"huh? aku mati? " Kaal tercengang melihat badannya yang masih berada di dalam mobil terkulai lemas di atas setir, wajah nya sudah hampir tak terlihat karena berlumuran darah.
Mobil itu di kelilingi oleh banyak orang, yang sebagian hanya menonton, berbisik, dan beberapa sibuk berusaha merekam, mengambil foto, maupun orang yang lebih baik dengan menelpon ambulans.
Sedangkan ia sendiri, berdiri di sebelah mobil dan mengamati raga nya yang nampak sangat menyedihkan.
"wah... badanku sakit semua" Kaal merasakan tubuhnya terasa sangat ringan. Ia melayang, dan ia pun tahu kini sudah saatnya ia pergi ke tempat itu.
Kaal melangkah pergi meninggalkan raga nya, dan ia menoleh sekali lagi ke tubuh nya sebelum ia memutuskan untuk benar - benar pergi menjauh.
"untuk apa juga aku berdiri memandangi wajahku yang mengerikan. Toh aku tidak mungkin selamat. Hufftt... 40 tahun sudah berlalu ya? Sepertinya dia sudah sangat merindukanku"
ucap Kaal di dalam hati.
Kaal berjalan dan terus berjalan jauh. Sangat jauh tanpa menoleh ke belakang lagi.
Dia tetap melangkahkan kakinya seolah sedang berjalan walaupun sebenarnya ia melayang.
Ia tidak tau berapa lama ia berjalan, sampai ia melihat sebuah jembatan yang sangat panjang membentang.
Kaal berhenti sejenak memandangi jembatan itu. Ia memanyunkan bibirnya dan mendengus lirih.
Jembatan panjang berwarna merah, membuat suasana sedikit mencekam tanpa adanya sinar bulan di kegelapan.
Gelap. Hanya ada kegelapan di sekeliling Kaal saat itu?.
"Ah ini membuatku merinding" ucap Kaal sambil menggosok - gosok kedua lengannya.
Kaal sejenak tertegun dengan ucapannya sendiri dan tertawa geli setelahnya.
Ia tersadar bahwa ia bukan lagi manusia dan tidak perlu untuknya merinding karena takut akan kegelapan.
"Bodoh sekali, aku ini adalah hantu sekarang, bagaimana bisa merasakan merinding?"
Kaal melihat sekeliling, tak hanya dirinya di sana, Kaal melihat beberapa orang juga berjalan melewati jembatan itu.
Dengan tatapan bingung penuh tanya, mereka semua berjalan seorang diri.
Tidak ada satupun yang berjalan berdua ataupun beriringan.
"Huftt, jembatan ini lagi. Berapa kali aku harus melewati jembatan ini? Bisakah ini yang terakhir? Ah melelahkan sekali.
Kenapa kamu membuat jembatan sepanjang ini huh?" Kaal menggerutu lirih sambil menatap langit luas, gelap tanpa bintang.
"Tsk...!" Kaal menurunkan pandangannya dari langit kelam, dan dengan berat hati Kaal mulai melangkahkan kakinya ke jembatan merah yang serasa tak berujung itu.
----
"Hai!!!"
Suara seseorang mengagetkan Kaal.
Tanpa ia sadari, ia sudah melewati jembatan yang panjang itu. Ia pun tidak ingat berapa lama ia berjalan sampai berada di tempat ini.
Sebuah ruang yang luas dan sangat terang menyambut Kaal.
Kaal menyipitkan mata nya sejenak, beradaptasi dari gelap ke terang. Ia melihat sekeliling , mengamati ruangan itu dengan seksama, dan ia mendengus pelan.
Walaupun ia menggerutu di sepanjang jalan, namun tidak bisa dipungkiri, dari sinar mata Kaal terlihat sedikit kerinduan akan tempat ini.
"Sudah lama sekali, dan tempat ini masih sama seperti sebelumnya"
Kaal melirik sekilas pada seseorang yang mengagetkannya itu.
Dia tersenyum manis, penuh tatapan haru dan kerinduan ia menatap Kaal.
"Tsk... Hai, lama tidak bertemu" Kaal berucap sambil melengos kesal.
"Apakah begini caramu menyapaku?" sahut suara itu dengan nada jengkel, senyum manis yang ia pasang di wajah pun pudar, berubah dengan kerutan di dahi dan alis yang hampir menempel satu dengan yang lain. Sekilas ia terlihat sedih, namun segera berubah ekspresi.
Ia menyilangkan tangannya melihat Kaal sinis,
Walaupun nampak sedikit kesedihan di wajahnya,
Namun sayangnya Kaal tidak bergeming. Bahkan ia tetap tidak peduli dengan tatapan sinis yang sedang menatapnya.
"Okay, okay, aku salah karena mengambil kebahagiaanmu di dunia itu. Maaf?" ucap suara itu lanjutnya karena ia tidak mendapatkan respon dari Kaal.
"Ck.. Aku tidak menyalahkanmu karena mengambil nyawaku begitu saja. Tapi tidak bisa kah kau membuatku meninggal tanpa rasa sakit?
bagaimana bisa kamu melemparkan mobilku menabrak trotoar jalan seperti itu? Apa kamu tau badanku sakit semua!" rengek Kaal.
"Kau sudah meninggal, tidak mungkin merasakan sakit!" Jawabnya.
"Huh? Aku masih merasakannya! Sakit ! Kepala ku sakit, tangan kun sakit, kaki ku sakit, semua badanku sakit. Ini sangat sakit, okay?"
"Okay Okay, aku mengerti, tapi percayalah, ini benar - benar sungguh tidak menyakitkan, kau tau betapa aku menyayangimu bukan? Aku membuatmu terbanting dengan rasa sakit yang sangat minim. Apa kau lebih memilih aku memberimu sakit (penyakit) di dalam tubuhmu? Bukankah itu akan membuatmu lebih menderita sepanjang hidup?"
"Tapi tidak dengan melempar mobilku ke trotoar! Bagaimana reputasiku? Semua media akan meliput kematianku yang samgat konyol. Ah Kau menghancurkan reputasiku" Kaal memperlihatkan wajahnya yang sangat stress dan tertekan.
Kaal tidak mendengar jawaban, ia melirik sekilas , dan mendapati lawan bicara nya sedang menatapnya, menutup bibirnya dengan rapat, berusaha menahan tawa.
"Apa yang kau tertawakan? Tidak usah kau tahan, wajahmu terlihat mengerikan saat menahan tawa" Kaal meliriknya sinis.
"Ppfft! Haha! Lihatlah dirimu, kau menghabiskan waktu hidupmu hanya untuk menyelamatkan orang lain, sedangkan saat kau membutuhkan pertolongan, tak ada satupun yang mau menolongmu. Sungguh miris"
"Mereka semua adalah dokter, mungkin mereka sangat sibuk, dan kematianku bukan di hari yang tepat. Mungkin banyak pasien lain yang membutuhkan mereka saat itu"
"Waw! Kau serius mengatakannya? Kau sangat yakin? Jangan naif ! Kau pun tau alasan mengapa tidak ada yang bisa menolongmu.
Bukan mereka sibuk, tapi mereka memang sengaja. Mereka sangat bahagia mendapati kabar bahwa kau kecelakaan."
Ia menghela nafas pelan dan berkata lirih "Huft.. sungguh hati manusia sangatlah mengerikan. Busuk".
Kaal terdiam sejenak mendengarnya, tentu saja ia tau itu semua.
Kaal sangat menyadari banyak orang yang membencinya dan hanya mengharapkan kematiannya untuk disegerakan,
banyak yang mendoakan buruk, dan Kaal hanya berusaha menutup mata dan telinga nya.
Sesungguhnya Ia sudah sangat kebal dengan kata - kata hujatan itu semua.
"Profesiku sebagai dokter memang untuk menyelamatkan orang, aku tidak peduli bagaimana prinsip dokter lain. Aku juga tidak peduli dengan mereka yang memang sengaja membiarkan ku meninggal" dengus Kaal perlahan, tanpa ia sadari terdengar kesedihan di suaranya.
"Baiklah - baiklah jangan menunjukkan muka sedihmu di hadapanku. By The Way sudah cukup waktumu bersenang-senang disana"
Ia mengamati ekspresi Kaal setelahnya. Dan saat ia rasa Kaal tidak akan mengamuk, ia melemparkan setumpuk kertas kepada Kaal.
Kaal sudah tidak terkejut dengan tumpukan kertas itu, karena ia pasti akan mendapatkannya setelah ia mati.
Naskah kehidupan selanjutnya.
Kaal menangkap dengan sigap naskah yang terlempar, ia segera membuka beberapa lembar kertas itu membacanya dengan seksama.
Perlahan wajah Kaal berubah ekspresi, terlihat muka nya yang berawal dari pucat berubah warna ke pink hingga akhirnya memerah. Kalau saat ini berada di dekatnya mungkin semua akan merasakan hembusan nafasnya yang memanas seolah mengeluarkan lahar.
"Bisakah kau memberiku naskah yang lebih bagus?" Suara dan tangannya gemetar, sambil tetap menatap kertas yang ia pegang ia berkata sangat lembut. Walaupun dalam keadaan marah, dan dengan wajah merah, ia hanya bisa bertanya perlahan, berusaha mengambil hati, berharap mendapatkan naskah kehidupan yang berbeda.
"Bisa"
Seketika Kaal mendongak, matanya berbinar menatap lawan bicaranya "Be..benarkah? Ada naskah lain? Aku bisa memilih peran?"
"Hu'umm, pilihan pertama , naskah yang ada di tanganmu, dan pilihan yang..."
belum selesai berbicara ,Kaal memotong ucapannya "Okay okay yang kedua yang kedua"
ia menatap Kaal perlahan, menahan amarah "Pilihan kedua kau akan reinkarnasi menjadi batu"
"okayyy !!!... Eh? Ap...apa? Menjadi apa?"
"Batu" ia mengulangi perkataannya,
Tak sanggup lagi menahan lahar api, Kaal pun memuntahkannya ! Kaal membanting naskah yang ada di tangannya ke lantai "Yaaaaa!! nenek tua !! Kau menjengkelkan sekali, aaaahhhh"
"Uhuk?" Ia merasakan tersedak karna mendengar ucapan Kaal.
"Ap.. apa kau bilang? Ne..nenek tua? Yaaaaa !!!!!! Bagaimana bisa aku menjadi nenek sedangkan aku tidak punya cucu !! Anakku hanya peduli dengan pekerjaannya !! Bekerja, bekerja, bekerja ! Mana cucu ku manaaaa.. berikan aku cucu !!!"
Kaal berjingkat mendengarkan teriakan sang nenek tua, anehnya amarahnya pun sedikit berkurang mendengar amukan sang nenek tua.
"Uhem... !" Kaal berdehem.
"Baiklah - baiklah aku mengerti, jangan marah - marah, tidak baik untuk kesehatanmu".
Demi menurunkan amarah sang nenek tua, Kaal bahkan mengatakan omong kosong, bicara tentang kesehatan apa? bagaimanapun nenek tua itu tidak akan pernah mengalami sakit ataupun mati.
Suasana hening beberapa waktu, nenek tua berusaha mengatur nafasnya agar kembali stabil.
"Jadi mana yang akan kau pilih? Jadi manusia lagi, atau pilih jad ...?"
Kaal memaksakan senyum nya. berusaha tersenyum semanis mungkin. *Hah! apa dia pikir aku sebodoh itu untuk memilih menjadi batu?*
"Tentu saja aku memilih tetap menjadi manusia di kehidupan berikutnya, tapi..." Kaal melirik perlahan ke arahnya
"Tidak bisakah aku hidup untuk tetap menjadi orang kaya?"
Kaal melihat perubahan wajah nenek tua yang mulai suram lagi, ia pun buru - buru melanjutkan perkataannya
"Bukan begitu, bukannya aku hanya mau hidup enak, tapi.. " Kaal memutar otak mencari alasan, "Kau mengambil nyawaku dengan cara yang tragis, bisakah aku mendapatkan keringanan untuk itu?"
Kaal memandangnya memelas.
"Di masa hidupmu yang lalu, walaupun jumlah orang yang kau tolong juga banyak, namun tidak sedikit orang yang mendoakanmu buruk. Selain mereka iri dengan kekayaanmu, mereka juga berharap kau di sambar petir.
Jadi tidak banyak yang bisa ku lakukan untukmu.
Doa - doa mereka yang merasa tersakiti olehmu lebih banyak dari pada doa dari orang - orang yang pernah kau tolong"
Kaal sangat sedih mendengar penjelasan nenek tua itu. Selama hidupnya, ia tidak pernah menyakiti orang lain. Sekalinya mereka menyakitinya pun, Kaal hanya menganggapnya angin lalu. Ia tidak pernah sekalipun memendam dendam kepada mereka.
Namun mengetahui kenyataan seperti ini sangat membuat hati Kaal teriris.
Miris.
Ia tak melakukan perbuatan jahat pun, banyak orang yang membencinya.
Kaal tersenyum getir memikirkan hal itu.