Kaal tersenyum getir memikirkan hal itu.
Nenek tua itu berjalan mendekati Kaal, memeluk Kaal perlahan, menepuk - nepuk punggung Kaal untuk memberinya semangat.
"Jangan dipirkan, bagaimanapun kau tidak akan bisa mengatur pikiran dan pendapat orang terhadapmu."
Ia terus memeluk Kaal dengan lembut,
"Kaal jangan lah hidup dengan mendengar perkataan orang lain. Kau tidak perlu menjadi orang lain untuk hidup sesuai standart penilaian mereka. Karena apapun yang kau lakukan, pasti akan selalu ada orang yang tidak menyukaimu".
Nenek tua perlahan melepaskan pelukannya, tersenyum menatap Kaal, meletakkan tangannya di kepala Kaal dan mengelusnya perlahan
"Jadi, tetaplah jadi dirimu sendiri. Hiduplah sesuai yang kau mau. Hiduplah dengan bahagia. Hanya dirimu sendiri yang bisa menciptakan kebahagiaan dalam hidupmu"
Kaal tertegun mendengar nasehat dari sang nenek tua. Ia sangat tau betapa nenek tua ini sangat menyayanginya.
"Kenapa tidak menjawab? Kau mengerti atau tidak?" nenek tua mengernyitkan dahi nya setelah ia tidak mendengar respon dari Kaal.
"Hmm, aku mengerti. Hidup sesuai yang aku mau. jadi...." Kaal menggaruk kepala nya yang tidak gatal,
Melihat tingkah laku Kaal, nenek tua menaikkan kedua alisnya perlahan. Tentu saja nenek mengerti apa yang ada di pikiran Kaal.
"jadi.. aku bisa memilih kehidupanku selanjutnya bukan?" tanya Kaal dengan wajah tanpa dosa.
Di saat pertanyaan itu keluar dari mulut Kaal, di waktu yang bersamaan tangan nenek tua naik ke atas dan boom ! sapu sudah ada di tangannya.
Ia mengayunkan sapu yang ada di tangannya kepada Kaal dan didampingi suara teriakan dari Kaal meminta ampun sambil berlari.
"Aku bercanda, hanya bercanda! Nenek ampuuunnn...!" Kaal berlari bersembunyi ke sebuah ruangan lain dan nenek tua itu tetap saja mengejarnya.
"Okay - okay berhentilah tolong, sapu ajaibmu dapat melukai jiwa ku" Kaal merengek. "Itu sangat sakit, kau sudah pernah memukulku dengan sapu itu sebelumnya!"
mendengaa ini, nenek tua melenyapkan sapu yang ada di tangannya dan memandang Kaal dengan tatapan kasih sayang, ia mendengus pelan,
"Istirahatlah, kau pasti lelah"
"huh? Kau tidak langsung mengirimku sekarang?" tanya Kaal heran.
"Belum saatnya"
Kaal menarik bibirnya kesamping mendengar hal ini. Kali ini ia benar - benar tersenyum bahagia,
"Syukurlah, aku sangat lelah, aku masih ingin menikmati kamarku ini. Ah aku merindukan tempat ini" kata Kaal sembari memandang sekeliling penuh kerinduan. Ia melihat barang - barang yang ada di ruangan itu masih tertata rapi. Masih sama saat ia harus turun ke dunia kala itu.
Nenek tua itupun ikut tersenyum melihat Kaal tersenyum.
"Sudah 40 tahun berlalu" Kaal berhenti menikmati suasana kamarnya dan beralih memandang lawan bicara nya sejenak, kemudian mendengus lirih "Bagaimana kabarmu?"
"Hmm, baik" nenek tua tersenyum penuh sayang memandang Kaal , "Hanya merindukanmu" tambahnya lirih.
Kaal tersenyum mendengar perkataannya "apa kau membenciku karena melupakanmu lagi selama 40 tahun?" tanya Kaal.
Nenek tua tersenyum pahit seraya menggelengkan kepala. Terlihat di kedua matanya memerah, ia menahan air matanya agar tidak menetes.
"Tentu tidak. Bagaimanapun itu sudah menjadi aturan yang tidak bisa dilanggar. Siapapun akan kehilangan ingatan mereka di dunia lain ini saat mereka menjalankan misi - nya di dunia tempat manusia hidup"
Walaupun sebenarnya peraturan itu bisa dilanggar dengan berbagai alasan, namun nenek tua tidak memberi tahu Kaal. Mungkin nanti?
Kaal merasa hatinya teriris mendengarnya. Bagaimana tidak, ia hidup di dunia, bahagia dengan kehidupannya tanpa mengingat si nenek tua ini.
Sedangkan si nenek tua akan terus mengingatnya dan merindukannya selama berpuluh - puluh tahun.
Hanya dengan memikirkan ini saja membuat hati Kaal perih.
"aku juga sangat merindukanmu..."
Si nenek tua ini meraih badan Kaal memeluknya sejenak untuk melepas kerinduan yang amat mendalam.
"Untuk itu, kali ini kau harus menghabiskan waktumu sedikit lebih lama denganku. Kau akan tinggal disini dulu, emmm... bagaimana kalau 1 tahun? okay?"
Senyum Kaal seketika memudar. Bagaimana tidak, ia akan mendengarkan ceramah si nenek tua ini selama 1 tahun penuh? Siapa yang mau? Ah.. No Way!
"Emm, bagaimana kalau 1 bulan saja?" tanya Kaal pelan, ia berusaha untuk tidak memancing emosi lawan bicaranya lagi.
Namun senyum nenek memudar. "Baiklah" jawabnya lirih. Wajah sedihnya sangat terlihat, sehingga membuat Kaal setres.
"Jangan bersedih, aku akan kembali lagi padamu bukan?" Kaal diam sejenak merangkai kata - kata
"Hanya saja, nanti bisakah kau tidak membunuhku dengan cara yang tragis?" Ucap Kaal dengan nada depresi.
"Ya ya ya aku mengerti. Berhentilah membuat banyak permintaan..." Di tengah - tengah sedang berbicara, nenek tua tiba -tiba berhenti berbicara dan menunjukkan ekspresi tertegun.
----
Di sisi lain, di dunia lain.
Nampak seorang pria berdiri di sebelah tubuh Kaal, ia memakai jas putih, sama seperti jas yang biasa Kaal pakai.
"Dimana pun kamu berada, tunggu aku! Aku akan menemukanmu kembali. Walaupun kamu berubah wajah, aku akan tetap bisa mengenalimu." Ia menggenggam erat tangan dingin Kaal.
"Dan bila saat itu tiba, aku tidak akan lagi menahan nya. Aku akan menggenggammu erat. Aku tidak akan melepaskanmu lagi. Tidak untuk yang kedua kalinya."
Dengan kepala tertunduk, ia bergumam lirih. "Maaf aku tidak bisa menyelamatkanmu." Ia menggenggam tangan Kaal lebih erat, sebelum akhirnya melepaskan genggaman nya dan beranjak pergi dari ruangan operasi dengan mata merah.
----
Kaal mengamati ekspresi lawan bicaranya yang tiba-tiba berhenti ditengah - tengah obrolan itu.
Kaal melihat, bagaimana ekspresi wajahnya berubah, dari ia tertegun kaget, menatap kosong ke depan seolah berpikir, kemudian matanya berbinar - binar, dan terakhir ia tersenyum seperti orang bodoh.
Kaal mengerutkan dahi nya "Halo? Halo? Bisakah kau mendengarku?" Kaal melambai- lambaikan tangannya di hadapan sang nenek.
Tiba -tiba mata yang hilang fokus itu kembali menandakan adanya kehidupan.
Nenek tua memandang Kaal dengan berbinar - binar penuh kegirangan seolah sedang memenangkan lotre.
"Aku menemukannya! Aku menemukannya!" Ia meraih dan menggenggam kedua lengan Kaal, menggoyangkan badan Kaal dengan keras.
"Okay okay, berhentilah, kau membuatku pusing!" Kaal berusaha menyeimbangkan badannya. "Jadi apa yang kau temukan?"
"Hahaha! Ini akan sangat menyenangkan!" Nenek itu menari berputar-putar di depan Kaal.
"Tunggu dulu, kau tidak berencana akan menambahkan tulisan di naskah kehidupanku yang akan datang bukan?" tanya Kaal menyelidik.
"Hahaha!" Si nenek tua berjalan keluar dari kamar Kaal, tanpa menjawab pertanyaan dari Kaal ia pergi meninggalkan Kaal yang sedang tertegun.
"What? What happened?"
Kaal berlari mengejar sang nenek "Hei tunggu dulu nenek! Apa yang kau sembunyikan dari ku? Hei kembali lah..."