Saat jam pulang aku masih menunggu Mbak Linda yang masih membereskan beberapa berkas untuk dibawa pulang, dan tak lama aku menunggu Mbak Linda menghampiri mejaku, "Udah Yas, yuk pulang."
"Beneran udah Mbak? Nggak ada yang ketinggalan kan?"
"Nggak kok udah semua ini, mau mampir kemana dulu, nggak?"
"Nggak sih Mbak, ya kalau Mbak mau cari sesuatu ya nggapapa sih, aku juga nggak buru-buru kok, lagian masih jam segini."
"Emm, ke toko roti dulu ya, mbak mau beliin donat Naura, dari kemarin ngrengek terus tapi Mbak belum sempet beliin."
"Boleh, nggak masalah. Nanti aku sekalian aja cari kue buat Ayah sama Bunda."
"Oke, kita berangkat sekarang."
Setelah dari toko roti kami langsung pulang dan Mbak Linda mengantarku sampai depan rumah, "Mbak ngga mau mampir dulu? Nungguin aku masak, sekalian aja nanti bawa sayur dari sini, dirumah nggak usah masak." Tawarku ke Mbak Linda saat aku akan turun, dan mengambil kantong berisi sekardus kue
"Nggak deh Yas, Mbak soalnya tadi udah sekalian pesan makanan catering di tetangga Mbak. Besok aja Mbak kesini sama Naura nemuin Bunda."
"Oh, yaudah deh gapapa. Makasih ya Mbak, maaf aku ngrepotin." Ujarku saat keluar dari mobil
"Ih gapapa tau, kayak sama siapa aja. Salam buat Bunda sama Ayah ya." Jawab Mbak Linda sebelum meninggalkan pelataran rumahku
----
Selesai menata meja makan aku bergegas untuk membersihkan diri sebelum Mas Fahri, Bunda, Ayah dan Angga sampai rumah.
Suami :
Sayanggg...
Udah mandi belum?
Aku ini baru keluar dari stasiun, lagi disopirin Angga nih
Yasmine :
(Aku send foto selfie mirror, selesai dandan)
Baru selesai mandi Mas..
Oke, hati hati sayang
Suami :
Jangan cantik cantik nanti aku nggak tahan pengen nerkam kamu, kan aku sungkan ada Ayah sama Bunda
Yasmine :
Ih genit! Kamu tau ngga d**a aku masih merah Mas. kirain udah ilang eh kamu tambahin lagi semalam. Untung di d**a, coba kalau kamu buatnya di leher bisa mau aku.
(Aku send foto area atas payudaraku yang penuh dengan kissmark karya Mas Fahri)
Suami :
Haha! Boleh deh, kapan kapan aku buat di leher. Yang! kamu sadar nggak aku lagi di mobil sama Angga, Ayah dan Bunda bisa bisa nya kamu ngirimin kayak gini, mana bisa nahan aku kalau diiming-iming si squishy kembar.
Yasmine :
Biarin, salah sendiri :p
Makanya buru pulang!!
Suami :
Awas aja ya, nanti malam aku hukum sama baby.
Haha aku terbahak melihat jawaban Mas Fahri, emang aku takut kan tinggal tidur sama Bunda aja biar nggak dikurung sama Bayi Gedhe.
"Nak, Mama nggak tau kamu cowok apa cewek, Mama harap kamu selalu sehat dan kelak jadi anak yang baik ya. Perlu kamu ketahui sejak awal kalau kamu punya Mama dan Papa yang menyayangi kamu. Jadi anak yang baik ya, Sayang." Ku elus perutku yang minggu ini memasuki minggu ke 20.
-----
Sudah jam lima kurang sepuluh menit aku mendengar suara gerbang depan dibuka dan mobil Mas Fahri masuk ke garasi. Aku bergegas keluar menunggu di teras, Bunda yang baru keluar dari mobil tersenyum melihatku. Aaaa rindu sekali dengan Bunda.
"Hallo anak cantikku. Bunda kangen." Ujar Bunda sambil berjalan ke arahku dan merentangkan kedua tangannya untuk memelukku
"Bundaaa, Yasmin juga kangennn, kangen bangett...." Ku balas pelukan Bunda maklum sudah hampir lima bulan ini kami tidak bertemu. Kami melepas pelukan rindu lalu aku menatap lelaki setengah abad di belakang Bunda, meskipun wajahnya sudah mulai menua tapi badannya masih tetap gagah dimataku. Anehnya beliau menatap ku tajam dan tidak segera menghampiriku seperti biasa yang kami lakukan setelah lama tidak bertemu. Entahlah apa aku berbuat salah dengan Ayah, tapi terakhir kali aku ngobrol ditelepon baik-baik saja.
"Fahri! Sini kamu!" Katanya memanggil Mas Fahri dengan keras, kenapa sih Ayah ini. Mas Fahri yang semula membantu Angga menurunkan koper dari bagasi lalu menghampiri Ayah dan berdiri di samping Ayah. Tanpa di duga Ayah menarik telinga kanan Mas Fahri, dan Mas Fahri mengasuh sakit
"Wo Bocah! Anakku mbok pangani opo kuwi kok wetengke dadi gedhe ngono?! He?" (Dasar Bocah! Anakku Kamu kasih makan apa sampai perutnya besar gitu)
Ha nggak salah dengar nih?
"Aduh Yah aampun kenapa Fahri dijewer sih, Yah? Perut Yasmine gitu karena ada anak Fahri, cucunya Ayah." Kata Mas Fahri mengaduh kesakitan
"Kok bisa kamu isi anak mu, bangga kamu? Buat perut anak Ayah jadi gedhe gitu?"
"Ishh Ayahh.. udah itu telinganya Mas dilepas kasihan kan suami Yasmine." Kataku memelas kan kasihan itu suamiku tapi gapapa sih sebenarnya itung-itung balasan buat dia karena hampir tiap malam dia selalu ganggu tidur nyenyak ku.
Setelah Ayah melepas telinga Mas Fahri tanpa diduga Ayah lalu memeluk Mas Fahri dengan memberikan tepukan di bahu suamiku dan berbisik yang nggak bisa aku dengar dengan Bunda. Setelah pelukan kedua lelakiku lepas Ayah memandang ku dengan mata berkaca-kaca. Lalu aku ingat terakhir kali aku mendapat tatapan itu waktu di detik-detik aku akan menjadi seorang istri dan tanpa sadar aku ikut berkaca-kaca entahlah aku paling cengeng kalau berhubungan dengan Ayah.
"Anak Ayah udah besar, Genduk ku udah mau jadi ibu. Sini peluk Ayah." (Genduk=panggilan untuk anak perempuan)
Aku tanpa pikir panjang langsung masuk kedalam dekapan Ayah, Ayah yang selama ini posesif denganku, Ayah yang selalu perhatian denganku. Tanpa ku sadari semakin hari beliau semakin tua dan tak segagah dulu.
"Perutmu diisi apa sama suamimu kok jadi besar gini Ndhuk?" Tanyanya dengan menahan tawa
"Ih Ayah nggak boleh gitu, aku maluuu." Aku semakin mengeratkan tubuhku ke tubuh Ayah, dan menurutku ini tempat ternyaman selain pelukan Bunda dan Mas Fahri tentunya
"Ya gapapa toh, wong wes nikah kok isin. Oalah, anakku wes iso menehi aku putu. Haha.." (ya gapapa toh, orang udah nikah kok malu. Oalah, anakku udah bisa kasih aku cucu. Haha..)
"Udah udah ayo masuk.. udah mau magrib kok malah diluar di luar rumah." Lerai Bunda
"Lama amat sih dramanya, Kak capek nih akuu." Keluh Angga adik lelakiku dengan cemberut, membawa dua koper dan beberapa kantong ditangannya
"Kamu nggak kangen aku toh? Daritadi diem aja."
"Gimana nggak diem aja wong kamu udah dikekep sama Ayah kok."
"Ututuu adikku juga mau peluk? Sini sini.. kamu ya kangen aku toh ternyata." Biarpun jarak kami agak jauh tapi Angga justru lebih bisa menjaga aku ibaratnya dia pria posesif kedua setelah Ayah sebelum aku menikah, kadang aku juga suka bingung ini yang kakaknya siapa dan Adeknya siapa, soalnya berasa banget kalau aku lebih pantas jadi adeknya
"Kamu kok gendutan banget sih Mbak. Udah naik berapa kilo?" Bisiknya saat kami berpelukan
"Angga ih, nyebelin banget sih!" Ujarku melepas pelukan kami dan memberikan sebuah pukulan di lengannya dan dia malah masuk ke rumah lebih dulu dengan ketawa terbahak.
------
Usai menyiapkan baju ganti Mas Fahri aku menyusul Bunda yang sudah ke bawah lebih dulu. "Kak Yasmine.. kata Fahri kamu ngidam Kue Cucur ya?" Tanya Bunda saat aku baru turun dari tangga
"Iyaaa Bun, dari kemarin cari nggak ketemu - ketemu. Terus aku cerita ke Mama tapi bulan depan Mama baru mau ke Jakarta." Jawabku lalu bergabung ke sofa bareng Bunda
"Tuh di meja udah Bunda panasin, ya meskipun nggak senikmat bikinan Mama mertuamu. Setidaknya bisa ngurangin rasa pengen kamu."
"Beneran Bunda ?"
"Iyaaa mau Bunda ambilin?" Tanya Bunda, akan berdiri namun aku cegah
"nggak usah Bunda, aku ke meja makan dulu ya Bun." Aku bergegas ke dapur dan mataku langsung berbinar melihat kue cucur yang sudah aku pengenin dari kemarin-kemarin ada didepan mata.
❤️❤️❤️