Yayu merasakan kepalanya begitu berat, tenggorokannya kering dan tubuhnya tak bertenaga. Dia siuman, dan hal pertama yang dia ingat adalah sekelompok orang berbadan tegap yang membawanya ke dalam sebuah mobil lalu memperlakukan dirinya dengan kasar.
Dia terjengkit kaget, spontan membawa tubuhnya yang lemah untuk duduk lalu berusaha mengamati keberadaannya. Memijit pelipisnya dan mendapati perban di tempel disana. Dia merasa sedikit lega dirinya berada di dalam rumah sakit, berarti dia dalam keadaan aman.
Seorang dokter jaga menghampirinya dan memeriksa keadaannya. Mata Yayu berbinar mendapati Chaca, kini memeriksanya dengan salah seorang dokter senior disana.
"Apakah anda merasa lebih baik?" Tanya Chaca dengan nada begitu khawatir, dengan kata yang sopan dan terkesan profesional.
Yayu mengangguk. Chaca tersenyum lebar pada Yayu. "Anda tidak usah khawatir, tidak ada luka serius pada diri Anda, dan apabila Anda merasa lebih baik, Anda diperkenankan untuk pulang." Lanjut Chaca dengan nada profesional, setelah selesai memeriksa keadaan Yayu.Di ikuti oleh sebuah anggukan dari seorang dokter senior di belakang Chaca.
Yayu mengangguk sekali lagi. "Terimakasih dok," ucapnya singkat.
Kemudian dokter itu pergi meninggalkan Yayu. Chaca mendekati Yayu setelah berbicara sebentar dengan dokter senior tadi.
"Yayu ...." teriaknya keras, lalu mendekap tubuh Yayu dan memeluknya dengan erat, seolah mereka sudah berpisah sangat lama." Aku kangen banget sama kamu. Kamu baik-baik aja kan? Trus kamu sekarang tinggal dimana, bagaimana ceritanya kamu bisa pingsan di pinggir jalan? Trus ...." Tanyanya beruntun. Namun yayu berhasil menghentikannya sebelum mengganggu pasien lain.
"Aku juga kangeeennn banget sama kamu tau?" Jawab Yayu dengan bibir di kerucutkan. Keduanya lalu tertawa senang.
Chaca memang pergi ke Singapura dua hari setelah acara wisuda dan sempat mendapat kabar tentang kematian ibu Yayu, dia pun sempat bertukar WA dan telpon dengan Yayu, namun Chaca belum tau cerita detailnya. Dia meminta maaf tidak bisa hadir dalam acara pemakaman ibu Yayu, diapun merasa bersalah tidak bisa menemani sahabatnya di saat terburuknya, karena dia sendiri juga harus mengurusi masalah keluarganya.
Melihat suasana disekitar yang begitu tenang. "Hussst ...." sambil meletakkan jari telunjuk di bibirnya, Yayu mencoba menenangkan Chaca yang begitu antusias seakan lupa dirinya sedang berada di UGD. Yang di balas dengan bibir Chaca yang mengerucut kecil dan bahunya yang terangkat.
Yayu sebenarnya tak kalah antusias untuk mendengar cerita sahabatnya itu. Lama tak terdengar kabar, sepertinya Chaca terlihat lebih kurus, atau mungkin karena pekerjaannya sehingga membuat dia tampak sedikit tak terawat. "Kapan kamu punya waktu? Telpon saja aku, kita ketemuan di cafe biasa, biar kita bisa cerita lebih leluasa," usul Yayu pada Chaca.
Chaca mengangguk dan menatap sahabatnya itu dengan penuh iba. "Okay." Jawabnya singkat.
"Siip ... kamu istirahat dulu ya. Makan ini! aku tadi beli di kantin, pasti kamu belum makan kan?" perintahnya dengan penuh kekhawatiran. "Aku tadi sudah makan pas istirahat." Lanjutnya kemudian.Chaca tau kalo sahabatnya itu bisa sampai lupa makan dan istirahat bila dia sedang menghadapi masalah.
"Makasih Cha, you're the best." Dengan mengacungkan jempolnya pada Chaca, sementara Chaca membalasnya dengan kerlingan satu matanya. Lalu melenggang pergi melanjutkan kerjanya.
Selepas kepergian Chaca, Yayu mengambil air mineral di kantong plastik itu lalu menegaknya hingga setengah botol, kemudian mulai memakan makan siang dari Chaca. Selesai makan Yayu kembali merebahkan tubuhnya di ranjang pasien UGD lalu mencoba menutup matanya untuk tidur tapi tidak bisa, dia terus memikirkan dari mana dia akan mendapat uang sebanyak itu dalam waktu 10 hari. Mungkinkah sebuah keajaiban akan terjadi dan menolongnya. Monolognya dalam hati.
****
Yayu POV~
Aku melihat pantulan diriku pada cermin buram yang menempel pada pintu lemari kamarku. Memastikan pakaianku sudah rapi. Aku mengenakan celana jeans yang sudah agak memudar warnanya dengan setelan kaos putih polos.
Malam ini aku akan bekerja pada salah satu bar malam yang letaknya 15 menit jalan kaki dari tempat kos ku, mbak Tuti yang mengajakku karena kebetulan temannya sedang cuti dan di barnya kekurangan pekerja.
Bar mulai beroperasi jam 9 malam. Mbak Tuti mengajakku berangkat bareng jam 7 malam. Katanya biar tidak buru-buru dan bisa mengenalkanku pada menejer bar itu.
Aku mengiyakan saja. Aku cuma akan bekerja selama 5 hari menggantikan teman mbak Tuti yang sedang cuti.Dia bilang penghasilannya lumayan karena tips nya bisa buat kita sendiri yang penting pandai-pandai tersenyum biar para pelanggan itu senang.
Dan yang terpenting disana aku hanya akan menjadi pelayan, ya ... yang menyajikan minuman atau makanan ringan yang para pelanggan pesan atau membersihkan meja yang sudah kosong.Tidak ada melayani tamu dengan maksud lain, bukan pemuas nafsu pengunjung.
Mulanya aku menolak karena aku gak mau bekerja di tempat itu. Selain menakutkan mungkin akan ada banyak laki-laki hidung belang yang akan menggoda atau melecehkan kita. Namun mbak Astuti meyakinkanku kalau di tempat kerjanya itu aman dan para pelanggannya juga terbilang ramah dan sopan.
Aku pun akhirnya setuju dan mengiyakan karena uang ku sudah sangat menipis di tambah aku belum mendapat pekerjaan lain yang bisa membantuku bertahan hidup dan untuk membayar hutang ku. Tak apalah bekerja di bar toh aku bukan menjadi jalang.
Tes.
Air mataku menetes. Mengingat ibuku, dia pasti akan kecewa melihat aku bekerja di tempat itu. Maaf bu,tak ada pilihan lain buatku ini hanya sementara dan aku janji akan menjaga diriku dengan baik. Ratapku dalam hati.
Sepulang dari rumah sakit sore tadi, aku bertemu dengan mbak Astuti, yang biasa disapa Tuti di teras depan, lalu kami mengobrol dan akupun bercerita padanya kalau aku sedang butuh pekerjaan. Dan dari situlah mbak Tuti menawarkanku pekerjaan sementara itu. Walaupun sebenarnya di bagian dapur juga sedang memerlukan seorang karyawan, namun mbak Tuti menyarankanku untuk mencoba bekerja sebagai pelayan itu. Lumayan katanya.
Mbak Tuti itu orang yang baik, dia sudah berada di Jakarta selama 8 tahun. Dia bekerja di sini untuk membantu perekonomian keluarga, menghidupi ibunya yang sudah tua serta mengidap sakit asma dan menyekolahkan adiknya yang sudah SMP. Dia sendiri sampai lupa untuk mengurus dirinya hingga dia berusia 28 tahun belum memiliki keinginan untuk menikah.
Dia orangnya ramah walaupun agak galak dan keras. Mungkin karena dia merupakan anak pertama dan sudah menjadi tulang punggung keluarga sejak ayahnya meninggal 10 tahun yang lalu, saat dia SMA. Aku sangat salut padanya karena dia wanita yang cantik dan tegar.
Saat pertama kali bertemu dengan nya pun aku sudah suka pada nya. Karena aku juga merasa terlindungi di dekatnya. Meski dia bekerja di bar, tapi setauku tak pernah bersikap nakal atau urakan , bahkan dia juga mengajariku untuk selalu lebih kuat dan jangan putus harapan.
Katanya sesusah apapun kita saat ini ada kalanya kita akan senang dan mendapat kebahagiaan. Karena roda itu terus berputar dan tak mungkin akan selamanya kita berada di bawah. Dan jika kita berbuat baik tentu saja kebaikan itu sendiri nantinya akan kita dapatkan.
Aku menuruni tangga kamar kos ku lalu menyapa mbak Tuti yang sudah berdiri di ambang pintu utama menungguku. Dia tersenyum manis padaku. Rok panjang hitam dan kaos hitam yang dimasukkan ke dalam rok serta jaket denim hitamnya terlihat serasi dengan Rambut lurusnya yang di ikat ekor kuda. Dia tampak anggun tapi juga rapi dan tegas.
"Bagaimana, sudah siap?" tanyanya padaku.
"Iya mbak, siip." Jawabku dengan senyum sumringah.
"Oh ya Yu, nanti kamu gak usah terlalu tegang, santai aja! Tapi ingat kalo ada yang mulai bersikap tidak baik, kamu tinggal pergi aja, tapi kalo dia tetap keterlaluan jangan segan-segan menonjoknya." Serunya dengan nada penuh arti dan tangan yang dia kepal menonjok angin di depannya.
"Okey mbak." Jawabku sembari menirukan gaya tinjunya. Dan kamipun tertawa bersama.
Kami berjalan beriringan, melewati keramaian dan kesibukan kota Jakarta. Tempat kos ku terbilang sangat strategis karena terletak di tengah kota. Dekat dengan kampus ku dulu, rumah sakit, pasar , swalayan, mall dan juga hiburan malamnya kota Jakarta .
Hanya perlu berjalan 15 menit dari tempat kos-kosan ku sudah bisa mendapat kan pemandangan lain dari kota Jakarta di malam hari. Tempat kos ku terbilang mahal di banding tempat kos lain karena letaknya yang strategis. Tapi aku lebih memilih bermukim disana selama kuliah. Menurutku akan lebih menghemat biaya trasport dan juga waktu. Tempatnya juga terbilang aman serta pemiliknya lumayan ramah, galak juga sih kalo saat menagih uang sewa, maklum saja.
Tidak banyak yang aku obrolkan dengan mbak Tuti. Karena tak butuh waktu lama kami sudah sampai di tempat kerja. Aku pun di kenalkan dengan manager mbak Tuti.
"Selamat malam pak Rudi? "sapa mbak Tuti pada manajernya itu.
"Asti selamat malam." jawabnya , kemudian mengalihkan pandangannya padaku. Sekedar informasi nama mbak Tuti adalah Asti di bar itu. Dan semua pelayan menggunakan nama samaran, itu adalah aturan.
"Ini temanku pak, namanya Yayu dia sedang butuh pekerjaan, dan saya rasa bapak akan menerimanya kerja karena Yunita sedang cuti dan kita memerlukan banyak tenaga. Dia rajin kok pak anaknya, cepet belajar juga," ujar mbak Tuti menanggapi pertanyaan managernya, dengan ekspresi memelasnya.
Terlihat berpikir sejenak. "Okay, gak masalah. Kamu bisa ajari dia kan?" jawabnya singkat yang dibalas senyum merekah dari mbak Tuti.
"Siap pak." jawab mbak Tuti singkat.
Mengulurkan tangannya padaku. "Selamat bekerja." Kuraih uluran tangannya. "Terimakasih pak, saya akan bekerja dengan sebaik-baiknya." jawabku singkat.
Kamipun mulai berkutat dengan pekerjaan kami, setelah berganti baju mbak Tuti mengajariku dan memberi tahuku apa saja yang harus aku kerjakan. Setelah dia merasa aku cukup paham dengan penjelasannya, aku dibiarkan sendiri dengan pekerjaan ku. Bila tak mengerti atau ada kesulitan dia menyarankan untuk jangan malu bertanya pada karyawan lain yang tadi sudah saling kenalan dengan ku.
Sekarang sudah jam 3 subuh, aku dan mbak Tuti berjalan pulang dengan penuh rasa capek dan badan pegal, aku ingin segera tiba di kamar lalu tidur. Kantuk ku sudah tak tertahan, bahkan aku sudah menguap beberapa kali. Kami berpisah di pintu kamar masing-masing lalu masuk dan mengistirahatkan badan tanpa peduli untuk sekedar cuci muka. Aku menjatuhkan diri di atas kasur lalu mengecek ponsel ku, mendapati pesan WA dari Chaca.
Chaca
Yayu, besok kita jalan ke cafe ya! Aku besok libur. Love
Aku tersenyum lalu membalas pesannya.
Me
Ok. Cafe biasa besok jam 1 siang. Love
Kutatap langit-langit kamar kos ku. Pikiranku menerawang, tiba-tiba aku teringat dengan ancaman preman pagi tadi. Ku pegang keningku yang masih terasa nyeri bila di tekan, yang perban lukanya telah aku ganti dengan band aid persegi empat.
Aku harus segera istirahat karena besok aku berencana akan pergi ke tempat hiburan 'MISS MERMAID' sebuah taman hiburan laut yang sedang membutuhkan karyawan untuk wahana baru mereka. Aku begitu antusias setelah melihat info lowongan itu di medsos, karena aku suka sekali dengan laut dan pantai ataupun taman hiburan laut. Semoga aku bisa di terima dan siangnya aku bisa bertemu dengan Chaca melepas kangen.
Kumiringkan tubuh lelahku menatap tas selempang hitamku yang menampakkan uang kerja ku dan tips yang ku peroleh hari ini. Alhamdulillah ucapku dalam hati. Lumayan. Hari pertamaku berjalan lancar soal pekerjaan bisa aku handle dengan baik, meski aku harus kena marah dan hampir saja kena tampar oleh seorang pacar atau sugar baby lebih tepatnya kata mbak Tuti, dari customer di bar itu yang salah paham. Hiii ... aku bergidik ngeri. Aku mendesah pelan lalu memejamkan mataku, menanti pagi yang indah datang cepat menjemputku.
Ring ... rinnggg ... rinnnggggg ....
Ya Allah aku telat ...
***
Bersambung...