Yayu POV~
"Tunggu!" Kau Kanayu ya?" Panggil dr. Saino padaku. Aku tersenyum sembari menganggukkan kepalaku sedikit. Yang mendapat balasan serupa darinya.
"Iya dok Senang bertemu dengan Anda." Jawabku singkat lalu berjabat tangan sekilas.
"Aku dr. Saino." Jawabnya sambil mengangguk kemudian membuka pintu dan menyuruhku masuk. Aku masih bingung tapi tetap kuikuti perintahnya.
Kenapa aku di bawa kemari, tanyaku dalam hati.
"Silahkan duduk!" Perintahnya padaku.
Ngomong-ngomong ruangan yang kumasuki ini sangat berbeda dari sebuah rumah sakit yang biasa aku datangi, atau lebih tepatnya ini mirip dengan sebuah apartment.
Saat aku memasuki ruangan itu aku sempat kaget juga, mmm ... aku orangnya mudah tertegun sih.
Bagaimana enggak. Ruangan itu sangat luas dan terasa nyaman seperti sebuah kamar hunian.
Interiornya terlihat sangat mahal dan memiliki sofa yang empuk serta ruang tamu yang luas di lengkapi dengan dapur kamar tamu, laundry room , ruang makan bahkan terlihat ada kamar lainnya yang entah apa fungsinya. Serta aku rasa pemandangan kota Jakarta nya bisa terlihat 180 derajat dari sini .
Belum sempat aku duduk nyaman di atas sofa empuk itu tiba- tiba terdengar suara barang yang di banting lalu dr. Saino pun beranjak dari duduknya dan berlari ke dalam ruangan di balik TV layar datar super gede itu.
Sayang aku tak bisa melihat karena terhalang tembok. Tak terdengar lagi suara dari dalam dan hal itu membuatku agak rileks. Lalu pandanganku terarah pada boneka teddy bear yang terpajang di salah satu lemari di bawah TV . Aku mendekatinya lalu memandanginya sekilas.
"Begini Yu, ibumu memang pernah berhutang kepada rentenir itu dan sudah lunas waktu itu tapi kemudian pada bulan berikutnya hama menyerang sawah kita dan di perkirakan panen akan gagal ataupun bila bisa panen maka akan mengalami kerugian.
Padahal semua petani dan para pekerja tak ubahnya aku dan ibumu bekerja sekuat tenaga demi hasil panen yang bagus,tapi apa daya semuanya yampak sia-sia dan panenpun benar-benar mengalami kerugian banyak.
Mulanya kami baik-baik saja dan berusaha untuk menanam tanaman yang bisa tahan hama, kamipun memulai dan hasilnyapun lumayan baik. Hingga suatu pagi ibumu di temuka oleh warga tergeletak tak sadarkan diri di gubuk sawah.
Pada waktu dibawa kerumah kami pikir tak apa-apa. Namun dua hari kemudian ibumu tak bisa menggerakkan kakinya nduk.
Kami pun membawanya ke rumah sakit dan ibumu dinyatalan mengidap stroke ringan dan masih bisa di sembuhkan dengan rajin minum obat dan terapi.
Tentu saja harus di rawat di rumah sakit dulu beberapa hari. Namun uang tabungan ibumu sepertinya tak cukup untuk membayar biaya obat dan terapi bila berlama- lama di rumah sakit, tapi ibumu bertekat dan berkemauan untuk sembuh hingga akirnya dia memberanikan diri untuk meminjam uang pada rentenir itu.
Namun karena panen berikutnya jg gagal akirnya hutang ibumu menunggak hingga sawah serta rumahnya jadi jaminan untuk menutupi selama 4 bulan terakir. Dan ini hasil repot kesehatan ibumu. Kamu pasti bertanya kenapa ibumu tak mengabarimu, tentu saja dia tak ingin membuatmu khawatir hingga putus kuliah."Cerita Mak Ijah padaku malam itu.
Tak terasa aku menitikkan air mata. Menggenggam erat boneka Teddy Bear itu. Hingga akhirnya aku di kejutkan oleh suara deheman dalam dr. Saino.
"Ehmm.."
Aku kembali ke alam sadarku dan menemukan dr. Saino mengulurkan tissue padaku. Dengan rasa malu ku ambil tissue itu dan menyeka air mataku.
Dr. saino diam tak berkomentar menunggu aku tenang lalu memulai kata-kata nya.
"Kamu gak papa kan? Udah siap buat kerjanya."Tanyanya padaku.
Aku mengangguk. "Iya dok maaf, aku lg terbawa emosi." Terangku sambil membersit hidung, lalu tersenyum garing pada dr. Saino yang aku lupa dia nya masih di sana. Kembali membersit keras hidungku yang masih mampet hingga kemerahan. dr. Saino pun terkekeh melihat tingkahku. Aku hanya tersenyum sangat malu.
"Oh ya dok , kok saya di suruh kesini. Kan saya mau kerja di rumah sakit ?" Tanyaku penasaran. Ada sedikit rasa canggung.
"Kamu lihatkan ini juga rumah sakit?" tanyanya.
Aku tersenyum kikuk. Mengusap kedua telapak tanganku. Ada rasa tidak enak menyeruak. "Tapi ini kan bukan ruang pasien." Jawabku pelan.
"Siapa bilang? Nah. Kami menghubungimu karena kami menginginkanmu untuk menjadi dokter pribadi."
"Hah.apa gak salah? "tanyaku heran.
"Ya gak lah. Emang ujian ada salah-salah juga." Candanya senang.
Dia punya selera humor jg ternyata. Pikirku. "Maksutnya?" Masih belum paham dengan yang dia ucapkan.
Mengelus pelipisnya pelan.
"Iya kamu akan jadi dokter pribadi disini." Lanjutnya.
"Saya kan melamar untuk bekerja di rumah sakit ini dok, bukan jadi dokter pribadi, saya kan masih baru jadi saya harus mencoba banyak hal dulu dok sebelum siap jadi dokter pribadi. Saya takut tidak bisa memenuhi standar. Kalo soal dedikasi saya sangat loyal tentu saja, tapi yang saya mau kan bekerja di rumah sakit dulu sebelum bisa jadi dokter pribadi."
Dr. Saino manggut-manggut Lalu tersenyum."Come on!" Perintahnya padaku.
Aku berdiri dan berjalan di belakang mengikutinya. Kulihat seorang pasien berbaring di ranjang pasien dengan selang infus di tangan kanannya dan kaki kanannya dibalut dengan gif serta kepalanya dan kaki kirinya yang di perban. Alat pendeteksi jantung dan peralatan lainnya berjajar lengkap di samping ranjangnya. Dia sepertinya tertidur.Batinku bersuara. Wajahnya sepertinya sangat familiar, namun aku masih belum tau siapa dia karena dia tertidur dengan perban di kepalanya dan beberapa perban di dagu dan pipinya
.
"Saya kasih obat tidur dia, kamu tadi dengar sendiri kan?" Bisik dokter saino menjawab pertanyaan batinku.Aku hanya menganggukkan kepalaku tanda mengerti.
"Nah dia adalah tanggung jawabmu mulai saat ini. Tidak usah khawatir kami semua percaya padamu. Dan satu lagi kamu harus mau menjaganya 24 jam dan tinggal di tempat ini, menempati kamar itu." Dia tersenyum padaku, sambil menunjuk ruangan yang dia maksud.
Aku mengernyitkan dahì ku. "Pekerjaan ini yang kami tawarkan untuk mu, kalau kamu menolak, tidak ada pekerjaan lain di rumah sakit ini untukmu, meskipun kau lulusan terbaik tahun ini." Jawabnya meneruskan.
Aku tersentak kaget. Bagaimana dia tau aku lulusan terbaik tahun ini. Ya ampun ... jangan pikun donk, kamu kan juga pernah ngajuin magang disini. kata hatiku menimpali. Dan berbagai pemikiran lain muncul di kepalaku. Aku ingin bekerja di rumah sakit untuk membantu banyak orang bukan disini. Dan aku juga ingin bisa bekerja untuk melunasi hutang ku. Aku tidak mau jadi dokter pribadi dan tinggal disini. Tapi bagaimana dengan hutangku bila aku tak menerima tawarannya. Aku mengeram frustasi.
"Sampai kapan? "Tanyaku memberanikan diri.
"Sampai dia pulih dan berjalan kembali. Tak tau berapa lama, dan itu PR untukmu! karena dia sendiri sepertinya tak punya semangat untuk itu,"ucapnya dengan nada sedih.
Aku mengangguk mengerti. "Bisakah saya memikirkannya lagi?"
"Baiklah, kembalilah besok kesini dan bawalah semua barangmu bila kau menerima tawaran itu. Jam 9 langsung saja naik kesini!" Perintahnya.
"Baik dok, kalo gitu apa boleh saya keluar sekarang?"
Dia mengangguk. Aku tersenyum dan berterimakasih padanya , lalu berjalan menuju pintu utama dan meninggalkan kamar itu.
Masih tertunduk aku menekan tombol lift turun lalu memasuki kotak persegi panjang itu. Menekan tombol G.
****
Ting.
Pintu lift terbuka tepat di lantai G. Yayu melangkahkan kakinya meninggalkan lift. Melewati lobby rumah sakit dan keluar lewat pintu utama, dia membalikkan badannya, mencoba mengamati keindahan dan kemegahan rumah sakit itu sekali lagi. Dia memutuskan dia tak akan bekerja disana dan kembali lagi ke rumah sakit ini. Dia harus melupakan sejenak mimpinya sebagai dokter dan menolong orang lain karwna untuk saat ini dia dan keluarganya yang utama, dia harus mencari dua atau tiga pekerjaan dengan gaji lumayan tinggi untuk melunasi hutang. Jika dia bekerja disini selama 24 jam tentu dia tak akan bisa mencari pekerjaan paruh waktu.
Merasa puas memandang dia berjalan menuju tempat kos-kosannya. Ketika hendak menyeberang trotoar di sebelah rumah sakit tiba-tiba dia di kejutkan oleh sebuah mobil van hitam berhenti mendadak di depan nya.
Yayu mematung, belum menyadari keadaan. Lalu muncul tiga orang pria keluar dari mobil itu, kemudian membekap dan menariknya ke dalam mobil. Belum sempat dia berteriak mulutnya sudah tersumpal oleh tangan kekar itu. Yayu berusaha memberontak dan meminta tolong namun sia-sia mengingat ke-3 orang itu bertubuh besar dan kuat. Di bukanya pintu samping mobil lalu di lemparkan tubuhnya ke dalam mobil itu dan di tutupnya lagi, kemudian mereka membawa mobil itu pergi. Sepertinya tak ada orang yang memperhatikan tindakan mereka , karena kebetulan suasana trotoar siang itu sangat sepi.
Sementara Yayu terjatuh di bawah kaki seseorang, yang kemudian mencengkram lengannya dengan kuat dan membantunya duduk. Masih menggenggam ke dua lengannya." Kalian seharusnya lebih lembut memperlakukan wanita !" Katanya dengan seringaian dan cengkraman yang lebih kuat. Sementara Yayu hanya bisa mengeram menahan sakit di lengannya.
"Bangun!" Serunya dengan nada mengintimidasi. Yayu mendongakkan kepalanya dan menatap wajah orang yang mencengkramnya itu, lelaki itu berusaha tersenyum lembut padanya, namun lebih terlihat menjijikkan. Yayu melihat seseorang duduk di belakangnya, matanya melotot mengisyaratkan Yayu mengenal laki-laki itu, ya ... dia adalah salah satu preman yang mendatangi rumahnya waktu itu. Yayu mulai merasa gelisah, takut, dan gemetar. Ditahannya rasa takutnya dengan mengeratkan giginya dan mengeraskan rahangnya. Ditatapnya dua orang bertubuh besar itu dengan berani.
Kedua preman itu menyeringai menunjukkan raut wajah senang, mendapati buruannya yang menantang dan melakukan perlawanan. Di jambaknya rambut Yayu dia dekatkan wajahnya dengan telinga Yayu lalu menghirup aroma tubuhnya dengan liar. Tubuh Yayu menegang tidak terima dengan semua perlakuan laki-laki itu, namun dia tak bisa melawan. Di hempaskan tubuh Yayu ke samping hingga terantuk pinggiran kursi.
Mulutnya terasa anyir, darah segar mengalir di sudut bibirnya, sementara kepalanya berdenyut dan nafasnya memburu, Yayu merasa lelah dan kesakitan. Dia menahan emosi dan gejolaknya untuk tidak membalas, dia tau hal itu tidak membawanya pada kebaikan. Bahkan kini dia bisa saja terbunuh, tubuhnya merasa lemas dan ketakutan.
Seperti belum puas menyiksa dan mengintimidasi, lelaki itu menjambak rambut Yayu dan menariknya mendekatinya. Menyeringai." Kau ingat waktumu tinggal 10 hari lagi? Jangan coba-coba melapor polisi atau semùa milikmu akan hancur dan kau akan MATI!" Ucapnya penuh penekanan yang dalam dan tatapan menghujam.
Yayu hanya bisa menatap pasrah, mengingat dia telah lelah dan kehabisan tenaga. Sepuluh hari, sepuluh hari, sepuluh hari. Kata-kata itu terus bersahut-sahutan di benaknya. Seiring kepalanya yang semakin berdenyut dan kesakitan.
"Aku akan datang lagi dalam 10 hari, jika kau tak memberikan uangnya ...." menghentikan ucapannya lalu memandangi Yayu dari ujung kaki ke ujung kepala. Menelan ludahnya. "Kau akan kubawa pulang dan kujadikan jalang, sebagai penghangat tubuhku di ranjang." Kembali tersenyum tanpa Yayu tau artinya lalu sebuah benda tumpul mengenai tengkuknya dan kegelapan menghantamnya .
Yayu tersadar ketika dia tau bahwa dirinya kini berada di UGD rumah sakit.
***
Bersambung....