DENDAM 5

1908 Kata
RUMAH SAKIT FAJAR MEDICAL Yayu menatap papan nama besar yang tertulis dengan huruf kapital di gedung Rumah Sakit yang megah itu. Salah satu rumah sakit terbesar dan ter-elite di Jakarta itu, di pandanginya dengan kagum dan bangga. Bagaimana mungkin Yayu tidak kagum dan bangga. Aku beri tahu ya,Rumah Sakit Fajar Medical ini memiliki dua bangunan utama yang berdiri kokoh dan saling bersebelahan. Bangunan yang pertama adalah rumah sakit umum, sedang satu bangunan yang lain adalah pusat rehabilitasi. Dan masih terdapat dua bangunan lagi yang jaraknya agak menjauh dari bangunan utama, yaitu rumah sakit untuk balita dengan penyakit kronis dan butuh perawatan intensif, sedang bangunan satunya adalah bangunan khusus untuk para lansia dan komplek bangunan untuk para karyawan juga tersedia. Bukan itu saja rumah sakit ini memiliki fasilitas lengkap dan memadahi serta pelayanan yang memuaskan, selain itu semua dokter dan para staf di rumah sakit ini juga merupakan lulusan terbaik di bidangnya ,tapi tentunya siap-siap merogoh kocek dalam bila bermalam di rumah sakit ini. Ok, sekarang paham kan sebabnya. Yayu kegirangan dengan job barunya yang bila di tulis semua fasilitasnya akan menghabiskan 1 bab. Anyway kembali kepada Yayu. " Bismillahhirrahmanirrahim." Ucapnya lirih. 'Bapak, ibu do'akan ya semoga Yayu bisa bekerja dengan baik dan lancar, agar bisa melunasi hutang dan menyelamatkan rumah serta sawah kita.' Gumamnya dalam hati. Di ikuti oleh sebuah senyum penuh keyakinan yang terpancar dari kedua bola matanya yang berwarna coklat tua itu. Kemudian Yayu melangkahkan kakinya ke halaman rumah sakit dengan mantap. Hari ini adalah hari pertama Yayu masuk kerja di rumah sakit. Dua hari setelah acara tahlil memperingati kematian ibunya yang ke-40 hari Yayu kembali ke Jakarta. Yayu harus kuat dan tegar untuk terus menjalankan hidup nya demi orang-orang yang mengkasihaninya dan demi orang tuanya yang telah membesarkannya. Serta demi untuk melunasi hutang ibunya pada rentenir itu. Yayu tidak pernah tau dan diberitahu bahwa ibunya mengalami stroke ringan dan harus mendapat perawatan serta terapi selama enam bulan terakhir. Yayu kecewa karena ibunya tak memberitahu dan mempercayainya bahkan untuk kesehatan ibunya sendiri dia sampai tidak mengerti. Dia merasa bersalah dan terluka, hingga ibunya meninggal dunia dia baru tau kebenarannya dan juga hutang yang ibunya pinjam selama berobat serta rumah dan sawah sebagai jaminannya. Jika Yayu tau lebih awal, tentu dirinya akan memilih untuk tidak melanjutkan kuliahnya, lalu dia akan bekerja dan merawat ibunya itu. Sehingga dia tidak akan merasa bersalah karena tidak menjaga ibunya. Toh selama ini Yayu sebenarnya juga bekerja paruh waktu di sebuah bimbel dekat kost nya, dan pada hari minggu dia juga bekerja sebagai penyiar radio di salah satu stasiun radio di kota Jakarta. Dan dari hasil nya bekerja dia tidak usah meminta jatah bulanan pada ibunya, bahkan terkadang dia juga mengirimi sedikit uang pada ibunya di kampung. Tes. Air mata itu mengalir begitu saja. Dia mengeluarkan tisu lalu menyeka air mata itu.Dadanya tiba-tiba pengap, paru-parunya seolah kehilangan udara. Desiran panas menyentuh hatinya meninggalkan luka. Kala nasi telah menjadi bubur, sebesar apapun penyesalannya tak akan mudah terkubur. Yayu yang sejak SMP telah ditinggalkan oleh ayahnya kini harus merelakan ibunya pergi dan meninggalkannya seorang diri. Sebelum berhasil membahagiakan ibunya dengan hasil kerja kerasnya. Dengan sebuah hutang yang halus dia lunasi serta rasa bersalah dan dendamnya yang membara. Diapun teringat perjanjiannya dengan preman penagih hutang yang datang dua kali kerumahnya itu. Dan pada perjanjian terakirnya yayu menyepakati waktu satu bulan sepuluh hari untuk melunasi hutang itu. Namun dia lupa jika waktu yang di tentukan tinggal sepuluh hari lagi. Dengan semangat menggebu Yayu memasuki lobby rumah sakit kemudian mencari meja resepsionis. Tersenyum ramah."Selamat pagi Buk, ada yang bisa saya bantu?" Sapa resepsionis cantik bernama Maya itu pada Yayu. Membalas senyumnya. "Selamat pagi, saya mau bertemu dengan dr. Saino," jawab Yayu singkat. "Apa sudah ada janji?" "Iya. Saya Kanayu Utari. Kemarin saya mendapat telpon dari pihak rumah sakit untuk datang dan menemui beliau." Katanya menjelaskan. Yayu sendiri mulanya tidak memiliki harapan untuk bisa bekerja di rumah sakit ini mengingat pada waktu itu dia tidak bisa hadir dalam interview terakir di rumah sakit ini. Dan Yayu pun kembali ke Jakarta untuk mencari pekerjaan lain yang kiranya bisa cepat menghasilkan uang. Dan keberuntungan sepertinya tidak berpihak padanya. Bimbel tempat dia mengajar pun sudah mendapat penggantinya, begitupula dengan stasiun radio sudah mendapat penggantinya. Memeriksa buku catatan. Kembali tersenyum manis. "Oh ... dr. Kanayu, silahkan anda naik menggunakan lift yang paling ujung sebelah kanan dan tekan lantai 20, dr. Saino sudah menunggu Anda." Jawabnya singkat, sambil menunjuk lift yang dia maksud. Yayu berjalan ke arah lift yang di maksud tadi lalu menekan tombol dengan panah ke atas. Selang beberapa menit lift pun terbuka dan diapun masuk ke kotak besi segi panjang itu. Menekan tombol 20 dan menunggu sambil membetulkan penampilannya yang terpantul dari kotak besi berlapis kaca yang mewah itu. Ting. Pintu lift terbuka . Diapun keluar dari sana kemudian mencari ruangan yang ada tulisannya dr. Saino, namun tak ditemukan. Cuma ada satu pintu besar dengan dua daun pintu yang menutup di lantai itu. 'Mungkin aku salah informasi'. Batinnya menanggapi. Yayu berniat balik ke meja resepsionis, memutar tubuhnya dan menekan tombol lift dengan gambar panah ke bawah. Ting. Lagi terdengar suara lift yang terbuka sebelum memasuki lift, terdengar suara pintu di belakang nya terbuka. Yayu berbalik dan matanya bertemu dengan manik hitam legam milik seorang berambut cepak dan berjubah putih menjuntai dengan name tag dr. Saino. "Tunggu! Kau Kanayu ya?" *** Kanayu POV~ Sepuluh hari setelah kepergian ibu. Semilir angin sore itu begitu sejuk. Aku duduk seorang diri di kursi kayu dibelakang rumah menikmati secangkir teh dan kue bolu pisang buatanku. Kue nya begitu lembut dan aroma pisang nya begitu harum menggoda. Kusisihkan satu loyang kecil untuk mak Ijah dan beberapa potong lainnya sudah kubagikan kepada tetangga sebelah rumah. Memandang tepat ke perkebunan polibek tomat dan cabai di belakang rumah yang berbunga, meliuk seolah-olah bersenda gurau dengan angin yang menerpa. Pikiranku terbuai dalam lamunan indahnya menuju masa kanak-kanak ku di rumah ini. "Hi.hi.hi.hi.hi ...hahahahahaha ...," tawa renyah ku kala itu. Bahagia melihat cabai dan tomatnya sudah bisa di panen." Bapak ... sini, cepat! Ini cabainya banyak banget!" ajak ku kepada bapak yang tidak segera datang mendekat. "Lihatin Pak aku petik cabai banyak kan?" tanyaku. Lalu menunjukkan cabai merah yang kutaruh dibajuku setelah ku petik. Bapak tersenyum. Mengambil cabai di bajuku lalu menaruhnya ke dalam ember plastik yang dia bawa. "Taruh di ember sini bukan di baju, nanti pedes," ucapnya sambil membersikan bajuku dengan mengelapnya menggunakan kain basah. Kupamerkan gigi putihku lalu nyengir kuda pada bapak. Melanjutkan acara memetik cabai dan tomat sampai akirnya tiba pada pohon cabai terbesar dari semua tanaman polibek itu. "Yayu hati-hati! Jangan mendekati pohon cabai yang itu, banyak ul..." kalimat ibuku terputus sebelum selesai saat mendengar teriakanku. Kemudian berlari secepat kilat menghampiri ayahku yang sedang merunduk memanen tomat dan segera memanjat ke punggungnya. "Hyyaaaaaaa ...." Sambil lari dan menghentak kan kaki ku. "Bapak ... ada ulat buuesar. Hiii ..." kataku terbata-bata, sambil bergidik ngeri. Tubuhku seakan dikerumuni ulat bulu. "Pak, ayo pergi! Aku gak mau disini. Hiks.hiks.hiks ..." pintaku seraya menangis di balik punggung bapak. Ibuku nenahan tawanya melihat tingkah konyolku. Dan bapak malah menakutiku dengan meletakkan daun cabai di pundakku dan bilang itu ulat bulu. Seketika aku berteriak histeris dan mengibaskan nya dengan cepat. Lalu bapak menggendongku dan menurunkanku di dapur. Kemudian ibuku menyodorkan es degan dan kue bolu pisang kesukaanku. Aku yang tadinya ketakutan dan cemberut karena ledekan ibuku, spontan ceria dan makan dengan lahapnya. Tes. Tes. Tes. Air mata mengalir membasahi pipiku, ku usap air mata itu dengan punggung tanganku lalu mengambil tisu untuk membersit hidungku yang mampet. Dok. Dok. Dok. Dok. Suara pintu depan rumahku di gedor dengan keras. Membuatku terjengkit kaget dari lamunanku. Sontak aku bangun dari tempat dudukku dan berlari ke depan rumah melewati halaman samping. "Maaf, mencari siapa ya?" Tanyaku sopan. Terlihat empat orang berbadan besar dan tampang sangar berdiri di depan rumahku. Suara nya yang keras itu seolah mengintimidasi dan tatapannya menguliti. Ada sorot amarah dari cara mereka memandang. "Kamu Yayu? Anaknya Lupita?" Tanyanya tak sopan. Aku mengangguk. Tiba-tiba ada sedikit rasa takut pada diriku untuk sekedar menjawab 'iya'. Apa yang mereka inginkan? tanyaku dalam hati. "Kapan kau akan melunasi hutang ibumu?" Bentak salah seorang preman itu. Deg. Hutang? Kapan? Kenapa? Kata-kata itu terlontar berulang-ulang di kepalaku." Maksud anda apa? " tanyaku terbata dengan suara yang parau. Ekspresi mereka kini lebih menyeramkan. Kilatan amarah itu kini terbakar, urat nadi di pergelangan tangan mereka mulai bermunculan. "Alaah ... banyak bacot kau.Cepet bayar sekarang juga! atau rumahmu ini tak bersisa." Bentaknya memekakkan telinga. Terlihat beberapa orang berdiri di dekat rumahku melihat apa yang terjadi. Seandainya mak Ijah ada di rumah dia pasti akan membantu, pikirku. Aku merasa bingung, kapan aku berhutang, aku bahkan tidak mengenal mereka. Eh ... tapi dia tadi menyebut nama ibuku apa mungkin ibu berhutang, tapi untuk apa? Berbagai macam tanya bermunculan di kepalaku. Prang.... klontang.... brak.... Tersadar dari pikiranku. Terdengar suara gaduh di dalam rumahku. Empat orang tadi sudah tak ada di depanku. Aku berlari ke dalam rumah. Beberapa barang telah hancur, berserakan di lantai. Sementara preman itu mengacak-acak isi lemari pakaian dan semua barang dalam rumah tak terkecuali dalam kamar. "Huh.....sialan" . Umpat salah seorang preman menghentikan aksinya. Melangkah menghampiriku yang diam mematung beruraikan air mata. Aku menangis tergugu, berusaha berteriak meminta mereka menghentikan aksinya namun hanya suara isakan dan air mata yang bercucuran. Shock, masih belum bisa mencerna apapun. Kenyataan ini terlalu pahit. Belum lama ibu pergi dan kini aku dikejutkan oleh realita yang tak kalah getirnya. Sebuah tangan yang besar dan kuat mencengkram kedua pipiku yang basah." Cepat bayar hutang mu ! " perintahnya kasar. "M ... maksutmu apa?" tanyaku lemah. Suaraku tercekat, mulutku tak dapat berbicara karena cengkraman tangannya yang menguat. Berdecih, tersenyum licik. "Sialan! Hei Bodoh. Dasar kere, b******k. Jangan merasa linglung. Bayar sekarang atau nyawamu melayang!" Umpatnya memaki. Menghempaskanku ke tanah lalu memberi aba-aba pada temannya untuk berhenti dan keluar dari rumahku. Berjongkok di hadapanku menghempaskan sebuah map merah ke mukaku, hingga kertas itu beterbangan. Beranjak dari hadapanku, meninggalkanku menangis disana lalu kembali dengan berteriak keras. "INGAT! Dua hari lagi aku akan datang dan mengambil uang itu," bentaknya bersungut-sungut lalu pergi keluar. Aku masih menangis, mataku mengabur karena banyaknya air mata yang berlinang. Sesekali menyeka air mataku dan merapikan rambutku yang berantakan. Belum bisa menerima keadaan ini. Ku kumpulkan lembaran kertas yang berceceran lalu ku perhatikan, foto copy sertifikat rumah dan sawah serta perjanjian hutang itu. Tapi aku masih belum tau alasannya dan tidak tau harus bertanya pada siapa sedangkan ibuku sudah tidak ada. Tangisku semakin keras. Aku merasa lemah tak berdaya, sungguh tiada berguna. Sekolahku dan titelku tak bisa menolongku. Aku kecewa. Ibuku meninggal disaat aku wisuda, aku seorang diri dan kini hutang misterius itu menghantui ku. Aku putus harapan. Beberapa orang lari berhamburan ke padaku. Membantuku bangun dan memberiku minum. Aku masih lemah tak bertenaga, bahkan tubuhku bergetar. Terlihat beberapa tetangga membantu merapikan kekacauan di rumahku. "Yayu ... yuu ... Ini mak Ijah Yu .... " Terdengar suara lembut mak Ijah memanggilku. Akhirnya aku tersadar dengan tubuh gemetar dan tangan lemas aku memeluknya erat. Mak Ijah mengambil map yang aku pegang dengan gemetar lalu meletakkannya di atas meja. Mengelus lembut punggungku. "Kamu mandi sana gih! sudah malam, nanti mak cerita sama kamu." Aku menoleh padanya penuh tanya. Dia mengangguk padaku . Akupun pergi dari sana untuk membersihkan diri, berbagai macam tanya memenuhi kepalaku. Hutang, hutang ???? *** Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN