Ring ... ringgg ... ringggg ....
Suara alarm pagi berbunyi. Yayu terbangun dari tidurnya dengan buru-buru dia pergi ke kamar mandi lalu membasuh muka dan menggosok gigi. Mengganti kaos dan celananya dengan. Sebuah baju blouse dan rok selutut . Dia tak mempedulikan riasannya, dia hanya mengoleskan krim pelembab wajah dan lips gloss pada bibirnya, dia sudah telat dan kehabisan waktu.
Selesai bebenah dia mengambil tas selempang hitamnya, mencabut ponsel dari pengisi daya lalu memasukkan dompet dan kunci pintu ke dalam tas kecil itu, menyisir rambutnya dengan tangan lalu mengambil selembar roti tawar tanpa olesan. Dia gigit bagian pinggirnya sambil menalikan sepatunya , kemudian mengambil botol air mineralnya dan berlari kecil keluar tempat kos-kosan nya. Mengunci pintunya dan meletakkan di tempat biasa dia letakkan.
"Ya Allah... aku telat." gumamnya lirih.
Buru-buru dia berlari maraton menuju halte bus berharap bus dan angkutan lainnya bisa cepet datang. Sialnya dia harus kecewa. Bus yang dia tunggu baru tiba setelah 25 menit. Sebuah penantian yang lama, dan terasa lebih lama karena dia sedang terburu-buru. Belum lagi di tambah suasana bus yang berdesakan menambah jengkel hati Yayu, dia berusaha tenang dan menghela napas yang dalam dan berat.
Yayu berjalan gontai keluar dari kantor 'MISS MERMAID'. Sengatan matahari yang menerpa kulit nya tak dia hiraukan. Dia mendudukkan diri pada bangku kosong di sebuah taman dekat wahana bermain itu. Pikirannya menerawang jauh. Beberapa kali dia terlihat menggosok telapak tangannya dengan kuat, seolah menyalurkan rasa frustasinya, satu lowongan pekerjaan telah dia lewatkan.
Helaan napas yang berat dan dalam beberapa kali kembali terdengar dari mulutnya. Dia ingin menangis, menumpahkan segala keluh kesahnya, tapi pada siapa? Dia teringat ibunya kemudian ayahnya, seandainya saja mereka masih ada tentu kehidupan yang sulit ini akan terasa lebih mudah. Dia melihat layar ponsel yang dia pegang, pukul 10 pagi, masih ada 2 jam sebelum acara makan siang nya dengan Chaca. Dia membuka botol air minum yang tadi dia bawa lalu menenggak habis isinya,lantas berdiri dari duduknya berjalan menuju halte bus.
***
"Yayu ...?" Sapaan sebuah suara yang tak asing di telinganya, sesaat dia turun dari dalam bus tepat di samping cafe langganan Chaca.
"Mbak Tuti, kok bisa ada disini?Kebetulan banget." Sebuah senyum terpampang di kedua sudut bibir Yayu. Yang di balas dengan sebuah senyum yang tak kalah manis.
"Mau makan ya?"
"Iya mbak, mbak sudah makan belum? Gabung ama aku aja yuk! disini kan?" tawarnya, sembari menunjuk sebuah bangunan cafe dengan nama Melody di belakang mereka.
"Iya, ini kan udah jam 12 lewat, sudah waktunya minta diisi. Tapi, gak usah dech makasih aku cuma mau ketemu sama temen lama aja. Duh ... itu kaki mu kenapa bisa lecet trus di plaster kayak gitu? Trus sama tanganmu kenapa bisa luka kayak gitu?"
"Owwh ... ini mbak biasa jatuh."Kata Yayu sedikit berbohong.
"Lain kali hati-hati Yu! Kasihan tau gak tubuhmu itu, penuh luka dimana-mana." Nasehatnya pada Yayu. Yang di balas dengan cengiran ringannya.
" Ya mbak, makasih perhatiannya .... udah ya kita masuk bareng aja yuk!" ajak Yayu dengan senang.
"Beneran tu lukanya gak apa-apa?Jangan lupa ya nanti malam jam 7 kita ke bar lo, kamu bisa kerja kayak gitu?" ucapnya pada Yayu mengingatkan, sembari mengedarkan pandangannya meneliti kaki dan tangan yayu yang di balut plaster itu.
"Iya, beres. Bisa mbak, tenang aja ya. Aku kuat kok," jawabnya singkat. Sambil mengangguk penuh keyakinan dan memukul ringan lengannya.
Merekapun berjalan bersama menuju cafe Melody dengan sesekali Yayu harus menahan rasa perih di luka barunya itu.
Flasback On
2 jam yang lalu
Sret ....
Yayu tersentak kaget, hingga dirinya terhuyung ke depan dan kakinya tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya, serta merta dia harus merelakan salah satu lututnya mendarat secara tidak manis pada paving di pinggir jalan yang terasa panas karena sengatan matahari pagi itu.
Sebuah tangan kecil yang panjang menyambar tas selempang yayu. Kemudian tubuh jangkung nya berlari dengan kencang, melompat melewati pagar tanaman pembatas taman.
Yayu yang baru menyadari tas nya telah di jambret, dengan sigap dia berdiri, mengibaskan pasir yang menempel pada lutut dan sikunya, kemudian mengayunkan kakinya dengan kecepatan penuh memburu penjambret itu. Dia berteriak meminta tolong dengan lantang, meneriakkan,"Jambret ....." Sambil berlari memburunya.
"WOOOI ... JAMBRETT ... BERHENTI!!!"
Suara Yayu berkoar-koar memekakkan telinga. Namun, sepertinya orang-orang di sekitar Yayu sedang tuli atau minimal mengalami masalah pendengaran, hingga tak ada satupun dari mereka yang membantunya, semua orang terlihat sibuk berkutat dengan layar ponsel yang ada di tangannya.
Dia terus berlari meskipun dia tau dirinya kalah cepat. Jarak mereka tinggal 100 meter, Yayu semakin mempercepat larinya, mengepalkan tangan kirinya kuat-kuat, dan berusaha melemparkan botol plastiknya yang sudah tak berisi.
Ketika jarak mereka semakin dekat Yayu melemparkan botol kosong itu namun tak sampai mengenai penjambret tadi. Botol itu jatuh ketanah lalu menggelinding ke arah Yayu.
Sebuah motor matic melaju dengan kencang lalu mengerem mendadak dan berhenti di sebelah penjambret itu, menyuruhnya naik kemudian keduanya tersenyum miring pada Yayu, sebelum akirnya mereka melajukan motor maticnya meninggalkan Yayu yang berdiri terpaku disana.
Bugh ...
Lagi. Yayu harus merelakan lututnya berciuman dengan paving yang panas itu, dia lupa, ketika dia hendak berjalan dia menginjak botol plastik nya tadi lalu tergelincir. Lututnya yang tadi sudah lecet kini semakin berdarah dan sikunya terasa nyeri. Dia menyibakkan rambutnya yang menjuntai menghalangi arah pandangan. Sambil duduk dan menyelonjorkan kakinya diapun termenung, merasa panas, capek, dan lapar, lowongan kerja itu tak dia dapatkan di tambah dompet dan uang hasil kerjanya semalam telah raib di jambret orang.
Kesialan sepertinya sangat senang menemaninya akhir-akhir ini. Untung KTP, ponsel dan sedikit uang nya dia simpan di dalam saku rok selututnya, yang memiliki saku besar dan dalam. Jadi dia masih bisa pulang naik bus dan makan siang bareng Chaca. Pikirnya dalam hati.
Yayu duduk sejenak disana. Mengamati keadaan disekitarnya. Tak ada yang memperdulikannya meskipun banyak orang berlalu lalang, mereka sibuk dengan dunia mereka sendiri hingga lupa pada sekitarnya. Yayu menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan, untuk menetralisir kemarahannya.
Blizt ... blizt ... snap ... snap ...
Pantulan cahaya sebuah kamera tertangkap oleh retina matanya. Dia mendongakkan kepalanya mencoba mencari asal cahaya itu. Tapi dia tidak menemukannya.
Yayu hanya menemukan sebuah mobil SUV Land Rover hitam terparkir di tepi jalan di bawah pohon yang rindang tak jauh dari tempatnya terjengkang, menggelengkan kepalanya perlahan, mencoba mengenyahkan pikirannya. Mungkin hanya perasaannya saja ada orang yang memotret nya.
Dia bangun dari duduknya, mengambil ikat rambut warna hitam di pergelangan tangannya, berjalan tertatih menuju mobil SUV cantik itu. Mengamatinya sejenak sepertinya tak ada orang di dalam mobil itu, kacanya terlihat gelap dari luar jadi dia tak bisa melihat di dalamnya ada apa saja.
Seandainya aku bisa membeli mobil seperti ini dan mengajak ibu keliling kota, duh .... bahagianya. Batinnya berbicara.
Satu bulir bening menetes di pipinya yang terbakar sengatan matahari.Dia segera menyekanya dengan punggung tangannya, takut diketahui orang lain.
Dia lebih mendekat dan merapatkan diri pada mobil SUV itu lalu mulai menyisir rambutnya dengan tangan dan menguncirnya buntut kuda. Menatap lekat pada spion lalu membenarkan wajahnya yang sudah lusuh dan kusam itu.
Setelah dia rasa cukup, dia beranjak dari tempat itu , mengucapkan terima kasih pada mobil mewah tak berpenghuni itu. Diapun melangkah menuju halte bus untuk menemui sahabat nya Chaca.
Flasback off
Rertttttttt ...
Tringg ...tring ... tringggg ... klingggg ....
Suara pintu otomatis cafe Melody terbuka, disusul suara gemerincing lonceng angin yang menggema diterpa semilir angin yang masuk dari luar.
Sesaat Yayu dan Tuti berada di depan pintu utama Cafe Melody. "Aw." Terdengar suara Tuti yang mengaduh ketika tubuhnya bertabrakan dengan sebuah d**a bidang yang menguarkan bau maskulin yang tercium oleh hidungnya.
Tuti masih mematung belum berani mendongakkan kepalanya. Sebuah gelenyar aneh dia rasakan. Sedangkan d**a bidang itu dengan reflek yang cepat mundur kebelakang, menggumamkan kata 'maafnya'.
Dan Yayu yang baru saja menatap lututnya yang terluka itu spontan mendongak mencari penyebab Tuti mengaduh. Di dapatinya sebuah wajah ganteng yang dia temui kemaren, gigi putihnya yang terpampang rapi dia pamerkan dengan begitu saja sambil sedikit kaget.
"Dokter." Keduanya bersuara secara bebarengan. Yang kemudian saling mengangguk dan menyapa, membuat Tuti yang tadinya tak berani menatap karena grogi dan rasa deg-degan yang baru dia terima tadi kini menoleh, melihat interaksi diantara keduanya.
Merasa mereka sudah saling kenal, Tuti menatap Yayu dengan intens sebelum akhirnya Yayu menyadari tatapan itu.
"Och iya , maaf dok ini kenalin temen saya mbak Tuti." ucapnya memperkenalkan Tuti pada dr. Saino. Keduanya saling pandang dan menjabat tangan yang berakhir dengan saling meminta maaf. Dokter saino meminta waktu sebentar pada Yayu dan Tuti melanjutkan niatnya menuju ke dalam cafe.
Memandangi sejenak luka pada lutut dan siku Yayu, dr. Saino memulai pembicaraan mereka. "Loch dok itu lutut sama siku nya gak pa-pa?"
Menggelengkan kepalanya."Och ini, gak pa-pa kok dok, cuma tadi kepleset aja."
"Kenapa tadi pagi gak datang ? Apa bener gak butuh kerjanya?"
Tersenyum sumbang. "Maaf dok saya belum bisa, saya masih ada tanggungan," jawabnya pelan, sontak membuat dr. ganteng itu bertanya-tanya.
" Terima kasih banyak untuk tawarannya."
"Okey, gak masalah, kami menawarkan karena kami percaya pada kemampuanmu, itu saja. Jadi kamu gak perlu khawatir," jawabnya menjelaskan.
"Oh ya ini kartu nama saya, kalau kamu berubah pikiran kamu bisa langsung hubungi saya atau, kamu bisa datang langsung ke lantai 20, kapanpun." Lanjutnya sembari menyerahkan kartu namanya pada Yayu.
"Baik dok terimakasih," ucapnya singkat.
"Dokter suka makan bolu pisang juga ya?" tanyanya kemudian setelah melihat dokter ganteng itu menenteng sebuah plastik trasparan dengan sebuah kotak bertuliskan bolu pisang di dalamnya.
Di cafe Melody memang terkenal bolu pisangnya yang sangat enak. Jadi tak heran banyak pelanggannya sampai dokter ganteng inipun terpikat pada kenikmatan rasanya.
"Iya nich lagi pengen, trus kebetulan lewat daerah sini. Dah lama gak njajan disini karena sibuk dengan pasien baruku itu sejak sebulan yang lalu. Okey lah aku pergi dulu takut kelamaan." terangnya singkat sedikit berbohong, yang di balas dengan anggukan oleh yayu." Take care ya dok, jangan lupa tu lukanya di rawat biar gak infeksi," tuturnya kemudian, seolah-olah sebuah perintah yang harus dituruti.
"Terima kasih," jawabnya dengan mengulum sebuah senyum simpul yang sangat manis, membuat seseorang di dalam mobil keren SUV Land Rover hitam yang terparkir di depan cafe Melody seperti terhipnotis.
Dokter Saino melangkahkan kaki meninggalkan Yayu di depan cafe, menuju ke mobil keren itu. Yayu memperhatikan dengan seksama, dan dia merasa seperti pernah melihat mobil itu. Tapi dia lupa dimana, mengerutkan sedikit alisnya, kemudian kembali melenggang masuk ke dalam cafe menemui Chaca.
***
Bersambung...