FOUR

2649 Kata
AUTHOR POV   Asya berdiri di depan kantor mewah dengan nama yang sama seperti yang ada di kartu nama. Dia sedikit gugup, bukan gara-gara apa siapa yang akan ditemui. Tapi siapa yang tidak gugup masuk di kantor mewah seperti ini. bahkn kantor ayahnya dulu tidak ada apa-apanya. Asya merapikan pakaiannya dan rambutnya. Hari ini dia berpakaian lumayan rapi, mengingat dia akan datang ke kantor. Asya menggunakan kaos berbahan rajut dengan kerah tinggi dilapisi blazer hitam, celana kain hitam dan heels senada. Rambutnya dikuncir berantakan menambah kesan seksi. Sebenarnya dia lebih suka pakaian yang simple seperti kaos atau sweater, tapi dia juga tau kapan dia harus berpakaian sopan. Dia melangkah masuk menuju meja receptionist. “Selamat pagi ada yang bisa saya bantu ibu ?” tanya mbak receptionist dengan senyum ramah. “Apa benar ini kantor Gama Rythme Meyers !” tanya Asya sambil menyerahkan kartu nama Gama. Fani, tertera di name tagnya mbak receptionist, melihat kartu nama yang di sodorkan Asya sebentar kemudian mengembalikannya lagi ke Asya. “Benar ibu, ruangan pak gama ada di lantai 12. Ibu bisa langsung ke sana !” kata Fani membuat Asya mengerut bingung. “Mbak yakin ? nggak tanya dulu saya sudah buat janji atau belum ?” tanya Asya bingung. Fani tersenyum sebelum membalasnya. “ Kartu nama yang ada di tangan ibu adalah kartu vvip kami. Jadi ibu adalah tamu penting, sehingga bisa datang kapanpun tanpa harus membuat janji terlebih dahulu !” jelas Fani membuat Asya terbelalak kaget. Dia melihat lagi kartu nama yang sebenarnya terlihat seperti kartu kredit bukan seperti kartu nama kertas biasanya. Apa se wow itu sampai ada kartu nama VVIP segala ? emang orang penting apa sok penting sih ? ejek Asya. “Oh gitu. Yauda mbak terima kasih !” kata Asya sambil tersenyum manis. Fani mengangguk kemudian melayani tamu lain. Sementara Asya masuk ke dalam salah satu lift yang kebetulan terbuka saat itu. Begitu lift berhenti di lantai 12 dia turun dan mencari orang untuk bertanya. “Permisi mas ruangan pak Gama sebelah mana ya ?” tanya Asya ke ob yang kebetulan lewat. “Oh ini lurus saja ibu kemudian belok kanan di situ ada meja sekertarisnya pak Gama !” “Oh gitu, makasih ya mas !” “Iya bu, sama-sama !” jawab ob itu tapi matanya masih mengagumi Asya yang sudah berjalan menjauhinya. Asya berjalan mengikuti instruksi dari ob tadi sampai tiba di ruangan besar dan terdapat meja sekretaris, tapi tidak ada orang sama sekali. “Di mana sekretarisnya sih ?” gerutunya sambil melihat sekeliling. “Permisi !” sapanya tapi tidak ada jawaban. “Ahhhh...shhhhh..aaaahhh..aaaah !” Asya menoleh ke arah pintu sumber suara. Dia mengerutkan keningnya sambil mendekat ke arah pintu yang sepertinya ruangan gama karena tertulis CEO di sana. Kalau emang bener Gama Ceo perusahaan ini. “AAAAhhhhhhhhh...ahhhhhh.sssshhhh.aaaahhhh !” suara itu semakin jelas pas Asya berada tepat di depan pintu itu. Dengan berani Asya membuka pintu itu perlahan dan dia bener-benar terkejut melihat apa yang terjadi di depannya. “YA TUHAN !” teriaknya hingga membuat dua orang di depannya menatap kearahnya. Yang satu perempuan dengan rambut acak-acakan duduk di meja menghadap laki-laki yang duduk di kursi kebesarannya. Wajahnya sudah berantakan, pakaiannya lusuh dan ekspresinya membuat Asya jijik. Sementara yang laki-laki duduk santai dengan penampilan yang sangat rapi sambil menatap tajam Asya dengan sudut bibirnya terangkat sedikit. Dan Asya yang baru sadar dari keterkejutannya langsung membuang wajahnya jijik. “DONT YOU EVEN HAVE A HAND FOR KNOCKING THE DOOR BICH ! “ Teriak wanita tadi. “SHUT YOUR MOUTH UP YOU’RE FAKING BICH !” sahut Gama mendengar sekretarisnya menghina Asya. Asya bahkan nggak peduli kalau saat ini wanita yang bahkan lebih hina dari dirinya sedang menghinanya. Dia masih tetap mengalihkan pandangannya ke arah jendela yang lebih indah menampakkan pemandangan jakarta dari pada melihat dua orang menjijikan di depannya. Sementara wanita itu menatap Gama dengan pandangan terluka. “We’ll talk later !” kata Gama supaya sekretarisnya itu keluar sekarang juga. Dengan marah sambil merapikan pakaiannya dia berjalan keluar. Sewaktu berpapasan dengan Asya dia berniat menabrak Asya, tapi sayangnya Asya dengan santainya minggir sebelum dia melakukannya. Alhasil sekretaris itu terhuyung hampir jatuh dan bertambah kesal. Gama yang melihatnya hanya menahan tawa begitu juga dengan Asya yang nggak perlu lihat aja udah tau kalau itu lucu. Wanita itu akhirnya keluar dengan membanting pintu. Siapa suruh mau ngerjain Asya, batin Asya bangga. Saat ini tinggal mereka berdua di ruangan itu. Gama meletakkan kedua tangannya di atas meja sambil menatap Asya yang masih tidak melihatnya dengan tajam. “So, Will you ?” tanya Gama to the point. Dan Gama yakin, Asya tahu maksudnya. Asya akhirnya menatap bule di depannya dengan pandangan jijik. Kalau kelakuan dan sifat kamu nggak seperti itu mungkin aku bakalan bilang iya, pikir Asya kemudian segera menghapusnya. Gila Asya kenapa berfikiran seperti itu. “For ?” tanya Asya pura-pura nggak ngerti maksudnya Gama. Gama menyunggingkan senyumnya sinis. “MARRY WITH ME !” jawab Gama dengan penuh penekanan dan sedikit menggoda Asya yang terlihat kesal. “Are you dreaming ?” “Yeah, im. And having Gaharu Advertaising is a dream too !” balasnya santai tapi berhasil membuat Asya naik darah. Asya mendekat dan duduk di depan Gama. Dia menatap Gama tajam tanpa takut sedikit pun. “Aku akan ambil alih berapapun nominal yang kamu mau !” kata Asya tajam membuat Gama tertawa mengejek. “Are you serious ?” Asya mengangguk penuh percaya diri. Gama kembali tertawa sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi kebesarannya kemudian kembali menatap tajam Asya. “Angka yang tidak akan dapat dijangkau olehmu !” Asya yang sekarang ganti tertawa mengejek. “Kalau begitu, mas Abi yang akan membelinya untukku !” “HAHAHAHAHAHAHA !” Gama tertawa keras membuat Asya menyangka orang di depannya ini gila. “Bagaimana kalau aku tidak mau menjualnya ?” SKAK MAT Tubuh Asya menegang seketika, ini yang nggak pernah dipikirkan Asya sebelumnya. Dia lupa memikirkan kalau Gama tidak mau menjualnya, dia bener-bener tamat. Satu-satunya cara ya menikah dengannya. Gama tersenyum penuh kemenangan melihat gadisnya diam dengan pandangan menerawang tanpa berniat menjawab pertanyaannya yang tadi. Gama berdiri dari kursinya dan duduk di meja tepat di depan Asya sambil menundukan wajahnya hingga sejajar dengan wajah Asya. Asya yang masih syok sampai nggak sadar kalau wajah mereka berdua sangat dekat saat ini. “See ? I’ll get you. Soon !” Bisiknya kemudian melumat bibir menggoda di depannya. Pikiran Asya yang entah melayang jauh membuatnya tidak sadar apa yang dilakukan Gama hingga dia merasa sesuatu yang kenyal menyentuh bibirnya dan bermain di sana. Awalnya dia kira ini semua hanya halusinasi sampai kesadarannya kembali dan menatap kelopak mata Gama berada sangat dekat dengannya. Spontan dia mendorong Gama keras dan mendorong kursinya kebelakang hingga ciuman Gama terlepas. Beruntung kekuatan Asya tidak ada apa-apanya jika dibanding dengan kekuatan Gama, jadi dia tidak terjungkang ke belakang. Asya berdiri dan berniat pergi dari sarang bule m***m. Tapi Gama langsung menarik tangannya masih dengan posisi duduk hingga Asya terjatuh dipelukannya. Gama memegang rahang Asya lembut supaya menatapnya. Sementara Asya menatapnya dengan tajam dan jijik. “Ini cuuup !” Gama mengecup kening Asya. Asya mencoba mengelak, tapi tenaga Gama lebih besar. “Ini cuuup cuuuup !” Gama mengecup kedua matanya. “Ini cuuup !” Gama mengecup hidungnya “Ini cuuup !” Gara mengecup bibirnya “Dan yang kebawah mulai saat ini dan selamnya adalah milikku. Im the one and only who can touch, see, and playing them, understand ? Dan aku cuman bisa nunggu satu minggu. Nod your head or you lose ur company !” katanya penuh penekanan kemudian melepaskan Asya. Asya langsung menjauh dan berniat pegi, tapi kemudian dia berbalik membuat Gama menatapnya bingung. Asya mendekati Gama, dan menjijit mendekatkan bibirnya ke bibir Gama. Gama sudah pasrah jika wanita di depannya ini akan meludahi dirinya lagi. Tapi sepertinya tidak, Asya semakin mendekatkan bibirnya hingga tak berjarak dan.... “ARGGGGGGHHHHH !” jerit Gama begitu meraskan bibirnya sakit digigit Asya dengan keras setelah itu Asya keluar dari ruangan dengan kesal dan membanting pintu. Bahkan bantingan pintu sekertaris Gama tadi nggak sekeras bantingan Asya. Tapi anehnya Gama malah menyunggingkan senyumnya.                                                                                         ~~~ ASYA POV   BEGO BEGO BEGO BEGO BEGO Rutukku sepanjang perjalanan. Entah saat ini aku sedang berada di mana, karena sejak keluar dari kantor bule gila m***m itu aku hanya mengikuti kakiku melangkah. Lagi pula gimana bisa aku nggak kepikiran kalau dia nggak mau jual perusahaan ayah ke aku sih. Trus juga kenapa bisa bego gitu sampai nggak sadar diciumin dia dan nggak bisa ngelawan. AH BEGO BEGO BEGO BEGO Runtukku lagi sambil memukul pelan kepalaku. Tapi semuanya juga udah terjadi, yang penting sekarang aku harus fokus gimana nasib aku kedepannya. Kayaknya satu-satunya cara emang harus nikah sama dia. Kalo aja kelakuannya dia nggak kayak gitu, dengan senang hati aku mau nikah sama diah. Ah bodoh ah, mikirin itu jadi bikin aku laper. “Eh kok aku udah sampai sini aja ?” ceplosku begitu melihat mall di depanku. Mall ini kan lumayan jauh dari kantor bulgagi itu, kalau ukuran jalan kaki. Tanpa pikir panjang aku langsung masuk ke mall itu dan langsung menuju tempat biasa aku dan anak-anak nongkrong di mall ini. Aku memesan steak, nasi, milk shake, dan air putih kemudian duduk di tempat favorit kami. Beruntungnya nggak ada yang duduk di sana. Sambil menunggu pesanan datang, aku menatap pemandangan di luar melalui kaca sampingku. Menikmati pemandangan kota Jakarta dari sini memang menyenangkan. Banyak kendaraan berlalu lalang tidak seberapa macet karena ini masih siang belum waktunya pulang. “Makan dulu Sya, jangan ngelamun mulu !” Aku mengalihkan pandanganku kearah mbak Ratih yang sedang mengantar makananku dan tersenyum kearahnya. Nggak usah kaget dia tau namaku dan aku tau namanya. Sudah kubilang tadi aku dan yang lain sering banget ke sini, saking seringnya sampai kenal hampir semua pegawainya kecuali yang baru. Kita emang punya tempat tongkrongan khusus tapi juga tempat tongkrongan nomaden. Bingung kan ya ? yaudah nggak usah bingung biar aku jelasin. Kita punya lima tempat utama buat nongkrong. Di sini, restaurant XXX yang ada di mall XXX, restaurant XXX yang dekat sama kampus, restaurant tradisional di wilayah PIK, dan satu lagi di kemang. Dan yang nomaden itu artinya tempat makan yang kita datengin cuman karena pengen tahu doang dan palingan sekali dua kali ke sana. Ok balik lagi, kan ceritanya ini aku lagi sedih ! “Beef steak satu, nasi putih satu, milk shake satu, air mineral satu !” kata mbak Ratih sambil mengecek pesananku di atas meja. “Lengkap ya ?” Aku mengangguk. “Thanks ya mbak Ratih !” Mbak Ratih mengangguk sambil mengacungkan jempolnya kemudian kembali melayani yang lain. “WOOOOOI !” Baru saja aku mau makan eh dikagetin sama suara toa yang aku yakin itu Vilia. Dan bener aja, dia langsung duduk dan ternyata nggak sendirian, tapi bawa buntut yang juga langsung duduk. Dan seenaknya Mariska neguk milk shake yang belum aku sentuh dan Vilia memotong steak dan memakannya. Aku hanya bisa mengelus d**a melihat kelakuan mereka yang mungkin saat ini sudah jadi tontonan. “Ke sini nggak ajak-ajak !” sahut Vilia setelah mengunyah beefku. “Ituu..” aku menunjuk beefku kemudian menunjuk milk shake” dan itu... aku belum nyentuh sama sekali dan kalian udah merawanin. Astaga !” kataku sambil melotot ke mereka. “Itu balesan lo nggak ngajak kita nongkrok di sini !” jawab Mariska dengan tatapan judesnya. “Kebetulan doang aku ke sini !” “Oh dari kantor mas bule itu ya ?” tanya Nona dan aku mengangguk. “Trus-trus gimana ?” tanyanya lagi dan berhasil menarik perhatian sahabatku yang lain. sebenernya males bahas, tapi mereka nggak bakal berhenti bikin telinga aku risih kalau aku nggak cerita. Aku menghela nafas dalam sebelum cerita. “Dia nggak mau ngejual perusahaan ayah ke aku berapapun harga yang aku tawarin !” “Maksudnya dia ?” tanya Vilia to the point. “Aku harus nikah sama dia, that’s the point !” Mereka semua diam, mungkin sedang meratapi nasibku. Membuatku tertawa miris dalam hati. “Sya !” panggil Vilia memecah keheningan di antara kami. “Hmm ?” “Sorry sebelumnya, apa arti perusahaan itu buat hidup lo ?” tanya Vilia hati-hati. Aku tau dia takut menyinggung perasaanku. Tapi tenang Vil, perasaanku sudah tersinggung semenjak keluargaku kehilangan perusahaan ayah. “Perusahaan itu yang ngebantu ayah untuk ngebuat aku hidup. Jadi buat aku, perusahaan ayah itu adalah hidupku. Kalaupun perusahaan itu bangkrut, aku rela kalau di tangan ayah !” kataku menahan pahit, tapi mulutku masih tersenyum. “Gue nggak bisa ngomong lagi kalau gini, satu-satunya cara ya lo harus nikah sama dia !” “Serius dong Vilia, lo nggak punya cara lain gitu ?” tanya Nona. “Lo pasti bisa lah, lo kan paling jago atur strategi !” tambah Mariska. Dan yang terakhir Afla. “Jujur aku berharap ada cara lain !” OMG ALFAAAAAAAA ! Sumpah aku pingin banget meluk sahabatku yang satu ini. Polosnya ituloh pingin meluk ! Aku menatap ketiga sahabatku yang saat ini menatap Vilia menyudutkan dan akhirnya Vilia menggeleng lemes otomatis ketiga yang lainnya juga ikutan lemes. “Udah kali nggak usah sedih, mungkin ini memang jalan takdirku, dinikahi mesti tanpa cinta !” hiburku “Apaan sih lo, lagi gini juga !” sahut Mariska sambil membekap mulutku dan kemudian melepasnya. “Habis kalian, harusnya aku kan yang dihibur, ini kok malah kalian yang aku hibur !” kataku sewot. “Oh iya !” mereka baru sadar dan dengan santainya cuman ngomong oh iya ? demi aadc 3 sabar Asya ! “Gini aja Sya, kamu nikah aja sama dia, baik-baikin gitu sampai perusahaan ayah di serahin ke kamu. setelah iu tinggalin dia kayak di sinetron-sinetron gitu !” “Kenapa nggak sekalian gue bunuh aja ?” tanyaku sarkatis. “Jangan-jangan, kasihan kalau di bunuh, lagian kita nggak boleh bunuh sesama !” “Kamu itu kalo jadi pemeran antagonis sekalian yang jahat, jangan setengah-setengah. Lagian kebanyakan nonton sinetron sih !” sahutku kesel karena kopolosannya dia. Dan yang lain juga ikutan gemes. “Gini ya, nikah itu sakral dan buat aku sekali seumur hidup. Kalau aku nikah sama dia terus ninggalin dia. jadi janda seumur hidup dong !” “Eh iya ya !” yasalam palu mana palu biar aku getok kepala sahabatku ini. polosnya nggak ketulungan. “Lo sebenernya suka nggak sih sama Gama ?” Tanya Vilia. Aku diam sebentar memikirkan. Sebenernya aku ngerasa aneh pas posisi kami begitu dekat tadi, tapi entah kenapa semua kelakuan buruknya selalu ada di pikiranku menutup rasa itu. seperti yang aku bilang tadi, kalau dia nggak seperti itu aku yakin aku udah jatuh cinta ke dia. “Gue nggak suka kelakuannya !” “Tapi suka orangnya ?” Tanya Nona. Aku mengangkat bahu. Im confused. “Emang kenapa sih dia ? ok gue tau kalau wajahnya emang gitu. Tapi maksud lo kelakuan yang mana ?” tanya Vilia Ya Tuhan sepertinya aku bener-bener harus berhati-hati sama bule itu. Dia berkepribadian ganda, FIX ! bunda, mama, papa, dan bahkan semua sahabatku nganggek dia baik. Mereka belum tau perbuatannya tadi di kantor. Coba kalau mereka tau, yakin masih bilang bule itu baik ? “Nggak, kayaknya gue yakin kalau dia jodoh lo Sya. Gue yakin lo bakalan cinta sama dia !” aku menatap Mariska aneh. “Yakin dari mana ?” tanya ketiga sahabatku lainnya. Mariska mengangkat bahu sambil menggeleng. “ Feeling aja !” “Tapi kayaknya feeling lo bener !” tambah Vilia dan diangguki Nona sama Alfa. HELL NOOOOO “Udah ah, nanti aku pikirin lagi. Masih seminggu juga, dan aku nggak mau kita bahas itu selama seminggu ini. buruan pesen makan sana !” kataku kemudian aku menikmati makanan yang udah dari tadi terabaikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN