“Malam ini kalian menginaplah di sini, besok pagi ikutlah pulang bersama dengan Daddy kalian. Aku akan meneleponnya sekarang,” ujar Bibi May.
“Ah ... Bibi May, tolong katakan pada Daddy jika kami berdua menginap di sini karena sudah larut malam dan Emily sudah mengantuk. Kumohon, jangan ceritakan hal itu pada Daddy, jika tidak dia akan membunuh Mom,” pinta Aaron.
“Aku mengerti, aku mengenal watak adikku dengan baik. Dia bukan hanya akan membunuh Mom kalian, tetapi pria bernama Drake itu akan dia hancurkan. Aku tidak mau adikku sampai masuk penjara karenanya. Kalian bersiaplah tidur.”
“Baik, Bibi May. Terima kasih untuk semuanya,” jawab Aaron dan Emily berbarengan.
“Aku senang mendengar suaramu, Emily. Jangan takut, kalian aman di sini.”
Lalu, Bibi May pergi meninggalkan mereka berdua, dia menuju ke meja di ruang keluarga tempat dia menaruh ponselnya. Kemudian, dia menelepon nomor ponsel Alfred.
Nada dering berbunyi berkali-kali, tetapi Alfred tidak mengangkatnya. Bibi May terus mencobanya tanpa kenal lelah, namun Alfred tetap tidak mengangkatnya. Akhirnya, karena sudah lelah mencoba, Bibi May mendatangi kedua keponakannya untuk menanyakan tempat Alfred bekerja.
Sementara itu, di dalam kamar, keduanya telah berganti pakaian dengan pakaian tidur. mereka juga telah membersihkan gigi dan mencuci kaki serta wajah mereka. Kini, keduanya telah naik ke tempat tidur dan sedang berdoa.
Pada saat Bibi May masuk ke dalam kamar, dia mendapati keduanya tengah berdoa bersama-sama. Dia sangat bangga dan bahagia melihat kedua keponakannya tumbuh menjadi anak-anak yang baik, dewasa serta pandai.
Selesai berdoa, mereka melihat Bibi May sedang berdiri di pinggir pintu sambil memandangi mereka. Karena penasaran, Aaron pun bertanya, “Ada apa, Bi? Apakah ada perlu dengan kami?
“Oh, aku ingin bertanya dimanakah Alfred bekerja? Aku tidak dapat menghubungi ponselnya,” tanya Bibi May penasaran.
“Daddy bekerja di Rooka Chocolate Shop, Bi,” jawab Aaron.
“Oh oke, terima kasih atas jawabannya. Selamat malam dan selamat tidur.” Bibi May menghampiri keduanya dan mencium kening keduanya.
Emily dan Aaron merasa tersentuh dengan kelembutan dan kebaikan dari Bibi May. Sudah bertahun-tahun lamanya, Clara tidak memperlakukan mereka dengan lembut. Bahkan, ciuman selamat malam pun jarang mereka terima.
Tanpa disadari, air mata menetes jatuh dari mata Emily. Bibi May menyadari hal tersebut. Dia membelai wajah gadis itu dan menyeka air mata yang bersarang di sudut matanya.
“Jangan menangis, Emily Sayang. Aku akan berusaha untuk melindungimu. Kita akan memperbaiki ini bersama-sama,” ucap Bibi May lembut.
Emily menganggukkan kepalanya tanpa menjawab. Bibi May paham dan mengerti akan keadaan tersebut. Tentu semua berat bagi Emily untuk mengalami hal semacam itu di usianya yang menginjak remaja.
Lalu, Bibi May mematikan lampu kamar dan menutup rapat pintu kamarnya. Dia kembali ke ruang keluarga dan mencoba menelepon bagian penerangan untuk menanyakan nomor telepon Rooka Chocolate Shop.
Setelah dia mendapatkan nomor telepon yang dituju, tanpa menunggu lama, dia segera menghubungi tempat Alfred bekerja.
Beberapa nada dering terdengar, tidak berapa lama kemudian, terdengar suara seorang pria mengangkat telepon tersebut.
“Halo, Rooka Chocolate Shop. Ada yang dapat kami bantu?” ucap pria di ujung telepon tersebut.
“Halo, bisakah aku berbicara dengan Alfred? Apa benar dia bekerja di sana?” tanya Bibi May.
“Aku Alfred. Dengan siapa aku berbicara?”
“Ini aku, May. Alfred, bagaimana kabarmu? Lama tidak berbincang denganmu.”
“Hi, May. Aku baik-baik saja, terima kasih. Bagaimana denganmu? Ya, sudah lama sekali kita tidak berbincang sambil meminum cola dan satu bucket penuh ayam goreng ha ha ha ha.”
“Kabarku baik. Ya, aku rindu masa-masa itu. Oia, Alfred. Anak-anakmu ada di apartemenku. Mereka main ke mari dan sudah terlalu larut sehingga mereka menginap di rumahku. Besok pagi jemputlah mereka ke mari.”
“Oh, aku tidak menyangka mereka akan tahu letak apartemenmu. Baiklah, besok pagi aku akan menjemput mereka. Aku titip anak-anakku. Tolong jagalah mereka. Terima kasih untuk semuanya, May.”
“Sama-sama, Alfred. Baiklah selamat bekerja dan selamat malam.”
“Selamat malam.”
Lalu, Bibi May menelepon salah seorang sahabatnya yang merupakan seorang kepala polisi bagian unit khusus yang menangani masalah pelecehan dan p*********n. Temannya bernama Sersan Jennifer Lewis, dia seorang wanita yang tangguh dan cerdas.
“Halo, Jen. Ini aku May. Apa kau sibuk?” tanya Bibi May.
“Hi, May. Aku sedang santai, ada apa? Tidak biasanya kau meneleponku malam-malam. Apakah terjadi sesuatu yang gawat?” jawab Jennifer dari ujung telepon.
“Ya, keponakanku diperkosa oleh seorang pria dewasa. Apa yang harus kulakukan? Aku sangat marah, emosi dan rasanya aku ingin membunuh pria b******k itu dan adik iparku.”
“Ha ha ha, tenanglah. Jangan emosi. Bawa dia untuk divisum. Kapan kejadiannya?”
“Dua hari lalu. Tapi aku akan membawanya ke rumah sakit besok untuk divisum. Setelah itu, apa yang harus kulakukan? Tapi aku tidak mau ayahnya tahu jika dia telah diperkosa.”
“Itu akan menjadi sangat sulit. Bagaimana bisa orang tuanya tidak tahu?”
“Sebab yang memperkosa keponakanku adalah selingkuhan dari istri adikku. Jika adikku tahu mengenai hal ini, dia akan membunuh istri dan pria itu. Aku tidak mau adikku masuk penjara karenanya.”
“Hmm, berarti langkah yang bisa kau ambil hanya secara manual. Tangkap pria itu, masukkan ke penjara sementara, buat dia ketakutan dan jera, lalu lepaskan dengan memberinya surat peringatan untuk menjaga jarak. Jika dia membangkang, kita bisa menangkapnya dan memberinya pasal p*********n dan mengajukan sidang, sehingga dia bisa masuk ke dalam penjara secara permanen.”
“Beri dia peringatan saja dulu, buatlah dia jera, Jen. Sekarang keponakanku menjadi trauma karenanya dan menjadi pendiam semenjak itu.”
“Bawa dia ke psikiater, dan terus beri dukungan padanya serta rasa aman. Lambat laun, dia akan dapat membuka dirinya kembali. Semoga dia bisa pulih dengan cepat.”
“Ya, aku berencana untuk mengasuhnya. Aku akan membicarakan hal ini dengan ayahnya. Baiklah, terima kasih Jen. Selamat malam.”
“Selamat malam, May.”
Setelah pembicaraannya dengan Jennifer selesai, rasa kahwatir dalam diri Bibi May sedikit berkurang, setidaknya ini yang dapat dia lakukan untuk melindungi keluarganya, khususnya keponakannya.
Sementara itu, Clara bersitegang dengan Drake. Clara mulai ketakutan jika hubungan gelapnya dengan pria itu akan terbongkar, maka tamatlah riwayatnya.
“Drake, aku sangat takut. Bagaimana ini?” ujar Clara manja.
“Kau mengacaukan semua ini, seharusnya kau bisa menahan anak-anakmu. Mulai sekarang, kita jangan bertemu kembali. Hubungan kita putus sampai di sini. Aku tidak ingin berurusan lebih jauh,” jawab Drake,
“Kau keterlaluan, setelah semua yang kulakukan untukmu. Kini, kau mau membuangku? Dasar b******k,” seru Clara.
“Terserah apa katamu, tetapi aku berhenti berurusan denganmu mulai detik ini sebelum semuanya bertambah rumit untukku. Bye, Clara,” ucap pria itu sambil berjalan menuju pintu keluar dan pergi meninggalkan Clara yang sedang emosi sendirian.