DENDAM 3

1207 Kata
Dua hari setelah kematian ibunya, Kanayu pergi ke kantor polisi untuk mengambil barang-barang ibunya. Tentu saja setelah dia mendapat telpon dari polisi. Sedangkan jenazah ibunya baru akan di kirim ke kampung halamannya untuk di makamkan lima hari lagi. Setelah semua proses administrasi dan kelengkapannya selesai. "Permisi pak, selamat siang?saya mau bertemu dengan pak Suwito apakah beliau ada?" Tanya Yayu kepada salah satu petugas polisi di luar. "Apakah sudah ada janji? Tanya salah seorang polisi. "Sudah pak, saya Kanayu." Ucapnya menjelaskan. "Oh Kanayu? Silahkan masuk beliau ada di dalam." Jawab polisi itu sambil menunjuk sebuah meja dengan name tag yang dia cari. Tanpa membuang waktu Yayu menuju meja itu dan duduk di kursi bagian depan." Selamat siang Yayu?" Sapa pak Suwito dari arah samping yang kemudian berjalan melewatinya dan duduk di belakang mejanya, kini menghadap Yayu. "Selamat siang pak." " Kamu mau mengambil barang almarhum Ibumu?" Tanyanya meneruskan. "Iya pak." Jawabnya singkat . Memutar kursi duduknya lalu mengambil sebuah plastik berisi dompet dan barang berharga milik ibunya, termasuk HP dan perhiasannya. Menyerahkannya pada Yayu. "Ini semua barang-barang ibu kamu, tolong di periksa lebih dulu! Lalu silahkan tanda tangan disini. Setelah Yayu menerima barang-barang peninggalan ibunya dia pun kemudian tanda tangan pada berkas yang polisi itu sodorkan. Klep. Kanayu membuka plastik pembungkus nya lalu melihat satu persatu benda itu, air matanya lagi-lagi luruh tak mau berdiam ditempatnya, melihat photo kecilnya dan kedua orang tuanya di dompet ibunya yang lusuh.  "Iya pak, semua milik ibu. Lalu bagaimana dengan pelakunya? Kenapa bapak dengan mudah menyerahkan barang bukti ini padaku?" Tanyanya di sela isak tangis. Menatapku serius. "Begini Yayu, orang yang menabrak ibumu tersebut sebenarnya bukan tersangka karena dia juga merupakan korban yang kebetulan pada waktu bersamaan berada pada tempat kejadian." Jawabnya menerangkan. " Ibumu yang pada waktu itu menyeberang jalan, tersenggol oleh sebuah mobil sedan yang remnya sepertinya blong hingga terhuyung ke depan, dan pada waktu bersamaan tiba-tiba sebuah motor dalam kecepatan tinggi melaju dari arah berlawanan, yang juga tidak bisa menghentikan laju motornya di lampu merah, hingga dia akirnya menyenggol tubuh ibumu yang telah kaget dan terhuyung tadi hingga tersentak ke belakang dan kepalanya terbentur aspal. Sedangkan pengendara motor tersebut kehilangan keseimbangan nya lalu motornyapun akirnya roboh dan menyeret tubuhnya sejauh lima meter sebelum akhirnya motornya terlepas dan dia menatap pagar pembatas jalan." Terangnya. Masih diam. Namun tatapan Kanayu terlihat kosong " lalu bagaiman dengan sopir sedan itu? " tanyanya penasaran. " dan bagaimana keadaan pengendara motor itu? Kalo boleh tau siapa namanya pak?" ucapnya  menimpali. Rasa penasaran itu pun tumbuh seiring kebenciannya yang berkembang. "Pengendara mobil sedan itu berhasil kabur. Namun kami telah mengantongi identitasnya, untuk nantinya kami mintai keterangan. Pengendara motor itu masih di rumah sakit dan belum sadarkan diri. Dia putra bapak Pranoto pemilik Fajar Medical Hospital itu. Saya sarankan sebaiknya kamu mau berdamai dan tidak melakukan tuntutan lebih lanjut." Ujar pak Suwito meneruskan. Agar semuanya lebih mudah. Menyeka air mata."Och ya?" Jawabnya singkat penuh penekanan. Kanayu sempat terkaget namun berhasil menguasai dirinya. Disisi lain dia sedikit lega, setidaknya b******n itu kini masih terbaring di rumah sakit dan merasakan kesakitan yang dalam, sepeŕti keadaan yang dirasakan Kanayu saat ini. Karena diapun yakin bahwa pengadilan tidak akan berpihak padanya meskipun dia tidak mau berdamai. Ironis memang.  Kanayu cukup tau diri.Siapa dirinya dan siapa keluarga Pranoto. Mendengar namanya saja semua orang akan mundur teratur untuk bermasalah dengan mereka apalagi menentang nya. Namun kali ini Kanayu masih diliputi kesedihan dan amarah sehingga dia belum bisa menerima semua keputusan yang di sarankan. Selesai berbincang dengan pak Suwito dan memutuskan untuk tidak menandatangani surat damai Kanayu berpamitan kepada pak Suwito lalu meneruskan perjalannannya ke kos-kosan untuk selanjutnya packing dan pulang ke kampung halamannya. *** Kanayu POV~ Tiga hari yang lalu aku tiba di kampung halamanku. Rumah ku tidak banyak berubah. Pohon mangga masih berdiri kokoh di halaman depan rumah dan di bagian belakang rumah pun masih sama penuh dengan tanaman dan sayuran , cabai dan tomat yang memerah menambah rasa haruku. Semua masih sama hanya saja kali ini tidak ada ibu yang menyambutku dan memasak urap daun singkong untuk ku. Hari ini jenasah ibu akan tiba pada sore hari dan rencananya akan langsung di kebumikan di pemakaman umum desa setelah disolatkan.  Para tetangga sudah berdatangan sejak pagi. Mereka bergotong royong membantu keperluan kami. Ya... kegiatan yang aku sukai saat di kampung.Mak Ijah adalah tetangga terdekat kami dan sudah seperti keluarga, dia menemaniku tidur di rumah dari kemaren. Dia takut kalau aku gak berani katanya. Aku mengiyakan saja, toh mak Ijah sudah seperti ibuku sendiri dia sangat baik dan perhatian pada ku. Dulu katanya dia pengen menjadikanku mantu sebelum anak laki-laki nya Beno itu menikah dan kini hidup bahagia di kota Jakarta bersama keluarga kecilnya. Tapi aku juga tak pernah ketemu dengannya selama bersekolah di Jakarta. Mereka hanya pulang saat lebaran atau hari ulang tahun mak Ijah. Ok kembali pada ku. Aku kini mengenakan baju berwarna hitam dan berjalan di belakang keranda ibuku menuju pemakaman umum. Tidak seperti kemaren dan hari-hari sebelumnya, hari ini aku sama sekali tidak menangis atau mungkin stock air mataku telah terkuras habis entahlah. Langit tampak begitu cerah awan biru membentang bak lautan yang indah. Tidak seperti dalam sinetron atau drama yang kulihat, saat para pemeran protagonisnya kehilangan orang tersayang maka langit pun hitam dan menurunkan hujan. "Nduk Yayu yang sabar ya. Biar arwah almarhum ibumu tenang disana!" Ucapan seorang tetanggaku menyemangatiku. "Sabar ya nduk... semoga ibumu mendapat tempat yang baik disisi Tuhan." Kata seorang yang lain. Dan berbagai kata-kata do'a serta ucapan bela sungkawa yang mereka ucapkan, sembari memelukku sebelum beranjak meninggalkanku. Semua pelayat telah pergi dan kini tinggal aku sendiri bersimpuh di samping pusara ibu ku yang masih basah. Dalam keheningan  sore itu di bawah cerahnya langit biru dengan semburat orange ku meredam kecamuk dalam hatiku. Kebencianku kepada pengendara motor itu telah menguasai diriku hingga ke dalam jiwaku. Ku kepalkan tanganku pada pusara ibuku dan berjanji akan menuntut balas atas kematiannya. "Ibu... aku telah merelakan dan mengikhlaskan kepergianmu, semoga jalanmu terang disana dan engkau mendapat tempat yang baik di sisi-Nya. Aamiinn.. 'namun maafkan aku ibu aku tak mungkin melepaskan b******n itu. Orang yang telah membuatku menjadi anak yatim piatu dan membuatku harus berpisah denganmu sebelum aku bisa membahagiakan mu.' Imbuhku dalam hati. "Terimakasih ibu dan maafkan aku." Tambahku lirih. Lalu aku beranjak dari makam ibuku dan kembali ke rumah untuk mandi lalu mengunci dan mengurung diri di kamar. Tak sopan dan terlihat kekanak-kanakan memang, namun rasanya aku tak sanggup bila harus berada di luar untuk membantu para tetangga menyiapkan acara tahlilan itu. Tok... tok... tok.. "Nduk, makan dulu ya! Kamu dari pagi belum makan, nanti sakit lo." Terdengar suara mak Ijah memanggilku. "Nanti saja mak, aku masih  belum lapar." Jawabku dari dalam kamar tanpa ingin membuka pintu." Nanti aku cari sendiri kalo udah lapar mak." Tambahku lirih. "Ya sudah, nanti langsung ke dapur saja ya, jangan sampai kelewat waktu makannya." Jawabnya sembari berlalu pergi dari kamarku. Aku masih belum bisa menerima semua kenyataan ini, dan tangisku kembali mendera sesaat kupandangi boneka Teddy Bear dan buket bunga matahari berwarna merah itu. Hatiku ngilu dan nafasku sesak. Kudekati dua benda itu lalu kupeluk dengan erat." Ayah,,, ibu,,,, Yayu merindukan kalian." Hiks...hiks... hiks...." Lagi air mata yang tadi pagi seolah kering kini kembari membasahi pipiku. Kubenamkan kepalaku dalam bantal sambil memeluk benda peninggalan ibuku. Isak ku sempat terdengar lirih sebelum akhirnya rasa lelah dan kantuk membawaku ke alam mimpi.  Aku benci hari wisudaku, karena hari itu adalah hari dimana aku harus kehilangan pelita hatiku dan alasan hidupku serta tujuan sekolahku dan masa depanku. *** Bersambung......
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN