CHAPTER 0 — PROLOG The Birth of a Devil
The Zephian.
Sebuah kota suci yang dikenal sebagai salah satu tempat terindah di dunia. Bangunan-bangunan megah berdiri menjulang, jalanan dipenuhi bunga, dan cahaya matahari menyinari menara-menara putih yang seolah menembus langit. Di setiap sudut kota, orang-orang menjalani kehidupan mereka dengan senyuman.
Di kota ini, para pahlawan tidak disebut heroes.
Mereka disebut The Savior.
Penyelamat umat manusia. Pelindung kedamaian. Simbol harapan bagi mereka yang tidak mampu melindungi dirinya sendiri.
Nama mereka dielu-elukan di jalanan. Wajah mereka terpampang di layar-layar raksasa. Anak-anak mengidolakan mereka, orang tua memercayai mereka, dan masyarakat berlutut dalam rasa syukur atas keberadaan mereka.
Bagi penduduk The Zephian, The Savior adalah anugerah dari Tuhan.
Namun, tidak ada seorang pun yang pernah bertanya apa yang terjadi ketika seorang penyelamat tidak lagi merasa perlu menyelamatkan siapa pun.
Atau apa yang terjadi ketika seseorang yang memiliki kekuatan untuk melindungi dunia menyadari bahwa tidak ada seorang pun yang cukup berani untuk menghentikannya.
Sore itu, di sebuah gang sempit yang jauh dari jalanan utama The Zephian, seorang perempuan berlari dengan napas tersengal-sengal.
“T-tolong! Siapa pun... tolong aku!”
Langkahnya tersandung bebatuan. Napasnya semakin berat, sementara suara tawa dari belakangnya terus terdengar.
Tiga pria mengenakan seragam The Savior mengejarnya.
Salah seorang dari mereka bahkan tidak perlu berlari. Dengan santai, pria itu melayang beberapa meter di atas tanah, mengikuti arah perempuan tersebut seolah sedang menikmati sebuah permainan.
“Kenapa terburu-buru?” katanya sambil tersenyum. “Kami cuma ingin bersenang-senang.”
Perempuan itu menoleh sekilas. Wajahnya pucat. Air mata mengalir di pipinya, tetapi dia tetap berlari.
“Tolong... jangan mendekat!”
“Diamlah. Kau seharusnya merasa terhormat. Tidak setiap hari seseorang mendapat perhatian dari The Savior.”
Mereka tertawa.
Di ujung gang, seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun berdiri membeku.
Namanya Ego.
Tubuh kecilnya bersembunyi di balik tumpukan peti kayu. Kedua matanya menatap perempuan yang sedang berusaha melarikan diri itu.
Ibunya.
“IBU!”
Ego berlari keluar dari persembunyiannya.
“Ibu, lari!”
Perempuan itu menoleh. Untuk sesaat, matanya bertemu dengan mata anaknya.
“Ego?! Jangan ke sini!”
Namun, semuanya sudah terlambat.
Salah seorang pria mencengkeram lengan perempuan itu dan menariknya dengan paksa. Pria lainnya berdiri menghalangi jalan keluar. Sementara itu, pria yang melayang turun perlahan hingga kedua kakinya menyentuh tanah.
“Ah, jadi kau punya anak?”
Dia melirik Ego, kemudian kembali menatap perempuan di hadapannya.
“Tidak masalah. Dia tidak akan ke mana-mana.”
Ego mencoba mendekat, tetapi sebuah tendangan membuat tubuh kecilnya terlempar ke sisi gang.
“Diam di sana, bocah.”
Punggung Ego menghantam dinding. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya, tetapi dia tidak menangis.
Dia hanya menatap.
Menatap ketika ibunya berusaha melawan.
Menatap ketika teriakannya berubah menjadi permohonan.
Menatap ketika ketiga orang yang disebut penyelamat itu melakukan sesuatu yang tidak pernah seharusnya dilakukan oleh siapa pun kepada manusia lain.
“Ibu...”
Suara Ego nyaris tidak terdengar.
“Berhenti...”
Tidak ada yang mendengarnya.
Atau mungkin mereka mendengarnya, tetapi tidak ada satu pun yang peduli.
Bagi ketiga pria itu, seragam yang mereka kenakan sudah cukup untuk membuat mereka merasa tidak tersentuh oleh hukum.
Lalu semuanya berubah dalam satu detik.
Perempuan itu berusaha melepaskan diri. Salah seorang pria kehilangan kesabaran dan mengayunkan tangannya, melepaskan gelombang energi yang seharusnya hanya digunakan untuk melumpuhkan lawan
Namun, dia salah memperhitungkan jarak.
Sebuah ledakan kecil mengguncang gang.
Tubuh perempuan itu terhempas ke tanah.
Sunyi.
Tidak ada teriakan lagi.
Tidak ada perlawanan.
Hanya tubuh seorang perempuan yang terbaring tanpa bergerak.
Pria yang melepaskan serangan itu terdiam. Dia menatap tangannya sendiri, lalu mengumpat pelan.
“Cih. Sial. Aku keterlaluan.”
Salah seorang rekannya melirik ke arah mulut gang.
“Sudahlah. Kita pergi saja. Tidak ada yang melihat.”
Mereka mulai berjalan meninggalkan tempat itu.
Tidak ada permintaan maaf.
Tidak ada penyesalan.
Bahkan tidak ada satu pun dari mereka yang berlutut untuk memeriksa apakah perempuan itu masih hidup.
Bagi mereka, itu hanyalah sebuah kesalahan kecil.
Sesuatu yang bisa dilupakan sebelum makan malam.
Namun, bagi seorang anak berusia tujuh tahun, dunia baru saja berakhir.
Ego merangkak mendekati tubuh ibunya.
“Ibu?”
Dia mengguncang bahu perempuan itu.
“Ibu, bangun.”
Tidak ada jawaban.
“Sudah selesai, Bu. Mereka sudah pergi.”
Tangannya yang kecil menyentuh pipi ibunya.
Dingin.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ego memahami sesuatu yang bahkan belum mampu dia jelaskan dengan kata-kata.
Ada orang yang bisa mengambil segalanya darimu, lalu berjalan pergi seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Langit yang sejak tadi cerah mulai menggelap.
Tetesan air jatuh di atas wajah Ego.
Satu.
Dua.
Lalu hujan turun semakin deras, membasahi jalanan, dinding-dinding gang, dan tubuh perempuan yang tidak akan pernah lagi memeluk anaknya.
Ego duduk di samping ibunya.
Dia tidak tahu harus berbuat apa.
Dia tidak tahu kepada siapa harus meminta pertolongan.
Dia bahkan tidak tahu mengapa orang-orang yang selalu dipuji sebagai penyelamat justru menjadi orang-orang yang menghancurkan hidupnya.
Kepalanya tertunduk.
Bibirnya bergetar.
Lalu, dari tenggorokannya yang sempit, sebuah suara keluar.
“Dewa... terlalu kejam.”
Dia menggenggam pakaian ibunya.
“Tuhan terlalu kejam.”
Napasnya mulai tidak teratur.
“Manusia juga terlalu kejam.”
Air hujan mengalir melewati wajahnya. Dia tidak tahu mana yang berasal dari langit dan mana yang berasal dari matanya sendiri.
“Kalau semuanya memang seperti ini...”
Jari-jarinya mencengkeram kain itu semakin erat.
“Untuk apa mereka diciptakan?”
Suaranya pecah.
“Sial...”
Dia menundukkan kepala lebih dalam.
“Sial... sial...”
Lalu dia berteriak.
“SIAL!!!”
Teriakannya tenggelam di antara gemuruh hujan.
Tidak ada Tuhan yang menjawab.
Tidak ada penyelamat yang kembali.
Dan tidak ada keajaiban yang datang untuk menghidupkan ibunya.
Hari itu, Ego kehilangan satu-satunya keluarga yang pernah dimilikinya.
Dan The Zephian tetap menjadi kota yang indah.
Tahun-tahun berlalu.
Kota itu tidak berubah.
Menara-menara putih masih berdiri megah. Layar-layar raksasa masih menampilkan wajah para Savior. Orang-orang masih memenuhi jalanan dengan senyuman, dan setiap kali seorang Savior muncul di langit, kerumunan akan bersorak seolah baru saja menyaksikan mukjizat.
Dunia terus berjalan.
Seolah tidak pernah ada seorang anak yang kehilangan ibunya di sebuah gang sempit.
Seolah tidak pernah ada seorang perempuan yang mati tanpa mendapatkan keadilan.
Seolah tidak ada yang perlu diingat.
Sementara itu, Ego bertahan hidup sendirian.
Tanpa ayah.
Tanpa ibu.
Tanpa rumah.
Orang-orang mengenalnya sebagai anak terkutuk. Anak dari seorang perempuan yang mereka anggap hina. Anak tanpa ayah yang identitasnya bahkan tidak diketahui.
Setiap kali Ego lewat, bisikan-bisikan mengikuti langkahnya.
“Lihat, itu anaknya perempuan murahan itu.”
“Kasihan sekali. Pantas saja hidupnya seperti itu.”
“Entah siapa ayahnya. Mungkin bahkan ibunya sendiri tidak tahu.”
Mereka tertawa kecil.
Ego mendengarnya.
Namun, dia tidak pernah membalas.
Apa gunanya?
Kata-kata tidak akan mengisi perutnya. Kemarahan tidak akan memberinya tempat tidur. Dan memohon kepada orang-orang itu hanya akan membuat mereka semakin menikmati penderitaannya.
Jadi, Ego belajar bertahan hidup.
Dia tidur di tempat-tempat yang bahkan tidak ingin dilihat orang lain. Dia mengais sisa makanan dari tempat sampah. Ketika tidak ada apa pun yang bisa dimakan, dia menangkap tikus di antara bangunan tua, lalu memakannya agar tetap hidup.
Hari demi hari.
Minggu demi minggu.
Tahun demi tahun.
Tubuhnya semakin kurus. Pakaiannya semakin lusuh. Wajahnya kehilangan sebagian besar ekspresi yang seharusnya dimiliki seorang anak seusianya.
Tetapi matanya tetap terbuka.
Selalu memperhatikan.
Selalu mengamati.
Pada suatu siang, Ego duduk di tepi jalan dekat sebuah toko roti. Tubuhnya bersandar pada dinding yang kotor, sementara kedua tangannya terlipat di atas lutut.
Di seberang jalan, sebuah layar raksasa menampilkan seorang Savior yang baru saja menyelamatkan puluhan orang dari kecelakaan.
“THE SAVIOR, PELINDUNG KITA SEMUA!”
Suara pembawa berita menggema melalui pengeras suara.
Kerumunan bersorak.
Orang-orang bertepuk tangan. Beberapa bahkan menangis bahagia saat melihat rekaman sang Savior mengangkat seorang anak kecil dari reruntuhan.
“Luar biasa!”
“Dia benar-benar pahlawan!”
“Syukurlah kita memiliki mereka!”
Ego memperhatikan semuanya dengan tatapan kosong.
Di tangannya, terdapat sepotong roti keras yang dia dapatkan dari seorang pedagang setelah membersihkan halaman tokonya.
Dia menggigitnya perlahan.
Kering.
Hampir tidak memiliki rasa.
Namun, setidaknya roti itu bisa mengisi perutnya untuk sementara.
Tiba-tiba, suara seorang anak kecil terdengar tidak jauh darinya.
“Ayah! Ayah!”
Seorang bocah berusia sekitar enam tahun berlari menghampiri seorang pria yang sedang berjalan sambil membawa kantong belanjaan. Pria itu segera mengangkat anaknya ke dalam gendongan.
“Ada apa, jagoan?”
“Aku sudah memutuskan cita-citaku!”
“Oh, ya? Memangnya kau ingin menjadi apa?”
Bocah itu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.
“Aku ingin menjadi Savior! Aku ingin menyelamatkan semua orang, sama seperti mereka!”
Sang ayah tertawa bangga.
“Bagus sekali! Kalau begitu, kau harus rajin belajar. Siapa tahu suatu hari nanti kau bisa menjadi Savior terhebat di The Zephian!”
Bocah itu tertawa riang.
Ayahnya tersenyum.
Orang-orang di sekitar mereka ikut tersenyum.
Sebuah keluarga kecil yang bahagia.
Ego memandang mereka dalam diam.
Lalu dia menurunkan pandangannya ke potongan roti di tangannya.
Sudut bibirnya bergerak sedikit.
Bukan senyuman.
Hanya sesuatu yang menyerupai rasa muak.
“...Lalu matilah.”
Gumamannya begitu pelan hingga hampir tertelan suara kerumunan.
Namun, pria yang menggendong anaknya mendengarnya.
Senyum di wajah pria itu langsung menghilang.
“Apa katamu?”
Ego tidak menjawab.
Pria itu berjalan mendekat, lalu menatap anak kurus di hadapannya dengan wajah jijik.
“Kau baru saja mengatakan apa kepada anakku?”
Ego mengangkat wajahnya.
Tatapan mereka bertemu.
Tidak ada rasa takut di mata anak itu.
Tidak ada permintaan maaf.
Hanya tatapan datar yang membuat pria tersebut semakin marah.
“Anak tidak tahu diri!”
Pria itu menendang sisi tubuh Ego.
Ego terjatuh ke tanah. Potongan rotinya terlepas dari tangan dan menggelinding ke tepi jalan.
“Berani sekali kau mendoakan kematian seorang Savior!”
Beberapa orang menoleh.
Mereka melihat Ego tergeletak di jalanan.
Mereka melihat seorang pria dewasa berdiri di hadapannya dengan wajah marah.
Namun, tidak ada yang bergerak untuk membantu.
Sebagian hanya menatap sebentar sebelum kembali berjalan.
Sebagian lainnya menggelengkan kepala.
“Anak seperti itu memang tidak punya sopan santun.”
“Pantas saja hidupnya berantakan.”
“Entah didikan siapa.”
Ego perlahan bangkit.
Dia tidak menatap pria itu lagi.
Dia hanya berjalan menuju potongan rotinya, mengambilnya dari tanah, lalu membersihkan debu yang menempel dengan telapak tangannya.
Setelah itu, dia kembali duduk di tempat semula.
Pria tersebut mendengus, kemudian pergi sambil menggendong anaknya.
Bocah kecil itu masih tersenyum di pelukan ayahnya.
Sementara Ego memandangi roti yang sudah kotor.
Dia meniupnya sekali.
Lalu memakannya.
Rasanya tidak berubah.
Sore menjelang malam.
Awan-awan kelabu mulai menutupi langit The Zephian.
Ego berjalan menyusuri trotoar yang dipenuhi orang-orang. Dia tidak memiliki tujuan khusus. Selama masih ada tempat untuk berlindung, dia akan berhenti di sana.
Tetesan air pertama jatuh di hidungnya.
Ego mendongak.
Hujan.
Lagi.
Dia berhenti berjalan.
Matanya menatap langit yang semakin gelap.
Sejak hari ibunya meninggal, dia membenci hujan.
Bagi orang lain, hujan mungkin membawa kesejukan, kesuburan, atau ketenangan setelah hari yang panjang.
Bagi Ego, hujan hanyalah pengingat.
Pengingat akan tubuh ibunya yang terbaring tak bergerak.
Pengingat akan teriakannya yang tidak didengar siapa pun.
Pengingat bahwa dunia bisa menghancurkan hidup seseorang tanpa perlu memberikan penjelasan.
Dia mengepalkan tangannya.
“Apakah kau sedang menangis?”
Suaranya nyaris tenggelam dalam rintik hujan.
Ego terus menatap langit.
“Dewa... apakah kau menangis melihat semua ini?”
Dia terdiam sejenak.
Lalu tertawa kecil.
“Tidak.”
Tawanya terdengar semakin aneh.
“Tidak mungkin.”
Dia menundukkan kepala, membiarkan air hujan membasahi rambut dan wajahnya.
“Jangan-jangan kau justru tertawa?”
Bibirnya bergetar.
“Apakah kau sedang duduk di atas sana, melihat manusia saling menghancurkan, lalu tertawa seperti orang gila?”
Ego mulai tertawa.
Tawa yang tidak memiliki kebahagiaan sedikit pun.
“HAHA...”
Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Kalau memang begitu...”
Suaranya mengecil.
“Semoga kau menikmati pertunjukannya.”
Hujan semakin deras.
Ego tidak bergerak.
Dia hanya berdiri di tengah keramaian, tertawa sendirian sementara orang-orang berlalu-lalang tanpa memedulikannya.
Sampai sebuah bayangan menutupi wajahnya.
Hujan yang sejak tadi membasahi kepalanya tiba-tiba berhenti terasa.
Ego menurunkan kedua tangannya.
Sebuah payung merah terbuka di atasnya.
Dia menoleh.
Seorang pria berdiri di sampingnya, memegang payung itu dengan satu tangan.
Pria tersebut mengenakan pakaian hitam sederhana. Rambutnya sedikit berantakan, sementara wajahnya dihiasi senyuman tipis yang sulit diartikan.
Dia tidak tampak seperti seorang Savior.
Tidak ada seragam khusus.
Tidak ada lambang kebesaran.
Tidak ada aura seorang pahlawan yang biasa dipuja masyarakat.
Namun, ada sesuatu dalam tatapan pria itu yang membuat Ego terdiam.
Pria tersebut memandang langit sejenak, kemudian menunduk menatap anak di sampingnya.
“Kalau kau membenci dunia ini,” katanya santai, “maka bencilah.”
Ego mengernyit.
Pria itu tersenyum.
“Dan kalau kau membenci Tuhan karena membiarkan semua ini terjadi, silakan saja.”
Dia memiringkan kepalanya, seolah sedang membicarakan sesuatu yang sangat biasa.
“Siapa tahu, Tuhan memang sedang tertawa di atas sana. Menangis sambil tertawa. Bukankah itu lucu?”
Ego menatapnya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, seseorang mengatakan sesuatu yang tidak terdengar seperti nasihat kosong.
Tidak ada kalimat tentang memaafkan.
Tidak ada omong kosong tentang masa depan yang lebih baik.
Tidak ada janji bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Pria itu hanya membiarkan kebencian tersebut ada.
Seolah-olah kebencian bukan sesuatu yang harus disembunyikan.
Ego mengerutkan kening.
“Siapa kau?”
Pria itu tidak langsung menjawab.
Dia justru memandangi jalanan di hadapan mereka. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh. Beberapa kendaraan melaju melewati genangan air, sementara layar-layar raksasa masih menampilkan wajah para Savior.
Dunia tetap berjalan seperti biasa.
Pria itu tersenyum tipis.
“Tenang saja. Kau akan mengerti.”
Dia mengalihkan pandangannya kepada Ego.
“Suatu hari nanti.”
Senyumnya melebar sedikit.
“The Next Nero.”
Ego terdiam.
“Nero?”
Pria itu mengangguk.
“Namaku Nero.”
Dia mengangkat payungnya sedikit, memperlihatkan wajahnya dengan lebih jelas.
“Aku adalah seseorang yang pernah membenci dunia ini sama sepertimu.”
Nero tertawa pelan.
“Bedanya, kebencianku sudah mulai melemah.”
Dia memejamkan mata sesaat, seolah sedang mengenang sesuatu yang sangat jauh.
“Ah... menyedihkan, bukan?”
Kemudian dia membuka matanya kembali.
“Tapi kebencian itu...”
Senyumnya berubah.
Ada sesuatu yang mengerikan di balik ekspresi tersebut.
“Kebencian yang begitu murni, begitu dalam, sampai kau merasa seluruh dunia pantas menerima balasannya...”
Nero menghela napas panjang, menikmati setiap kata yang keluar dari mulutnya.
“Ahhh... bukankah itu perasaan yang nikmat?”
Dia menoleh kepada Ego.
“Benar, bukan?”
Ego tidak menjawab.
Dia hanya menatap pria asing di hadapannya.
Nero terkekeh.
“Benar, bukan, Ego?”
Nama itu membuat mata Ego sedikit melebar.
“Bagaimana kau tahu namaku?”
Nero mengabaikan pertanyaan tersebut.
Dia justru berjongkok agar wajah mereka berada pada ketinggian yang sama.
“Aku punya sebuah tawaran untukmu.”
Ego tidak mengatakan apa-apa.
“Aku akan memberikan seluruh kekuatanku kepadamu.”
Angin berembus di antara mereka.
Untuk pertama kalinya, senyum Nero menghilang sesaat.
“Tidak sebagian. Tidak setengahnya.”
Dia menatap mata Ego lekat-lekat.
“Semuanya.”
Ego masih belum memahami apa yang sedang terjadi.
Seorang pria asing muncul di tengah hujan, mengetahui namanya, lalu menawarkan sesuatu yang bahkan belum bisa dia bayangkan.
“Apa yang kau inginkan dariku?”
Nero tersenyum kembali.
“Satu hal saja.”
Dia mengulurkan tangannya.
“Berjanjilah kepadaku bahwa kau akan terus membenci.”
Ego memandang tangan itu.
“Benci?”
“Ya.”
Nero memiringkan kepalanya.
“Bencilah dunia ini. Bencilah kebohongan yang mereka bangun. Bencilah kemunafikan yang mereka sembunyikan di balik senyum dan gelar suci mereka.”
Dia berhenti sejenak.
“Jangan biarkan siapa pun memaksamu melupakan apa yang telah mereka lakukan.”
Ego menunduk.
Selama tujuh tahun hidupnya, tidak pernah ada seorang pun yang menawarkan sesuatu kepadanya tanpa terlebih dahulu memandangnya sebagai sampah.
Tidak pernah ada seorang pun yang bertanya apa yang sebenarnya dia rasakan.
Dan sekarang, seseorang berdiri di hadapannya, menawarkan kekuatan yang tidak bisa dia pahami, tanpa memintanya untuk menjadi orang baik.
Ego perlahan bangkit.
Dia menatap Nero sekali lagi.
Kemudian, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, sudut bibirnya terangkat.
Sebuah senyuman kecil.
Dingin.
Hampir tidak terlihat.
Namun, senyuman itu cukup untuk membuat Nero tertawa puas.
Ego mengulurkan tangannya.
“Baiklah.”
Jari-jari mereka bertemu.
“Aku berjanji.”
Nero menggenggam tangannya erat-erat.
“Bagus.”
Senyum di wajah pria itu melebar.
“Kalau begitu, mari kita mulai.”
Seketika, dunia seolah berhenti bernapas.
Energi merah kehitaman meledak dari tubuh Nero, menjalar melalui tangan mereka, lalu memasuki tubuh Ego.
“Apa—?!”
Ego tersentak.
Rasa sakit yang tidak pernah dia kenal sebelumnya menghantam seluruh tubuhnya. Energi itu mengalir melalui setiap bagian dirinya, menembus batas-batas yang bahkan tidak pernah diketahui manusia.
Cahaya merah kehitaman menyelimuti tubuh kecilnya.
Tanah di bawah kakinya mulai retak.
Angin berputar liar.
Payung merah terlepas dari tangan Nero dan terlempar jauh, terseret oleh gelombang energi yang semakin besar.
“AAAAAAAAAGHHH!!!”
Ego jatuh berlutut.
Kedua tangannya mencengkeram kepalanya. Tubuhnya bergetar hebat, sementara energi gelap terus mengalir ke dalam dirinya tanpa menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.
Dia berteriak.
Terus berteriak.
Rasa sakit itu terasa seolah seluruh keberadaannya sedang dibongkar dan disusun kembali oleh sesuatu yang jauh melampaui pemahamannya.
Nero berdiri di hadapannya sambil tertawa.
“HAHAHAHAHA!”
Tawanya bercampur dengan suara gemuruh yang mengguncang jalanan.
“YA! SEPERTI ITU!”
Dia merentangkan kedua tangannya.
“RASAKAN SEMUANYA, EGO NERO!”
Orang-orang mulai berkerumun dari kejauhan.
“Apa yang terjadi?!”
“Anak itu kenapa?!”
“Dia gila?!”
“Panggil Savior! Cepat!”
Beberapa orang mundur ketakutan. Sebagian lainnya mengeluarkan ponsel, merekam pemandangan yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya.
Seorang anak kecil menggeliat di tengah jalan, berteriak seolah sedang mengalami penderitaan yang tidak bisa ditanggung manusia biasa.
Mereka melihatnya.
Mereka merekamnya.
Mereka membicarakannya.
Namun, tidak ada seorang pun yang benar-benar memahami apa yang sedang terjadi.
Energi merah kehitaman itu akhirnya menelan seluruh tubuh Ego.
Dan kemudian—
Semuanya menjadi sunyi.
Ego terkulai di atas tanah yang retak.
Hujan masih turun.
Orang-orang menahan napas, menunggu sesuatu terjadi.
Nero berdiri di tengah hujan, menatap anak itu dengan senyuman yang perlahan kembali muncul di wajahnya.
“Ah...”
Dia mengusap wajahnya, lalu tertawa kecil.
“Akhirnya.”
Jauh di atas The Zephian, petir menyambar langit.
Untuk sesaat, seluruh kota diselimuti cahaya merah kehitaman yang tidak dapat dijelaskan oleh siapa pun.
Orang-orang menengadah.
Mereka tidak tahu apa yang baru saja terjadi.
Mereka tidak tahu siapa anak itu.
Mereka tidak tahu siapa Nero.
Dan mereka sama sekali tidak mengetahui bahwa sesuatu yang telah lama tertidur kini telah menemukan wadahnya.
Selama bertahun-tahun, The Zephian hidup dalam keyakinan bahwa para Savior akan selalu melindungi mereka.
Mereka menyembah kekuatan.
Mereka memuja gelar.
Mereka percaya bahwa selama para penyelamat masih berdiri, dunia tidak akan pernah jatuh ke dalam kegelapan.
Namun, malam itu, tanpa seorang pun menyadarinya—
Sebuah era baru telah dimulai.
Bukan era seorang pahlawan.
Bukan pula era seorang penyelamat.
Melainkan era seseorang yang tidak lagi memiliki alasan untuk percaya kepada dunia.
Di tengah hujan, Nero menatap langit dan tertawa pelan.
“Selamat datang kembali...”
Dia melirik Ego yang terbaring di tanah.
“Raja Iblis.”
Dan begitulah, sesuatu yang kelak akan mengguncang seluruh dunia akhirnya terlahir.