Chapter 10 : Finally Part 2

1011 Kata
“Terserah apa katamu, tetapi aku berhenti berurusan denganmu mulai detik ini sebelum semuanya bertambah rumit untukku. Bye, Clara,” ucap pria itu sambil berjalan menuju pintu keluar dan pergi meninggalkan Clara yang sedang emosi sendirian. Clara yang patah hati karena ditinggal oleh kekasih gelapnya menjadi sangat emosi dan saat kemarahannya semakin memuncak, dia melempar barang ke segala arah, sehingga penampakan di dalam rumah menjadi semakin kacau. Wanita itu merasa dikhianati dan dibuang setelah semua yang dia lakukan untuk Drake. Kini, dia merasa nasibnya bagai telur di ujung tanduk. Jika Alfred sampai mengetahui perselingkuhan ini, maka nasibnya sudah dapat dipastikan tamat. Dia berjalan ke sana ke mari dengan gelisah, tubuhnya menggigil dan pikirannya sangat kacau. Malam itu, dia bahkan menjadi tidak tenang dan tubuhnya seakan tidak mau beristirahat barang sejenak, sehingga Clara terjaga hingga pagi datang. Keesokan paginya, Bibi May membangunkan Aaron dan Emily lebih awal. Keduanya dengan patuh bangun dan langsung berjalan menuju ke kamar mandi. Sementara, Aaron masuk terlebih dulu ke dalam kamar mandi, Emily menunggu dengan sabar di dalam kamar. Ia menyiapkan semua pakaian dan keperluan untuk Aaron dan dirinya. Bibi May mengawasi gadis itu dari jauh, seketika hatinya merasa bangga sebab anak itu sangat dewasa. Hal itu semakin menguatkan tekad Bibi May untuk mengasuh Emily sehingga gadis itu bisa lepas dari cengkeraman Clara yang berkarakter tidak baik. Tibalah giliran gadis itu masuk ke dalam kamar mandi. Ketika Aaron berjalan menuju tas bawaannya, dia melihat jika pakaian bersih telah tersedia di atas tempat tidur. Seulas senyum tersungging di bibirnya yang tipis, dia merasa bangga memiliki adik seperti Emily. Setelah keduanya selesai mandi dan berpakaian, lalu mereka mengambil tas sekolah mereka dan keluar dari kamar tidur, kemudian mereka duduk di ruang keluarga menunggu arahan dari Bibi May. “Anak-anak, kita sarapan bersama sambil menungggu Daddy kalian datang. Ayo kita ke meja makan,” ajaknya lembut. “Baik, Bibi May.” Keduanya dengan patuh mengikuti Bibi May ke meja makan. Dilihatnya meja makan telah terisi penuh oleh makanan. Pagi itu, Bibi May membuatkan mereka omelette, roti bakar dan juice orange untuk keduanya. Lalu, Bibi May juga membawakan mereka roti burger untuk bekal mereka selama di sekolah nanti. Saat tengah menikmati makan pagi, tiba-tiba bel pintu berbunyi. Ting tong ... ting tong “Oke, tunggu sebentar,” seru Bibi May sembari bangkit dari kursi dan berjalan mendekati pintu masuk apartemennya. Setelah pintu dibuka, Alfred sudah berdiri di depan pintu dengan tampang yang kelelahan. “Masuklah Alfred, mari ikut makan pagi bersama kami,” ajak Bibi May sambil mempersilahkan Alfred masuk. Alfred pun masuk dan ikut duduk bersama dengan ketiganya di meja makan, lalu ikut menyantap makan pagi. Di sela-sela makan, Bibi May meminta ijin pada Alfred agar diperbolehkan untuk membawa Emily dan Aaron berjalan-jalan setelah pulang sekolah nanti. Tanpa menunggu lama, Alfred langsung menyetujuinya. Hati Emily dan Aaron sangat bahagia. Alfred pun ikut menjadi bahagia, setidaknya dia melihat seulas senyum terukir di bibir mungil anak gadisnya, setelah beberapa hari lamanya gadis itu diam. Selesai makan pagi, Aaron dan Emily bersiap untuk berangkat ke sekolah. Mereka pun lantas memeluk dan berpamitan kepada Bibi May. Seperti biasa, Alfred mengantarkan mereka ke sekolah, sementara Bibi May kembali ke kesibukannya sebagai seorang penulis novel, sehingga dia memiliki banyak waktu di rumah. Setelah memastikan ketiganya pergi, Bibi May menelepon seorang dokter ginekologi dan membuat janji dengannya nanti siang, dia bermaksud untuk memeriksakan kondisi Emily. Alfred kembali ke apartemennya setelah mengantarkan kedua anaknya sekolah. Begitu membuka pintuk kamar, dia terkejut bukan main melihat penampakan rumah yang berantakan dan barang-barang berserakan di mana-mana. “Clara, apa yang terjadi?” serunya dari arah pintu masuk. Clara terkapar kelelahan di kamar, dia berbaring dengan tampang yang sangat kusut dan berantakan. Patah hati dan amarah telah mengubahnya menjadi wanita yang menyedihkan. Karena tidak mendengar adanya jawaban, Alfred masuk ke dalam kamar tidurnya dan mendapati sang istri yang sedang terkapar sambil menangis terisak. Alfred pun dibuatnya penasaran dengan semua tingkah laku sang istri. “Apa yang terjadi padamu, Clara? Apa ada pencuri masuk ke mari?” tanyanya penasaran. “Tidak ada, aku hanya bersedih karena sepertinya kedua anakku membenciku. Aku merasa gagal sebagai seorang Ibu.” Clara berdalih membuat alasan kesedihannya karena kedua anaknya, agar perbuatan kotornya tidak terbongkar. “Hanya karena itu?” “Iya, itu sangat membuatku terpukul. Andai kau menjadi diriku, kau pasti merasa sedih juga. Aku yang melahirkan mereka, inikah balasan mereka untukku?” dalihnya. “Clara, anak-anak menyayangimu. Tidak ada alasan bagi mereka untuk membencimu, terkecuali kau melukai hati mereka.” “Mereka meninggalkanku semalam setelah aku menegur mereka. Mereka pergi ke rumah May, bukahkah kau baru saja dari sana?” “Ya, betul. Wajar mereka main ke rumah May. Dia adalah bibi mereka.” “Kau tidak mengerti, aku sangat kecewa, mereka seakan menjauhiku.” “Clara, kemarilah! Kurasa ini semua hanya pikiranmu saja, jangan terlalu banyak berpikir. Tenangkan pikiranmu.” Lalu, Alfred memeluk erat Clara dan mencoba menenangkannya. Clara tersenyum di balik punggung Alfred. Meski dia sakit hati pada Drake, tetapi setidaknya untuk saat ini dia berada dalam posisi aman. Siang harinya, setelah bus sekolah sampai di depan apartemen mereka, Aaron dan Emily langsung menyeberang dan naik ke apartemen sang bibi. Keduanya dengan riang gembira lantas membunyikan bel pintu. Beberapa saat kemudian, Bibi May membukakan pintu untuk mereka. Lantas sang bibi memeluk dan mencium kening mereka. “Bagaimana sekolah kalian? Apa semua lancar?” tanya Bibi May pada keduanya. “Lancar, Bi. Oia, Emily mendapat nilai sempurna di pelajaran matematika dan bahasa. Berikan selamat pada Emily, Bi,” pinta Aaron. “Benarkah Emily? Kau hebat sekali.” Bibi May memandang wajah Emily dan menatap lekat ke dalam matanya. Emily menganggukkan kepala tanpa menjawab sepatah kata pun. Bibi May memaklumi keadaan tersebut. Dia sangat iba dan menyesal dengan semua yang menimpa keponakannya, seharusnya kejadian kelam itu tidak menimpanya. “Baiklah, kita pergi sekarang, pertama-tama kita akan ke rumah sakit sebentar, lalu setelah itu kita makan ice cream. Siapa mau ice cream?” tanya Bibi May semangat. “Aku mau, aku mau, Emily juga mau.” Seru Aaron sangat antusias. “Mari kita berangkat sekarang. Kita bersenang-senang dan kita makan sepuasnya,” ucap Bibi May. “Oia, Bi, nanti malam biarkan Emily tidur di sini lagi dan aku yang kembali ke rumah. Bagaimana?” tanya Aaron. “Baiklah, aku tidak keberatan. Apakah Emily tidak keberatan juga?” tanya Bibi May pada gadis itu. Seperti biasa, Emily hanya menganggukkan kepalanya dan sedikit berbicara. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN