Alfred menggandeng tangan Clara dan menariknya masuk ke dalam rumah. Clara merasa tidak senang dengan perlakuan sang suami kepadanya, yang dianggapnya kurang lembut.
“Alfred, lepaskan tanganmu! Ada apa denganmu?” teriak Clara.
Lantas Alfred melepaskan genggaman tangannya dari Clara dan menatap lekat ke dalam mata sang istri.
“Apa kau bermaksud menggodanya? Jelaskan padaku!” seru Alfred, rasa cemburu membakar hatinya.
“Apa kau cemburu? Dapatkah kau lihat jika aku dan dia tidak berbuat apa-apa? Kau sangat lucu, Alfred.”
“Ya, aku cemburu karena kau istri yang kucintai dengan segenap hati. Kuharap kau tidak mengkhianatiku, jika suatu saat aku mendapati dirimu dengannya berselingkuh, kalian berdua akan mati!” seru Alfred.
“Oh, aku takut Mr. Smith. Tolong ampuni aku,” ejek Clara sambil menjulurkan lidah dan memutar bola matanya.
Alfred berjalan pergi meninggalkan sang istri yang berdiri tertegun di depan pintu masuk. Pria itu masuk ke dalam kamar mandi yang terletak di dalam kamar tidur pribadinya, lalu bergegas membersihkan tubuhnya.
Sementara itu, Clara duduk di depan televisi dengan menahan perasaan marah dan khawatir. Dia mulai takut jika hubungan gelapnya dengan Drake akan terungkap. Jika sampai terungkap maka tamatlah riwayatnya.
Alfred memang seorang pria yang tenang, tetapi jika mulai marah dan emosi, pria itu menjadi sangat menakutkan. Clara sangat hafal dengan karakter suaminya, maka dari itu, dia memutar otak memikirkan cara bagaimana agar hubungannya dengan Drake tidak sampai terungkap.
Selesai mandi, Alfred duduk di tepi tempat tidurnya dan meraih foto Emily yang terletak di nakas. Dia tersenyum, kemudian mencium foto anak gadis kesayanganya itu berkali-kali. Kemudian, Alfred pergi tidur sebab sore nanti, dia harus kembali bekerja.
Sementara itu, di sekolah ketika jam istirahat tiba. Aaron mendatangi kelas Emily dan memanggil adiknya keluar, “Emily, kemarilah! Mari ikut aku ke taman.”
Dengan patuh, gadis kecil itu berjalan mengikuti sang kakak hingga ke taman sekolah, lalu keduanya duduk di sebuah bangku yang terletak di samping kolam ikan.
“Aaron, ada apa?” tanya Emily penasaran.
“Aku merasa ada yang aneh padamu, apakah terjadi sesuatu? Kau dapat bercerita padaku, aku ini kakakmu,” jawab Aaron sambil menunduk dan memandang wajah sang adik.
“Aku takut, Aaron. Jika aku bercerita maka dia akan menyakitimu dan Ayah.”
“Siapa dia? Aku tidak mengerti maksudmu?”
Emily mulai menangis terisak, air mata terus mengalir membasahi wajah dan pakaian yang dikenakannya. Aaron menjadi panik dan bingung, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan
“Emily, bicaralah dan berhenti menangis. Sebentar lagi jam istirahat selesai.”
“Aaron, berjanjilah kau akan menutup rahasia ini rapat-rapat. Berjanjilah?”
“Iya, aku berjanji, Emily.”
“Jangan katakan hal ini pada siapapun. Apa kau berjanji?”
“Iya, sekarang cepat katakan!”
“Dia menyakitiku kemarin malam, dia memasukkan benda ke area genitalku. Aku kesakitan dan mengeluarkan darah. Aku takut, Aaron.”
“Hah! Siapa dia? Katakan Emily!”
“Dia Paman Drake.”
“Apa! Kapan dia melakukan itu padamu?”
“Kemarin malam, ketika kau tertidur. Aku berteriak tetapi kau tidak mendengarnya, dan juga dia menutup mulutku menggunakan tangannya.”
“Ya Tuhan. Dia telah memperkosamu.”
“Apa itu memperkosa?” tanya Emily polos.
“Aku akan sampaikan ini pada Mom.”
“Jangan! Mom tahu dan membiarkan Paman Drake menyakitiku.”
“Apa! Apa kau tidak berbohong?”
“Aku tidak berbohong. Aku takut, Aaron.”
Aaron lantas menarik Emily ke dalam dekapannya dan memeluk erat gadis itu. Dan dia pun menangis. Dia memikirkan segala cara yang dapat dia lakukan untuk melindungi sang adik.
“Aaron, aku takut dia akan datang kembali nanti malam?”
“Jangan takut! Kau akan tidur di kamarku mulai nanti malam. Kita akan berbagi tempat tidur, aku akan mengunci rapat pintu kamarku.”
“Lalu, bagaimana jika dia membuka paksa pintu kamarmu?”
“Itulah yang sedang kupikirkan. Apa yang harus kulakukan? Rumah Bibi May terletak di seberang apartemen kita. Bagaimana jika kau tidur di sana?”
“Bagaimana jika Ibu tahu dan marah?”
“Aku akan membantumu membuat alasan. Bibi May adalah adik Ayah, tentu dia akan menolongmu. Lagipula, dia tinggal seorang diri.”
“Tapi kita tidak dekat dengannya, apa dia bersedia membantu kita?” tanya Emily penuh harap.
“Pasti mau, tenang saja. Malam setelah Ayah pergi bekerja, kita keluar dari jendela apartemen dan lari ke apartemen Bibi May. Bagaimana?”
“Iya, aku mau, Terima kasih, Aaron.”
Siang itu, keduanya berencana untuk menyelamatkan diri tepat setelah Alfred pergi bekerja. Lalu, setelah jam sekolah berakhir, Aaron dan Emily naik ke atas bus sekolah yang akan mengantarkan mereka pulang ke rumah masing-masing.
Sesampainya di depan gerbang apartemen, keduanya lantas berjalan menaiki tangga sambil bergandengan tangan. Aaron sangat menyayangi Emily, ketika dia mendengar pengakuan yang keluar dari mulut adiknya, hatinya menjadi sangat sedih.
Aaron, seorang anak laki-laki berumur empat belas tahun. Dia sudah mengerti dan telah mendapat pelajaran mengenai kesehatan organ reproduksi. Maka, ketika dia mendengar cerita dari adiknya, dia bertekad untuk membawa sang adik memeriksakan diri ke klinik sekolah, karena dia takut terjadi sesuatu pada diri adik perempuannya.
Akhirnya, keduanya sampai di depan pintu apartemen. Aaron membunyikan bel yang terletak di sisi kanan atas pintu. Hanya dia yang mampu untuk menjangkau bel pintu tersebut. Karena tubuhnya jauh lebih tinggi dari Emily.
Ting Tong ... Ting Tong ...
Tidak lama kemudian, Clara membukakan pintu untuk keduanya. Ketika wanita itu menghampiri untuk mencium kening mereka berdua, Emily menghindar dan dengan gesit ia langsung masuk ke dalam apartemen.
Clara dan Aaron menyadari keanehan tersebut, tetapi wanita itu tidak ambil pusing. Segera setelah Aaron ikut masuk ke dalam apartemen, Clara menutup rapat pintu masuk dan berjalan di belakang mereka berdua.
Dengan raut muka kesal dan sedih, Emily langsung masuk ke dalam kamar dan menutup rapat pintunya. Aaron berdiri di depan pintu kamar adiknya, dia mencoba untuk sekedar menghibur sang adik.
Clara berjalan mendekati Aaron dan bertanya, “Mengapa kau berdiri di depan pintu kamar tidur Emily?”
“Aku hanya ingin membantunya mengerjakan pekerjaan sekolah, ia berkata ada yang tidak ia mengerti,” jawab Aaron singkat.
Beruntungnya Clara tidak menaruh curiga sama sekali pada keduanya. Wanita itu lantas berlalu pergi dan meninggalkan Aaron.
“Emily, bukalah pintunya. Biarkan aku masuk,” pinta Aaron lembut.
Tidak lama kemudian, Emily membukakan pintu untuk Aaron dan mempersilahkannya masuk.
“Masuklah, Aaron.”
Aaron bergegas masuk dan menutup rapat pintu kamar Emily, lalu dia menaruh tas sekolahnya di lantai kemudian mendekati adiknya dan berbisik di telinganya.
“Emily, masukkan barang-barang yang kau perlukan ke dalam satu tas, tidak perlu banyak-banyak. Mengerti?” tanya Aaron serius.
“Ya, lalu apa yang harus aku siapkan lagi? Aku sungguh takut, Aaron.”
“Jangan takut! Aku akan selalu melindungimu. Pakailah pakaian tebal dan baju hangat berlapis, sekarang sudah memasuki awal musim dingin.”
“Iya, Aaron. Sekarang pergilah ke kamarmu, sebelum Mom curiga.”
“Ayo kita makan siang, aku akan mengambil beberapa snacks dari dalam lemari penyimpanan untuk bekal kita berdua.”
“Ya, Aaron. Aku menyayangimu.” Lalu, keduanya pun berpelukan. Air mata Aaron menetes jatuh membasahi pakaian Emily. Dia merasa gagal sebagai seorang kakak karena tidak dapat melindungi adik perempuan kesayangannya.