--Happy Reading--
Di kediaman keluarga Almaher Zilquin.
“Kemana saja kamu, Dude? Punya anak dua tapi seperti punya anak satu. Apakah kamu baik-baik saja?” tanya Albert Zilquin, ketika satu minggu ini putra sulungnya tersebut tidak pulang ke rumah.
Almaher tidak menjawab pertanyaan sang papi, melainkan tersenyum kecut dan nampak mengabaikan sapa'annya.
“Hi… Kak! Apakah Kak Maher lupa jalan pulang?” tanya Alzidan Zilquin dengan sindiran, sambil tersenyum jahil.
Maher pun hanya mengabaikan sindiran sang adik, melewatinya untuk mendekat ke arah sang mami.
“Sayang, Mami rindu!” ucap Silviana seraya merentangkan kedua tangannya untuk memeluk sang putra sulung.
Puk!
Almaher pun menyambut pelukkan sang mami kesayangannya tersebut. Karena, hanya sang mamilah yang selalu mengerti dirinya.
“Aku juga merindukanmu, Mih!” ucap Maher saat berada di dalam pelukkan sang mami.
“Lekas bersihkan diri kamu, sayang. Ada satu hal yang akan Mami katakan pada kamu. Penting!” titah Silviana sambil mengurai pelukkan sang putra seraya mengusap bahunya.
Maher mengerutkan dahinya. Begitu penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Silviana. Dia pun nampak tidak sabaran untuk mendengarnya.
“Hal penting, Mih?”
“Heem… sayang!”
“Sekarang saja. Kalau tunggu aku membersihkan diri, kelama'an.”
“Jangan Protes!” seru Silviana sambil mengangkat jari telunjuknya di depan wajah sang putra.
Almaher pun mengerucutkan bibirnya, kecewa dengan penolakan sang mami.
“Ayo, cepatlah!” ucap Silviana dengan gemas, melihat sang putra yang nampak tidak beranjak dari tempatnya.
“Ya, Mih!” ucap Maher terpaksa segera berjalan ke arah kamarnya di lantai dua.
Silviana menggelengkan kepalanya pelan, sambil tersenyum mengembang. Meskipun sang putra itu jarang pulang ke rumah, lebih senang di apartement atau hotel, tidak berkurang rasa sayang dan perhatiannya untuk sang putra sulung.
“Putra kesayangan Mami kamu tuh, Dude!” celetuk Albert Zilquin, berbicara kepada sang putra bungsu, Alzidan Zilquin.
“Ya, Pih! Tapi, Mami juga tetap sayang aku, Pih. Bukan begitu, Mih?” Zidan memainkan salah satu alisnya ke arah Silviana.
“Aish… jangan dengar apa kata Papi kamu, sayang! Kamu dan Kakakmu itu anak kesayangan Mami,” kilah Silviana mencoba tidak membedakan rasa kasih sayang kepada kedua putranya.
Almaher memang putra sulungnya yang sangat Silviana sayangi lebih dari putra bungsunya Alzidan Zilquin. Karena, kedekatan Silviana dengan Almaher lebih erat. Sementara Alzidan lebih dekat dengan sang papi, Albert Zilquin.
Puk!
Cup..
Cup..
Cup..
Alzidan langsung memeluk Silviana dan menghujani wajah sang mami dengan ciuman gemas.
Silviana pun tertawa kecil dan merasa geli saat wajahnya di hujani ciuman oleh sang putra bungsu.
Albert Zilquin pun ikut terkekeh melihat istri dan putra kesayangannya tersebut saat berinteraksi.
Ya, Albert Zilquin memang lebih dekat dan sayang dengan Alzidan Zilquin. Namun, bukan berarti dia tidak menyayangi Almaher Zilquin.
***
Almaher segera masuk ke dalam ruangan lembab yang terhubung di dalam kamarnya. Rasa lelah dan letih yang telah ia lewati, seakan hilang begitu saja dalam sekejap dengan berganti rasa segar di tubuhnya.
Seminggu ini, pekerjaannya seakan tidak focus dan sedikit keteteran. Semua ini disebabkan oleh file Documen penting yang ada di dalam flashdisk miliknya belum ditemukan hingga saat ini.
Mencari Aleandra Nicholas dan flasdisk, sudah dia lakukan. Namun, hasilnya masih saja nihil dan tidak ada jejak dari gadis tersebut.
Almaher dan kaki tangannya, Roy Benedict, sudah berusaha mencari keberadaan Aleandra dengan mendatangi kediaman paman dan bibinya. Namun, mereka tidak tahu di mana keberadaan keponakannya yang telah kabur dari rumahnya tersebut.
Kedua anak kembar mereka yang melihat kedatangan Maher dan Roy pun nampak kecentilan dan cari perhatian lewat tingkah mereka yang sudah bisa ditebak oleh Maher dan Roy.
Merasa risih dan gerah dengan sikap kedua gadis kembar itu pun, Maher tidak ingin berlama-lama berada di rumah paman dan bibi Aleandra. Sementara Roy, yang memang lihai bermain wanita. Sudah barang tentu sangat senang dan bahagia didekati oleh kedua gadis kembar yang cantik-cantik itu.
“Aleandra Nicholas, di mana ‘kah kamu sekarang? Harus ke mana lagi aku mencarimu?” tanya Almaher saat dirinya termenung di dalam bathtub yang berisi air hangat dengan aroma fresh busa lemon yang begitu menyeruak.
Usai berendam di air hangat, Almaher pun segera beranjak dan membilas tubuhnya dengan air biasa.
Beberapa saat setelah membersihkan diri, Almaher pun segera ke luar dari ruangan lembab itu dan dengan cepat mengenakan pakaian rumahan yang jarang dia sentuh selama tinggal di luar rumahnya itu.
Mematut di depan cermin besar, Almaher terbayang kembali seketika wajah di dalam cermin yang ada di hadapannya seolah sosok Aleandra. Gadis berparas cantik yang telah dia ambil keperawanannya di malam itu, malam di mana dia sangat tidak berdaya dan tidak bisa berbuat apa-apa selain melepaskan hasratnya.
“Aku benci kamu, Almaher Zilquin…!”
“Aku tidak akan pernah memaafkanmu!”
“Sampai kapanpun aku merutukmu!”
“Kamu kejam!”
“Kamu bukan manusia!”
“Kamu iblis, Almaher Zilquin!”
Umpatan dan makian yang terdengar begitu jelas dari dalam cermin yang seolah menyerupai wajah Aleandra, membuat Almaher berteriak dan menjerit histeris.
“AARRGHH…. ALEANDRA! MAAFKAN AKU… MAAFKAN AKU… !”
Almaher berkali-kali berteriak kata maaf dengan suara lantang di depan cermin besarnya, yang dia pikir itu sosok Aleandra padahal dirinya sendiri. Air matanya pun tidak tahu sejak kapan, tahu-tahu sudah membasahi wajahnya yang tampan.
“Kak Maher… Kak Maher! Buka pintunya Kak!” panggil Alzidan Zilquin sambil mengetuk pintu kamarnya keras.
Kamarnya Alzidan berada tepat di samping kamar Almaher. Dia ingin menemui sang kakak dan kebetulan sekali suara Almaher terdengar cukup keras dari balik pintu kamarnya.
Almaher pun tersadar setelah mendengar suara panggilan sang adik dan ketukan pintu yang cukup kencang.
Wajah Aleandra yang dia lihat di cermin besarnya itu pun seketika berubah menjadi wajah dia sendiri.
“Ya Tuhan, aku berhalusinasi lagi,” gumam Almaher sambil mengusap wajahnya kasar. Bagaimana tidak rasa bersalah yang kerap kali muncul di benaknya, seakan menyayat hati dengan penuh penyesalan yang tiada berujung. Buru-buru dia pun segera mengusap air matanya kasar dengan punggung tangannya, agar tidak kentara habis menangis di depan sang adik.
“Kak Maher…!” panggil Alzidan terdengar kembali. Rupanya, sang adik itu sangatlah tidak sabaran.
“Ya, sebentar!” ucap Almaher setelah kesadaran dirinya kembali.
Klik!
Pintu kamar Almaher baru saja dibuka dengan lebar.
“Ada apa, huem?” tanya Almaher dengan santai.
Bukannya menjawab pertanyaan kakaknya, Alzidan malah balik bertanya.
“Tadi, aku dengar Kakak berteriak. Apa yang sedang terjadi denganmu?”
Almaher tersenyum kecut, kemudian berjalan ke dalam dan duduk di bibir ranjang miliknya yang super big. “Hanya meluapkan emosi saja, Dik!” dustanya Almaher tidak ingin berbagi masalah dengan sang adik.
Alzidan yang tahu benar sifat sang kakak yang sedikit tertutup terhadapnya, mau tidak mau dia pun berusaha keras dengan mencecar pertanyaan kepada sang kakak.
“Ck! Emosi apa’an? Emosi rasa bersalah, huh? Jangan bohong, Kak! Aku mendengar Kakak tuh berteriak minta maaf berkali-kali.”
Glek!
Almaher tercekat dan tidak bisa berkilah lagi atas tuduhan sang adik yang memang benar adanya.
“Siapa Aleandra, huem? Apakah Kak Maher menyakiti wanita itu, huem? Apa yang Kakak lakukan kepadanya, hingga Kak Maher sampai berteriak minta maaf berkali-kali terhadap wanita itu?” cecar Alzidan mencoba menebak teriakan dari sang kakak yang baru saja dia dengar dengan pertanyaan beruntun.
Deg!
Jantung Almaher tersentak begitu keras, seakan terkena goresan belati yang menyayat hati. Rasa bersalah dirinya pun semakin sulit untuk dipungkiri dan ditutupi dari sang adik yang tidak sengaja mengetahui rahasia dirinya selama satu minggu yang lalu.
"A-aku dihantui rasa bersalah, Dik!" ucap Almaher dengan suara bergetar dan mata yang sudah berkaca-kaca.
--To be Continue--