Kanayu POV~
Sayup-sayup terdengar suara merdu lantunan ayat suci Al-Quran. Ku kerjapkan mataku beberapa saat, sebelum ku raih ponsel yang kuletakkan di lantai kamar. Jam lima lebih dua puluh menit, berarti aku baru tidur selama dua jam. Setelah semalam begadang mempersiapkan tahlilan hari ke-7 untuk ibuku.
Semua tetanggaku datang membantu seperti biasa dan hari ini rumahku sudah ramai sejak pagi. Acara hari ini akan ada lebih dari seratus tamu undangan, sehingga banyak hal yang harus kami persiapkan agar acara berjalan lancar.
Jam sembilan pagi aku sudah rapi dan berada di ruang tamu membantu para ibu-ibu disana, sembari mendengarkan lantunan merdu ayat suci Al-Quran yang berkumandang.
"Yayu ada tamu mencarimu. Penting sepertinya." Bisik mak Ijah padaku lirih." Pergilah ke rumah ku, tamunya mak persilahkan masuk disana. Cepat!" Suruhnya menyegerakan langkahku.
"Siapa mak? "Tanyaku penasaran. Namun mak Ijah hanya menggeleng kan kepalanya tanda tak tau.
Aku pamit kepada ibu-ibu yang ada di rumahku sebelum kemudian berjalan ke rumah mak Ijah yang ada di samping rumahku." Mak bawakan air dan camilan ya!" Kata ku pada mak Ijah. Dan akupun hanya di kasih jawaban OK dengan hand sighn nya.
Penasaran. 'Siapa ya yang mencariku, apa mungkin Chaca, oh .' Tanyaku dalam hati. Seulas senyum tersungging di pipiku.
Sesampainya di depan rumah mak Ijah aku agak sedikit terkejut, pasalnya dua mobil FORTUNER hitam terparkir di halaman rumah mak Ijah dan dua orang laki-laki berbadan tegap dengan baju dan kaca mata hitamnya bersedekap di luar pintu rumah mak ijah sedang dua orang lagi berada di dalam mobil.
'Bukan Chaca.' Batinku menimpali. Tanpa menunggu waktu ku langkahkan kakiku ke rumah mak Ijah, aku berhenti di hadapan dua orang td lalu sedikit membungkuk untuk menyapa mereka , namun keduanya bergeming . Mengendikkan bahuku lalu masuk ke dalam rumah.
Terlihat seorang laki-laki dan seorang perempuan sedang duduk di kursi kayu di ruang tamu rumah mak Ijah. Sepertinya orang berada dari tampilannya yang simple dan juga elegan dengan baju hitamnya namun tetap terlihat kewibawaan mereka.
Seorang laki-laki yang terlihat tampan meski terdapat beberapa kerutan di wajahnya dan rambutnya telah memutih, badan nya yang tinggi dan tegap sangat serasi dengan wanita di sampingnya . Sedangkan si wanita begitu anggun dan cantik dengan dress hitam dan kalung mutiara putih yang melingkar di lehernya membuatnya semakin terlihat mempesona, apalagi tubuhnya masih terlihat bagus dan rambutnya indah terawat.
'Tapi aku tidak mengenal mereka.'gumamku dalam hati." Selamat pagi pak, buk?" Sapaku ramah. Mereka berdua serempak menoleh padaku lalu berdiri dari duduknya kemudian menjawab pertanyaan ku secara bersama." Selamat pagi." Jawabnya ramah dengan senyuman.
Kubalas senyumnya. Sambil mengulurkan tanganku " Saya Yayu pak, buk. Maaf ada yang bisa saya bantu?" Sapaku. Yang kemudian di sambut oleh tangan keduanya yang menjabatku secara bergantian.
"Silahkan duduk!" Kataku dengan menundukkan kepala dan mengarahkan jempol tanganku ke kursi mereka tadi. Lalu akupun duduk di kursi kayu di depan mereka. Merekapun akirnya kembali duduk . "Maaf kalo boleh tau bapak dan ibu ini siapa dan ada keperluan apa kemari?" Tanyaku kemudian penasaran.
"Permisi Tuan dan Nyonya?" Suara mak Ijah menginterupsi pembicaraan kami. Kemudian meletakkan teh dan camilan di depan mereka. Dan menyilakan mereka untuk minum. Saat mak Ijah akan pergi aku memegang tangannya dan menyuruhnya duduk di sampingku. Aku rasa saat ini aku butuh seseorang untuk menemaniki karena aku juga tak kenal siapa mereka dan tak tau apa maksutnya.
Wanita itu memulai berbicara setelah mak Ijah meletakkan nampannya dan duduk di kursi sampingku."Terimakasih buk. Begini nak, saya bu Pranoto dan beliau pak Pranoto. Maksut kami datang kesini adalah untuk bertakziah dan mengucapkan bela sungkawa atas kepergian ibu mu. Kami juga minta maaf karena baru bisa hadir sekarang dan..." tidak melanjutkan kata-katanya, melainkan mengamati raut muka ku yang sedang bingung seperti mengingat sesuatu.
'Pranoto.. pranoto...pranoto.' nama itu terus terngiang dalam kepalaku, namun belum berhasil ku ingat.
"Nak Yayu, terimalah ini sebagai permintaan maaf kami dan sebagai tanda belasungkawa kami!"
Aku kaget.Suara bu Pranoto mengalihkanku dari pikiran ku yang belum ketemu. Kembali ku tatap mereka berdua yang sedang mengangguk pelan padaku. Bu Pranoto yang kini memegang selembar amplop putih yang dia ambil dari tas hitam yang dia letakkan di atas meja lalu menyodorkan padaku, menanti kan aku menerimanya.
Masih bingung. Ku tatap amplop putih itu dengan penuh tanya."Terimakasih banyak untuk waktu yang telah bapak dan ibu luangkan untuk datang kesini, tapi saya rasa ibu dan bapak tak usah repot-repot." Jawabku sopan." Ini apa bu?" Tanyaku penasaran belum menerima amplop itu.
"Terimalah dulu dan silahkan di buka!" Titahnya penuh permohonan.
Kuterima amplop putih itu. Kuperhatikan sekilas tampak kosong , tipis dan tak berisi membuatku semakin penasaran. Kuperhatikan mereka lalu mengisyaratkan padaku untuk membuka. Berbagai pertanyaan berkumpul di kepala ku. Tak inhin mengulur waktu segera ku buka amplop itu, seketika mataku membelalak dan kaget melihat apa yang kuterima. Sebuah cek dari Bank Internasional ternama dengan jumlah yang fantastis , bahkan aku rasa jumlahnya bisa aku gunakan untuk menyelesaikan study doktor ku tanpa harus bersusah payah.
Kutatap kedua orang asing dì depan ku ini dengan penuh rasa heran. Bagaimana tidak, seorang yang tidak pernah kita kenal dan tau tiba-tiba memberikan cek pada kita dengan nominal yang besar, hal yang cukup aneh dan mencurigakan bagiku. Dan hanya bilang sebagai rasa bela sungkawa serta permintaan maaf, ini makin aneh bukan? Meminta maaf untuk apa, bahkan hari ini adalah hari pertama kita berjumpa.
"Maksut ibu dan bapak apa dengan uang sebanyak ini? Lalu kenapa kalian harus minta maaf, bahkan kita baru pertama kali bertemu." tanyaku masih dengan nada sopan , meskipun sebenarnya aku menahan amarah dan geram." Bisa tolong anda jelaskan, biar saya paham?" Lanjutku .
"Emmm... begini nak Yayu sekali lagi kami mohon maaf, dan kami turut sedih atas meninggalnya ibu mu. Kami mohon nak Yayu bisa memaafkan kami dan mau mencabut tuntutan di kantor polisi itu." Ucapnya menjelaskan. Di ikuti oleh isak tangisnya, seraya mengalihkan pandangannya kepada suaminya.
Aku mengikuti tatapannya yang kini menatap suaminya. Menelan ludahnya lalu memulai pembicaraan." Iya nak yayu kami benar-benar ikut bersedih atas kematian ibu mu. Kami berharap nak Yayu tidak menolak uang konpensasi dari kami." Pembicaraannya sempat terhenti sejenak setelah melihat perubahan pada raut wajahku yang kini merah padam. "Kami mohon sekali lagi nak Yayu memaafkan kami dan anak kami, berilah kesempatan pada anak kami untuk memperbaiki diri dan melanjutkan hidupnya, kami mohon padamu untuk mencabut tuntutan itu." Raut wajah yang memelas dan rasa bersalah itu terpancar dari ekspresi mereka yang kini saling berpelukan dan sang istri yang terus membersit hidungnya menahan airnya keluar.
Tanpa berpikir panjang. Aku yang sudah tau maksud kata-kata mereka tersebut dengan seketika terbakar dan hendak memaki. Namun kuurungkan, sepertinya otakku masih bisa berfikir baik dalam keadaan marah.
Sesaat terlintas wajah sedih ibuku ketika aku akan memaki mereka, ibuku tak akan suka melihat aku berbuat tidak sopan kepada orang yang lebih tua, mengingat itu membuatku bergetar hebat. Airmata ku luruh tanpa ku minta. Hatiku berdesir dadakupun sesak menahan amarah. 'Kenapa mereka berani datang kemari dan menunjukkan dirinya, kenapa mereka dengan mudahnya memberi ganti rugi sejumlah uang untuk melindungi anaknya?' Aku tersenyum miring melihat keadaanku yang tragis, menertawakan diriku sendiri yang tak bisa berbuat apapun selain menahan amarah. Sungguh sakit hari ku melihat kenyataan ini.
"Oh . Ternyata tuan dan nyonya adalah orang tua anak itu?" Suaraku parau dengan nada penuh kebencian.
"Terimakasih untuk simpati anda dan silahkan bawa kembali cek ini. Aku tidak memerlukannya dan tidak akan memaafkan anak anda." Ucapku tak lagi sopan meski tanpa teriakan dan makian.
Mak Ijah yang sedari tadi duduk di sampingku tetap diam dan menyimak pembicaraan kami namun aku juga sempat melihat ekspresi wajahnya yang sempat berubah beberapa kali. Dan kini memegang pundakku dgn lembut.
Kuletakkan cek itu diatas meja lalu kusodorkan ke arah mereka. Tapi kemudian disodorkan kembali oleh pak pranoto ke arahku.
"Aku tidak memerlukannya dan bawalah kembali uang anda, ibuku bukanlah barang yang nyawanya bisa ditukar dengan uang. Nyawa ibuku lebih mahal dari cek ini dan hidupnya lebih berharga dari apapun di dunia ini." Kataku sinis." Sebaiknya kalian pergi dari sini sekarang juga, sebelum kesabaran saya menguap."Umpatku Geram sembari menekan gigiku hingga saling bergesekan.
"Kami mohon nak.." ucapannya terhenti.
Aku menyela mereka sebelum meneruskan kalimatnya." Untuk apa nyonya? Semuanya akan sia-sia. Apa ibuku akan bisa kembali setelah aku memaafkankan anakmu, apa ibuku akan bisa bersamaku lagi seperti dulu. Hhhh enggak nyonya itu mustahil. Anda tentu tau bukan? Dan hal itu juga mustahil bagi ku untuk memaafkan anak anda dan mencabut tuntutan saya." Celaku penuh geram. Semua kata-kata tidak hormat sudah bermunculan di kepalaku dan ingin aku tumpahkan. Aku sangat benci dan tidak terima dengan perlakuan mereka aku benar-benar ingin meledak.
"Silahkan anda keluar dari sini sekarang juga!" Usirku tajam, dengan telunjuk ku arahkan ke pintu depan." Apa kalian tau bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita cintai,orang yang kita kasihi, orang yang selama ini menjadi semangat hidup kita dan harapan kita. Sakiiittt ... dan itu sangat menyayat hati." Kataku bergetar sembari meremas bajuku pada area jantung ku.
" Lalu kalian dengan seenaknya memberikan uang padaku lalu meminta maaf padaku dan berharap aku dengan mudah akan memaafkan kalian lalu menarik semua tuntutan hukum itu? Tidak semudah itu nyonya dan tuan yang terhormat." Lanjutku sumbang, dengan senyum miring yang dengan jelas ku perlihatkan.
"Kami tau nak Yayu, kami tau...oleh sebab itu kami kesini dan memohon kebaikan hatimu. Kami tau anak kami bersalah dan kami tidak akan bisa mengembalikan orang tuamu." Jawabnya pelan.
"Huh..." tawaku mencibir.
"Nak Yayu... seharusnya tau semua itu adalah sebuah kecelakan dan sebenarnya bisa menimpa siapa saja lalu kenapa nak Yayu tidak mau memaafkan dan memberi anak kami kesempatan." Sahut wanita itu yang kini telah bangkit dari duduknya lalu mendekatiku dan memegang tangan kiriku dengan lembut.
'Untuk ukuran orang kaya yang tidak aku tau mereka seberapa kaya aku merasa mereka sangat baik dan tulus. Selama ini banyak orang kaya yang aku tau tapi tak banyak yang seperti mereka, meminta maaf dengan tulus dan merendahkan dirinya demi anak nakalnya. Kebanyakan dari orang kaya tidak akan peduli pada orang lain dan akan menggunakan uangnya langsung untuk keluar dari masalah terlebih jerat hukum tentu mereka mampu dengan mudah untuk bisa keluar dari masalah. Apalagi yang mereka hadapi hanya orang kampung seperti kami.' Pikirku dalam hati.
"Nak Yayu... apa salahnya nak Yayu memaafkan dan memberi kesempatan anak kami. Anak kami masih belum sadar hingga kini di UGD dan kami juga tak mau kehilangan dirinya." Ucapnya lirih." Bukankan Tuhan saja maha memaafkan lalu kenapa nak Yayu begitu berkeras hati dan menutup pintu maaf untuk kami." Seru pria itu padaku.
Suara dalamnya menyadarkanku dari lamunanku. Aku semakin marah dan tak tahan di tambah kepalaku kini terasa pusing dan berdenyut keras mendengar dua orang itu berbicara panjang lebar dan berceramah lalu memaksakan kehendaknya padaku.
"Ya saya tahu betul Tuhan maha memaafkan. Dan seharusnya anda juga sudah tau tanpa harus saya katakan kalau saya bukan Tuhan." Jawabku sarkas. "Aku akan dengan mudah memaafkan orang lain tapi tidak dengan anak anda karena aku sangat yakin anak anda selalu kebut-kebutan di jalan dan berbuat onar seolah jalan itu milik nenek buyutnya." Tuduhku pedas dengan tidak sopan. Tanpa kutahu kebenarannya.
"Percayalah nak Yayu, anak kami tidak seperti itu." Bela wanita itu pada anaknya. Wanita itu melepaskan genggaman tangannya dan menggapai tangan suaminya kemudian suaminya memeluknya erat. Aku sempat merasa iri pada mereka iri pada kasih sayang mereka satu dengan yang lain dan juga kepada anak mereka yang mereka bela. Namun aku juga tidak akan mudah kalah dan akan membela almarhum ibuku mati-matian.
"Aku tidak akan memaafkan perbuatan anak anda yang telah merenggut nyawa ibu ku, sebaiknya kalian pergi aku benar-benar pusing." Usirku pada mereka. Mereka hanya diam dan menggelengkan kepala mereka.
"Dengarkan penjelasan kami nak Yayu sebentar saja. Anak kami benar-benar sakit dan..." kata-kata mereka terhenti karena aku bangun dari dudukku lalu meninggalkan mereka bersama mak Ijah.
'Maafkan aku ibu aku telah berlaku kejam'. Rutukku dalam hati yg terluka.
***
Sesampainya di rumah,Yayu segera menuju kamarnya, menutup dan mengunci pintu lalu membenamkan wajahnya kedalam bantal, mencoba meredam tangisnya.Dia terisak dengan tubuh gemetar. Sampai akhirnya dia tertidur karena kelelahan menangis.
Tak peduli dengan keadaan di rumahnya dan acara tahlilal ibunya. Yayu terbangun ketika pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang. Dia turun dari tempat tidur dan membuka pintu. "Mak Ijah. Ada apa mak?" Tanyanya pelan dengan matanya yang sembab.
"Makan dulu nduk! Ndak baik terus menyiksa diri mu. Kasihan ibumu bila dia tau." Ucap mak Ijah mengingatkan. "Kamu percayakan kalo ibumu tetap menjaga dan melihatmu? Ingat nduk kamu masih punya dirimu yang harus kamu jaga, jangan makin membuat ibumu sedih dengan kau terus mengabaikan dirimu sendiri." Ucap mak Ijah meneruskan.
Deg.
Rasa ngilu seakan menyayat hatinya. Yayu lupa kalau dia tidak akan pernah sendiri walaupun ibunya telah tiada. Yayu lupa kalau dia harus tetap kuat dan bertenaga bila ingin membalas sakit hatinya. Yang sebenarnya Yayu tidak tau bahwa dendamnya akan membawanya pada rasa sakit yang lebih dalam bila dia teruskan.
Menganggukkan kepala. "Iya mak , makasih. Sebentar lagi aku akan keluar." Katanya kemudian melihat jam pada ponselnya lalu merapikan wajahnya yang berantakan. Menuju ruang tamu yang telah kosong, lampunya sudah dimatikan. Terasa sepi dan sunyi. Acara telah lama usai, sekarang sudah jam sepuluh malam. Langkahnya dia lanjutkan ke dapur. Lampu masih menyala terang. Lima orang masih ada disana membersihkan dan mencuci peralatan masak.
"Mak..." panggilnya pada mak ijah. Namun semua orang menoleh padanya.
"Katanya pusing nduk... sudah enakan?" Tanya bu Amin tetangga Yayu juga. Dia tukang masak di kampungnya.
Yayu mengangguk dan tersenyum dan dibalas oleh senyuman bu Amin.
"Sudah makan apa belum? Cepet sini !" Suara bu Isma mengikuti. Dia tukang cuci.
"Belum buk." Jawab Yayu serak.
"Ini makan trus jangan lupa minum obat biar gak tambah pusing." Seru mak Ijah menyodorkan sepiring nasi lengkap dengan lauk dan air putih.
"Makasih mak." Serunya sambil menatapnya penuh haru. 'Mak ijahnya memang sangat baik.' Gumamnya dalam hati.
"Habis itu cepet istirahat nduk biar gak sakit." Kata bu Yuni menambahkan. Dia adik mak Ijah.
"Iya nduk jangan bersedih terus ya! Kan gak baik terus nangis aja." Ucap bu Tini adik angkat bu Lupita, ibu Yayu. Mendekati Yayu lalu merangkulnya dengan hangat. Bu Tini rumahnya agak jauh dari rumah Yayu jadi dia gak begitu dekat dengan Yayu dan hanya berkunjung kalo ada acara besar di rumahnya, tapi Yayu tau kalau beliau orang yang baik dan sayang dengan dia dan ibunya.
Yayu menitikkan air mata. Dia masih merasa sangat beruntung. Dia memiliki tetangga yang baik dan bulik angkat yang juga baik meski tak memiliki saudara kandung. Hatinya menghangat melihat perhatian mereka. Seulas senyum tersungging di wajahnya.
Selesai makan dia mengucap terimakasih pada semua orang di dapur lalu pergi ke kamarnya. Yayu sudah menyerahkan semua kebutuhan dan biaya pada mak Ijah. Dia tak mau repot dan lebih frustasi.
'Buk aku kangen banget sama ibu.' Bisiknya dalam hati. Di lihatnya photo ibunya dan dia yang terbingkai indah di dalam kamarnya. Lalu terlelap dalam tidurnya.
***
Bersambung....