“Selamat malam, Bibi May. Aku Aaron dan ini Emily, kami keponakanmu. Bolehkah kami masuk?”
“Tunggu! Aku tidak ingat kalian,” jawabnya sambil memicingkan mata.
“Bibi, tolong persilahkan kami masuk terlebih dahulu. Kami akan jelaskan semuanya di dalam,” jawab Aaron.
Sementara, Emily menundukkan wajahnya dan diam seribu bahasa, tangannya menggenggam erat tangan sang kakak. Dengan napas tersengal-sengal, Aaron mencoba meyakinkan Bibi May bahwa mereka benar adalah keponakannya.
“Baiklah, karena aku adalah wanita yang baik, maka kalian kuijinkan masuk. Tapi ingat! Jika kalian berbuat macam-macam, tanpa segan aku akan memanggil polisi. Sampai di sini perkataanku dapat dimengerti?” tanyanya serius.
“Kami mengerti, Bibi,” jawab Aaron.
“Mengapa gadis ini terdiam terus? Ada apa dengannya?” tanyanya keheranan.
“Adikku ketakutan dan menjadi pendiam seperti ini, Bibi. Biarkan kami masuk terlebih dahulu,” pinta Aaron.
Lalu, Bibi May membuka lebar pintu apartemennya dan mempersilahkan keduanya masuk. Aaron menggandeng tangan adiknya dan mengajaknya masuk ke dalam.
Penampakan di dalam apartemen Bibi May sungguh luar biasa, ruangannya sangat bersih, minim barang-barang yang tidak diperlukan serta semua furniture tampak sangat mengkilap meski modelnya bukan merupakan model baru. Mata Aaron dan Emily terbelalak dibuatnya dan mereka terkagum-kagum. Bahkan, ruang keluarganya saja harum dan sangat bersih.
Lalu, keduanya duduk di sofa di ruang keluarga, posisi saat itu televisi sedang menyala dan secangkir coklat panas terhidang di atas meja. Emily terus menatap gelas yang berisi coklat panas tersebut.
Tidak lama, Bibi May duduk di sebelah keduanya dan mulai memperhatikan mereka berdua dengan seksama. Kemudian, wanita itu bertanya, “Aku benar-benar tidak ingat dengan kalian, cepat buktikan jika kalian adalah keponakanku.”
“Bibi, sebelumnya aku minta maaf. Bolehkah aku minta satu cangkir coklat panas untuk adikku?” pinta Aaron dengan wajah memelas.
“Baiklah, aku akan membuatkan dua cangkir coklat panas untuk kalian. Setelah itu, kalian bisa jelaskan padaku.”
Emily tidak banyak berbicara, bahkan dia belum berkata sepatah kata pun. Lalu, Bibi May berjalan pergi ke dapur meninggalkan keduanya di ruang keluarga.
“Emily, setidaknya kini kita telah aman. Kemarikan tasmu, simpan di lantai saja semua barang bawaan kita. Untuk selanjutnya serahkan sisanya padaku.”
Emily memberikan tasnya kepada Aaron, lalu Aaron menyimpan semua barang bawaan mereka ke lantai. Tidak lama kemudian, Bibi May kembali dengan membawa sebuah nampan berisi dua cangkir coklat panas dan sebuah piring yang berisi cookies keju.
“Silahkan anak-anak, minumlah coklat ini selagi masih panas untuk menghangatkan tubuh kalian,” ucap Bibi May.
Bibi May adalah adik kandung Alfred. Hubungan antara dirinya dengan Alfred menjadi renggang setelah wanita ini menyatakan ketidaksukaannya kepada Clara dan menentang rencana pernikahan adiknya dengan Clara.
Pada saat itu, kedua orang tua Alfred dan Bibi May telah meninggal dunia, sehingga ketika Alfred hendak menikah, hanya Bibi Maylah wali satu-satunya. Meski dengan terpaksa dan perasaan tidak suka, Bibi May tetap menjalankan tugasnya sebagai wali nikah.
Setelah itu, pertemuan terakhir keduanya ialah tepat ketika Emily lahir ke dunia. Bibi May datang menjenguk ke rumah sakit hanya untuk melihat malaikat kecil ini. Dia jatuh cinta pada bayi perempuan mungil nan cantik ini saat pertama kali melihatnya.
“Terima kasih, Bibi. Baiklah, mungkin Bibi telah lupa pada kami. Tetapi, kami tinggal persis di seberang apartemen ini, tepatnya di Harlem Apartement. Daddy kami bernama Alfred Smith, Mom kami bernama Clara Smith. Ini adikku yang bernama Emily Smith dan aku sendiri bernama Aaron Smith. Apakah sampai di sini penjelasanku dapat diterima, Bi?” tanya Aaron penuh harap.
“Oh Tuhan, maafkan aku. Benarkah kau Aaron? Dan yang di sebelahmu adalah Emily mungil itu?” tanyanya keheranan.
“Benar, Bi. Aku Aaron dan ini Emily,” jawabnya sembari menunjuk pada adiknya.
Bibi May menghampiri keduanya dan langsung memeluk mereka dengan erat. Mereka bertiga terdiam beberapa saat lamanya, kemudian Bibi May melepaskan pelukannya dan bertanya, “Apa yang membawa kalian kemari? Bagaimana jika Alfred dan Clara mencari kalian dan mereka tidak tahu jika kalian ada di sini?”
“Kami ada sebuah masalah yang serius, Bibi May. Tetapi, sebelum aku menceritakan masalah ini, aku minta Bibi berjanji untuk tidak membongkar masalah ini pada siapapun,” pinta Aaron.
“Apa yang terjadi? Baiklah, aku berjanji. Cepat katakan padaku,” jawabnya.
“Jika Bibi May membongkar rahasia ini, aku takut keluarga kami akan pecah dan nyawa Ayah berada dalam bahaya. Aku harap Bibi May memegang janji,” pinta Aaron.
“Ya, aku berjanji. Kau dapat mempercayaiku.”
“Bi, sebenarnya Mom selingkuh dengan tetangga kami yang bernama paman Drake. Dua hari lalu, Paman Drake memperkosa Emily. Dan malam ini, Paman Drake kembali mencari adikku.”
“Apa! Katakan padaku jika ini semua tidak benar, katakan Aaron!”
“Semua ini benar adanya, Bi. Sekarang lihatlah Emily berubah menjadi sangat pendiam dan aku sangat takut. Aku takut Paman Drake akan melecehkan Emily untuk yang kedua kalinya, maka dari itu aku membawanya kabur kemari. Kami tidak memiliki tempat tujuan lain.”
“Ya Tuhan. Emilyku. Berani-beraninya dia merusak keponakanku. Baiklah, aku mengerti maksudmu, tetapi kalian tidak bisa selamanya berada di apartemenku. Alfred akan curiga. Beri aku waktu untuk memikirkan masalah ini, bagaimana?”
“Ya, Bibi May. Aku meminta satu hal padamu. Biarkanlah Emily tinggal di sini bersamamu, tolong jaga dia dan kembalikan dia seperti semula. Kumohon, Bi.”
“Aku mengerti maksudmu. Beri aku waktu untuk memikirkan caranya. Sekarang sudah larut, kalian tunggu di sini, aku akan mempersiapkan kamar tidur untuk kalian berdua.”
Lalu, Bibi May pergi meninggalkan keduanya. Emily menatap Aaron dan Aaron balas menatapnya.
“Aaron, apakah sekarang kita sudah benar-benar aman?” tanya Emily cemas.
“Setidaknya seperti itu, yang terpenting untuk ke depannya, kau akan aman,” jawab Aaron.
“Tapi, aku tidak mau berpisah darimu. Kita harus selalu bersama.”
“Emily, dengarkan aku. Yang terpenting adalah keselamatanmu, apa kau mengerti? Aku akan sering ke mari dan mengunjungimu. Bibi May wanita yang sangat baik. Baik-baiklah dengannya. Apa kau mengerti maksudku?”
“Ya, Aaron. Aku hanya ingin kita bertiga bersama dengan Daddy, hidup dengan bahagia.”
“Aku pun menginginkan hal yang sama. Kita harus bersabar hingga tiba waktu yang tepat, kita dapat menentukan jalan hidup kita sendiri,” ucap Aaron.
Tidak lama kemudian, Bibi May kembali dan mengajak mereka berdua masuk ke dalam kamar tidur. Dengan patuh keduanya berjalan mengikuti Bibi May masuk ke dalam kamar. Keduanya langsung terbelalak mendapati penampakan kamar tamu yang nyaman, rapi dan cukup mewah bagi mereka berdua.
Sebuah tempat tidur berukuran besar mengisi bagian tengah ruangan, di depannya terletak sebuah televisi berukuran besar. Lalu, di sebelah kiri ruamgan terletak sebuah lemari baju berukuran sedang, sebuah meja rias dan meja belajar, semuanya dengan model yang sama yaitu minimalis.