Hendra menahan rasa sakit di lututnya, ia melotot ke arah Rima dan dengan gerakan yang tidak terduga menarik Rima ke arah pelukannya. “Sebegitu berharga dan cintanya kau dengan Rudi, sampai kau berani menyakitiku?, kalau kau tidak sedang mengandung anak Rudi, katakan kepadaku, apa keistimewaan Rudi?” Hendra lalu meraih dagu Rima dan membuat mata keduanya bertemu, “Apakah karena Rudi seorang pencium yang hebat? aku juga tidak kalah hebatnya dari Rudi, kau sudah merasakan sendiri bukan, bagaimana rasanya kucium? atau kau ingin aku mengulanginya kembali, karena kau menyukainya tetapi malu untuk mengakuinya!” Rima menatap galak Hendra, “Kau sudah gila! aku tidak seperti semua yang kau tuduhkan. Hatiku hanya merasa nyaman ketika bersama dengan Rudi dan itu tidak kurasakan ketika bersama deng

