“Emily Sayang, Dad harus pergi bekerja. Aaron akan menemanimu.”
Emily menganggukkan kepalanya dan matanya tampak berkaca-kaca. Alfred membelai wajah gadis manis itu dan mencium keningnya.
“Jangan menangis, Emily. Dad hanya pergi bekerja.”
Emily bergegas menyeka air matanya dan melepaskan pelukannya pada Alfred, kemudian berkata, “cepatlah kembali Daddy, aku akan merindukanmu.” Lalu, Emily mencium kening Alfred.
Hati Alfred sangat sedih mendengar penuturan dari anak gadisnya, tetapi tidak ada yang dapat dia perbuat. Demi memenuhi kebutuhan hidup yang tidak sedikit, Alfred terpaksa mengambil pekerjaan di malam hari dengan bayaran yang lebih besar.
“Daddy pasti akan cepat kembali. Kau dan Aaron pergilah tidur lebih cepat. Oke?” tanya Alfred pada Emily.
“Yes, Daddy,” jawab Emily singkat.
Lalu, Alfred meninggalkan mereka berdua dan berjalan menuju ke gantungan baju hangat, dia menarik salah satunya yang berwarna biru yang memang khusus untuk dia pakai jika pergi bekerja. Lalu, setelah berpamitan dengan Clara, Alfred pun pergi.
Setelah Clara menutup rapat pintu masuk, wanita itu kembali duduk di depan televisi sambil memainkan ponselnya. Rupanya dia berkirim pesan dengan Drake, intinya dia memberi tahu pria itu jika sang suami telah berangkat bekerja dan kini dia siap untuk bersenang-senang dengan pria itu.
Keduanya saling berkirim pesan. Aaron menyadari hal itu, dia lantas berbisik pada Emily.
“Emily, habiskan makananmu cepat! Lalu ambillah tasmu dan masuk ke dalam kamarku, mengerti?”
“Iya, aku mengerti,” jawabnya sambil melahap makanannya dengan cepat.
Emily memang lebih dulu menghabiskan makan malamnya, lalu ia berjalan melewati Clara yang masih asyik berkirim pesan dengan Drake.
Sesampainya di dalam kamar, Emily bergegas mengambil tas yang telah ia siapkan sebelumnya, lalu ia mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih tebal, kemudian memakai baju hangat berlapis serta sarung tangan.
Setelah itu, ia masuk ke dalam kamar Aaron dan menunggu sang kakak dengan setia di dalam kamar. Tidak lama kemudian, Aaron masuk ke dalam kamarnya dan mengunci rapat pintunya.
“Emily, jangan bersuara, jika kamu mau berbaring, berbaringlah. Jika sudah saatnya bagi kita untuk melarikan diri, aku akan membangunkanmu,” ucap Aaron sambil duduk di samping Emily.
“Aku tidak bisa tidur, aku akan membaca buku saja,” jawab Emily.
“Baiklah, yang terpenting tenang dan ikuti instruksi dariku.”
Satu jam kemudian, bel pintu berbunyi. Aaron sadar jika yang mengunjungi rumah mereka pastilah Paman Drake. Dengan sigap dia memakai baju hangatnya dan memberi kode pada Emily untuk bersiap-siap. Lalu, dia membuka lebar jendela kamarnya dan mengamati keadaan di bawah.
Di depan jendela kamar Aaron terdapat tangga setapak yang hanya cukup untuk satu orang, yang menghubungkan lantai apartemen yang satu dengan lantai lainnya. Aaron meminta Emily bersiap-siap di tepi jendela. Dengan patuh gadis itu telah berdiri di tepi jendela dan berpegangan pada ke dua sisinya.
Tidak lama kemudian, terdengar suara pintu masuk dibuka dan benar saja Paman Drake masuk ke dalam rumah mereka. Aaron membuka pintu kamarnya dan mengintip dari celah pintu.
Saat mengintip itulah, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, jika Clara sedang berciuman panas dengan Paman Drake. Hati Aaron hancur seketika, dugaannya selama ini ternyata benar.
Lalu, dia pun menutup kembali pintu kamarnya rapat-rapat dan menguncinya. Mereka berdua bersiaga di dekat jendela sambil melihat situasi dan kondisi.
Keduanya memasang telinga untuk mendengarkan keadaan yang terjadi di luar, tetapi hasilnya nihil. Tidak ada suara yang terdengar, sangat sepi dan sunyi. Hal ini membuat Aaron sangat curiga, tetapi dia tidak boleh membuka pintu kamar ini dan membiarkan Emily berada sendirian di dalam kamar.
Rupanya, Clara dan Drake sedang b******a di dalam kamar tidur pribadi Alfred. Satu jam telah berlalu, Emily dan Aaron telah lelah bersiap-siap. Bahkan Aaron telah tertidur lelap, hanya Emily yang masih terjaga.
Saat sedang melamun itulah, Emily mendengar suara langkah kaki menuju ke arah mereka. Gadis itu turun dari tempat tidur kakaknya dan mendekati pintu untuk sekedar mengintip dari balik lubang kunci.
Benar saja, Clara dan Paman Drake sedang berjalan menuju ke kamar tidurnya, mungkin mereka mengira jika Emily berada di dalam kamarnya. Jantung gadis itu berdegup kencang dan ia sangat ketakutan.
Dengan tergesa dan gugup, Emily membangunkan Aaron.
“Aaron, bangunlah! Mereka sedang menuju ke mari.”
Aaron benar-benar kelelahan, dia tidak bergeming bahkan mendengkur. Tidak menyerah, Emily terus berusaha membangunkan kakaknya.
“Aaron, kumohon bangunlah, aku takut.”
Kali ini, Aaron terbangun dan tersadar. Lantas, dia meminta maaf pada adiknya dan bangkit berdiri berjalan menuju pintu masuk kamarnya untuk mengintip dari lubang kunci.
Saat sedang bersiap mengintip, tiba-tiba terdengar teriakan dari Clara.
“Emily, dimana kau? Jangan sembunyi, keluarlah!” jerit Clara.
Emily yang berdiri di tepi jendela kamar Aaron menjadi panik dan sangat ketakutan. Aaron pun terkejut mendengar teriakan Clara.
Dengan sigap, Aaron lantas menggendong tasnya dan meminta Emily mulai menuruni tangga dengan hati-hati, sementara dia berjaga di tepi jendela sambil mengamati keadaan.
Saat Emily tengah menuruni tangga, pintu kamar Aaron diketuk dengan kencang oleh Clara.
“Aaron, buka pintunya! Mom tahu Emily berada di dalam kamarmu,” seru Clara.
Aaron pun menjadi ikut panik dan takut, dia meminta Emily menuruni tangga dengan cepat. Kali ini giliran Aaron tiba untuk menuruni tangga. Dengan lincah anak laki-laki itu segera menuruni anak tangga demi anak tangga dengan cepat.
Saat tersisa tiga anak tangga lagi, terdengar pintu kamar tidur Aaron dibuka paksa. Lalu, Clara menoleh ke arah jendela dan mendapati kedua anaknya telah sampai di bawah dan bersiap untuk menyeberang jalan.
Dengan menahan emosi, Clara berteriak memanggil Drake.
“Drake, kemarilah! Ini gawat, anakku Aaron telah mengetahui hubungan kita dan kini mereka berdua melarikan diri.”
“Ke mana kira-kira mereka melarikan diri? Apa kau tahu?” tanyanya penasaran.
“Sepertinya aku tahu, kita biarkan saja mereka malam ini, tetapi selanjutnya, mereka tidak akan bisa melarikan diri lagi.”
Sementara itu, Emily dan Aaron telah sampai di seberang dan mereka segera menaiki tangga menuju apartemen Bibi May. Aaron hafal letak kamar apartemen sang bibi.
Setelah sampai di lantai empat dan berdiri di hadapan pintu apartemen sang bibi, Aaron bergegas membunyikan bel pintu.
Ting tong ... ting tong
Lima menit lamanya, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Keduanya tetap sabar bediri di depan pintu.
Sepuluh menit kemudian, terdengar suara seseorang sedang berjalan ke arah pintu, dan akhirnya pintu dibuka. Itulah kali pertama bagi keduanya melihat Bibi May setelah sekian lama tidak bertemu.
“Selamat malam, Bibi May. Aku Aaron dan ini Emily, kami keponakanmu. Bolehkah kami masuk?”
“Tunggu! Aku tidak ingat kalian,” jawabnya sambil memicingkan mata.