Akhirnya setelah hampir seminggu ini aku mencari, dan sekarang sudah didepan mata. Aaa pengen nangis deh, padahal kemarin aku nggak bilang apa - apa ke Bunda soal kepengen kue cucur ini, tapi ternyata diam - diam Mas Fahri bilang ke Bunda. Ingatkan aku untuk kasih hadiah kecupan mesra untuk Mas Suami ku nanti.
Tanpa pikir panjang aku langsung mencomot satu Kue Cucur yang masih hangat, tanpa sadar dalam sekejap aku langsung habis tiga sekaligus.
"Gils, rakus banget sih Kak." Kata Angga dan mendapat hadiah pukulan dari Bunda yang tiba-tiba datang dari ruang tengah disusul Mas Fahri, Ayah dan Bunda dibelakangnya, oiya sekarang udah waktunya makan malam.
"Namanya orang ngidam ya gitu, Dek." Ujar Bunda
"Bodo amat dibilang rakus, habisnya ini enak banget." Gumamku lalu dibalas tawa mereka, lalu mereka duduk dikursi masing-masing dan Mas Fahri duduk disampingku. setelah menunggu ibu mengambilkan nasi ke piring Ayah aku melayani suamiku.
"Kamu nggak makan Yang?" Tanya Mas Fahri melihat aku tidak ambil nasi ke piringku dan masih melanjutkan makan kue cucur dihadapan ku
"Nggak pengen makan nasi,lagian aku juga udah makan ini, Mas." Tunjuk ku dengan dagu pada Kue Cucur dihadapan ku
"Tapi itu nggak nasi lho."
"Emang lagi nggak pengen Mas, nanti malah mual kalau aku paksain."
"Yaudah gapapa iku Le, Bunda mu dulu juga gitu awal hamilnya Yasmin malah lebih parah nggak mau makan nasi sampe empat bulan." Kata Ayah menyahuti kami
"Tapi nanti tetap harus minum s**u, kalau lapar langsung makan jangan ditahan." Kata Mas Fahri
"Iya iya ih kamu bawel deh." Gerutuku
"Yasmine. Nggak boleh gitu sama suami Nak, Fahri itu perhatian sama kamu.." Tegur Bunda, membuatku sadar kalau sebenarnya Mas Fahri itu memang memperhatikan keadaanku
"Maaf Mas, aku nggak bermaksud-.." maafku merasa bersalah dengannya
"Iyaa udah ayo makan." Ucapnya sambil mengelus kepalaku
Entahlah malam ini moodku naik turun, aku merasa bersalah banget sama Mas Fahri.
------
"Mas .." Aku memasuki kamar setelah memastikan Ayah dan Bunda istirahat tinggal Angga yang masih nonton film di ruang keluarga, tadi setelah Ayah dan Bunda masuk kamar Mas Fahri tak lama menyusul ke kamar kami untuk istirahat lebih dahulu.
"Hmmm.." jawabnya masih fokus pada ponselnya, dia kenapa sih kok cuek apa marah gara-gara tadi di meja makan?
"Ka-kamu marah sama aku?" Tanyaku pelan sambil duduk di pinggir ranjang
"Hem.. kenapa?" Tuhkan lagi, nggak mau noleh ke aku lagi
"Aku minta maaf Mas, aku janji ngga bakal ngulangi kayak tadi. Maaf ya.." jawabku sambil nahan tangis, dasar Yasmine cengeng ih
"Iya.." jawabnya singkat
"Mas ih, aku beneran nggak sengaja gitu tadi, Maafin aku."
"Heem." Tumben banget dia kayak gitu, biasanya aku salah langsung minta maaf dan dia masih aku pelukan, lah ini masak iya aku istrinya kalah sama game di ponselnya.
Ah sepertinya aku punya ide untuk membalasnya dan aku yakin dia langsung mengalihkan pandangannya ke aku, lalu meninggalkan ponselnya. Hihi awas aja kamu Mas
Aku membuka almari baju lalu tak lama menemukan apa yang aku cari dan aku langsung masuk kamar mandi.
------
Saat aku buka pintu kamar mandi dan ternyata dia masih tak beranjak dari tempatnya tadi sebelum aku masuk kamar mandi. Aku berjalan menuju meja rias lalu melakukan ritual seperti biasa sebelum tidur dan terakhir ku semprotkan parfum favorit Mas Fahri dibagian yang suka membuat Mas Fahri melayang, haha
Ku lihat dia dari pantulan kaca didepanku dia masih asyik dengan gamenya. Aku harus punya cara untuk mengalihkan fokusnya. Ku jatuhkan cincin ke bawah meja rias, dan pastinya aku akan kesusahan untuk mengambil karena harus berjongkok.
"Aduhh jatuh lagi.. susah deh ambilnya." Gumam ku
"Emm Sayang bisa minta tolong?" Pintaku pada dia, yang sebenarnya untuk menarik perhatiannya
"Minta tolong apa?" Tanyanya
Aku lalu beranjak dari kursi rias agak menungging dan menunduk mencari jatuhnya cincinku.
"Itu cincin aku jatuh di bawah meja, aku kesusahan ambilnya. Minta tolong ambilin bisa?"
"Iyaa, wait." Jawabnya yang masih belum sadar akan posisiku
"Ya udah deh, kalau kamu sibuk besok pagi aja. Semoga aja aku nggak kelupaan." Kataku namun masih dengan posisi yang sama
"Iya aku ambil-in." Jawab Mas Fahri diakhir kalimat dengan pelan, aku pastikan dia kaget melihat penampilanku malam ini. Oke langkah pertama berhasil, dia berjalan ke arahku lalu berhenti tepat di belakangku
"Minta tolong apa tadi?" Tanyanya dengan berbisik ditelinga kananku, kedua tangannya mengelus kedua pahaku, aku meneguk ludah padahal ini sudah aku rencanakan kenapa aku jadi yang nggak kuat
"I-itu cin-cin aku ja-tuh, Yaangh." Ucapku susah menahan desah
"Dimana Sayang?" Tangan kanan Mas Fahri merambat naik mengelus perut buncitku yang terlihat lebih besar efek dari baju yang kenakan
"Di-di bawah meja Mmas.."
"Oke, wait. Aku ambilkan. Don't move, honey. Kamu tetap disini." Lalu dia berjongkok dan mencari cincinku.
"Ahh ya ketemu." Ucapnya namun dia tidak segera berdiri, dia masih dibawah dan mendongak menatapku. Aku semakin salah tingkah tanpa sadar aku menggigit bibir bawahku. Tangan kiri Mas Fahri merambat mengelus betisku dan semakin naik ke pahaku. Lalu dia memelukku dari belakang,
this is my favorite position. Tangan kanan Mas Fahri menggenggam cincinku dan kepalanya diletakkan di leher kananku.
"Kenapa istriku makin hari makin nakal, hmm? Aku dari tadi merhatiin kamu Sayang, asal kamu tahu." Katanya pelan dengan terkekeh lalu mengecup leherku kami yang berhadapan dengan kaca rias jadi aku bisa melihat dengan jelas dia mulai menggerayangi tubuhku, sempat kaget karena aku tidak menyadari bahwa sejak tadi dia sudah memperhatikan apa yang aku lakukan
"Mulai dari kamu masuk kamar, kamu nunduk minta maaf sama aku, kamu kesal lalu ambil baju ganti dari lemari pakaian, kamu masuk kamar mandi, terus keluar dengan pakaian tidur ini, cara kamu melakukan night routinemu, menyemprotkan parfum favoritku di bagian yang aku sukai, dan yang terakhir membuatku terpukau kamu menjatuhkan cincin dengan sengaja lalu kamu memposisikan tubuhmu seperti itu. Aku diam diam memperhatikan mu Sayang, sejauh apa dan sepintar apa sih Istriku ini menggoda suaminya, hmm." Bisiknya sambil memulai aksinya meremas p******a ku dan mengelus pahaku. Aku mulai tidak bisa berfikir jernih, dan bodo amat dengan rencanaku tadi saat ini yang aku inginkan cuma sentuhannya.
"Engghh Mmm-asshh... Jangan keras-keras payudaraku sakit."
"Emm minta diapain payudaranya biar ngga sakit? Mau aku kasih obat?"
"Engghh, you know what I want Mashhh... ahhh.."
"Oke kita lanjut diranjang.. Honey.." ucapnya lalu menggendongku ala bridal style
"Aw... Pelan pelan ah, Mas buat aku kaget."
"Maafkan aku, aku terlalu bersemangat untuk menjenguk baby. Kamu mau di atas apa di bawah?" Tawarnya setelah menjatuhkan aku di ranjang dengan senyum nakalnya dan menarik turunkan alis tebalnya
"Emmpghh.. Mama mau kamu yang diatas Papa." Bisikku di telinganya lalu ku gigit dan melingkarkan kedua tanganku ke lehernya
"Sayang kamu tahu kamu dalam zona berbahaya, dan aku akan menghukum mu. Katakan padaku kalau aku terlalu menyakitimu." Kata Mas Fahri menatapku dan menempelkan dahi kami
"I know, asal kamu pelan-pelan aku nggak akan kesakitan."
Dia mulai melumat bibirku tanpa aba-aba bahkan dia menggigit bibir bawahku dan mungkin malam ini jadi malam yang panjang untuk kami, dan aku berharap Ayah, Bunda dan Angga tidak mendengar pergulatan kami malam ini.
❤️❤️❤️