi membuyarkan tangisku."Sabar Bu ... anda harus ikhlas!" Darahku serasa mendidih mendengar kata-kata polisi itu. "Bagaimana mungkin saya bisa ikhlas pak?" selaku tajam. "Saya gak akan memaafkan pelakunya pak, lalu bagaimana dengan orang itu? Aku berharap dia tertangkap dan dihukum dengan berat," tanyaku penuh selidik. Berharap polisi mau memberi informasi. Aku mengeram penuh amarah. Tenagaku yang telah habis seperti terisi kembali. Kucoba menahan semua gejolak hatiku untuk mendengar penjelasan pak polisi, sebelum akirnya aku harus kecewa dengan statemen nya. "Tenang Bu ... anda harus tenang dulu, kami pihak kepolisian akan menangani dan menyelidiki kasus ini dengan baik." Jawabnya meyakinkan ku. "Dia masih dalam status saksi dan belum bisa dikatakan seorang tersangka." Imbuhnya pelan, namun dapat ku dengar dengan jelas. "Apa?" bentakku keras, mataku yang sembab dan menghitam kini melebar dan rahangku mengeras, batinku meronta tidak adil dan penuh amarah, seorang pembunuh dan kriminal masih di nyatakan sebagai saksi, luar biasa. *** Bersambung.....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN