Chapter 6 : Escape Plan

1005 Kata
Kemudian, Aaron kembali ke kamarnya, menaruh tas dan mengganti pakaiannya. Setelah itu, dia menjemput Emily dan menggandeng tangan adiknya berjalan berdampingan menuju ke meja makan. Clara mengamati keduanya dari sofa yang terletak di ruang keluarga, sementara Alfred masih terlelap tidur. Lantas, keduanya duduk di meja makan. Aaron mengambilkan piring makan dan menuangkan spaghetti ke atasnya, lalu memberikannya kepada adiknya. “Thank you, Aaron,” ucap Emily. “Cepat makanlah, lalu kerjakan tugas sekolahmu,” jawab Aaron sambil melirik ke arah Clara. Clara terus memperhatikan keduanya dari ruang keluarga. Siang itu, keduanya makan dengan lahap. Selesai makan, Aaron mengambil piring kotor mereka lalu mencucinya, tetapi sebelumnya, dia meminta Emily segera masuk ke dalam kamar. “Aaron, rupanya kau sudah menjadi seorang kakak yang baik,” sindir Clara yang berdiri dan berjalan mendekati tempat cuci piring. “Aku menyayangi Emily, Mom. Dia saudariku satu-satunya,” jawab Aaron singkat. “Well, baguslah jika kalian saling menyayangi. Oia, nanti malam, kalian berdua tidurlah lebih awal. Mom ingin bersantai.” “Maaf, Mom. Apa hubungannya antara aku dan Emily tidur lebih awal dengan Mom bersantai? Kami sudah besar dan tidak merepotkan Mom lagi.” “Kurang ajar! Berani mempertanyakan perintahku. Jika kukatakan tidur lebih awal, maka tidurlah lebih awal. Mengerti?” “Ok. Mom.” Aaron merasa sia-sia untuk berdebat dengan sang ibu, meski apa yang diperintahkan oleh ibunya tidak masuk akal. Aaron adalah seorang anak yang pintar, dia sudah mengerti mengapa ibunya meminta mereka tidur lebih awal, itu karena sang ibu akan bermesraan dengan Paman Drake. Di satu sisi Aaron merasa marah dan benci dengan semua yang dilakukan oleh ibunya. Tetapi, di sisi yang lain bagaimanapun buruk dan bejatnya, Clara tetaplah ibu kandungnya. Malam ini, dia akan membuktikan dengan mata kepalanya sendiri dugaan perselingkuhan yang dilakukan oleh ibunya dan mencoba menyelamatkan Emily dari cengkeraman pria tidak tahu diri itu. Selesai mencuci piring, Aaron kembali masuk ke dalam kamar tidurnya dan mengerjakan semua tugas-tugas sekolahnya. Begitu juga dengan Emily yang langsung mengerjakan semua tugas sekolahnya. Sore hari, Alfred bangun dari istirahatnya dan berjalan keluar untuk melihat keadaan. Dilihatnya Clara sedang memasak makan malam, lalu dia memutuskan untuk memeriksa keadaan anak-anaknya. Pertama-tama, dibukanya pintu kamar Emily dan dilihatnya gadis itu sedang tertidur lelap. Lalu, Alfred berjalan mendekati dan berlutut di sebelahnya, kemudian mencium keningnya dan menaikkan selimut hingga mencapai dagunya. Setelah menutup rapat pintu kamar Emily, Alfred berjalan mengunjungi Aaron. Rupanya, anak laki-laki itu masih mengerjakan pekerjaan sekolahnya. Alfred mendekatinya dan bertanya, “Apakah tugas sekolahmu sangat banyak?” “Ya, Dad. Aku ingin memperoleh juara kelas. Oleh karena itu, aku harus berusaha keras,” jawab Aaron. “Dad bangga padamu. Tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Kau pasti bisa.” “Thank you, Dad. Love you.” “Love you too, Aaron.” Lalu, Alfred berjalan keluar dari kamar Aaron menuju ke ruang keluarga. Sementara, Clara telah selesai memasak makan malam dan sedang menata makanan di meja makan. Lantas dia pun memanggil Alfred untuk segera duduk bersama dengannya menikmati kopi di sore hari. “Kemarilah, Alfred, mari kita minum kopi bersama,” ajaknya manja. Alfred  berjalan mendekati Clara dan menarik lengan wanita itu, kemudian memangkunya dan mencium bibirnya. Clara pun balas mencium bibir pria itu, sementara tangan Alfred mulai menelusuri pinggang rampingnya dan menarik ristleting bajunya. “Alfred, kita di ruang makan, jaga sikapmu. Kita bisa lakukan ini sebelum kau berangkat bekerja.” “Baiklah, kita makan malam sekarang, lalu masuk ke dalam kamar. Bagaimana?” “Oke.” Clara berdiri, menaikkan kembali ristleting bajunya yang sudah setengah terbuka, kemudian duduk di hadapan Alfred dan memberikan satu piring makan bersih padanya. Lantas, keduanya memulai makan malam lebih awal. Tidak lama kemudian, keduanya telah selesai menyantap makan malam. Tanpa menunggu lama, Alfred langsung menarik tangan Clara masuk ke dalam kamar tidur mereka. Di dalam kamar, setelah memastikan pintu kamar terkunci rapat. Keduanya yang telah dikuasai napsu birahi, langsung melepaskan pakaian mereka dan melakukan percintaan panas di sore hari. Bahkan, tanpa ragu desahan demi desahan keluar dari mulut keduanya. “Ahh ... Alfred, faster.” Keduanya sedang berada di puncak kenikmatan dan berusaha untuk mencapai pelepasan bersama. “Clara, i love you,” ucap Alfred sambil mencium mesra bibir wanita itu. Tidak lama kemudian, keduanya mencapai pelepasan bersama dan terkulai lemas di tempat tidur. Lalu, Clara bangkit berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sementara itu, Alfred masih berbaring santai menunggu Clara yang sedang mandi. Tidak lama kemudian, Clara keluar dari kamar mandi dan berjalan menghampiri pria itu, memeluknya dan berkata, “Sekarang giliranmu mandi.” “Oke, beri aku satu ciuman lagi,” pinta Alfred manja. “Hanya satu ciuman, lalu kau bergegas mandi dan berangkat bekerja.” Clara mendekatkan wajahnya pada wajah pria itu dan mengecup mesra bibirnya. Setelah selesai berciuman, Alfred berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi. Lalu, Clara memakai pakaiannya dan menutupi tubuhnya dengan kimono hangat. Kemudian, dia keluar dari kamar tidur dan memanggil kedua anaknya untuk makan malam. Aaron keluar dari kamar tidur dan mengetuk pintu kamar Emily. Lama tidak ada jawaban, lalu karena merasa tidak sabar, Aaron langsung membuka pintu kamar adiknya. Dilihatnya Emily masih tertidur lelap. Dengan perlahan dan lembut, Aaron membangunkan gadis itu sambil berbisik di telinganya, “Emily, bangunlah! Sudah waktunya kita makan malam.” Tidak lama, Emily pun membuka matanya dan meregangkan otot-otot tubuhnya, lalu menjawab, “Apa Daddy sudah pergi bekerja?” “Belum, ayo bangunlah. Kita temui Daddy sebelum dia berangkat bekerja.” Emily bergegas turun dari tempat tidur, lalu berjalan mengikuti Aaron di belakangnya. Keduanya menuju ke meja makan. Clara sedang berdiri di tepi meja makan sambil mengamati keduanya. Aaron menarik kursi untuk Emily dan mempersilahkan adiknya duduk terlebih dahulu, kemudian anak laki-laki itu duduk di sebelahnya. Dia mengambilkan piring bersih untuk sang adik dan menuangkan makanan ke atasnya. “Emily, makanlah yang banyak,” ujar Aaron. “Cukup, Aaron. Aku tidak bisa makan terlalu banyak,” jawab Emily. Tidak lama kemudian, Alfred keluar dari kamar dan menghampiri kedua anaknya. “Emily, Aaron. Daddy pergi bekerja dulu oke. Jangan tidur larut malam dan patuhlah pada Mom,” ucap Alfred. “Oke, Dad. Berhati-hatilah di jalan. We love you, Dad,” jawab Aaron. Sementara, Emily tidak berkata sepatah katapun. Ia langsung memeluk erat Alfred dan membenamkan wajahnya ke dalam d**a sang ayah. Alfred sangat terkejut mendapati hal tersebut. “Emily Sayang, Dad harus pergi bekerja. Aaron akan menemanimu.” Emily menganggukkan kepalanya dan matanya tampak berkaca-kaca. Alfred membelai wajah gadis manis itu dan mencium keningnya. “Jangan menangis, Emily. Dad hanya pergi bekerja.” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN